
"Kar?"
"Hmm.."
"Elo marah sama gue?" tanya Irga pelan.
"Gue enggak marah kok."
Terdengar helaan napas panjang dari Irga. Lalu dia memandang Karin dan memegang tangan Karin
"Maafin gue, gue sebenernya tadi cuma bercanda." ucap Irga.
"Aduh kok gue tambah deg-degan sih, dia pake pegang tangan gue lagi." batin Karin.
Karin menahan napas agar detak jantungnya tidak terdengar oleh Irga.
"Gak papa santai aja."
"Sebenernya gue itu enggak bercanda." kata Irga pelan. Dia menghela napas lagi kemudian berkata, "Gue beneran sayang sama elo, entah sejak kapan perasaan ini muncul."
"Gue tau ini terlalu cepet buat elo, tapi gue gak bisa nunggu lama lagi. Gue emang bukan cowok yang romantis. Gue juga bukan cowok yang selalu bisa ngertiin cewek, tapi gue akan mencoba untuk ngerti perasaan elo. Jadi, will you my girlfriend?"
"Gue.."
"Gue gak bisa." ucapnya lagi.
"Enggak apa-apa gue ngerti, mungkin gue bukan tipe elo." kata Irga lembut.
"Enggak gitu, maksud gue itu...gue enggak bisa nolak."
"Makasih." balas Irga dan segera memeluk Karin.
Semua orang berhak mencintai. Semua orang berhak menyayangi. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi jangan sampai cinta dan sayang itu melebihi cinta kita kepada Sang Maha Kuasa.
Hari ini, malam ini, jam ini, menit ini, detik ini. Seorang Irga telah mengungkapkan perasaannya.
"Makasih, makasih, dan makasih. Aku akan menjaga apa yang aku miliki sekarang."
Karin melepaskan pelukannya, dia mencoba mencari kebohongan di sorot mata Irga. Namun nihil, sorot mata itu begitu teduh dan menenangkan.
"Aku harap kamu bisa mengerti, jika ada sebuah masalah jangan pernah memakai emosi. Ku mohon. Tenangkan diri dan bicarakan baik-baik." kata Karin sambil tersenyum.
"Iyaa.."
"Hmm..lebih baik kita kembali. Nanti takutnya mereka nungguin." Karin mengajak Irga untuk kembali ke teman-temannya.
***
"Gimana kalau kita nyobain wahana disini." usul Febby.
"Pasti dong. Ngapain kita kesini kalo enggak nyobain." Natasya memutar bola matanya malas.
"Gue kan cuma ngasih saran."
"Sekarang mending kita pencar ada deh." kata Laskar.
"Betul tuh, biar kita lebih bisa eksplor lagi." balas Oji sambil memakan kentang goreng.
"Gue disini aja deh." celetuk Arka.
"Lah kenapa bang?" tanya Ara.
"Enggak papa Ra, abang lagi males aja."
"Abang sakit ya?" Ara mulai terlihat khawatir.
"Abang baik-baik aja Ara." ucap Arka sambil mengacak rambut Ara.
__ADS_1
"Tapi bener kan bang?"
"Iya, sejak kapan adek abang jadi bawel gini?" Arka gemas dengan Ara.
"Kalo gitu gue disini aja deh nemenin si Arka." Elon berkata sambil memandang ke arah Arka.
"Oke kalau gitu, mending kita main sekarang aja. Ntar keburu malem." Laskar menengahi.
"Elo mau ikut nggak Ra? tanya Febby.
"Kayaknya aku disini aja deh."
"Berarti gue bagi aja ya, Natasya sama Oji, sementara gue sama Febby."
"Kok gue sama si kutil anoa ini sih?!" protes Nana.
"Kalau nggak mau juga gakpapa sih, elo bisa jalan sendiri." ucap Oji enteng.
"Biar ada laki-lakinya, jadi lebih aman kalau ada apa-apa nanti." Laskar menjelaskan.
" Ya udah deh."
Mereka pun berpencar sesuai dengan pasangan yang sudah dibagi tadi. Sekarang disini hanya tinggal tiga orang, Arka, Elon, dan Ara.
Beberapa menit kemudian datang dua orang mendekati mereka bertiga.
"Lhoh yang lain pada kemana?" tanya Karin bingung.
"Udah pada pergi." balas Arka cuek.
"Kenapa kalian disini?" tanya Irga.
"MALES!" jawab ketiganya serempak.
"Wah kompak banget nih." puji Irga.
Ucap Irga segera menarik tangan Karin untuk pergi dan meninggalkan ketiga nya dengan kesunyian.
"Daaa Ara." kata Karin sambil melambaikan tangan kepada Ara.
***
Sementara di tempat lain, Oji dan Natasya sedang celingak-celinguk kesana kemari. Mereka meributkan wahana apa yang akan mereka coba.
"Heh..kita mau kemana sih?" tanya Nana kesal.
"Kemana aja hatiku senang." timpal Oji.
"Lo bisa serius dikit nggak sih?"
"Kalau mau gue seriusin jangan disini, di KUA aja." balas Oji santai.
"DASAR KUTIL ANOA!" teriak Nana.
"Toa banget sih lo, kuping gue pengang nih." gerutu Oji sambil mengusap-usap telinganya.
"Gue mau kesana." tunjuk Oji ke pojok, saat menemukan anak-anak kecil Rama melingkari sebuah kolam kecil yang sengaja dibuat untuk memancing ikan-ikanan yang mulutnya ada magnetnya.
Natasya hanya memandang Oji dengan tatapan tidak percaya. Dia membulatkan matanya sempurna.
"Elo yakin?" tanya Nana tidak percaya.
"Ya, ngapain harus ragu." jawab Oji dengan tegas.
Ketika Natasya hendak berbicara lagi, Oji sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Natasya yang masih terbengong-bengong.
"Woi tungguin!"
__ADS_1
Oji sudah duduk di kursi dekat kolam dengan santainya, dia tidak menghiraukan tatapan ibu-ibu yang sedang menjaga anaknya.
"Ayo kita tanding, siapa yang dapet lebih banyak." tantang Oji kepada anak-anak kecil di sampingnya.
"Oke siapa takut." jawab salah satu anak kecil.
Natasya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Oji. Ternyata Oji benar-benar tak punya malu.
Oh My God!
Natasya hanya memperhatikan Oji sembari duduk di dekat kolam buatan. Dia mengusap wajahnya kasar, Natasya benar-benar malu!
Turun derajatnya! Oh tidak!
Apa-apaan ini? Ia seperti seorang ibu yang sedang menunggu anaknya bermain.
"Woy, gue menang! YUHU!!" teriak Oji.
"Abang curang."
"Mana ada, elo aja yang nggak bisa main. Dasar bocil!" ledek Oji.
"Bocil kok bilang bocil, gak nyadar." celetuk anak yang memakai baju merah itu.
"Sana lo pulang, minta bikinin susu sama emak lo." balas Oji.
Anak itu segera berlari dan menghampiri seorang wanita. Raut wajah wanita itu berubah menjadi menyeramkan. Dia lalu menghampiri Oji.
"Heh, kamu ya yang bikin anak saya nangis?" tanya wanita tadi dengan wajah kesal.
"Enggak bu, anak ibu aja yang cengeng." balas Oji santai.
"DASAR KAMU YA! UDAH BESAR TAPI NGGAK TAHU MALU!!" teriak ibu itu.
"Ngapain malu, orang saya pake baju lengkap gini."
"KAMU BENER-BENER YA!!" ibu itu mengangkat sandalnya dan hendak memukulkan ke arah Oji. Namun secepat kilat Oji segera menarik tangan Natasya untuk berlari.
"Kabur..."
***
Oji dan Natasya masih berlari menghindari ibu-ibu tadi. Bahkan mereka tak terasa kalau mereka sedang bergandengan tangan.
"Haha..hoshh..hoshh..hoshh..gue capek." ucap Natasya dengan napas tersendat-sendat.
"Bener-bener tuh ibu, galak bener!" kata Oji bergidik ngeri.
"Elo sih, anak orang elo gangguin sampe nangis gitu."
"Haha, lucu aja liat wajah tuh emak-emak."
Mereka masih tak menyadari jika tangan mereka sedang bergandengan. Oji dan Natasya masih mengatur napas mereka sambil cekikikan.
"Sumpah gue ngakak tadi" Natasya mengalihkan pandangan ke arah tangannya. Dia masih tidak bergeming, hanya menatap tanpa berkata apa-apa.
Oji yang menyadari arah pandang Natasya segera melepaskan tangannya, "Eh sorry-sorry tadi gue reflek."
Seketika diam. Tak ada obrolan. Mereka masih sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Oji berdiri dan menatap ke arah Natasya.
"Gue mau beli minum dulu, elo tunggu disini aja." ucap Oji meninggalkan Natasya tanpa mendengar jawaban dari perempuan tersebut.
"Duh, kok gue tadi malah ngeliatin tangan gue di gandeng sama dia sih. Bodoh banget! Haduh malu-maluin elo Natasya." gumam Natasya.
Sibuk bergumam, tiba-tiba seseorang menyodorkan air mineral ke arahnya. "Nih minum."
"Thanks." ucap Natasya menerima botol minum.
__ADS_1