
Setelah kejadian dimana Ara kejang-kejang karena mencoba mengingat, kini Ara sudah pulang ke rumah karena rengekan perempuan itu.
"Ra, kamu beneran mau sekolah?" tanya Kevin was-was.
"Iya." jawab Ara seadanya.
Kevin menghembuskan napas panjang, memang sulit untuk membujuk adiknya yang sangat keras kepala. Padahal Ara baru 2 hari pulang dari rumah sakit dan memaksa untuk masuk sekolah.
"Beneran lo mau sekolah dek?" tanya Arka.
Ara jengah dengan pertanyaan kedua abangnya ini, "Ara gakpapa bang." balasnya yang sibuk memasukkan buku ke dalam tas sekolah.
"Tapi nanti kalau pusing langsung bilang sama bang Arka ya."
"Iya iya bawel."
"Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon bang Kevin ya." timpal Kevin.
"Iyaa.." ucap Ara jengah.
"Ara berangkat." lanjutnya sambil menggendong tas di bahu.
"Hari ini bang Kevin yang anter." sambar Kevin.
"Ara naik angkot aja deh bang."
"GAK!" balas keduanya serempak.
Merekapun turun ke bawah untuk sarapan. Disana sudah ada Kana dan Fara.
"Lhoh kok adek sekolah?" tanya Fara sambil mengusap kepala Ara.
"Gakpapa bun. Ara baik-baik aja kok."
"Beneran kamu mau sekolah?" tanya Kana.
"Iya yah."
Sarapan pagi berlangsung dengan nikmat tanpa ada obrolan sedikitpun. Ara segera berdiri karena dia sudah selesai sarapan.
"Yah, Bun, berangkat ya." kata Ara sambil menyalami tangan Kana dan Fara.
Kevin dan Arka pun ikut berdiri menyusul Ara yang sudah keluar rumah.
"Kevin mau nganter Arka sama Ara dulu Bun." pamit Kevin. "Assalamu'alaikum."
Kevin berjalan menuju garasi untuk mengambil mobil. Dia pun menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, karena jalanan lumayan ramai.
Sesekali Kevin melirik Ara melalui kaca. Adiknya itu sedang sibuk memperhatikan jalanan dari kaca mobil.
Mobil itu memasuki area SMA Permata Indah, dan menjadi sorotan orang-orang yang lewat.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon bang Kevin ya dek." kata Kevin yang mengusap rambut Ara.
"Ini udah ke seratus Abang bilang gitu terus." gerutu Ara.
"Namanya juga khawatir." balas Kevin tersenyum.
"Nanti jangan telat jemput lo bang!" ucap Arka sinis. Dia tahu tabiat abangnya itu, kalau tidak diingatkan pasti selalu lupa. Entah lupa beneran atau pura-pura lupa.
"Iya. Sana masuk!" usir Kevin.
Arka tidak juga beranjak, tetapi dia malah mengulurkan tangannya kepada Kevin. Seolah mengerti apa yang dimaksud Arka, Kevin memutar bola matanya malas dan mengambil dompetnya di saku celananya.
__ADS_1
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan kepada Arka. Arka pun tersenyum senang setelahnya.
"Sana masuk." usir Kevin pada Arka.
"Ara masuk duluan ya bang." kata Ara hendak pergi, namun dicegah oleh Kevin.
Ara berbalik badan dan melihat Kevin yang menaikkan sebelah alisnya serta memegang pipinya dengan telunjuk.
Ara mendekat dan segera mencium Kevin. "Sekolah yang bener." kata Kevin mengacak rambut Ara.
Kevin menatap kedua adiknya yang sudah masuk ke dalam sekolah. Dia masuk kedalam mobil dan segera manancap mobilnya pergi.
***
"Ara" teriak Natasya segera memeluk Ara yang memasuki kelas.
Ara sedikit merasa risi, kenapa semua orang seolah sudah mengenalnya lama. Padahal seingatnya dia adalah murid baru.
Tak mau memikirkan semua itu, Ara berjalan menuju ke bangkunya.
"Ya ampun Ra, gue kangen banget sama lo." Febby yang duduk disamping Ara.
"Lo kok sekolah sih Ra? Kan elo belum sembuh." imbuh Karin.
Ara tersenyum menanggapi teman-temannya ini. Mendengar suara itu Ara merasa ada kepingan kenangan yang berada di otaknya. Namun terlihat begitu samar.
Ara memegangi kepalanya yang berdenyut karena mencoba mengingat sesuatu. Natasya yang melihat itupun langsung panik.
"Ra, lo kenapa?" panik Natasya.
Putaran-putaran kenangan itu seperti kaset rusak yang berkeping-keping layaknya puzzle. Semakin Ara mencoba mengingat maka semakin sakit kepalanya.
"Lo kenapa Ra?"
"Jangan coba inget Ra, biarin lo inget sendiri." lirih Febby.
"Please Ra jangan buat gue takut." Karin yang sudah tidak kuat menahan air matanya.
Semakin banyak suara bising yang mengitari kepalanya. Ada tawa, teriakan, kesedihan. Ara benar-benar merasakan sesuatu yang tidak asing.
Dia pun berdiri dan ingin segera pergi ke kamar mandi untuk menenangkan pikiran nya.
"Mau kemana Ra?" tanya Natasya.
"Kamar mandi." jawabnya melenggang pergi.
Disepanjang koridor banyak yang menyapa Ara, namun perempuan itu hanya membalasnya dengan senyuman sambil menahan pusing di kepalanya saat ini.
Tiba-tiba Ara merasakan ada sebuah benda menghantam kepalanya. Membuat kepalanya semakin berdenyut.
Penglihatan nya semakin buram.
Brukk...
Semua orang langsung berlari menghampiri Ara yang pingsan. Elon melihat banyak orang yang berkerumun, dia segera berlari mendekati kerumunan itu.
Elon melihat Ara yang tidak sadarkan diri. Dia mengangkat Ara ala bridal style menuju ke UKS tanpa memperhatikan yang lain.
Sudah setengah jam Ara tidak segera sadar. Elon mondar-mandir tidak jelas. Disana juga sudah ada yang lainnya.
Arka yang mendengar bahwa Ara pingsan langsung bergegas menuju UKS dan meninggalkan teman-temannya yang terus berteriak.
"Kenapa bisa kayak gini?" tanya Arka.
__ADS_1
"Kita gak tau bang, tadi Ara izin ke toilet." balas Natasya dengan bahu bergetar.
"Gimana nih, kita bawa ke rumah sakit aja deh." usul Oji.
Ara mencoba membuka matanya, setelah mendengar suara di sekitarnya. Dia bingung kenapa banyak orang berkumpul mengerubunginya.
"Bang.." panggil Ara serak.
Arka yang mendengar panggilan itu langsung mendekati adiknya.
"Ada yang sakit bilang sama abang. Kita ke rumah sakit ya." kata Arka sambil mengelus kepala Ara.
"Kenapa kalian disini?"
Semua orang langsung kaget dengan pertanyaan Ara. Natasya langsung mendekati Ara.
"Lo inget gue siapa Ra?" tanya Natasya pelan.
Ara terkekeh geli. Pertanyaan macam apa ini. Jelas dia ingat, dia tidak mungkin melupakan teman-temannya.
"Kenapa sih Nat?!" Ara terkekeh, "Aku inget kok." lanjutnya.
"Beneran Ra?" Natasya langsung memeluk Ara hingga perempuan itu sulit untuk bernapas.
"Le..lepas.." kata Ara terengah-engah.
"Hehe..maaf. Gue kan seneng lo udah inget semuanya." jawab Natasya.
Elon mendekati matras tempat Ara, cowok itu langsung duduk disamping Ara. Dia menyodorkan minuman kepada Ara.
"Ma..makasih kak." ucap Ara sambil menahan jantungnya yang deg-degan.
"Lo inget gue kan?" tanya Elon.
Jarak mereka yang terlalu dekat membuat Ara semakin gugup. "Apa sih kak? Ya jelas inget lah."
"Ehemm.." sindir Arka. "Ada orang disini." katanya dengan kedua tangannya bersedekap di dada.
"Sirik." balas Elon yang sudah berdiri.
"Udah-udah biarin Ara istirahat dulu." kata Febby.
"Hus..hus..sana-sana pergi." usir Natasya mengibaskan tangannya.
"Lo pikir gue ayam. Main ngusir-ngusir aja." balas Oji menantang.
"Emang situ ngerasa?!"
"Apa lo?!"
Mereka pun jengah setiap kedua orang itu bertemu pasti akan selalu berdebat dengan hal-hal yang tidak jelas.
Mereka keluar dari UKS tanpa memperhatikan Natasya dan Oji yang masih beradu debat. Ara juga sudah keluar dari UKS dengan dipapah oleh Febby.
Menyadari suasana yang mendadak hening, Natasya mengedarkan pandangannya. Benar saja hanya tinggal dirinya dan Oji yang berada di UKS.
"Lah kok gue ditinggal sih." gerutu Natasya. "Ini semua gara-gara lo!" tunjuknya pada Oji.
"Lah kok gue sih?"
"Ya elo lah." lanjut Oji.
"Lo."
__ADS_1
"Lo."
Perang dunia pun dimulai lagi.