Senja Dandelion

Senja Dandelion
Daisy


__ADS_3

Kenangan adalah sesuatu yang terkadang menjelma menjadi pisau, menusuk jantung paling dalam. Namun, selalu ada pelajaran yang tersampaikan.


Hembusan angin menerpa daun-daun kering yang mulai berguguran. Menerbangkan semua kenangan bersamaan dengan tertinggalnya tangkai kecil. Berharap semua nampak seperti biasa, berjalan apa adanya.


"Senja..kamu dimana?" teriak anak kecil sambil berlarian mencari keberadaan adiknya.


Tak ada jawaban. Hari mulai gelap, bahkan sang Surya sudah pamit untuk pergi.


Anak kecil itu terus berlari tak tentu arah. Dia melihat sebuah bayangan di ujung taman. Dengan langkah yang tergesa-gesa dia pun menghampiri bayangan itu.


"SENJAA!!"


Masih tak ada jawaban. Peluh menghiasai wajahnya yang masih terlihat sangat imut. Rambutnya yang acak-acakan akibat hembusan angin.


Ada seseorang yang sedari tadi berjongkok dan terus mengamati bunga di depannya. Satu kata yang menggambarkan hatinya, takjub.


Dia bahkan tak menghiraukan teriakan-teriakan orang yang memanggilnya. Kedua kakinya diubah menjadi bersila, dengan tangannya menopang dagu.


"Gimana adik kamu sudah ketemu?" kata seorang wanita dengan raut khawatir.


Anak laki-laki itu menggelengkan kepala. "Maaf."


Hanya kata maaf yang terus di ucapkan nya.


"Gapapa sayang, kita cari lagi ya.." ucap lelaki yang merupakan ayahnya.


"Coba kita cari di ujung taman lagi." usul wanita itu.


Mereka pun menuju ke ujung taman yang tampak gelap. Tanpa lampu yang menerangi.


"Senja..ya ampun sayang. Kamu ngapain disini?" wanita itu segera berlari dan memeluk putrinya.


Pandangan mata anak itu tak pernah luput dari bunga yang berada di bawahnya.


"Kakak cariin kamu dari tadi." Arka dengan napas yang tersengal-sengal akibat berlari.


"Bun, kenapa Senja diem terus?" tanya Arka.


"Sayang, bilang sama bunda ada yang sakit?"


Senja menggelengkan kepalanya pelan. Sorot matanya masih menatap bunga putih itu.


Mereka mengamati arah pandang Senja. Ternyata di bawah mereka ada sebuah bunga berwarna putih yang sangat cantik.


"Senja pengen itu.." ucapnya dengan suara serak.


"Itu namanya bunga Daisy sayang. Gak boleh di cabut, biar bunganya bisa tumbuh lagi." kata Fara lembut.


"Kita pulang ya." ajak Kana kepada anaknya.


***


Setiap hari, Senja selalu datang ke taman itu untuk melihat daisy yang bermekaran. Dia selalu menghabiskan waktunya disana.


Menyiram. Merawat. Itu yang selalu dia lakukan.


Tak pernah ada satupun hari yang terlewatkan.


Seseorang menghampirinya, "Kamu suka bunga itu?" tanya perempuan yang duduk disamping Senja.


"Iya kak. Bunganya bagus." ucap Senja dengan riang.


"Kata bunda itu namanya bunga daisy." ujarnya lagi.


"Iya benar. Itu bunga Daisy. Bunga yang menggambarkan ketulusan."


"Kenapa begitu kak?" mengalihkan pandangannya ke arah orang ada di sampingnya.


"Daisy itu memiliki makna ketulusan. Suatu hari nanti pasti kamu akan tahu apa arti sebuah ketulusan." kak Adis berucap dan menepuk bahu Senja pelan.


Senja hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Nama kakak siapa?" cicit Senja.


"Zelin Adisti. Panggil aja kak Adis." Adis mengulurkan tangannya ke arah Senja. "Kalau kamu siapa?"


"Aku Senja kak." ucapnya tersenyum dan menerima uluran tangan Adis.


"Kamu sama siapa disini?"


"Aku sendirian kak, mungkin nanti di jemput bang Arka."


"Oh."


"Mau main ke rumah kakak gak?" tanya Adis.


"Emang boleh ya kak?" kata Senja.


"Boleh dong, ayok!"


Adis dan Senja pergi meninggalkan taman itu. Senja merasa senang karena bisa mendapat teman. Meskipun mereka tidak seumuran, tapi bisa saling mengerti.


Mungkin Adis seumuran dengan Arka, kakaknya


Senja. Bola matanya yang hitam, rambut panjang berwarna hitam pekat, bulu mata yang lentik, dan tubuh yang lumayan tinggi. Itulah hal yang bisa menggambarkan Adis saat ini.


Meskipun umurnya baru 15 tahun, tapi sifat kedewasaan Adis menunjang penampilannya. Dia memiliki sifat yang ramah dan cepat akrab dengan seseorang.


"Ayoo..masuk." ucap Adis dan menggandeng tangan Senja.


Senja hanya mengikutinya dari belakang.


"Assalamu'alaikum, mah Adis pulang."


"Waalaikumsalam.." teriak wanita dari dapur.

__ADS_1


Terlihat seorang wanita yang mungkin berumur 35 tahun keluar dari dapur, di tangannya ada piring berisi kue.


"Lohh ini siapa?" tanya Nani sambil mencubit pipi Senja.


"Namanya Senja mah, tadi Adis ketemu di taman. Terus Adis ajak kesini." jawab Adis menjelaskan kepada Nani, ibunya.


Senja hanya mengamati interaksi diantara ibu dan anak itu. Nani yang terlihat sangat menyayangi Adis, terlihat dari ucapannya yang lembut.


"Ayo kita makan dulu, pasti kalian lapar kan?"


"Ayoo Senja."


Mereka duduk di meja makan. Nani yang sibuk menyiapkan makanan di atas meja. Dia sangat welcome terhadap Senja.


"Kamu tinggal dimana sayang?" tanya Nani.


"Di Perumahan Griya tan." jawab Senja seraya tersenyum.


"Tadi kamu sudah bilang kalau mau kesini?"


"Belum mah, tadi Senja sendirian di taman. Katanya nanti di jemput kakaknya." jelas Adis.


"Haduhh..Adis. Nanti kalau orang tua Senja nyariin gimana?" kata Nani khawatir.


"Gak apa-apa kok tan, nanti Senja bilang sama abang."


"Tuh kan ma, Senja aja gakpapa kok."


Mereka melanjutkan makan siang dengan tenang. Tak ada sedikit obrolan hanya terdapat suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


***


Adis dan Senja kembali ke taman menggunakan sepeda. Senja yang duduk di belakang dibonceng oleh Adis.


Ketika sampai di persimpangan jalan, tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Adis yang tidak bisa mengendalikan sepedanya, akhirnya sepeda itu oleng dan menabrak sebuah pohon.


Brakkk..


Mereka terguling ke atas rerumputan yang sangat lebat. Sementara ban sepeda Adis sudah menggelinding entah kemana.


Semua orang yang ada disana lantas kaget dengan suara tersebut. Gerombolan orang-orang itu segara berlari menuju ke arah Adis dan Senja yang terjatuh.


"Kalian gakpapa?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Ayo pak, tolongin!" pekik seseorang.


Adis yang masih setengah sadar, sorot matanya terlihat begitu sayu. Dia mencoba mencari keberadaan Senja dan memastikan keadaannya. Karena tubuh Adis yang lemah dia hanya bisa mendengarkan suara orang-orang yang meminta tolong.


Sementara tak jauh dari Adis. Senja, gadis itu merintih kesakitan karena kepalanya terbentur batu. Dia masih bisa mendengar suara dan beberapa saat kemudian matanya sangat buram. Dan tak mengerti apa yang terjadi selanjutnya.


***


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Nani kepada anaknya.


"Senja masih di ruangannya sayang, nanti kita jenguk. Sekarang kamu istirahat dulu." Nani mencoba menenangkan Adis.


"Ma, Senja baik-baik aja kan?" raut wajah Adis berubah khawatir.


"Senja sudah ditangani dokter, kamu gak perlu khawatir." kata pria yang duduk di sofa.


Pria itu adalah Ridwan, papah dari Adis. Lelaki itu masih menggunakan setelan jas yang rapi, mungkin baru pulang dari kantor dan langsung mendapatkan kabar bahwa anaknya kecelakaan.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, jangan banyak gerak. Biar cepat sembuh." ujar Nani lembut.


Sementara yang diajak berbicara hanya menampilkan tatapan kosongnya. Adis masih mencoba mengingat apa yang terjadi kepada dirinya dan Senja.


Dia sangat khawatir kepada Senja. Apakah Senja baik-baik saja? Apakah dia kesakitan?


Rasa Adis ingin cepat-cepat keluar dari sini dan menemui Senja untuk memastikan keadaannya.


***


Sementara di lain ruangan seorang gadis masih berbaring lemah di atas tempat brangkar rumah sakit. Sejak satu jam yang lalu, dokter masih sibuk untuk menyelamatkan nyawa anak perempuan ini.


Benturan di kepalanya mengakibatkan darah terus menetes. Hingga gadis ini kekurangan banyak darah.


Laki-laki yang menggunakan celana jeans pendek ini, masih sibuk mondar-mandir di depan ruangan adiknya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir, bahkan sesekali dia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bodoh, bodoh, bodoh, Arka bodoh!" dia selalu mengucap kata-kata itu.


"Sudah sayang, ini bukan salah kamu. Ini takdir." ucap Kana menenangkan anak laki-lakinya.


Sedangkan seorang wanita masih sesenggukan sembari memeluk suaminya. Fara begitu khawatir dengan keadaan putrinya saat ini. Di dalam sana Senja sedang berjuang antara hidup dan mati.


Arka mencoba mendekati dan berjongkok di depan kursi tempat duduk bundanya. Dia memegang tangan bundanya dan mengelusnya pelan.


"Bun, maafin Arka. Arka gak bisa jagain Senja dengan baik." segelintir air mata lolos dari mata Arka.


"Enggak sayang. Kamu abang yang baik buat Senja. Ini semua takdir dari Allah yang harus kita terima." ucap Fara sambil mengelus kepala Arka.


"Andai tadi Arka gak main sama temen-temen dan nemenin Senja di taman, pasti ini gak bakalan terjadi." cicit Arka dengan mata yang masih memerah.


"Enggak apa-apa. Sekarang kita doakan Senja ya." kata ayah Arka menenangkan.


Arka duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya, badannya ia sandarkan di dinding rumah sakit. Dia terus merenung dan selalu berdoa dalam hatinya.


Ceklekk..


Suara ruangan terbuka, menampakkan seorang dokter keluar dari sana. Arka segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Pasien atas nama Senja akan di pindahkan ke ruang rawat inap." kata dokter.


"Baik dok."


"Saya permisi dulu." dokter itu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Suara dorongan brangkar keluar dari ruang UGD. Terdapat seorang gadis yang berbaring lemah di atas sana. Kelopak matanya yang sayu dan terdapat perban di kepalanya.


Bibirnya mengatup rapat dan sangat pucat. Matanya masih terpejam sempurna. Terdapat banyak goresan di wajah dan di badannya yang putih.


Sekarang Senja sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Tetapi dia masih belum tersadar.


***


Seorang gadis mencoba membuka matanya perlahan, dari tidurnya yang lumayan panjang. Jari jemarinya mulai bergerak perlahan.


Arka yang masih tertidur di samping adiknya itu, merasakan tangan yang ia genggam bergerak. Dia langsung membuka matanya.


"Bun yah, Senja sudah sadar." kata Arka kepada dua orang yang duduk di sofa.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar sayang."


"Bang, hauss.." ucap Senja dengan suara serak.


Arka segera mengambil minum dan membantu Senja merubah posisinya.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya sayang." kata Fara.


"Arka, kamu jaga adikmu dulu. Ayah sama bunda akan pulang untuk mengambil baju dan mengabari nenek mu dulu."


"Iya yah."


"Ya sudah sayang, bunda pulang dulu ya." sembari mengecup kening Senja.


Ceklek..


Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang perempuan yang tersenyum ke arah Senja.


"Kak Adis." kata Senja.


Arka yang masih duduk di samping Senja segera berdiri dan mempersilahkan Adis duduk.


"Kak Adis gakpapa?" tanya Senja.


"Seharusnya kakak yang nanya gitu sama kamu." kata Adis sembari memegang tangan Senja.


"Aku gakpapa kok kak, kak Adis kesini sama siapa?" tanya Senja lagi.


"Sendirian. Kamu mau makan buah? Biar kakak ambilin." tawar Adis.


Senja hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan dari Adis.


"Ehemm..gue di kacangin nih." sindir Arka yang melipat tangannya di dada.


"Oh iya bang, kenalin ini kak Adis." Senja memperkenalkan Adis kepada Arka.


"Zelin Adisti, panggil aja Adis." kata Adis tersenyum manis.


"Arka" kata Arka dingin.


***


Semenjak perkenalan singkat di rumah sakit, kini Arka, Adis, dan Senja sering bermain bersama di taman. Senja juga sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.


"Kamu gakpapa kan Ra?" tanya Adis.


"Kalau capek bilang sama abang ya."


Sekarang mereka berada di taman. Sudah lama Senja tidak melihat bunga daisy di taman ini. Bunga itu hanya satu dari beberapa bunga yang mengelilinginya.


Jika tidak jeli mengamati pasti bunga itu tidak ada kelihatan dan letaknya juga berada di ujung taman. Tempat yang jarang orang kunjungi saat ke sini.


"Bang, Ara mau jagung bakar yang di ujung jalan sana dong." pinta Ara dengan puppy eyes nya.


"Kakak beliin ya dek." ucap Adis berdiri sambil menepuk-neluk celananya yang kotor.


Adis berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan taman. Tetapi teriakan seseorang menghentikan langkahnya sejenak.


"Gue temenin." ucap Arka yang sudah berada di samping Adis.


"Loh Ara?" tanya Adis.


"Disana ada mbak Hana yang nemenin dia." jawab Arka menyelonong meninggalkan Adis.


Sejak kejadian saat itu, Adis memanggil Senja menjadi Ara. Katanya dia kesulitan ketika harus menyingkat nama itu.


Katanya tidak ada kata yang cocok untuk menyingkat nama Senja. Jika dipanggil Sen, nanti dikira laki-laki. Tapi jika dipanggil Nja, nanti dikira apaan gitu. Gak cocok pokoknya!


Bagusan juga Ara, lebih singkat dan mudah untuk di ucapkan apalagi di ingat.


Arka dan Adis suka berada di penjual jagung bakar. Mereka memesan jagung dan duduk di atas rerumputan dekat warung.


Hawa canggung menyelimuti mereka. Karena meskipun sering bermain bersama mereka tidak pernah berduaan seperti ini.


"Mas, ini jagungnya." kata pak penjual jagung memecah keheningan.


Arka segera mengambil pesanan dan mambayar. Lalu dia duduk kembali dan memberikan satu jangung bakar kepada Adis.


"Gue gak pernah ngerasain secanggung ini sama orang sebelumnya." ucap Arka.


"Iya, gue juga sama." balas Adis.


Arka menoleh ke samping dan melihat ada sisa jagung di bibir Adis. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba tangan Arka terulur untuk membersihkan sisa jagung itu.


Ketika jarak mereka sangat dekat. Deg! Jantung Arka terasa berdenyut sangat cepat. Itu juga yang sedang dirasakan oleh Adis.


"Eh maaf-maaf. Habisnya elo makan kek anak kecil." kata Arka.


"Hmm..gapapa." Adis tersenyum canggung.


"Elo baik kan disana?" tanya batin Arka.

__ADS_1


__ADS_2