Senja Dandelion

Senja Dandelion
Cowok Aneh


__ADS_3

Penilaian sudah selesai, sekarang anak-anak bebas bermain sambil menunggu pergantian jam. Mereka semua berpencar. Entah ada yang duduk di bawah pohon sambil ngegosip, ada juga yang masih bermain.


Laskar berjalan dengan dua bola basket di tangannya. Dia memperhatikan 4 orang perempuan yang masih asyik bermain padahal teman-temannya sudah berteduh sejak tadi.


Dia melempar satu boleh ke arah perempuan itu, "Woi, nih pake aja." dan langsung berjalan tak acuh tanpa memperhatikan mereka lagi.


Adis yang masih di lapangan bersama ketiga temannya sedang asyik mengelap keringat. Tiba-tiba sebuah bola menghampiri keempatnya.


Bunga langsung menangkap bola itu dan hendak mengucapkan terima kasih namun orang yang melempar bola sudah pergi menghampiri temannya yang lain.


Tak ingin berlama-lama, mereka langsung memainkan bola tersebut. Pasti tahu lah permainan cewek, lebih banyak tertawanya daripada memperhatikan teknik dengan benar. Yang terpenting itu main!


"Woi elo gak main lagi Lon?" tanya Irga yang masih sibuk men-dribling bola ke tangan kanan lalu berpindah ke tangan kirinya.


"Gak deh, gue capek." jawab Elon sambil duduk di bawah pohon. Arka yang sudah tak bersemangat untuk main pun langsung menghampiri cowok itu dan duduk di sampingnya.


Melihat hal itu, ketiga temannya juga langsung mengikuti dan ikut duduk di dekat pohon yang rindang.


"Cewek emang gitu ya, kalo main kebanyakan ketawanya." ucap Oji cekikikan sambil memandang ke arah Adis dan ketiga temannya.


"Ya elah Ji. Kayak lo gak tau cewek aja, yang penting buat mereka itu seneng masalah teknik mah bodoamat." Irga menjawab perkataan Oji.


"Eh itu kan yang anak baru." Oji menunjuk ke arah lapangan.


"Mana mana?"


"Elo kan udah punya Karin." ucap Laskar menjitak kepala Irga.


Irga mengusap kepalanya yang sedikit sakit karena jitakkan Laskar, "Gila lo Kar! Gue kan cuma nanya doang. Lagian gue itu setia sama Karin." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lagian elo juga Ga. Udah punya cewek tuh dijaga bukan malah jelalatan." timpal Elon masih dengan wajah datarnya.


"Wah sekarang bang Elon sudah pintar. Ajaran gue nih!" kata Oji sambil menepuk dadanya.


"Ajaran lo sesat Ji!" teriak ketiganya bersamaan kecuali Elon.


"Babang Arka belain dedek dong, kamu kan pacar gelap aku." Oji mendramatisir dan mendekati Arka.


"Apaan sih Ji, jangan deket-deket gue!" Arka merasa risih dengan Oji.


Sementara keempat perempuan itu masih asyik bermain. Adis melempar bola ke Bunga. Bunga melempar bola ke Jihan. Jihan melempar bola ke Adis. Adis terlalu keras melempar bola, seharusnya ke arah Rara, namun melambung tinggi ke belakang. Bola itu di tangkap oleh seorang cowok yang sedang duduk di bawah pohon.


"Ih Zelin kenapa ngelemparnya kenceng banget!" teriak Rara.


"Ya sorry."


"AYO AMBIL ZE!"


"Kok gue sih?" tanya Adis sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kan elo yang ngelempar, jadi elo yang ngambil." Bunga mendorong tubuh Adis agar segera pergi mengambil bola, "Sana! monmaap ya gue gak berani. Suerr deh, itu kan si Arka yang megang bolanya." ucap Bunga sambil mengangkat dua jarinya membentuk peace.


"Emang kenapa sih?!" kesal Adis.


"Ya elo gak tau aja Ze, si Arka kan terkenal dingin banget sama cewek ya walaupun ganteng sih." celetuk Jihan sambil cengengesan.

__ADS_1


***


Adis pun mengalah lalu berjalan menuju ke gerombolan laki-laki itu dengan wajah kesal. Dia berjalan mendekati orang yang memegang bola.


Sedangkan yang membawa bola malah asyik memutar-mutar bola basket dengan jari telunjuknya.


"Permisi, mau ngambil bola." ucap Adis mencoba sabar. Masih tidak ada jawaban.


"Bolanya." Adis membungkuk dengan tangan terulur di depan wajah Arka.


"Mau? Ambil aja sendiri." kata Arka.


Adis menahan rasa kesalnya yang perlahan mulai timbul dan mendekati Arka untuk mengambil bola basket itu. Arka berdiri membuat Adis mundur dua langkah karena jarak mereka begitu dekat.


"Siniin bolanya." kata Arka.


"Mau banget nih? Ambil aja kalau bisa."


Arka menggiring bola basket dengan cara memantulkannya ke bawah. Arka membawanya menjauh dari Adis membuat perempuan itu menahan kesalnya setengah mati.


Melihat itu Adis hanya memejamkan matanya sebentar lalu berjalan mendekati Arka.


"Balikin!"


"Nih ambil aja." kata Arka santai.


"Cepetan balikin."


"Wuiss santai." Arka menghindari Adis yang hendak mengambil bola. "Kan gue udah bilang ambil aja."


"Nih cowok maunya apasih?!" gerutu batin Adis.


"Nih ambil." Arka mengalah dan memberikan bola basket itu kepada Adis. Tetapi perempuan itu masih diam, "Ambil" kata Arka lagi.


Adis mengambil bola basket yang dipegang Arka. Satu detik kemudian Arka menarik tangan Adis ke arahnya sehingga mereka begitu dekat. Seruan teman-temanya terdengar begitu keras. Apalagi anak cowok, mereka tidak menyangka Arka akan melakukan hal itu.


Seruan-seruan ricuh terdengar dari teman-teman Arka yang sedari tadi sudah menyaksikan Arka dan Adis.


"WOI SI BOSS, JANGAN KASIH KENDOR BOSS!! GAS POLL!!" teriak Oji dari pinggir lapangan.


"Wah wah dedek Arka sudah besar." ucap Irga sambil geleng-geleng kepala.


"Ya ampun, itu Arka beneran?!" teriak siswi yang melihat tingkah Arka.


"ARKA GANTENG BANGET!!"


"Mau dong kayak gitu."


Arka tidak menghiraukan teriak-teriakan dari pinggir lapangan. Sedangkan Adis sudah merasa risih dan dia juga tidak bisa memungkiri bahwa dia sedang gugup saat ini.


Arka melangkah mendekati Adis, "I Miss you Zelin Adisti" Arka berbisik di telinga Adis.


Benar-benar kaget.


Adis masih berpikir siapa cowok yang berani mangatakan itu kepadanya. Belum lagi dia kesal karena perlakuan itu membuat semua orang berseru dengan terus-menerus.

__ADS_1


Arka mundur dengan wajah tanpa ekspresi lalu berjalan menuju teman-temannya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnya.


Sementara itu di tengah lapangan, Adis mencengkeram bola basket yang ia pegang lalu memantulkannya tinggi-tinggi, bentuk kekesalannya kepada cowok itu.


"Dasar Arka sinting!"


***


"Zelin, sumpah gue gak nyangka" kata Jihan sambil menggoyangkan bahu Adis.


Mereka berempat berjalan di lorong untuk menuju ke kantin. Jihan yang sangat antusias sejak kejadian di lapangan tadi.


"Aduh Jihan, bisa diem gak sih?" gerutu Adis karena dia selalu membicarakan Arka.


"Kok Arka bisa kenal sama elo sih?" tanya Bunga ikut menimbrung.


"Udahlah nanti kita lanjutin, mending kita cari tempat duduk dulu." ucap Rara karena sudah tidak tahan dengan cacing di perut nya yang mulai berdendang.


Mereka berempat menuju ke meja yang kosong. Kalau tidak cepat-cepat bisa di duduki orang lain nantinya.


"Kalian mau pesen apa? Biar gue yang pesenin sama Jihan." ucap Adis.


Merekapun menyebutkan pesanan masing-masing dan tidak lupa memberikan uangnya sekalian. Akhirnya Adis dan Jihan menuju ke penjual siomay.


Jihan membawa nampan yang berisi pesanan teman-temannya, sementara Adis membawa botol minuman.


Ketika berbalik badan, seseorang menabrak tubuh Adis hingga botol minuman tersebut jatuh ke lantai.


Perempuan itu segera berjongkok membantu Adis mengambil botol yang ada di lantai.


"Maaf kak, saya gak sengaja." ucap Ara yang masih menunduk sambil mengambil botol.


"Hati-hati makanya kalau jalan dek." kata Jihan.


"Iya kak maaf, buru-buru soalnya." Ara menegakkan tubuhnya dan menyerahkan botol minuman itu, "Ini kak, maaf sekali lagi."


Adis menerima botol minum itu dan terkejut ketika yang menabraknya tadi adalah Ara, adik kecilnya yang sudah lama tidak bertemu. "ARA?" ucap Adis langsung memeluk Ara dengan erat.


"Siapa ya kak?" Ara masih bingung dengan kakak kelasnya yang tiba-tiba memeluknya.


Adis melepaskan pelukannya, "Masa kamu gak inget sama kakak?" tanya Adis mencubit pipi Ara dengan gemas. Bisa-bisanya adik kecilnya lupa dengan dirinya.


"Aaa..ya ampun! Kak Adis!" pekik Ara.


"Ara kangen banget sama kakak." katanya lagi.


"Kakak malah yang kangen banget sama kamu, kamu apa kabar?" tanya Adis.


"Kabar baik kok kak."


"Kakak sendiri apa kabar?" tanya Ara yang masih berada di depan Adis.


Ketika hendak menjawab seseorang sudah menyela.


"Woi kalau ngobrol jangan di tengah dong!" ucap perempuan yang ingin lewat tetapi terhalang oleh Ara dan Adis.

__ADS_1


"Eh maaf-maaf." kata Adis memberi jalan kepada perempuan itu untuk lewat.


__ADS_2