Senja Dandelion

Senja Dandelion
Zelin Adisti


__ADS_3

Arka sedang menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menunggu pelajaran hari ini di mulai. Dia duduk di deretan bangku paling belakang bersama ketiga temannya.


"Eh gue denger-denger ada anak baru di kelas sebelah." kata cowok berambut agak pirang.


"Halah palingan juga culun."


"Cewek apa cowok?" tanya Rozi.


"Cewek lah gebleg" sambil menoyor kepala Rozi dari belakang ke depan. "Kalo cowok ngapain gue gosipin."


Itulah celetukan laki-laki ketika sedang menggosip. Masalah beginian mereka tidak ada pernah dengan cewek. Laki-laki sih, tapi mulutnya lanyah bener!


Lanyah? Itu bahasa Jawa ya gaess. Artinya lancar. wkk


"WOII Bu Ruri gak masuk! Kita free!" teriak seorang siswi memasuki kelas.


"Gak ada tugas kan?" tanya murid perempuan.


"Suruh ngerjain lks halaman 20, di kumpulin ming--." sebelum menyelesaikan ucapannya sudah terdengar suara riuh dari dalam kelas.


"Itu mah namanya bukan free dodol!!" umpat Rozi.


"Heh, gue ngomong belom selesai!" dia menjeda kalimat nya kemudian berkata lagi, "Maksud gue tuh, tugasnya di kumpulin minggu depan."


"Ngobrol dong!" celetuk Irga.


"Lah gue dari tadi juga ngobrol keles." ucap siswi itu sewot lalu duduk di bangkunya.


Kelas terlihat tidak kondusif. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang tidur di pojok kelas, nge-game, nyanyi-nyanyi tidak jelas, ada yang mengerjakan tugas, sampai ada yang pergi ke perpustakaan entah untuk tidur atau membaca buku. Bahkan sampai ada yang teriak-teriak kayak di hutan.


"OJI! BALIKIN JEPIT RAMBUT GUE!!" teriak siswi yang sedang mengejar-ngejar Oji.


"Apaan sih lo?! Suudzon mulu. Gue gak tau jepit rambut lo dimana."


"Elo kan yang nyembuiin! Ngaku lo!" siswi itu semakin kesal.


"Hei Benben, beneran elo suka sama cewek galak kek si Nita ini!" ucap Oji sambil menunjuk-nunjuk Nita.


"Elo kali yang suka!" balas Beni.


Oji segera menegakkan tubuh nya, "Nggak deh. Yang ada gue di KDRT-in tiap hari." katanya sambil bergidik ngeri membayangkan.


"Sumpah ya lo, ngeselin banget sih! Mana jepit rambut gue?", rasanya kekesalannya terhadap Oji sudah di ujung kepala dan hampir meledak.


Sedangkan yang di ajak bicara malah asyik duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Wajah Nita sudah berubah memerah karena menahan kekesalannya.


Nita yang sudah tidak tahan dengan tingkah Oji pun, langsung mengambil ancang-ancang untuk menggebrak meja.


Brak!!


"Eh ayam ayam!" latah seorang yang duduk di belakang Oji."


"Heh mana sini, balikin!" sambil menengadahkan tangannya.


"Sabar Oji sabar, orang sabar disayang emak." ucap Oji sambil memegang dada.

__ADS_1


"Agresif banget sih lo, elo tuh manusia apa yang ayam kate. Herman gue.." ucapnya lagi sambil geleng-geleng kepala.


"Heran Oji heran!" Rozi membenarkan.


"Oh udah ganti ya?" ucap Oji sok polos.


"Nih jepit rambut lo, jelek kek gini aja dicariin mulu." kata Oji dan mengembalikan jepit rambut milik Nita.


Nita segera mengambil jepit rambutnya tanpa mengatakan apapun dan langsung pergi menuju ke bangkunya dengan wajah kesal.


***


Sementara di kelas XII IPA 3, pembelajaran berlangsung seperti biasa. Seorang guru menjelaskan pelajaran dengan baik.


Seseorang sedang berjalan dengan cepat untuk menuju ke kelasnya. Tiba di depan pintu kelasnya, dia segera mengetuk pintu.


Pandangan mata semua orang mengarah ke pintu, terlihat seorang perempuan berambut pendek dengan tergesa-gesa memasuki kelas.


"Permisi buk.." ucapnya sopan.


"Mari masuk nak, kamu anak baru itu kan?" tanya guru tersebut.


Dia menganggukkan kepalanya dan memasuki kelas.


"Silahkan perkenalkan nama kamu" kata guru yang mengajar.


"Haii, saya Zelin Adisti pindahan dari Jogja. Semoga kita bisa berteman dengan baik." ucapnya ramah.


"Di panggil sayang boleh nggak?"


"Beuh manis bett."


"Zelin Zelin udah punya pacar belom? Sama gue aja yukk"


"Huuuu." teriak siswi didalam kelas.


Begitulah pertanyaan yang di lontarkan anak-anak di dalam kelas.


"Sudah-sudah, sekarang kamu bisa duduk. Bunga angkat tangan kamu." Bu guru menginterupsi untuk diam. Yang bernama Bunga pun sudah mengangkat tangannya.


"Terimakasih bu.." Adis segera menuju ke tempat duduknya.


"Hai gue Bunga" ucap Bunga mengulurkan tangannya ke arah Adis.


"Zelin." dia menyambut uluran tangan tersebut.


"Oke anak-anak, pelajaran hari ini kita akhiri sampai disini dulu. Sekarang kalian bisa melanjutkan pelajaran berikutnya, assalamu'alaikum." ucap guru tersebut dan meninggalkan kelas setelah bel berbunyi.


***


Adis baru saja keluar dari bilik kamar mandi. Dia sedang mengikat rambutnya dengan karet dan melihat pantulan wajahnya di cermin. Dia sudah lengkap dengan pakaian olahraganya.


Bunga juga baru saja keluar dari bilik kamar mandi yang berada di sebelah Adis.


"Zelin tungguin gue dong!"

__ADS_1


"Aduh cepetan, kita udah telat banget ini." ucap Adis tergesa-gesa.


"Bentar dong." balas Bunga.


Adis melipat seragamnya dan memasukkan ke dalam tote bag berwarna hitam.


Mereka segera berlari keluar kamar mandi dan menuju ke kelas untuk menaruh seragam mereka di kolong bangku.


Adis dan Bunga berjalan tergesa-gesa di koridor. Di arah yang berlawanan ada Bu Ranti yang berjalan dengan membawa tumpukan buku.


Ketika mereka berpapasan, "Zelin tolong kamu bawa ini ya ke ruang guru sama Bunga. Ibu udah di tunggu Pak Kepsek soalnya." ucap Bu Ranti kelihatan tergesa-gesa.


"Iya, Bu." ucap Adis sambil menerima buku-buku itu dari tangan Bu Ranti.


"Terimakasih ya, ibu tinggal dulu." ucap Bu Ranti dan segera berlalu meninggalkan koridor.


"Ayok cepet nanti kita di cariin Pak Prapto." kata Adis berjalan menuju ke ruang guru.


"Eh tungguin gue"


Mereka memasuki ruang guru dengan sopan. Karena bingung mencari tempat duduk Bu Ranti, akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya pada guru.


"Maaf, permisi Bu. Mejanya Bu Ranti dimana ya?" tanya Adis sopan.


"Oh itu disana." jawab guru itu sambil menunjuk ke meja yang paling pojok.


"Terima kasih Bu." kata Bunga. Hanya di balas anggukan kepala oleh guru tadi karena beliau masih sibuk menulis di bukunya.


Setelah menaruh buku, Adis menarik tangan Bunga dan kini kedua perempuan itu menuju ke ring basket tempat pak Prapto duduk dan memberi pengarahan.


Kening Adis mengerut tipis melihat anak kelas XII IPA 2 duduk bersebelahan dengan anak-anak kelasnya. Pasalnya hanya kelas Adis merupakan XII IPA 3 yang seharusnya olahraga di hari ini, sepertinya ada kelas lain yang iku bergabung.


"Maaf Pak kami terlambat!" Bunga ngos-ngosan ketika ia dan Adis sudah berada di dekat Pak Prapto. Semua mata memandang kedua perempuan itu. Tapi ada satu orang yang tidak memperhatikan mereka, dia malah sibuk menenggelamkan wajahnya di lutut yang ia tekuk.


"Kenapa kalian terlambat?" tanya Pak Prapto yang masih sibuk menulis di buku jurnal kelas.


"Eh Nweng Zelin, habis dari mana?"


"Neng Bunga tambah imut aja pake baju olahraga."


"Heh itu kan yang anak baru."


"Cantik juga sih, tapi masih cantikan gue lah." ucap siswi dengan songong.


"Hidih pede amat mbak!"


Kedua perempuan itu hanya menundukkan kepalanya ketika mendengar bisik-bisik dari teman sekelas atau dari anak-anak IPA 2.


Adis mengangkat pandangannya, "Maaf pak, tadi pas mau ke lapangan kita di suruh bantuin Bu Ranti membawa buku ke ruang guru terlebih dahulu." Adis menjelaskan dengan sopan.


Guru bertopi biru itu menutup buku jurnal.


"Kalian berdua lari terlebih dahulu. Pemanasan keliling lapangan selama lima kali." Pak Prapto menyuruh Adia dan Bunga.


Beliau juga menghimbau kepada yang lain untuk berdiri karena akan dilakukan penilaian Squad Jump dan Push Up.

__ADS_1


"Suara itu kenapa nggak asing banget." gumam Arka segera berdiri menyusul teman-temannya.


__ADS_2