
"DEMI APA TADI MALAM KAK ELON NOLONGIN LO RAA!!" Febby yang baru saja memasuki kelas dan berteriak ketika mendengar cerita Ara.
Perempuan itu memang tak tahu malu. Sekarang mereka menjadi objek pandang beberapa orang yang ada di kelas.
"Feb, kecilin dong suaranya." Ara terdengar memelas. Sifat Febby yang satu ini terkadang membuatnya malas.
"Eh sorry! Enggak bermaksud Ra." Perempuan yang memiliki rambut sedikit cokelat itu tersenyum tak enak kepada Ara karena menyadari kesalahannya. "Jadi bener? Kak Elon sampai berantem gara-gara nolongin elo? tanyanya lagi. Kali ini suaranya mulai terkontrol.
"Ya seperti apa yang gue ceritain tadi. Gue enggak mau ingat-ingat kejadian semalem lagi."
"Tapi lo gakpapa kan Ra?"
"Gakpapa sih."
"Aduhh..jangan-jangan kak Elon suka lagi sama lo?" Febby mulai berekspektasi tidak jelas.
"Udahlah gak usah bahas itu lagi." Ara melempar pandangannya ke arah pintu kelas dan melihat gerombolan lelaki itu melewati kelasnya. Mereka tampak saling bergurau dan melempar ejekan satu sama lain. Masih pukul tujuh kurang. Mungkin mereka baru saja tiba di sekolah dan berjalan bersama-sama di koridor.
Di deret depan ada Elon, Arka, dan Laskar. Sementara Oji dan Irga mengekor di belakang mereka. Kakaknya itu tadi memang berada di parkiran, mungkin menunggu teman-temannya datang.
Elon dan Laskar memang memiliki ukuran tubuh yang sama dengan Arka. Sebelas dua belas.
"Eh kak Laskar ganteng banget." celetuk Karin.
"Apa sih lo!" Febby sewot.
"Cembokur ya mbak?" sambil menoel dagu Febby.
"GAKK!!"
Mereka mulai berdebat lagi. Ketika Ara menoleh ke arah pintu lagi, ternyata gerombolan itu sudah menghilang. Tetapi suara tawa mereka masih terdengar sayup-sayup di kelas Ara.
****
Toilet perempuan sedang sepi. Begitu Ara masuk, ia lantas terkejut. Seseorang sedang memunggunginya. Ara terpaku dengan mulut setengah terbuka. Hal ini karena cowok yang ada di hadapannya itu tidak memakai baju, hanya menyisakan kaos hitam!
Apa Ara salah masuk toilet?
Tidak salah. Ini kan toilet perempuan. Kenapa dia ada disini?
"EH, LO KENAPA ADA DI TOILET CEWEK??"
"Lo ngapain disini?" tanya Elon setelah mendengar teriakan Ara.
Ara terkejut bukan main. Ini Elon?
"Harusnya gue yang tanya kak! Ngapain kak Elon ada disini."
"Menurut lo gue ngapain disini?" Elon berbalik bertanya kepada Ara. Ia segera memakai seragam nya dan tidak memasukkan ke dalam celana.
Ia dengan cepat membasuh wajahnya. Ara juga mendengar rintihan dari mulut Elon.
"Kak Elon kenapa?"
"Sini ikut gue." kata Elon dingin. Ia mempercepat langkahnya dan menarik Ara keluar dari toilet.
"Kak, kita mau kemana?"
Tak ada jawaban dari Elon, mungkin pertanyaan Ara hanya di anggap sebagai angin lalu.
****
Elon menarik Ara menuju ke UKS. Menutup pintu dan duduk di atas brangkar. Ara masih berkutat sendiri dengan pikirannya. Karena di UKS sangat sepi, hanya ada mereka berdua. Bayangkan saja!
__ADS_1
"Mau berdiri terus di situ." Elon mulai bersuara.
Ara yang ketahuan melamun pun langsung gelagapan.
Ara melangkahkan kakinya dengan berat. Ia duduk sangat jauh dari Elon. Bukan apa-apa, takut nanti di sangka yang tidak-tidak.
"Nih. Obatin." kata Elon singkat.
"HAHH?"
"Pegel nih tangan gue." menyodorkan kotak P3K.
Setelah berpikir beberapa detik. Ara baru paham apa yang dimaksud oleh Elon. Ia segera beranjak dan mendekati Elon.
Jarak mereka begitu sangat dekat, tetapi Ara tak berani memandang ke arah Elon. Kenapa Ara merasa jantungnya berdetak lebih cepat? Apa dia mempunyai penyakit jantung? Ah, Ara kan masih muda.
Dia harus segera bertanya kepada bundanya nanti setelah pulang sekolah.
"Awhh..Pelan-pelan dong." karena Ara tak sengaja memencet lebam di wajah Elon.
"Eh.. sorry kak."
"Ikhlas gak sih?" tanya Elon.
"Udah dibantuin juga." ucap Ara kesal.
"Udah nih..Ara balik ke kelas dulu ya kak." Ara berucap sambil membereskan kotak dan bersiap berdiri.
Namun cekalan tangan seseorang menghentikan Ara yang hendak berjalan. "Temenin gue disini bentar."
Ucapan Elon membuat Ara mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas.
Ara tidak suka berada di momen akward seperti ini. Sungguh membosankan!
"Ra"
"Elo duluan deh." ucap Elon.
"Emm..soal semalem, makasih yaa kak." ucap Ara sambil menggigit bibir bawahnya.
"Hm"
Hening lagi. Hanya ada helaan napas dari kedua orang itu. Ara tak berniat untuk membuka suara dan mencari topik pembicaraan.
Ujung-ujungnya jika Ara bersuara pasti hanya dijawab singkat oleh Elon.
"Ra" panggil Elon.
"Hmm?"
"Elo balas dendam ya sama gue?"
"Eh enggak kok," ucap Ara gugup sendiri.
"Elo punya pacar?" tanya Elon.
"Emang kenapa kak?"
"Lha emang gue nanya kenapa?" Elon berbalik bertanya.
"Ih..tau deh." jawab Ara jutek.
Elon hanya tersenyum melihat tingkah Ara.
__ADS_1
"Jadi bener lo gak pernah punya pacar?" tanyanya lagi.
"Gak boleh pacaran sama bunda, masih kecil." sambil mengalihkan pandangannya menatap ke pintu UKS.
"Oh"
"Apa jangan-jangan gak ada yang mau sama elo?" selidik Elon.
"Kalau gak ada yang mau juga gakpapa, jodoh kan udah ada yang ngatur kak." kata Ara cuek.
"Mau gak sama gue?"
"HAHHH?"
Karena otak Ara sekarang lagi lemot, jadi perkataan Elon membuat Ara hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Hahaha.." tawa Elon langsung pecah ketika melihat raut wajah Ara.
"Ih kok ketawa sih? Emang ada yang salah?"
"Nggak!"
"Lo lucu banget tau gak, lo itu emang polos atau bodoh sih?" ucapan Elon membuat Ara mengerucutkan bibirnya.
"Dasar kutub!" umpat Ara dalam batin.
"Kalau ngomong gak bisa di saring ya?" tanya Ara sangat kesal.
"Emang santan apa di saring." Elon mulai garing.
"Nyenyenyenye.." ucap Ara sambil memanyunkan bibirnya.
Setelah ucapan Elon yang menurut Ara sangat garing. Mereka kembali dilanda momen akward, hanya ada keheningan.
Bel istirahat pun, memecah keheningan diantara keduanya. Ara segera berdiri dan bergegas keluar dari dalam UKS. Ketika hendak membuka pintu, Elon segera menutup pintu itu kembali.
"Ngapain lagi sih kak?" gerutu Ara. Elon membalikkan badan Ara agar bisa berhadapan.
Jarak mereka terlalu sangat dekat. Oh No!
"Jangan di ambil hati ucapan gue yang tadi." kata Elon mulai berbicara.
"Hmm.."
"Sorry" kata Elon pelan.
Karena jarak mereka yang memang dekat, Ara juga mendengar perkataan Elon. Tetapi dia segera berbalik badan dan tidak menjawabnya.
Ceklek..suara pintu UKS mulai terbuka.
Ara yang sudah siap-siap ingin keluar, akhirnya tertahan lagi.
"Sorry gue gak bermaksud ngatain elo." sambil memegang tangan Ara.
"Gakpapa kak, santai aja." jawab Ara seperti berbisik.
"Jadi dimaafin gak nih?" Elon memastikan.
"Iyaa.." Sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Jangan ngambek mulu kek bocil." ucap Elon sambil mengacak pelan rambut Ara.
"Ih baru juga dimaafin" kata Ara keluar dari UKS dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
__ADS_1
Elon hanya tersenyum sekilas melihat tingkah Ara, dia lalu menampilkan wajah datarnya dan keluar dari UKS.