
Hidup bukan tentang harus menjadi apa yang menjadi impian. Bukan tentang mempunyai semua keinginan. Kadang hidup tak seperti apa yang di bayangkan. Lika liku, terjal, curam, harus siap dengan badai yang akan datang kapan saja.
Siap terjatuh, lalu bangkit. Realita yang tak semanis ekspektasi manusia, ada cerita lain dibaliknya.
Agar manusia sadar diri betapa congkak dirinya di hadapan Tuhan. Agar manusia mengerti bahwa mensyukuri yang ada, akan membuat diri lebih dekat dengan Tuhan-Nya.
Semua keinginan butuh perjuangan bukan? Lalu ketika keinginan itu tak kesampaian, kenapa menyalahkan keadaan? Yang seharusnya terjadi, mensyukurinya, dan berjuang lagi tanpa meninggalkan doa.
***
"Bang, cepetan dong!"
Ara sudah siap sejak setengah jam yang lalu untuk menjemput Kevin yang akan pulang dari London. Tetapi Arka tidak siap juga,
"Iya iya bawel banget." balas Arka yang sudah keluar rumah lalu menuju garasi.
"Kita naik motor bang?" tanya Ara.
"Ya enggak lah. Nanti bang Kevin mau di taruh dimana?" Arka memutar bola matanya.
Arka mengambil mobil dan masuk kedalamnya. "Cepet masuk!" perintah Arka mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil sambil melihat Ara yang masih berdiri di teras rumah.
Mereka mengedarkan pandangan mencari seseorang. Tapi orang tersebut tak terlihat sama sekali.
"Heh, kurang aja lo! Gak tau apa gue udah nunggu dari tadi." gerutu laki-laki yang menyeret koper dari belakang Arka dan Ara berdiri.
Mereka membalikkan badan dan melihat Kevin dengan wajah kesal.
"Udah untung gue jemput." cibir Arka.
"Aaaa...bangkeee..." teriak Ara berlari menghampiri Kevin.
Ara segera memeluk Kevin, "Ada oleh-oleh gak bang?" tanya Ara dengan wajah polosnya.
"Ck, bukan ditanyain kabar malah nanya oleh-oleh. Adek laknat semua lo!" kesal Kevin.
"Dih, siapa juga yang mau punya kakak kek lo!" tunjuk Arka kepada Kevin.
Kevin merebut kunci mobil yang ada di jari tangan Arka, lalu berjalan meninggalkan Arka. "Bawain ke bagasi." ujar Kevin.
"Awas aja lo!" gerutu Arka.
Kevin menyetir mobil dan Arka duduk di sampingnya. Sedangkan Ara duduk di belakang.
"Bang, lo naik mobil lelet banget sih." kata Arka.
"Gue cuma lagi menikmati udara segar Bandung."
"Halah, bilang aja lo gak berani." cibir Arka.
"Oh lo nantangin gue." jawab Kevin dengan senyum smirk nya.
Tanpa aba-aba Kevin langsung mengegas mobil dengan kecepatan tinggi. Membuat Arka dan Ara terkejut dan langsung berpegangan.
"Bang, jangan kenceng-kenceng." teriak Ara yang ketakutan.
"Woii, jangan ngadi-ngadi lo bang." kesal Arka. "Lo mau bikin kita celaka?!" lanjutnya.
"Ya Allah Ara masih sekolah, belum kuliah, belum kerja. Jangan ambil nyawa Ara dulu ya Allah." Ara mulai merapalkan doa.
"Bhahaha..." Kevin tertawa
"Dek, kalo doa jangan gitu napa." Arka menengok ke belakang dengan tangan yang masih berpegangan.
"Rasain lo! Gak tau aja gue di London sering ikut balapan." batin Kevin. "Maafin abang Ra, bikin kamu takut." lanjutnya sambil tersenyum.
Kevin masih menyetir mobil seperti orang yang kesetanan. Menyalip mobil dengan gesit. Meliuk ke kanan dan ke kiri. Mobil itu pun memasuki halaman rumah.
Arka mengacungkan jari tengahnya kepada Kevin sebagai tanpa kekesalannya. Namun Kevin malah tertawa ketika melihat ekspresi adik-adiknya ini.
"Gimana rasanya?" tanya Kevin tersenyum jahil.
"Jantung Ara mau copot." jawab Ara memegangi dadanya.
"Keparat emang lo!" sarkas Arka.
"Makanya jangan coba-coba nantangin gue." Kevin berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum, Kevin yang ganteng pulang." teriak Kevin.
"Waalaikumsalam.." balas bunda sedikit berlari dari dapur.
Kevin menyalimi tangan Fara. "Apa kabar Bun?" tanya Kevin dan langsung memeluk bundanya.
"Baik. Lhoh adikmu kemana?" Fara yang bingung ketika tidak melihat Arka dan Ara.
"Ya ampun sayang, kenapa rambut kalian acak-acakan begitu."
Arka dan Ara yang memasuki rumah langsung melotot ke arah Kevin. Tetapi sang empu malah cekikikan tidak jelas.
"Tau ah, Ara ngambek." ucap Ara nyelonong pergi.
"Gue juga ngambek." Arka ikut-ikutan pergi mengejar Ara yang menuju kamar.
Fara hanya menggeleng kepala melihat tingkah anak-anaknya itu. Pasti mereka sedang menjadi bahan bercandaan Kevin.
"Adek laknat lo!" batin Kevin.
***
__ADS_1
Mereka sedang berada di ruang keluarga sambil menonton film. Ada ayah, bunda, Arka, dan Ara. Arka dan Ara yang duduk di karpet sambil memakan cemilan.
Tiba-tiba Kevin datang dan duduk di tengah-tengah Arka dan Ara. Membuat keduanya berdecak sebal.
"Bagi dong dek." pinta Kevin.
"GAK!" jawab Arka dan Ara bersamaan.
"Lah ngambek lo." ucap Kevin menoel pipi Arka, lalu berganti menoel pipi Ara, "Kamu ngambek Ra." lanjutnya lembut.
"Kimi ngimbik Ri." tiru Arka menye-menye.
"Kenapa lo?!"
"Kenapa lo?!" tiru Arka.
"Sudahlah jangan ganggu mereka." jengah Fara.
Kevin malah tersenyum menanggapi perkataan dari Fara. Kana yang dari tadi memperhatikan tingkah anaknya itu langsung angkat bicara.
"Kuliah kamu gimana Vin?" tanya Kana.
"Baik kok yah, cuma bolos beberapa kali aja." jawab Kevin santai.
"Kamu ini emang gak pernah berubah." sahut Fara.
"Berubah jadi orang utan aja lo!" kata Arka.
"Apa lo?!" tantang Kevin kepada Arka.
"Gimana kabar Opa sama Oma disana?" tanya Kana lagi.
"Alhamdulillah, sehat kok yah." Kevin menoleh ke Kana, "Bulan depan katanya mau balik ke Indo." lanjutnya.
"Yeee..Opa sama Oma pulang.." girang Ara.
Ara memiliki 2 orang kakak laki-laki, yaitu Kevin dan Arka. Memang sejak Arka dan Ara menginjak SMP, Kevin pindah ke London menemani kakek dan neneknya disana. Kevin pulang ke Indonesia sewaktu liburan atau hari Raya.
Bahkan mereka juga jarang bertukar kabar karena katanya Kevin sibuk dengan kuliahnya dan membantu Opa mengurus perusahaan.
"Oh iya, ada titipan dari Oma buat kalian." kata Kevin.
"Mana bang?" tanya Arka.
Kevin berdecak sebal, baru mendengar kata titipan saja langsung bersemangat. Kevin pergi mengambil paper bag yang ada di kopernya, lalu kembali ke ruang tamu.
"Nih.." Kevin menyerahkan paper bag kepada Arka dan Ara.
"Wah.. mantep nih." ujar Arka.
"Makasih bangkee.." kata Ara.
"Bangkee..bang Kevin." jawab Ara singkat. "Enak aja panggil gitu." lanjutnya.
"Tapi gak gitu juga kali Ra."
"Bangkee..hahahaha..bangke-bangkee." ejah Arka.
Kana dan Fara tersenyum melihat interaksi diantara ketiga anaknya. Mereka memang menyebalkan, tetapi rasa sayang mereka ditunjukkan oleh sikap menjahili satu sama lain.
"Gue punya sesuatu buat kalian lagi." Kevin meletakkan kedua tangannya di bahu Arka dan Ara.
"Apa bang?" tanya Ara.
"Ikut gue ke kamar." perintah Kevin.
"Siappp bos." balas Arka yang mengikuti Kevin dari belakang untuk menuju ke kamarnya, lalu di susul Ara.
***
"Gimana sekolah kalian?" tanya Kevin yang sibuk membereskan pakaian di lemari.
"Baik kok bang."
"Kamu pindah ke sekolah Arka juga Ra?" Kevin melirik ke arah Ara yang duduk di kasur sambil memakan es krim.
"He'em.." Ara melihat Kevin, "Emang kenapa bang?" tanyanya.
"Gapapa..cuma pengen nanya aja."
Kevin berjalan mendekati Arka dan Ara yang berada di atas kasur. Lalu dia memeluk kedua adiknya itu. Bahkan Kevin sangat merindukan mereka, adik kecilnya yang sudah tumbuh menjadi remaja.
"Apa kenapa?" tanya Ara yang melihat Kevin menangis. Dengan cepat Kevin mengusap air matanya.
"Gapapa, abang cuma kangen sama kalian aja." Kevin tersenyum lalu mengusap kepala kedua adiknya itu.
"Bang, lo gak pengen pindah ke sini aja gitu." kata Arka.
"Gak tau. Kalo gue pindah nanti kasian Opa, gak ada yang ngurusin perusahaan disana." jawab Kevin.
"Nanti kalo gue udah lulus, gue bantu deh bang." titah Arka.
Kevin tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kalau adiknya tidak akan macam-macam dengan ucapannya itu.
"Nanti kalau abang pindah, Ara disini sama siapa?" lirih Ara.
Kevin segera mengusap kepala Ara dengan lembut, "Tenang, kan masih ada beberapa bulan." katanya, "Lagian juga ini masih semester 1 kan." lanjut Kevin.
Ara mengangguk pelan, "Tapi nanti Ara sendiri disini." ucap Ara yang mulai sesenggukan.
__ADS_1
"Nanti kamu bisa ikut abang kesana.." ujar Kevin kepada Ara.
"Gak usah nangis gitu, nanti tambah jelek." ejek Arka.
Ara tertawa lalu memukul lengan Arka.
"Oke, besok kita jalan-jalan!" kata Kevin bersemangat.
"Yee..."
"Gue setuju." balas Arka.
"Udah lama juga gak jalan-jalan keliling Bandung." mata Kevin menerawang ke arah balkon kamar.
"Hadiah gue mana bang!" tagih Arka sambil mengulurkan kedua tangannya di depan Kevin.
Kevin menoyor kepala Arka, "Giliran hadiah aja inget lo!"
"Hadiah adalah hutang. Maka harus di tagih." ucap Arka sok bijak.
"Sa ae lo kutil ayam!"
"Gue kutil ayam, berarti elo ayam kutilan." balas Arka tertawa terpingkal-pingkal.
Merekapun tertawa bersama, menghabiskan rasa rindu yang sekian lama tak berakhir.
***
Ara sudah tidur di kamar Kevin, sementara Kevin dan Arka masih terjaga. Mereka hendak bermain PS tapi takut menganggu Ara. Sehingga mereka memutuskan untuk keluar kamar.
Kevin dan Arka keluar rumah menuju ke pos satpam sambil membawa nampan berisi kopi dan kue. Tak ketinggalan mereka juga membawa catur untuk bertanding dengan Mang Tarjo yang sedang berjaga.
"Lhoh den, mau kemana?" tanya Mang Tarjo.
"Kesini mang." jawab Kevin.
"Lho den Kevin sudah pulang?" tanya Mang Tarjo yang kaget karena melihat Kevin.
"Udah lah mang, kalo dia masih di London terus yang disini siapa?" kata Arka.
Mang Tarjo tertawa, "Oh iya iya."
Mereka duduk di pos satpam sambil meminum kopi dan menikmati angin malam. Arka bertanding dengan Mang Tarjo bermain catur. Sementara Kevin hanya menonton belaka, sembari menghujat Arka jika pion nya kalah di makan pion Mang Tarjo.
"Wehh, gue menang!" teriak Arka girang.
"Baru segitu aja belagu lo." titah Kevin.
Mang Tarjo hanya tersenyum melihat majikan ini. Mereka sering bertengkar tetapi sangat perhatian satu sama lain. Mengingat hal itu Mang Tarjo jadi teringat dengan kakaknya dulu saat masih di kampung.
"Mang, pohon mangga yang disana punya nya siapa?" tanya Kevin.
"Punyanya pak Sarif den."
"Cepet dek, ambilin gue mangga!" perintah Kevin kepada Arka.
Arka mendengus sebal, "Gak. Ambil aja sendiri!" balas Arka.
"Ayo ikut gue!" Kevin menarik tangan Arka untuk mengambil mangga.
"Bang, lo kayak orang miskin aja deh. Lo mau mangga berapa kilo juga bakal bisa beli kali." celetuk Arka.
"Berisik lo! Gue cuma pengen aja ngerasain mangga langsung dari pohon."
"Di London gak ada yang jualan mangga apa gimana sih?!" ejek Arka.
Kevin menoyor kepala adiknya, "Lo kira London kayak di Indonesia yang di pekarangan rumahnya ada pohon mangga."
"Ya kali aja ada." balas Arka santai.
"Udah cepet lo yang naik!" Kevin mendorong tubuh Arka agar segera memanjat pohon.
"Lah kok gue sih?!" Arka menunjuk dirinya sendiri. Kevin langsung melotot tajam, sehingga membuat Arka segera memanjat pohon.
"Woii jagain. Ntar ada orang lewat!"
Kevin mengacungkan kedua jempolnya di bawah. Arka melempar mangga ke bawah dan mengenai kepala Kevin.
"Heh kurang ajar lo!" Kevin mengusap-usap kepalanya yang sakit.
Arka tersenyum senang di atas pohon mangga, "Nih tangkep." Arka melempar mangga ke bawah.
"Tambah satu lagi!"
"Lo udah nyolong gak tau sopan santun lagi." balas Arka.
Arka melonjat dari pohon mangga.
Gedebug!!
"Woy siapa itu" teriak si pemilik rumah.
"Kabur..." mereka segera lari terbirit-birit.
"Gila lo bang, untung kita gak ketahuan!" ucap Arka dengan kedua tangan berada di lutut.
Kevin malah tersenyum dan memakan mangga hasil colongan nya tadi. Eh bukan nyolong tapi mengambil diam-diam.
"Lo disini malah bikin akhlak gue buruk bang."
__ADS_1