Senja Dandelion

Senja Dandelion
Penjelasan


__ADS_3

"Gu...gue cuma mau ngelurusin semuanya Ken." ucap Sonya lirih.


Badan Elon bersandar di pohon dan ia masih memejamkan matanya. Saat ini Elon dan Sonya sedang berada di belakang sekolah, sebenarnya tadi hanya alasan belaka untuk menemani makan di kantin.


"Semuanya udah selesai, gak ada yang perlu di lurusin. Semuanya udah berubah dan udah rusak semenjak lo pergi." balasnya dengan dingin. Mata Elon menatap lurus ke depan dan enggan menengok ke samping.


Mata Sonya mulai memanas. Sebelum berbicara lagi, Sonya menarik napas dalam. Entah apa reaksi Elon nantinya, dia harus tetap jujur tentang alasannya pergi.


"Dua tahun yang lalu, gue pindah ke luar negeri." Sonya menarik napas kembali, "Gue harus pindah karena papah harus ngurus bisnisnya disana dan mamah harus ngelakuin pengobatan disana."


"Gue gak sempet buat ngabarin ke semuanya, apalagi ke elo Ken." lanjutnya


"Mamah udah bener-bener kritis, dan setelah beberapa hari di rawat dia ninggalin gue sama papah." Sonya tak kuat menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk matanya.


"Sorry.." lirih Elon.


"Ini emang udah jalan Tuhan, mau gak mau gue harus nerima semua ini dengan ikhlas." Sonya menggenggam tangan Elon.


"Sekarang elo harus bisa jalanin hidup seperti biasa Ken, jangan pernah terpaku dengan elo selalu nunggu gue." kata Sonya memandang ke arah Elon.


"Gue sama sekali gak pernah nunggu elo buat balik sama gue. Gue cuma mau kejelasan tentang hubungan ini dan alasan lo ninggalin gue secara tiba-tiba." balas Elon dengan tenang.


"Jadi sekarang mau lo apa?" tanyanya.


"Sorry Ken.." Sonya menundukkan kepalanya. "Gue tau selama ini elo nunggu kejelasan. Apa gue masih ada di hati lo?" tanya Sonya.


Elon diam.


Kenapa ada yang berbeda dengan diri? Apakah dia benar-benar sudah melupakan Sonya?


"Gue gak tau." jawab Elon dingin.


"Gue mohon elo lupain gue, Ken."


Elon menengok ke samping, "Kenapa?" jawabnya masih dengan raut wajah yang dingin.


"Setelah kejadian dimana mamah meninggalkan, gue bener-bener kacau. Dan saat itu gue ketemu sama laki-laki yang bisa nenangin gue, dia baik sama gue, dia juga bisa ngertiin perasaan gue." Sonya menarik napas dalam-dalam.


"Sekarang gue udah pacaran sama dia." lanjutnya sambil menunduk.


Elon masih menunggu perempuan itu untuk berbicara lagi. Mendengar semua fakta yang mungkin memang pahit, tapi dengan begitu dia tidak ada terpaku pada satu titik.


"Please, maafin gue. Perasaan ini muncul secara tiba-tiba dan gue enggak bisa menyangkal semua ini."


"Oke"


"Ken..maafin gue. Jangan pernah nyalahin dia. Gue mau semua ini bisa clear, karena gue gak bisa kalo harus ngerasa bersalah sama elo." lanjutnya.


Elon menatap Sonya, "Gue tau semua orang emang butuh tempat bersandar ketika dia rapuh, dan ketika itu gak ada gue di samping lo. Gue ngerti kok, jadi lo gak perlu ngerasa bersalah."


"Thanks Ken. Gue ngerasa lega setelah ngungkapin semua ini." Sonya langsung memeluk Elon. Elon tidak memberontak dan tidak juga membalas.


Seorang perempuan tergesa-gesa meninggalkan belakang sekolah dan segera menuju ke kelasnya.


***


Natasya berlarian menuju ke dalam kelas. Untung saja sedang tidak ada guru yang mengajar.


Brak!


Natasya menggebrak meja, membuat semua yang berada didalam kelas menoleh kepadanya.


Lalu dia duduk di bangkunya sambil ngos-ngosan. "Heh ngapain elo pada ngeliatin gue!" ucapnya sinis pada semua orang dan membuat mereka mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Elo kenapa sih Na? Dateng-dateng bukan ngucapin salam, malah nyelonong gitu aja. Untung gak ada guru." kata Febby sedikit kesal.


"Ngapain elo lari-larian kayak tadi?" tanya Karin.


"Bentar-bentar! Biarin gue napas dulu." Natasya mencoba menstabilkan napasnya.


"Kalian kenapa sih?" tanya Ara yang masih fokus pada novelnya.


"Tau nih si Nana!" tunjuk Febby pada Natasya.


Natasya menyipitkan kedua matanya dan menatap satu persatu ketiga temannya, "Heh, kalian pada tau nggak?" tanyanya.


"Enggak! Kan elo belum ngomong!" jawab Karin.


"Jadi gue tadi..." kata Natasya menggantung.


"Ah elah buruan!"


"Gue tadi ngeliat kak Elon pelukan sama kakak kelas yang kemarin ada di kantin waktu itu." lanjutnya dengan suara yang pelan.


"APAA?!" pekik keduanya.


"Jangan berisik, nanti ada yang denger." kata Natasya.


"Salah liat orang kali lo Na." kata Febby.


"Enggak mungkin. Jelas-jelas tadi emang kak Elon, lo kira mata gue rabun?" balas Natasya dengan sewot.


"Masa sih?" balas Karin. "Emang mereka ada apa. Ada something? Atau jangan-jangan mereka..." Karin membekap mulutnya sendiri.


"Jangan-jangan apa?"


"Udah deh, jangan seudzon." balas Febby menengahi.


"Kalian kenapa liatin aku kaya gitu?" tanya Ara yang bingung dengan ketiga temannya.


"Lo beneran gak denger apa yang kita bicarain?" tanya Natasya dengan intens.


Ara menggeleng polos. Natasya segera menepuk keningnya sendiri dan kedua temannya yang terbengong dengan mulut yang terbuka.


"Ya ampun Ra."


"Emang lo gak cemburu Ra?" tanya Karin.


"Cemburu kenapa?"


"Tadi si Nana liat kak Elon lagi pelukan sama cewek di belakang sekolah." ucap Karin dengan hati-hati.


"Emang urusannya apa sama aku?" tanya Ara.


Sungguh dia tak bisa menyangkal bahwa ada sedikit rasa sakit dalam hatinya. Tapi Ara tidak mau berharap lebih. Jadi, dia menampakkan ekspresi biasa saja. Toh, Elon bukan siapa-siapanya.


"Ampun deh Ra." kata Febby sambil menggelengkan kepalanya, "Elo gak ada hati sama kak Elon?" tanya Febby.


"Perasaan gak bisa di paksain Feb. Kalau emang perasaan itu tiba-tiba muncul, aku juga gak bisa menyalahkan siapapun."


Ara menarik napas, "Dan satu lagi, aku juga gak mau berharap lebih sama siapapun. Karena terlihat biasa saja itu lebih baik dan enggak ada risikonya." lanjut Ara kemudian dia berdiri.


Ketiga temannya masih diam. Mereka mengerti apa yang tadi di katakan oleh Ara tadi.


"Mau kemana Ra?" tanya Natasya ketika melihat Ara sudah berdiri dari bangkunya.


"Toilet." jawab Ara keluar dari dalam kelas.

__ADS_1


***


Ara membasuh wajahnya dengan air, dan menatap wajahnya di pantulan cermin yang terdapat di toilet. Dia menarik napas lalu menghembuskan. Lalu keluar dari toilet dengan wajah yang terlihat lebih fresh.


Ara berjalan menyusuri koridor, sangat sepi. Karena jam pelajaran masih berlangsung. Pak Prapto berjalan berlawanan dengan Ara.


"Kamu Ara kan?" tanya pak Prapto.


"Iya pak." jawab Ara mengangguk sopan.


"Kamu bisa bantu bapak?"


"Bantu apa pak kalau boleh tau?"


"Tolong kamu panggilkan Elon ya, saya tunggu di ruangan saya." kata pak Prapto. "Kamu tau kelasnya kan?" tanyanya lagi.


"Tau pak, kalau begitu saya permisi dulu." jawab Ara dan melangkahkan kakinya menuju ke koridor kelas 12.


Ara menaikki tangga satu persatu, dan dia sudah tiba di depan kelas XII IPA 2. Ara mengetuk pintu dengan sopan.


"Assalamu'alaikum, permisi pak." sapa Ara kepada guru yang mengajar di kelas.


"Waalaikumsalam, oh ada apa?" tanya guru tersebut.


"Saya kesini mau manggil kak Elon." jawab Ara yang masih menundukkan kepalanya karena dia menjadi pusat perhatian.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak." pamit Ara dan segera keluar kelas.


Guru tersebut langsung memanggil Elon, "Elon, kamu boleh keluar kelas." kata pak Tedi dan melanjutkan menulis di papan tulis.


Elon segera berdiri, "Saya permisi dulu pak." pamit Elon dan keluar kelas menyusul Ara.


Ternyata Ara masih di depan kelasnya. Elon mendekati Ara yang sedang sibuk memperbaiki ikat rambutnya.


"Kenapa nyari gue?" tanya Elon to the point.


"Kak Elon udah ditunggu pak Prapto di ruangannya." jawab Ara seadanya.


Belum sempat Elon membalas. Ara sudah melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.


"Eh..eh.." Elon mengejar Ara dan menarik seragam perempuan tersebut.


Ara berbalik badan dan menatap Elon dengan datar, "Ada yang bisa saya bantu lagi?" kata Ara.


Elon hanya diam dan memandangi wajah Ara.


Ara yang mulai jengah dengan Elon yang hanya diam saja dan menatapnya intens.


"Kalau gak ada perlu lagi, Ara balik ke kelas duluan." ucap Ara membalikkan badan membelakangi Elon.


Tapi Elon segera menghadang Ara kembali. Dia memasukkan kedua tangan di saku celananya.


"Elo kenapa Ra?"


"Emang aku kenapa?" Ara balas bertanya kepada Elon.


Elon mendekatkan tubuhnya ke arah Ara.


Ara yang mengetahui itu langsung gugup di tempat.


"Apa sih kak?" Ara mulai kesal.


"Jangan terlalu galak ngelebihi Bu Dayu." jawab Elon dan pergi meninggalkan Ara.

__ADS_1


__ADS_2