Senja Dandelion

Senja Dandelion
Mengapa harus diam?


__ADS_3

Mengapa sebagian orang memilih untuk merahasiakan perasaannya?


karena menjadi tidak tau adalah hal paling menenangkan dan tidak berisiko.


Mengapa sebagian orang memilih untuk memendam perasaannya?


karena mereka tau betapa sakitnya mendapatkan jawaban yang tidak seperti apa yang mereka bayangkan.


Kamu..


orang yang mungkin tak mengetahui ini sekarang..


orang yang selama ini mencari, padahal ada yang sudah berdiri tepat di hadapanmu.


Gapapa..


lagipula ia sudah memiliki mu.


ia sudah memilikimu dalam hati tanpa perlu kamu ketahui.


-Senja


Ara menutup buku jurnalnya yang bersampul cokelat itu. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskan nya dengan perlahan.


Ara menyimpan buku itu di rak dekat meja belajarnya. Dia mematikan lampu belajar dan menuju ke kasurnya.


Dia berbaring memandang atap di kamarnya. Rasanya sepi, sunyi, dan gelap. Entah kenapa suasana hatinya hari ini benar-benar kacau, dan mood nya yang jelek.


Ada rasa yang begitu gelisah didalam lubuk hatinya. Entah perasaan apa ini? Apakah akan ada hal buruk yang akan terjadi? Ah tidak tidak. Kita tidak boleh suudzon.


Ara mencoba memejamkan kedua kelopak matanya. Sudah 10 menit berlalu, tapi dia benar-benar tak bisa tidur.


"Sebenernya kenapa sih?" gerutu Ara.


Ara mengambil ponselnya di atas nakas. Lalu membuka aplikasi Instagram. Iseng-iseng dia mengetikkan nama Delion, dan benar saja muncul nama Instagram dengan nama DelionKen.


Terlihat foto profil Elon yang sedang membelakangi kamera, juga terlihat pemandangan pegunungan.


Ara mengeklik akun tersebut, muncullah beberapa postingan Elon.


Rata-rata hanya terdapat foto pemandangan, tapi ada satu foto Elon bersama seorang perempuan?


"Ini siapanya kak Elon? Kok fotonya deket banget, perempuannya kok kayak pernah liat sih?" tanya Ara pada dirinya sendiri.


Dia mengetuk-ngetuk jarinya di dagunya, berpikir pelan tentang siapa perempuan tersebut.


"Oh, ini kan yang duduk di samping kak Elon waktu di kantin tadi."


Ara segera menggelengkan kepalanya, apa urusannya Elon dengan dirinya. Ara beralih ke foto lain, tidak sengaja dia memencet tombol like.


Ara sangat terkejut, "Aduh Ara bodoh banget sih! Nanti kalo si kutub kegeeran gimana! Terus nanti dikira stalking akun lagi." ucap Ara sambil mengacak rambutnya sendiri.


Ara segera menutup aplikasi Instagram nya. Namun tiba-tiba muncul notifikasi dari line. Yang benar saja! Elon yang mengirimkan chat.


Delion Kenneth:


Elo stalking akun gue ya?


Apa-apaan ini. Ara merutuki kebodohannya, kenapa dia tiba-tiba membuka akun milik Elon. Dia tidak membalas chat dari Elon.


Dua menit kemudian muncul chat dari Elon lagi.


Delion Kenneth:


Gue tau lo belum tidur.


Damn!


Bagaimana ini, Ara bingung antara menjawab atau mengabaikan chat dari Elon. Akhirnya Ara memutuskan untuk tidak membalasnya.


Suara notifikasi telepon muncul dari ponsel Ara. Tertera nama Elon disana.

__ADS_1


Ara mengangkat telepon dengan malas.


"Haloo"


"Apa?" jawab Ara malas.


"Gue tau lo belum tidur, kenapa chat gue nggak lo bales?"


"Emang kenapa?"


"Ya seenggaknya lo ngehargain gue udah capek-capek ngetik." suara Elon terdengar tenang namun penuh ancaman.


"Ya kalo gitu ngapain capek-capek ngechat?" sahut Ara kesal.


"Nggak ada larangan juga kan."


"Hmm"


"Ra?"


"Kenapa?"


"Temenin gue bentar, gue lagi gak bisa tidur."


"Orang gue juga gak bisa tidur sendiri." jawab batin Ara.


"Udah ngantuk banget kak." bohong Ara.


"Gue tau lo boong. Please, temenin bentar aja." nada suara Elon terdengar sangat berat.


"Ya deh."


"Ra, gimana perasaan lo disaat udah pengen move on tapi dia balik lagi?"


Karena Ara yang melamun dan tidak terlalu mendengarkan suara Elon, "Eh, kak Elon tadi ngomong apa?"


"Gapapa, besok gue jemput ke sekolah."


"Good night bocil. Tidur yang nyenyak."


"Nig..night too kak." jawab Ara terbata-bata.


Sambungan telepon terputus, Ara melempar ponselnya asal. "Itu tadi beneran kak Elon." gumam Ara sambil menepuk pipinya.


Ara langsung menyelimuti seluruh tubuhnya, tak lupa berdoa, dan beberapa menit kemudian dia sudah terlelap dalam mimpinya.


Sementara cowok yang sedang berbaring di kasur kamarnya itu, tersenyum sekilas dan memejamkan matanya.


****


Sang surya sudah menampakkan sinarnya dibalik celah-celah jendela kamar. Ara sudah bangun dari 30 menit uang yang lalu dan sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Ara, cepet turun!" teriak bunda Fara.


"Iya Bun."


Ara segera keluar dari kamar. Tak lupa membawa tas sekolahnya di bahu kanan.


"Pagi yah, bun, bang Arka jelek.." Ara menengok dan betapa terkejutnya sudah ada Elon yang duduk di meja makan.


"Eh ada kak Elon." katanya canggung.


Mereka menikmati sarapan dengan tenang, tak ada obrolan satu kata pun. Selesai sarapan Ara segera pamit kepada kedua orang tuanya.


"Yah bun, Ara berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucap Ara sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Arka juga yah bun."


"Pamit Om Tante. Assalamu'alaikum."


Mereka pun melajukan motornya menuju ke sekolah. Ara yang kali ini berangkat dengan Elon dan di susul Arka dari belakang yang sendirian.

__ADS_1


Terlihat gerbang SMA Permata Indah yang ramai dengan lalu lalang motor maupun mobil yang memasuki area sekolah.


Elon dan Arka memarkirkan motornya di parkiran khusus siswa. Disana juga sudah ada Oji, Irga, dan Laskar yang masih stay di atas motornya masing-masing.


Dari arah pos satpam muncul ketiga teman Ara yang berjalan mendekati parkiran.


"Ara!!" pekik Natasya.


"Hai." balas Ara sambil melambaikan tangannya.


"Heh nano nano, masih pagi udah teriak-teriak aja lo!" kata Oji kesal.


"Haii, maaf tadi gak bisa jemput." ucap Irga sambil tersenyum ke arah Karin.


"Gapapa..." jawab Karin tersipu malu.


"Ekhem ekhem, eh tolong dong. Gue keselek duren." Oji sambil memegangi lehernya.


"Dodol banget sih lo nyet! Keselek duren ya mati lo!" balas Laskar menoyor kepala Oji.


"Biar anti mainstream." respon Oji sambil menaikkan dagunya.


"Ini kepala fitrah gue, main noyor-noyor aja lo" ucapnya lagi.


"Bodo amat nyet!" kata Laskar melangkah pergi dan ikuti semua teman-temannya.


"Woii, kok gue di tinggal sih!" teriak Oji dan berlari mengejar temannya.


****


Mereka berjalan berdampingan melewati koridor. Cewek berada di depan dan cowok di barisan belakang. Tak lupa ledekan satu sama lain yang di lontarkan.


Mereka sudah berada di depan kelas 12 IPA 2.


"Ra." panggil Elon. Membuat semuanya menoleh.


"Ada apa kak?"


"Bisa ngomong sebentar." tanya Elon.


Para teman yang sudah peka dengan suasana langsung mengaburkan diri masing-masing.


Arka dan ketiga temannya memasuki kelasnya. Sementara ketiga teman Ara segera berjalan menuju kelasnya.


"Ra, kita duluan." ucap Febby sambil mengedipkan sebelah matanya. Karin yang melambaikan tangan dan Natasya yang segera menarik kedua temannya untuk segera menjauh.


"Mau ngomong apa kak?" Ara memulai pembicaraan.


"Lo pulang sekolah sibuk gak?" tanya Elon.


"Pulang sekolah, kelihatan nya sih enggak. Emang kenapa kak?"


"Gue mau ngajak elo ke suatu tem--"


"Ken." teriak siswi yang berlari menghampiri Elon.


Seketika Ara dan Elon langsung menoleh ke arah siswi itu.


"Jadi nemenin gue ke kantin kan?" tanya Sonya.


"Hmm" Sonya langsung menarik tangan Elon.


Ara masih terpaku dengan pikirannya sendiri, "Ken? Kok manggilnya Ken sih." batin Ara.


Elon mendekati Ara dan membisikkan sesuatu, "Nanti gue tunggu di parkiran ya bocil cantik." kata Elon meninggalkan Ara yang masih mematung di tempat.


Sebelum Elon pergi dia juga mengacak rambut Ara sekilas. Dan itu membuat jantung Ara berdetak lebih cepat.


Dia segera memalingkan wajahnya dan pergi menuju ke kelasnya. Dia tak bisa untuk tidak tersenyum.


"Bocil cantik? Ada-ada aja."

__ADS_1


__ADS_2