
Hari ini Agam merasa begitu senang karena hari ini ia akan memberikan kejutan untuk Sheila. Sheila masih tidak tahu jika Agam sudah pulang sejak kemarin. Namun Agam sengaja tidak memberitahukan sebelumnya pada Sheila.
Sheila sudah tiba di kelas, namun ia terkejut saat melihat tas Agam yang sudah berada di kelas.
"Itu bukannya tas Agam, tapi kenapa dia sudah masuk? Bukannya seharusnya dia masih izin ya?" tanyanya dalam hati.
"Tapi jika itu memang tas Agam kenapa dia tidak memberitahukan dulu kalau dia ternyata sudah pulang," gumamnya lagi.
Sheila masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sheila pun mengucek matanya dan memejamkan matanya untuk sesaat. Sheila segera membuka matanya tapi benar tas itu ada di hadapannya.
"Berarti aku tidak mimpi, itu memang tas Agam. Tapi dia ada dimana? Kenapa dia tidak menemuiku?" gumam batin Sheila lagi.
Sementara dari balik pintu Agam sengaja menahan tawanya. Sejak tadi dia bersembunyi agar Sheila tidak melihatnya. Akan tetapi Sheila masih tidak menyadari jika sejak tadi Agam berada di belakangnya.
"Sheila, Sheila kamu ini memang polos," gumam batin Agam yang masih saja menahan tawanya.
Tak ingin menerka-nerka akhirnya Sheila pun duduk di kursinya tanpa melihat ke sekelilingnya. Dia hanya melamun dan terdiam memikirkan keberadaan Agam. Tasnya ada di dalam kelas tapi orangnya entah berada dimana.
Setelah cukup lama bersembunyi, dengan sangat hati-hati Agam menghampiri kekasihnya dari belakang.
"Surprise," ujar Agam. Dia berbisik pada telinga Sheila seraya memeluknya dari belakang.
"Agam," tukas Sheila sambil memegang tangan Agam yang menutupi matanya.
"Kamu? Bukannya seharusnya pulang besok ya?" tanya Sheila yang menautkan kedua halisnya.
"Iya seharusnya begitu, tapi untung pertandingannya selesai lebih awal. Maka dari itu sejak kemarin aku sudah bisa pulang," jelas Agam.
"Tapi kenapa kamu gak ngabarin aku," timpal Sheila yang mulai cemberut.
"Aku sengaja ga ngasih tau kamu karena aku ingin memberikan kejutan untuk kamu."
Untuk beberapa saat Sheila terdiam dan melipatkan kedua tangannya. Sheila merasa kesal karena Agam tidak mengabarinya sejak kemarin. Agam yang melihat kekasihnya cemberut itu segera mendekati Sheila.
"Maafin aku, aku cuma ingin ngasih kejutan untukmu aja, beneran," tambah Agam.
Agam mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia kembali menghampiri Sheila. Agam menyodorkan sebuah piala dan secarik kertas sertifikat bertuliskan namanya.
__ADS_1
"Lihat ini, kemenangan ini untuk kamu," ujar Agam sambil memperlihatkan piala dan juga sertifikat yang di dipegangnya.
"Jadi kamu menang?" tanya Sheila yang melihat sertifikat itu bertuliskan nama Agam.
"Ya semua ini berkat kamu."
"Loh, kok aku? Ini semua karena usaha dan kerja keras kamu sendiri."
"Tapi jika kamu tidak memberikan aku izin pergi dan memberikan aku semangat mungkin aku tidak akan menjadi pemenang."
"Ah kamu bisa aja," timpal Sheila.
"Ini simpan saja, kamu lebih berhak menyimpan semua ini daripada aku," tukas Sheila yang kembali memberikan piala dan juga sertifikatnya.
"Oke kalau begitu, ini aja untuk kamu," timpal Agam. Dia kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Agam mengeluarkan sebuah coklat berukuran besar, karena Agam tahu jika Sheila sangat menyukai coklat.
"Wah coklat," ujar Sheila sambil tersenyum simpul dan segera mengambil coklat itu dari tangan Agam.
Setelah melihat itu semua Sheila seolah melupakan kekesalannya. Coklat seolah melupakan semua masalahnya.
"Makasih ya."
"Ga jadi marahnya, hehe," timpal Sheila sambil terkekeh. Sheila merasa malu karena setelah melihat coklat perasaannya kembali membaik.
"Kamu ya, emang bisa bikin aku tersenyum lagi."
"Iya dong, Agam."
🍀
Sementara di tempat lain ibunya, Bu Dewi tiba-tiba saja merasa kurang enak badan. Selesai memasak Bu Dewi tiba-tiba merasa pusing dan lemas.
"Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing," ujar Bu Dewi yang segera duduk di atas sofa.
Sudah sejak lama ia selalu sakit-sakitan. Namun Bu Dewi tidak pernah merasa dirinya sakit. Ia selalu berfikir wajar jika merasa pusing sedikit, toh nanti juga akan membaik.
Tapi sekarang entah mengapa rasanya begitu mendadak. Padahal sudah sejak lama penyakitnya tidak datang. Bu Dewi selalu merasa bengkak di kakinya. Orang bilang jika bengkak di daerah kaki maka itu artinya mengidap penyakit jantung.
__ADS_1
Penyakit yang di derita Bu Dewi bermula saat dulu ia melahirkan Sheila. Semenjak melahirkan kesehatan Bu Dewi memang sering terganggu. Namun ia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Bahkan Bu Dewi masih ingin bekerja di tengah kesehatannya yang kurang fit.
Beruntung di rumah ada stok obat yang biasa dia minum. Merasa pusing, Bu Dewi pun segera makan dan meminum obatnya. Selepas itu ia segera bergegas tidur agar pusing di kepalanya lekas hilang.
Beberapa jam kemudian, Sheila baru saja pulang dari sekolah.
"Aku pulang," ujar Sheila saat baru masuk ke rumahnya.
Sheila segera bergegas mandi dan menghampiri ibunya yang tidak terlihat di ruang tamu. Biasanya saat ia pulang ibunya selalu ada menonton televisi. Namun hari ini Sheila tidak melihat ibunya sama sekali.
Akhirnya setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Sheila segera masuk ke kamar ibunya.
Tok.. tok...
"Bu, ibu di dalam?" tanya Sheila sambil mengetuk pintu sebelum ia masuk ke dalam kamar ibunya.
"Iya nak, ibu di dalam," jawab Bu Dewi dengan suara yang parau dari dalam kamar.
Melihat kondisi ibunya yang terlihat begitu pucat membuat Sheila merasa sangat khawatir.
"Ibu kenapa? Apa ibu sedang sakit?"
"Ah tidak nak, ibu tidak apa-apa. Ibu hanya merasa sedikit pusing saja."
"Apa ibu sudah makan? Ibu sudah minum obat?"
"Sudah nak, ibu sudah makan dan sudah meminum obat. Seharusnya ibu yang menanyakan hal itu kepadamu."
"Aku juga sudah makan tadi di sekolah bu, tadi ada teman yang mentraktir makanya kita makan dulu," jawab Sheila.
Sebenarnya bukan teman, lebih tepatnya pacar. Sepulang sekolah Agam mengajaknya untuk makan terlebih dahulu. Merasa perutnya keroncongan Agam segera mengajak Sheila untuk makan di kantin.
Sedangkan ibunya selalu saja menutupi rasa sakitnya. Bu Dewi selalu menyembunyikan apa yang sedang di rasakannya. Hal itu ia lakukan agar Sheila tidak merasa khawatir. Untuk itu, dia selalu berpura-pura sehat meski sebenarnya merasa sakit.
Bu Dewi tidak ingin terlihat lemah di hadapan anaknya.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak mau membuatmu khawatir. Ibu tidak ingin terlihat lemah di hadapanmu," gumam batin Bu Dewi.
__ADS_1
Merasa lega setelah melihat keadaan ibunya, Sheila membuka tasnya dan mengulang pelajaran yang ia pelajari di sekolah tadi. Meski memiliki seorang kekasih tapi Sheila tidak ingin jika prestasinya sampai menurun.