
Sejak kembali dari rooftop Ara menjadi tidak mood dengan semuanya. Bahkan ketika masuk kelas dia tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya.
Dia langsung menenggelamkan kepalanya dibalik lipatan tangannya yang berada di atas meja.
"Ara!"
"ARA!" yang panggil bahkan tidak menengok sama sekali.
Natasya, Febby, dan Karin saling memandang satu sama lain. Febby mengangkat sebelah aslinya, pertanda dia bertanya kepada 2 temannya. Sedangkan Natasya mengendikkan bahunya dan Karin menggelengkan kepalanya.
Febby mendekati meja Ara dan menggebrak meja saking gemasnya dengan perempuan itu, "Woii!" teriak Febby di telinga Ara.
Ara mengangkat kepalanya dengan malas, "Apa sih!" kesal Ara karena Febby mengganggu ketenangannya.
"Ya ampun Ra, gue kira elo pingsan." panik Karin.
"Elo kenapa sih Ra?" tanya Natasya sudah geram dengan sikap Ara yang tiba-tiba unmood.
"Emang aku kenapa?" tanya Ara polos.
Mata Febby, Natasya, dan Karin melebar sempurna, bagaimana temannya ini malah bertanya tentang dirinya pada orang lain. Ada yang tidak beres.
Karin segera memegang kening Ara dengan telapak tangannya, "Nggak panas kok." ucapnya pada kedua temannya.
"Heh elo keluar! Jangan di dalam tubuh temen gue!" kata Natasya sambil memegang kepala Ara.
"Heh Nana, elo yang bener aja. Kasian tuh si Ara, kepalanya jadi pusing gara-gara elo puter-puter." kata Febby kesal.
"Jangan mendekat Feb, Ara lagi kemasukan!" ucap Natasya menggebu.
Ketiga temannya benar-benar membuat mood Ara semakin buruk. "Kalian ngapain sih! Natasya lepasin!" Ara melepaskan tangan Natasya yang masih di kepalanya.
"Hehe gue kan khawatir sama elo Ra. Ya habisnya elo dari tadi gak ngerespon kita sih." balas Natasya cengengesan.
Ara berdiri dan keluar kelas meninggalkan teman-temannya yang masih terbengong-bengong.
"Ra, mau kemana lo?"
"Woi Ra tungguin ngapa." tiga perempuan itu pun mengejar Ara.
Ara berjalan dengan cepat melewati koridor kelas 12. Karena terlalu kesal dia tidak memperhatikan jika ada yang orang yang berhenti di depannya.
Dug.
Ara menabrak punggung seseorang, hingga ia mundur beberapa langkah.
Cowok itu berbalik arah, "Kalau jalan itu liat-liat dong! Gak punya mat--"
"Apa?!" ucap Ara melotot kepada orang yang ada di depannya.
Sedangkan cowok tersebut malah cengengesan, "Eh Ara ku sayang." sambil nyengir tidak jelas.
"Apa? Mau ngatain-ngatain tadi?" Ara yang masih dalam mode senggol bacok.
"Arka kau membangunkan singa yang tidur. Siap-siap deh gue." batin Arka bergejolak.
Sedangkan Arka hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kita hitung sampai lima." batin Arka.
Satu..
Dua..
Tig..
"ARA!"
"SENJA PARAMITA! KENAPA ELO NINGGALIN KITA!" teriak Natasya dari lorong koridor.
Arka menghela napas lega, "Huft, aman!" gumam Arka sambil mengusap dadanya. Ara yang melihat itu hanya memicingkan kedua matanya.
Tak! Sebuah jitakkan mendarat di kepala Ara.
"Elo bener-bener ya Ra!" ucap Febby yang masih ngos-ngosan.
"Bodo amat!" ucap Ara ketus lalu meninggalkan Arka dan ketiga temannya yang mematung di tempat.
"Astaghfirullah, sabar Arka sabar! Untung adek gue kalo enggak udah gue buang ke rawa-rawa." kata Arka sambil menggelengkan kepalanya.
"Ebusyet! Dasar temen laknat!" Natasya dan Karin yang baru saja sampai di belakang Febby.
"Kenapa lo pada lari-larian kayak gitu?" tanya Arka kepada ketiga teman Ara.
"KEPO!!" jawab ketiga perempuan itu serentak dan berlalu mengejar Ara lagi.
"Bisa cepet tua gue kalo kena semprot melulu." Arka berjalan menuju kantin karena keempat temannya sudah menunggu.
__ADS_1
***
Ara dan ketiga temannya saat ini sudah duduk di bangku kantin, jarak dengan Arka cs lumayan jauh. Keempatnya sudah memesan makanan dan saat ini sedang berebut kecap dan saos.
"Eh eh gue duluan." ucap Febby ketika Karin hendak memegang botol kecap.
Setelah itu Febby menuangkan kecap ke mangkok milik Karin. "Tumben lo baik?" tanya Karin.
"Pengen baik aja." jawab Febby.
"Woi Feb Feb! Kenapa kuah gue jadi warnanya hitam kek gini!" ucap Natasya ketika melihat kuah baksonya penuh dengan kecap.
"Lah gue kira tadi mangkoknya si Karin." balas Febby cengo.
"Febby dodol!" Natasya menoyor kepala Febby.
"Salah apa hambamu ini ya Allah." Febby menampilkan wajah sok tidak bersalah.
Ara memalingkan wajahnya dan melihat interaksi orang tak jauh dari tempatnya duduk.
Disana Elon dan keempat temannya saling melempar candaan satu sama lain.
"Gue punya tebak-tebakan. Dengerin baik-baik. Clue nya jangan lupakan orang ketiga. Orang pertama gue, orang kedua Arka, siapa orang ketiganya?" Oji memberi pertanyaan.
"Elon." jawab Irga dengan cepat.
"Salah."
"Gue tau gue tau, orang ketiganya Elon." jawab Laskar.
"Yak betull!" Oji mengacungkan kedua jempolnya kepada Laskar.
"Padahal gue tadi jawab begitu." Irga melotot pada Oji.
"Lanjut aja lanjut. Oke dengerin baik-baik. Clue nya, jangan lupakan orang ketiga. Orang pertama Laskar, orang kedua Arka, siapa orang ketiganya?" kata Oji dengan menggebu.
"Gue." jawab Irga lagi.
"Salah!"
"Orang ketiganya Mang Ojan." celetuk Arka.
"Betul sekali!!"
"Terserah gue donggg, eaaa..." balas Oji sambil tertawa terbahak-bahak.
"Karena elo kalah, elo harus traktir kita berempat." katanya lagi.
"Nggak nggak! Nggak ada peraturan kek gitu!" Irga menolak permintaan Oji.
"Woo gak bisa! Harus tetep nraktir kita."
Akhirnya Irga pun mengalah, meskipun Irga anak orang yang berada tetapi dia lumayan perhitungan. Dan ini cara yang tepat untuk menguras habis uang Irga.
Tiba-tiba seorang perempuan menghampiri meja Elon dan teman-temannya, di tangannya ada sepiring siomay.
"Hai, gue boleh gabung gak?" tanyanya yang masih berdiri di samping Elon.
"Eh ada bidadari." ucap Oji sambil mengedipkan sebelah matanya.
Masih tidak ada yang mengiyakan pertanyaan dari Sonya. Kemudian dia bersuara lagi, "Emm, soalnya gue belum punya temen."
"Duduk duduk, santai sama kita. Ya nggak Lon?" kata Irga kepada Elon.
Mereka masih belum mengetahui jika perempuan tersebut adalah mantan dari Elon. Oji yang duduk di sebelah Elon langsung menggeser posisinya.
Sonya langsung duduk di sebelah Elon. "Gue Sonya Diandara, panggil aja Sonya." sambil mengulurkan tangannya.
Entah kenapa semua merasa canggung dan sedikit risih dengan kehadiran Sonya. Mereka masih tidak menanggapi uluran tangan Sonya. Sonya pun langsung menurunkan tangannya.
Irga yang merasa akan kecanggungan ini segera mencairkan suasana, "Gue Irga." katanya.
"Oji." jawab Oji sedikit ketus dan mendapatkan pelototan dari Irga.
"Laskar." jawabnya yang tak mengalihkan pandangannya pada piring batagornya.
"Kalau yang itu Arka."
Arka mengangkat pandangannya ketika namanya dipanggil.
"Dan ini Elon yang duduk disamping lo." ucap Irga menunjuk Elon.
"Oh gue udah kenal kok." jawab Sonya.
"Kenal dari mana?" tanya Irga sedikit bingung.
__ADS_1
"Karena dia man--"
"Diliatin cewek lo tuh Ga." ucap Laskar menyela perkataan Sonya.
"Man man apa?" tanya Arka dingin.
"Man ana man ana." Jawab Oji sambil bernyanyi.
"Mantan kali." celetuk Irga.
"Eng..enggak. Maksudnya kita pernah satu sekolah waktu SMP dulu." Sonya menjawab sambil melirik ke arah Elon.
"Halooo neng Karin, ini babang Irga udah rindu." teriak Oji sehingga dia menjadi pusat perhatian anak-anak yang ada di kantin.
***
"Woii Ra!"
"Eh" Ara terperanjat kaget.
"Tuh-tuh si Oji teriak-teriak." tunjuk Febby pada Karin.
Keempatnya mengalihkan pandangan ke tempat dimana Irga berada. Karin yang tersenyum singkat ketika melihat Irga dan di balas dengan senyuman juga.
Sementara Elon yang menatap ke arah Ara, Ara segera mengalihkan pandangannya ke depan.
"Cewek di samping kak Elon siapa tuh? Kok gue nggak pernah lihat sih." Natasya yang mulai kebingungan.
"Ra Ra, lo tau Ra?" tanya Febby. Namun Ara hanya mengendikkan bahunya tak acuh.
"Dia siapa ya? Kok bisa sebangku sama temen-temen bang Arka sih. Apa dia orang yang namanya selalu di panggil kak Elon tadi." tanya Ara pada batinnya. Ara bahkan sudah menuangkan semua sambal ke dalam mangkoknya.
"Ya ampun Ara!" pekik Karin kaget karena melihat kuah bakso Ara yang sudah berwarna merah.
Karena suara nyaring dari Karin, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Itu kuah bakso apa lautan darah, warnanya sampek merah gitu." ucap Febby bergidik ngeri.
"Biasa aja kali" jawab Ara santai dan memakan baksonya.
"Nanti kalau perut lo sakit gimana Ra?" tanya Natasya.
Namun tak ada jawaban dari Ara, dia malah sibuk dengan baksonya. Dan memakan bakso seperti orang yang haus akan darah.
Ketiga temannya hanya bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Ara yang terlihat biasa saja.
"Kalian udah selesai belum? Aku mau balik ke kelas." kata Ara yang sudah berdiri.
"Udah kok, yukkk."
Mereka berjalan melewati meja Arka and the geng ditambah dengan Sonya.
"Ra, mau kemana?" tanya Arka.
"Kelas." jawab Ara singkat dan dingin. Ara bahkan tidak memandang ke arah Arka dan teman-temannya.
Irga yang melihat perubahan dari Ara langsung menaikkan sebelah alisnya kepada Karin, namun Karin hanya mengendikkan bahunya.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Oji.
"Siapa juga yang ngeliatin elo, geer banget jadi orang!" balas Natasya tak kalah kesal.
"Berang-berang lagi ngaca, emang gue nanya." balas Oji dengan pantunnya.
"Beruang lagi makan tomat, bodo amatt!" Natasya juga membalasnya dengan pantun.
Ara yang merasa jengah dengan pertengkaran Oji dan Natasya segera mengendikkan bahunya dan berjalan mendahului ketiga temannya tanpa mengatakan apapun.
"Si Ara kenapa sih?" tanya Irga.
"Gak tau, tadi habis dari toilet masuk kelas langsung gitu." jawab Karin yang juga bingung.
"Jangan-jangan gegara lo Ji." kata Laskar.
"Lah kok gue?"
"Kalian awasin Ara terus, ajak ngobrol kalau bisa. Jangan sampai Ara diem terus jadi dingin. Gue takut.." ucap Arka menggantung.
Semua yang ada disana merasa tegang, kecuali Sonya yang tidak mengerti dengan obrolan mereka.
"Sana susul Ara!" Arka menyuruh ketiga teman Ara untuk segera pergi.
Merekapun segera berlari mengejar Ara yang sudah melangkah jauh meninggalkan kantin.
"Apa maksud perkataan Arka tadi?" batin seseorang.
__ADS_1