Senja Dandelion

Senja Dandelion
Menjelang Bazar


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang paling tidak diinginkan oleh sebagian orang. Bagaimana tidak? Mereka di wajibkan mengikuti upacara berjam-jam dibawah terik matahari? Oh no, apalagi di tambah amanat yang panjang lebar.


Selamat! Berhasil membuat siswa siswi seperti cacing kepanasan.


"Ra.." bisik Natasya.


Ara hanya menoleh sebentar dengan menaikkan sebelah alisnya. Lalu menatap ke depan lagi, karena amanat masih belum selesai.


"Ra.." bisiknya lagi. Melihat respon Ara yang tak acuh, Natasya menarik rambut cewek tersebut hingga Ara menoleh kepadanya.


"Apa sih Na?" Ara berdecak sebal karena Natasya menarik-narik rambutnya.


"Panas banget Ra." cicit Natasya.


Untung saja mereka berada di barisan tengah, jadi masih bisa bersembunyi dibalik badan orang lain. Entah kalau mereka di barisan depan seperti Febby dan Karin saat ini.


Kedua perempuan itu terlihat sangat kesal, karena harus berada di barisan depan. Hingga membuat mereka tidak bisa berkutik.


"Sabar.." ucap Ara. Satu kata yang selalu Ara ucapkan ketika Natasya mengadu kepanasan kepadanya.


Dipikir Ara tidak kepanasan sendiri apa. Hanya saja dia menghormati jalannya upacara agar terasa hikmat. Bukan Natasya yang sedari tadi mengoceh tidak jelas.


"Ya ampun Ra, udah hampir satu jam tapi gak selesai juga tuh kepala sekolah ceramah."


"Udahlah, dengerin dulu." Ara menghela napas karena kerongkongan nya terasa kering, "Ada pengumuman penting, diem dulu deh Na." geram Ara.


Mau tak mau Natasya harus mendengarkan amanat dari pak kepala sekolah yang panjang kali lebar itu.


"Anak-anak seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah kita akan mengadakan festival bazar. Untuk itu setiap kelas dimohon memberikan partisipasinya. Detail acaranya akan disampaikan oleh wali kelas masing-masing."


Pak kepala sekolah menatap seluruh siswa siswinya, "Sekian yang dapat saya sampaikan, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap kepala sekolah menutup amanatnya.


"Huftt.. akhirnya."


Upacara sudah selesai, semua murid berhamburan mencari tempat berteduh. Ada yang duduk dibawah pohon, pergi ke kantin, dan kembali ke kelas.


Ara dan ketiga temannya memutuskan untuk kembali ke kelas.


"Kalo gue tau kayak gini, gak mau ikut upacara." kata Febby mengibaskan rambutnya yang basah karena berkeringat.


"Sumpah, gue di depan kek cacing kepanasan. Mau garuk pipi gue yang gatel aja gak bisa." Karin menatap ketiga temannya.


"Udah gitu diliatin melulu sama guru-guru." lanjutnya kesal.


"Itu sih derita elo." Natasya mengibaskan bukunya sebagai kipas angin. AC saja sampai tidak berasa, saking panasnya.


Ara sibuk mengeluarkan botol minumnya dari dalam tas, dia membuka tutup botol dan meminum air tersebut. Dia lebih suka membawa air minum sendiri, untuk mengantisipasi jika di kantin sedang ramai.


Seperti sekarang ini, pasti banyak yang datang ke kantin untuk membeli minum. Jadi, tidak perlu berdesak-desakan.


"Bagi dong Ra." pinta Karin.


Ara menyodorkan botol minumnya kepada Karin, "Nih."


Sebelum tangan Karin berhasil menyentuh botol minum, Febby terlebih dulu menyerobot. "Siapa cepat dia dapat." katanya langsung menegak air.


"Jangan habisin Feb, gue juga haus!" ujar Karin.


***


Sementara di kelas Arka kini sedang gaduh. Oji yang sedang kejar-kejaran dengan Riri sambil membawa botol minum.


"Oji! Balikin botol minum gue!" teriak Riri.


"Makanya jangan pelit jadi orang. Minta dikit aja gak boleh!" ketus Oji.


Oji segera membuka tutup botol dan meminumnya hingga tersisa setengah. Lalu dia mengembalikan botol itu kepada pemiliknya dengan rasa tidak bersalah.


"Gue balikin, baik kan gue." tangan kanannya menyodorkan botol kepada Riri.


Oji memandang Riri seperti orang yang ingin memakannya hidup-hidup. Wajahnya memerah karena menahan kesal.


Dengan cepat Riri mengambil botol minumnya dari tangan Oji dan melengos tanpa mengatakan apapun. Dia kembali ke tempat duduknya tanpa menghiraukan teriakan Oji.


"Lah ngambekan banget lo!"


"Hayoo lo Ji. Si Riri ngambek.." kata Irga mengompor-ngompori.


"Paling besok juga baikan sendiri." ujar Oji tak acuh.


Seorang guru memasuki kelas dengan membawa beberapa map. Semua murid kelas XII IPA 2 langsung menempati bangkunya masing-masing.


"Duduk siap, grak." Rozi memberikan komanda.


"Berdoa mulai." lanjutnya.


Setelah berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, kini Bu Zara mulai membuka percakapan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, oke anak-anak. Seperti yang disampaikan pak kepsek tadi, kelas kita harus berpartisipasi dalam festival yang diadakan di sekolah." kata Bu Zara.

__ADS_1


"Bu, acaranya di festival apa aja?" tanya Riri.


"Oke Riri, pertanyaan yang bagus. Di acara festival bazar, juga akan ada beberapa penampilan dari ekstra kulikuler. Juga akan ada beberapa lomba yang akan di selenggarakan."


"Bazar kelas kita mau jualan apa Bu?" celetuk Irga.


"Itu yang akan ibu rundingkan hari ini. Apakah ada yang ingin menyampaikan saran?" tanya Bu Zara.


Seseorang mengacungkan tangan, "Yang penting jualannya gak ribet Bu." kata Arka.


Sedangkan Elon yang duduk disamping Arka malah fokus bermain ponsel tanpa menghiraukan Bu Zara.


Mata Bu Zara memicing melihat ke arah Elon, "Elon! Saya sudah bilang jangan bermain ponsel ketika sedang ada guru yang mengajar. Masukkan ponselnya!" perintah Bu Zara.


Elon yang tadi fokus menatap ponselnya kini beralih menatap Bu Zara singkat. "Emang ibu sedang mengajar?" tanya Elon dingin dan memasukkan ponselnya dalam saku.


"Sudah-sudah. Apa ada yang punya saran." ucap Bu Zara lagi.


Oji nampak berpikir dengan serius kemudian mengacungkan tangan, "Bu, saya punya ide." katanya.


"Halah Bu, jangan percaya sama ide nya si Oji. Pasti nanti idenya ngadi-ngadi." kata Laskar.


"Kita jualan es cendol dawet aja Bu." Kata Oji dengan lantang.


"Cendol dawet seger!" teriak Rozi.


"PIRO?" lanjut Irga


"LIMA RATUSAN"


"TEROS."


"GAK PAKE KETAN."


"JI RO LU PAT LIMO ENEM PITU WOLU"


TAK GINDANG GINDANG TAK GINDANG GINDANG


TAK GINDANG HAK E TAK GINDANG GINDANG HAKEE HAKEEE LHOOO LHOOO LHOO JOSS


Kelas pun menjadi konser ambyar dadakan. Bu Zara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak muridnya ini. Gak ada yang benar semua.


Hanya beberapa yang waras mungkin. Bu Zara segera menutup kedua telinganya yang terasa pengang.


Arka segera memasang earphone nya dan menyalakan musik dengan kencang. Elon memilih menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi dan memejamkan matanya. Sementara Laskar menelungkupkan kepala di meja.


"Ngelakuin dosa apa gue punya temen kayak mereka."


***


"Kita nanti pas bazar pake baju couple gimana?" tanya Natasya disela-sela berjalan.


"Good idea." Febby mengacungkan kedua jempolnya ke wajah Natasya. Hingga perempuan itu berdecak sebal.


"Boleh tuh. Nanti kita tinggal tentuin sama tema nya aja." saran Ara.


"Nanti kita cari perlengkapannya deh." Karin melanjutkan ucapannya, "Sekalian nginep di rumah Ara." katanya sambil menepuk-nepuk kepala Ara.


"Kita kan udah lama gak nginep di rumah lo Ra." Febby tersenyum manis ke arah Ara.


"Gue setuju. Sekalian suruh bang Arka ngajak temen-temennya Ra." pinta Natasya.


"Iya iya bawel." balas Ara.


Mereka sudah sampai di kantin. Tetapi kantin terlihat sangat ramai dari biasanya. Mungkin mereka memanfaatkan jam kosong untuk mengisi perut.


Keempatnya celingak-celinguk mencari meja kosong. Nihil. Semua meja sudah penuh dengan orang.


"Sini Ra." Arka melambaikan tangannya ke arah Ara.


Natasya, Febby, dan Karin mengikuti arah pandang Ara. Ternyata disana ada Arka yang sedang melambaikan tangan ke arah mereka.


"Kita duduk disana aja deh." pinta Ara.


"Gak deh Ra. Gue canggung apalagi ada tuh kakak kelas." Natasya menunjuk ke Sonya yang memang duduk di meja yang sama dengan Arka dan keempat temannya.


"Nempel mulu sama kak Elon perasaan deh." kesal Febby. "Katanya udah punya pacar tapi kok deket-deket sama mantan." tangan Febby segera menutup mulutnya sendiri.


"APA?" pekik Natasya dan Karin bersamaan.


"Haduh ini mulut emang gak bisa di rem." gumam Febby.


Mereka menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin. Karena teriakan Natasya dan Karin tadi.


"Kata siapa lo?"


"Emm..gue denger dari anak-anak ekstra pas mereka lagi gosipin kak Elon." Febby menjawab pertanyaan Karin sedikit berbisik sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Udahlah, ayokk!" Ara mengajak ketiga temannya untuk menuju ke meja Arka.

__ADS_1


"Sini Ra, duduk deket abang." Arka menarik tangan Ara agar segera duduk.


"Emang kita gapapa duduk disini bang?" cicit Ara.


"Gapapa, masih lega juga tempatnya." jawab Laskar.


"Kita pindah aja deh Ra." kata Karin yang merasa sedikit tidak nyaman. Karin sudah berdiri, namun ditarik oleh Irga.


"Duduk tenang disini aja Ra. Lagian gak ada meja kosong lagi." kata Oji yang memang peka dengan suasana canggung keempat adik kelasnya ini karena ada Sonya.


"Abang pesenin makanan ya Ra?" ucap Arka sambil mengusap kepala Ara. Arka memang jahil kepada Ara, tetapi dia juga sangat sayang dengan adiknya ini. Dia tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi karena tidak bisa menjaga Ara.


"Udah pesen kok bang, tinggal di anter kesini aja." jawab Ara tersenyum manis.


Siapapun yang melihat senyum Ara saat ini pasti akan langsung meleleh. Matanya yang menyipit dan lesung pipi yang terlihat, dan pipi yang gembul. Menambah kesan yang cute bagi Ara.


"Aduhh.. senyumnya."


"Eh liat-liat, Ara senyumnya manis banget."


"Aaa pengen nyubit."


"Pengen gue karungin."


Bisik-bisik terdengar dari siswa siswi yang melihat senyum Ara tadi.


"Heh, pengen gue colok tuh mata!" Arka menggeplak kepala Oji karena memandang Ara tanpa berkedip.


Oji mengusap kepala, "Pengen dong punya adik kayak si Ara, udah kalem, baik, manis. Bisa betah di rumah kalo gini gue."


"Minta sama emak lo sana!" kata Laskar.


"Bisa di omelin mami gue, punya kakak satu aja bikin ribet. Kalo kakaknya kalem mah gapapa, lah ini kek grandong." ucap Oji membayangkan wajah kakaknya.


Oji memang mempunyai satu kakak perempuan yang saat ini sedang kuliah. Kakaknya terlihat sangat jutek, tetapi dia baik terhadap semua teman Oji yang sering bermain ke rumah.


"Bang, rencananya aku sama mereka mau bikin acara bareng sama kalian di rumah." ucap Ara.


"Iya bang, mau ya?" lanjut Natasya.


"Emang acaranya apa?" tanya Irga.


"Belum kepikiran sih kak, enaknya ngapain ya." kata Febby.


"Gimana kalo kita BBQ an aja." usul Oji.


"Wah boleh tuh, nanti gue bawain film dari rumah deh." imbuh Laskar.


"Siipp. Lo ikut kan Lon?" tanya Oji memandang ke arah Elon.


"Gue gak bisa ikut. Udah ada janji." jawab Elon.


Sonya memegang lengan Elon, "Kita batalin aja gapapa Ken, kan beli bukunya bisa kapan aja."


Elon menggelengkan kepala, "Gapapa mereka ngerti kok."


"Nanti gue nyusul aja sama Sonya." lanjut Elon.


Mereka semua memandang dengan tatapan yang berbeda-beda. Lalu melanjutkan menyantap makanannya masing-masing.


"Hai.." sapa seseorang.


Mereka mengalihkan pandangan menatap orang yang datang.


"Haii kak Adis." Ara menarik tangan Adis untuk duduk disampingnya. "Sama kita aja kak." lanjutnya.


"Siapa Ra?" tanya Karin.


"Oh kenalin ini kak Adis, dulu pas masih di Jogja dia sama bang Arka yang jagain aku." Ara memperkenalkan Adis kepada semua.


Natasya mengulurkan tangannya, begitu juga dengan Febby dan Karin. Uluran tangan itu disambut manis oleh Adis.


"Mereka temen aku kak..itu Natasya, Febby sama Karin." kata Ara.


"Seneng banget ketemu kalian. Makasih ya udah temenan sama Ara dan jagain dia." ucap Adis mengelus puncak kepala Ara.


"Kita juga seneng kok kak, temenan sama Ara." balas Febby sambil tersenyum.


"Mau dong di elus-elus.." cicit Oji.


"Gue gibeng juga lo!" kesal Arka.


"Wah pawangnya malah." ledek Oji sengaja cadel.


"Oke nanti langsung kumpul di rumah Arka aja." titah Irga.


"Kalian mau ngapain?" tanya Adis.


"Oh kita mau BBQ an bareng kak, nanti dateng aja ke rumah." balas Ara.

__ADS_1


Adis mengiyakan permintaan Ara dengan mengangguk. Sudah lama juga tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama Ara.


__ADS_2