
"ARA CEPETAN DONG!!" teriak Natasya yang sedari tadi menunggu Ara.
"Iya..iya.." jawab Ara cepat-cepat mengejar ketiga temannya.
"Ih katanya mau jogging, ayooo." ajak Ara.
"Ya elah Ra. Laper nih, makan dulu napa!" jawab Natasya.
"Eh Nana, elo yang ngajak malah enak-enakan duduk disini." kata Febby kesal.
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, merekapun memesan bubur.
"Eh sumpah, gue masih ngakak gara-gara kejadian semalem." Febby sambil memegangi perutnya.
"Gila emang lo! Mau di taroh kemana nih muka gue?!"
"Ya di depan dong Na, masa di lutut." timpal Karin.
Setelah melakukan dua kali putaran, mereka sudah berada di pinggir lapangan. Katanya panas lah, capek lah, gak kuat lah, nanti gosong lah. Blaa..bla..blaa..bla
Emang alesannya jogging, tapi ujung-ujungnya malah selonjoran di pinggir lapangan sambil mengamati cowok-cowok yang sedang olahraga pagi.
"Huff..huftt..capek banget nih." ucap Karin ngos-ngosan.
"Kan baru dua kali putaran?" tanya Ara polos.
"Ya ampun Ara, kita udahan dulu aja deh."
"Eh kalian disini juga?" tanya seseorang.
"Hehe iya bang, capek jadi istirahat dulu."
Ara mengalihkan pandangannya menatap orang yang menuju ke arahnya.
"Capek Ra?"
"Iya bang"
"Sini deketan sama abang." Arka menyuruh Ara untuk mendekat.
Ara segera mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Arka. "Jangan capek-capek Ra." Arka mulai mengelus rambut Ara.
"Abang gak mau liat kamu sakit."
"Ara gakpapa bang, lagian ini kan olahraga biar makin sehat." jawab Ara.
"Yang lain pada kemana bang?" tanya Febby.
Arka menunjuk kumpulan orang yang mendekat ke arah mereka. "Tuh, lagi beli minum."
"Halooo neng Ara!!" teriak Oji tanpa dosa.
"Wih enak nih, pagi-pagi nyender." siul Irga.
"Kayaknya mulai ada aura-aura kecemburuan nih."
"Kenapa lo, diem-diem bae Lon?" tanya Oji menyindir.
"Lah gebleg! Kan emang si Elon begitu kek tembok. Gak asik!" Irga mendekati Karin dan duduk di sampingnya.
"Bisa diem gak sih lo!" ucap Elon dengan dingin.
"Elo Lon, sekali ngomong pedes bener." Oji kecicikan sendiri.
__ADS_1
Mereka hanya menikmati semilir angin di pinggir lapangan dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Tak ada obrolan di antara mereka. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunan masing-masing.
"Balik yukk." ajak Febby.
"Buru-buru banget neng Febby?" tanya Oji.
"Mending kita cari makan dulu." usul Irga.
Mereka semua mengiyakan permintaan dari Irga. Mereka bangkit, lalu berjalan menuju ke kedai yang berjualan makanan.
"Disitu aja, itu tempat favorit gue." Elon menunjuk ke sebuah warung di pinggir jalan.
"Disitu tempatnya bersih kok, makanannya juga enak." kata Elon lagi.
****
Bulan sudah mulai menampakkan bentuknya. Hanya ada sinar surya dibalik cahayanya yang terang. Bahkan bulan tak pernah iri meskipun dia tak punya cahaya sendiri.
Tok..tok..tok
"ARA, tolong bukain pintu." teriak bunda dari dapur.
Ara berjalan dengan malas dan membuka pintu. Ternyata yang bertamu adalah teman-teman dari bundanya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, eh tante nyari bunda ya?" tanya Ara.
"Silahkan masuk tante." Setelah mempersilahkan tamu tersebut masuk, Ara menuju ke dapur untuk memanggil bundanya.
"Bun, tuh di ruang tamu ada temen-temen bunda."
"Tolong bantuin bunda ya, bawa ini ke depan." menyerahkan nampan berisi kue-kue kecil.
"Eh ini anak kamu Far? Udah gede ya." tanya tante yang duduk di dekat Ara.
"Iyalah, masa mau bocil terus." jawab Fara, bunda Ara.
"Kamu kenal sama Elon, sayang?" sambil mengelus rambut Ara.
"Elon siapa tante?" tanya Ara dengan polos.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ara menemukan jawaban dari pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Dia pun mulai bersuara lagi.
"Oh kak Elon ya tan?" tanya Ara pada Sari, mamahnya Elon.
Tante Sari mengangguk dan menatap Ara dengan senyuman. "Elon kalau di sekolah gimana Ra? Kalau nakal biar tante sita semua game-nya."
"Enggak kok tan, kak Elon baik tapi kata temen-temen aku sih, kak Elon itu dingin orangnya. Tembok berjalan katanya." jawab Ara sambil tersenyum polos.
"Haha..ada-ada aja kamu Ra. Dia jadi begitu semenjak kejadian dua tahun yang lalu." raut tante Sari berubah masam.
"Kejadian apa tan?"
"Kok gue jadi kepo tentang kak Elon sih?" gerutu Ara dalam batin.
"Tante tuh sebenernya gak suka, semenjak Elon kenal sama cewek itu. Bener kan dugaan tante, di aja ninggalin Elon." jawab tante Sari dengan kesal.
Ara hanya menganggukkan kepala sebagai respon atas cerita dari tante Sari.
"Sudah sudah tidak usah membahas cewek itu, mending sekarang kita bahas Ara dengan Elon." usul tante Ratih.
"Kalian tidak usah aneh-aneh, biar mereka yang menentukan sendiri." ucap bunda menengahi.
__ADS_1
Apa hubungannya kak Elon dengan cewek itu?
Cewek itu siapa?
Kenapa kak Elon jadi dingin?
Kok gak ada yang tahu tentang ini sih?
Apa temen-temen tahu, tapi mereka menyembunyikan sesuatu?
Begitu lah pernyataan yang berkecamuk di kepala Ara.
****
Ara berjalan menyusuri jalanan yang lumayan sepi, setelah membeli beberapa cemilan di supermarket. Kalau saja bang Arka mau mengantar, pasti Ara tidak ada berjalan di area yang sepi ini.
Hanya hembusan angin yang menemani di perjalanan pulang. Ara ketakutan saat melihat gerombolan orang yang berjalan ke arahnya. Sepertinya mereka juga masih seumuran dengan abangnya.
"Ada bidadari nih"
"Mau kemana neng, sini abang anterin?"
Ara terus berjalan sambil menundukkan kepalanya dan melewati orang-orang tersebut yang masih menggodanya.
"Eh mau kemana, buru-buru banget." kata salah satu diantara mereka dan mencoba mencekal lengan Ara.
Ara hanya bisa memejamkan mata dan berharap ada yang menolongnya. Kenapa Ara tidak merasa ada cekalan tangan? Dia mencoba membuka mata.
Bugh!! Sebuah pukulan sangat keras mengenai rahang orang tersebut. Karena tidak siap, badannya pun terhuyung ke belakang.
Ara melebarkan matanya, melotot sempurna. Ternyata Elon yang memukul orang itu. Elon segera menarik tubuh Ara agar berada di belakangnya.
"Gak usah takut Ra." kata Elon dan terus menyerang. Hingga kumpulan orang tadi lari malang-kepalang meninggalkan mereka berdua.
"Ayo gue anterin pulang." sambil menarik tangan Ara.
Ara segera mempercepat langkahnya untuk menjajarkan dengan langkah Elon.
"Kak Elon gakpapa?" tanya Ara sedikit ngilu melihat lebam di wajah milik Elon.
"Seperti yang lo liat."
"Kak Elon kenapa bisa ada disini?"
"Gak sengaja lewat." Elon terus berjalan dan masih menarik tangan Ara.
"Irit banget sih kalau ngomong." gerutu Ara.
"Kenapa lo?" tanya Elon dan membalikkan badan. Ara yang tidak tahu ketika Elon membalikkan badannya pun langsung menabrak dada bidang Elon.
Deg! Perasaan apa ini.
"Kalo jalan tuh liat-liat."
"Salah siapa coba, tangan udah di tarik-tarik kaya kambing, kalau mau berhenti tuh ngomong dulu dong." ucap Ara cemberut.
"Emang elo kambing." Elon kembali melanjutkan langkahnya.
"Dasar es batu!!" omel Ara.
"Mau di situ terus atau pulang, gue tinggal nih." ujar Elon sedikit berteriak karena jarak mereka lumayan jauh sekarang.
Ara masih melongo melihat tingkah Elon. Buru-buru dia bergidik ngeri dan segera berlari mengejar Elon.
__ADS_1