
TINGKAH Natasya, Febby, dan Karin seperti anak kecil saja. Mereka sudah selesai menonton drakor, sekarang bantal dan guling di kamar Ara mereka jadikan mainan lempar-lemparan. Kamar Ara pun menjadi porak-poranda, bagaikan kapal pecah. Namun, Ara sudah terbiasa dengan keadaaan seperti ini. Memang hobi mereka berantakin kamar Ara.
"Bosen nih, main apa kek gitu." kata Natasya sambil memainkan ponselnya.
"ToD mau gak?" usul Febby.
Karin dan Natasya mengangguk setuju, tapi raut wajah Ara terlihat tidak bersemangat. Permainan ToD adalah satu permainan yang selalu Ara hindari dari dulu, kurang suka dengan permainan itu. Tapi bagaimana lagi, mereka bertiga sudah setuju. Ara kalah suara. Jadi, Ara tidak bisa menghindar lagi dari permainan ini.
"Ra, pulpen." pinta Febby.
Ara mengeluarkan pulpen dari tas sekolahnya dan diberikan kepada Febby. Febby langsung meletakkan pulpen di tengah-tengah mereka. Sekarang keempatnya sudah duduk di karpet, menunggu pertama dimulai.
"Siapa yang mau puter duluan?" tanya Febby.
"Gue." jawab Karin. Dia langsung memutar pulpen itu, setelah berputar beberapa putaran. Akhirnya kepala pulpen menunjuk ke arah Ara. Ara menatap ke arah teman-temannya dengan tatapan polos.
"Truth or Dare?" tanya Karin.
Ara hanya diam, dia bingung harus memilih apa. Jika truth, dia takut diberi pertanyaan tentang alasannya pindah sekolah. Tapi, jika dare, dia takut jika di beri tantangan yang aneh-aneh oleh mereka bertiga.
"Ayo Ra, pilih apa?" Febby menjadi gemas sendiri karena Ara diam saja.
"Dare" putus Ara.
Senyum Karin berubah menjadi seringai menyeramkan. Ara merasakan aura-aura horor disekitar mereka. Karin tertawa melihat raut wajah Ara yang menjadi pucat.
"Sekarang lo telepon kak Elon, bilang sama dia hari Senin harus jemput lo ke sekolah." titah Ara sambil tertawa puas.
Tatapan mata Ara melebar sempurna. Dare dari Karin barusan benar-benar gila, sekarang Ara lagi dalam masa tidak ingin terlibat dengan Elon. Tapi dare dari Karin barusan membuat posisi Ara menjadi semakin sulit.
"Gak. Ganti dong dare-nya." protes Ara.
Memang hanya teman yang bisa mempermalukan temannya untuk kesenangan semata. Bukan Karin jahat, hanya saja dia sedang menguji Ara apakah dia bisa berdekatan dengan cowok atau tidak.
"Lakuin aja sih Ra, kalaupun kak Elon nolak kan gakpapa, yang penting lo udah berani." kata Natasya.
"Ganti jadi truth aja gimana?" tawar Ara. Pasalnya sekarang Elon sedang berada di kamar bang Arka, bisa berabe kalau mereka sampai tau.
"Mana bisa gitu, buruan dong Ra. Cuma telepon doang dan tinggal bilang, "Kak hari Senin jemput aku ya."" Febby memperagakan dan begonya Ara ikut tertawa dengan kelakuan Febby barusan.
Tidak ada pilihan lain, Ara akhirnya terpaksa menelepon Elon. Dia menghela napas perlahan, lalu jari-jarinya mencari kontak line Elon dan menekan icon telepon untuk fiture freecall.
"Ngapain nelpon? Kan gue lagi di kamar abang lo." ujar suara cowok yang berasal dari ponsel Ara.
Natasya, Febby, dan Karin hampir tak percaya mendengar suara yang berasal dari ponsel Ara. Elon adalah orang yang paling anti mengangkat telepon dari cewek dan suatu kejanggalan ketika Elon mengangkat telepon dari Ara.
"Kak Elon, hari Senin berangkat bareng ya?" Ara langsung ke inti pembicaraan mereka, dia tidak mau berlama-lama dalam momen akward bersama Elon.
Sekarang harapan Ara hanya satu, yaitu Elon menolaknya.
"Oke."
Ara syok seketika. Dia tak percaya saat Elon mengiyakan permintaannya barusan.
Sambungan freecall di Line Ara langsung tertutup sepihak. Ara menatap ke arah tiga temannya itu dengan tatapan tajam. Selamat! Mereka telah berhasil membuat Ara malu karena mengajak Elon berangkat bareng setelah kejadian di koridor sekolah tadi.
Takdir cewek adalah menunggu, bukan memulai.
"Puas?" ujar Ara kesal.
Ketiganya tertawa puas, bahkan mereka tak menyangka jika Elon mau mengiyakan permintaan Ara.
Untuk membalas dendam karena dare tadi, Ara jadi lebih bersemangat dalam permainan ini. Ara memutar pulpennya dan sekarang pulpen itu menunjuk ke arah Febby.
__ADS_1
Ini saatnya membalaskan dendam.
"Truth or Dare?" tanya Ara bersemangat.
"Truth" jawab Febby.
Ara tengah berpikir truth apa yang cocok untuk Febby. Dia lalu teringat sesuatu hal yang masih belum dia temukan jawabannya.
"Kenapa sekarang bisa deket sama kak Laskar?" tanya Ara.
Raut wajah Febby mendadak lesu. Masalahnya hanya satu, jika Febby menjelaskan alasannya, otomatis dia akan menjadi bahan olok-olakan teman-temannya nanti.
"Karena kan kita emang kenal." Febby akhirnya menjawab.
"Cuma kenal? tapi kemarin kok pulang bareng sih?" sahut Natasya mulai tak percaya.
"Iya karena mami gue kenal sama maminya kak Laskar, jadi gue di suruh pulang bareng deh. Puas lo?!" cibir Febby.
Mereka tertawa puas saat mendengar jawaban dari Febby.
Sekarang tibalah pembalasan Febby, dan pulpen itu menunjuk ke arah Karin.
"Truth or Dare" tanya Febby senang.
"Dare." jawab Karin.
"Padahal gue mau bongkar alesan lo putus sama si Rangga." gerutu Febby.
"Niat lo udah gak baik. Allah lebih sayang sama Karin daripada Febby." respons Karin.
Dahi Febby terlihat bergelombang saat memikirkan dare apa yang cocok untuk menjadi balasan dendam untuk Karin. Setelah beberapa lama, Febby tersenyum licik.
"Telepon Rangga, bilang lo mau balikan sama dia." kata Febby sambil tersenyum mengembang.
"Dare tetep dare, Rin."
Karin tersenyum sinis ke arah Febby, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rangga meskipun perasaannya campur aduk.
"Iya Kar, kenapa?" belum ada bunyi tut kedua kali suara Rangga sudah terdengar di balik telepon.
"Gue mau kita balikan." kata Karin dengan cepat, lalu dia menutup sambungan telepon.
"Puas lo sekarang?" ujar Karin kecut.
Febby tertawa puas, dia benar-benar membalaskan dendamnya kepada Karin. Febby tak sabar melihat reaksi Karin di sekolah ketika bertemu dengan
Rangga.
Ponsel Karin berbunyi dan itu telepon dari Rangga, ini adalah saat-saat yang menegangkan bagi Karin dan teman-temannya.
Perlahan Karin menggeser tombol hijau itu ke pinggir .
"Kok langsung ditutup Kar, tadi lo ngomong apa? Gue lagi main PS nih sama temen-temen." tanya Rangga.
Sejenak tawa Febby terhenti, dia mendadak cemberut.
"Gakpapa kok Ga, tadi cuma kepencet doang." kata Karin segera mematikan telepon. "Sorry ganggu, bye."
"Akhirnya gue selamat dari mantan." Karin mengucapkan syukur karena tak perlu mencari-cari alasan lagi.
Tatapan mereka bertiga kini teralih ke arah Natasya. Kini tinggal gilirannya. Natasya menatap ketiganya sambil tersenyum polos. Tapi, sebenarnya Natasya hanya berpura-pura agar mereka mengasihaninya.
"Truth or Dare?"
__ADS_1
"Dare." jawab Natasya.
"Biar aku yang kasih dare" sahut Ara.
Febby dan Karin hanya mengangguk.
"Di sebelah kan kamar bang Arka tuh---"
"Apa? Abang ganteng lo? Gue disuruh ngapain bang Arka, Ra? Boleh-boleh, apa pun yang menyangkut abang lo pasti gue lakuin, apa pun itu." kata Natasya dengan semangat membara.
"Ara belum selesai ngomong, Natasya. Jadi gini, di kamar bang Arka kan ada temen-temennya juga. Nah, kamu cari Kak Oji terus minta ID Line dan instagramnya, terus kamu bilang gini, 'Follback sama addback dong qaqaqs ganteng' dengan suara sereceh mungkin pokoknya." Ara memang niat untuk menjahili Natasya karena dia tau kalau Natasya paling anti dengan Oji.
"Kenapa harus Oji, sih Ra! Gak mau gue, ogah! Kenapa bukan bang Arka aja." protes Natasya.
"Gakpapa kok Karin" sahut Febby santai.
***
Dengan berat hati, Natasya akhirnya menyetujui dare yang diberikan Ara. Dia keluar dari kamar Ara dan berjalan ke kamar sebelah. Ara, Febby, dan Karin mengekor di belakang Natasya. Mereka bertiga penasaran dan ingin tahu dengan dare Natasya kali ini.
Natasya mengetuk pintu kamar Arka, beberapa kali. Pintu kamar akhirnya terbuka. Ada beberapa teman Arka di dalam kamar itu, Natasya menggeleng pelan.
"Ada apa?" tanya Arka heran.
"Ada yang mau ketemu sama temen abang." Ara menyelonong dan menunjuk ke arah Natasya.
"Ya udah, masuk." Arka melebarkan pintu kamarnya.
Natasya dag dig dug tak menentu, bisa-bisa apa yang akan Oji lakukan jika tahu bahwa Natasya sedang mencarinya.
"Emang disini ada Oji ya bang?" tanya Natasya setengah berbisik.
Arka mengerutkan dahinya. Dia menunjuk orang yang berada di pojok kamar sambil memakan cemilan. " Tuh dia."
Natasya mengangguk, kemudian berjalan ke arah cowok itu.
"Hai kak.." sapa Natasya.
"Oh hai, ngapain Na?" tanya Laskar menjawab pertanyaan dari Natasya.
Tapi tidak ada jawaban dari Oji, cowok itu malah sibuk dengan ponselnya. Mungkin tidak menyadari kedatangannya.
"Ada urusan sama ini." tunjuk Natasya ke arah Oji.
"Woii, di cariin Natasya tuh." kata Irga sambil menepuk bahu Oji.
"Ngapain lo nyari gue?" tanya Oji kelihatan malas.
"Emm..itu..." Natasya gugup sendiri karena tidak mendapat respons cuek dari Oji.
"Ada apa?" tanya Oji lagi.
"Eh bang, boleh minta id Line sama uname Instagram lo?"
"Buat apa emang?"
"Oriza Pratama" kata Oji lagi.
Tinggal satu langkah lagi dan selesai.
"Follback sama addback ya qaqaqs." Natasya mencubit kedua pipi Oji gemas, lalu ngacir keluar dari kamar Arka.
Bukan hanya ketiga teman Natasya yang tertawa, tetapi juga cowok-cowok yang ada di dalam kamar juga ngakak melihat tingkah laku Natasya barusan.
__ADS_1