Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
6. Menjadi Figuran


__ADS_3

Beberapa minggu lagi di sekolah akan diadakan lomba pentas seni antar kelas. Itu artinya setiap kelas harus kompak untuk membuat sebuah pertunjukan seni yang akan di tampilkan nanti.


Di kelas 9B yaitu kelas Agam dan Sheila sudah mulai sibuk berlatih. Hanya ada waktu sekitar satu minggu lagi untuk kita latihan dan membuat beberapa properti untuk keperluan pentas.


Setiap siswa di bagi-bagi tugas. Ada yang berperan sebagai tokoh utama, ada juga yang hanya memindah-mindahkan properti. Sedangkan bagi Agam dan Sheila mereka hanya di jadikan figuran saja.


Ditengah-tengah acara, Agam dan Sheila hanya akan tampil sebentar sedang duduk di taman layaknya orang yang sedang menjalin cinta. Mereka cukup senang saat menerima tugas seperti itu.


"Agam dan Sheila gimana, kalian setuju kan kalau jadi figuran?" tanya Anisa yang merupakan ketua pentas di dalam kelas.


"Boleh-boleh, kita mah jadi apa aja," timpal Sheila yang setuju-setuju saja dengan tugasnya.


"Oke kalau begitu, jadi semua sudah mengerti dengan tugas masing-masing ya," ujar Anda sebelum ia mengakhiri pertemuan hari ini.


"Oke!" jawab semua orang serempak.


Keesokan harinya, tinggal tugas membuat properti. Saat seperti ini semua orang ke dalam kelas harus kompak dan melakukan tugas-tugasnya dengan benar. Sebagain teman ada yang bertugas berbelanja, mencari bahan seperti cat, kuas, dan keperluan lainnya.


Ada juga yang hanya menunggu di kelas untuk dikerjakan nanti siang. Bagi Agam duan Sheila mereka hanya duduk di kelas saja menunggu yang lainnya berbelanja. Sejak tadi mereka hanya mengobrol membicarakan banyak hal.


"Kamu mau makan ga? Aku laper banget, ke kantin yuk!" ajak Agam sambil menarik tangan Sheila.


"Kamu aja, aku nunggu disini aja," timpal Sheila.


"Ah ayo kamu juga makan dulu," timpal Agam yang memaksa Sheila untuk makan terlebih dahulu.


Semenjak mereka berpacaran, Agam menjadi lebih perhatian kepada Sheila. Semua perhatian dan kasih sayang Agam ia curahkan hanya untuk Sheila. Dia merasa beruntung karena Agam begitu mencintai dan menyanyanginya.


Akhirnya mau tidak mau, Sheila pun ikut makan bersama Agam. Agam membeli 2 bungkus nasi goreng dan 2 teh botol sosro. Mereka makan di kantin didekat lapang. Sambil menyantap makanan mereka melihat siswa yang lain bermain basket.


"Udah ah aku kenyang," timpal Sheila.


"Habisin  sedikit lagi," ujar Agam.


"Tapi aku kenyang," lirih Sheila.

__ADS_1


"Habisin, pamali tau. Sini aku suapin," tukas Agam.


Akhirnya mau tidak mau Sheila menghabiskan makanan yang tersisa karena Agam menyuapinya. Hampir satu jam mereka menunggu teman yang sedang berbelanja akhirnya datang juga.


Agam dan Sheila pun bergegas menuju ruangan kelas untuk memulai pekerjaan mereka membuat properti. Ada yang bertugas membuat pola, ada yang bertugas menggunting, ada juga yang bertugas mengecat barang properti.


Di sekolah dibuat peraturan jika kegiatan hanya boleh dilakukan sampai pukul 3 sore. Karena semua pekerjaan harus segera selesai akhirnya semua sepakat untuk meneruskan pekerjaan ini di rumah Dina.


Semua orang memilih rumah Dina karena memang rumah Dina lah yang paling dekat dengan sekolah. Semua peralatan dan perlengkapan dibawa menuju rumah Dina. Meski mereka semua merasa lelah, tapi mereka semua harus mengerjakan ini agar cepat selesai.


Beberapa saat kemudian tibalah mereka semua dirumah Dina. Mereka melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Namun Agam dan Sheila hanya duduk berduaan saja. Dunia serasa  milik mereka berdua sedangkan yang lainnya ngontrak.


"Kalian ya ga dimana-dimana pacaran mulu," ujar Fahri yang merasa iri dengan kedekatan Agam dan sheila.


"Biarin sirik aja deh," timpal Agam.


"Kasihan Fahri, pacarnya ga ada. Makanya dia bilang gitu, hihi," timpal Sheila yang tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Iya tuh dia sirik karena pacarnya ga ada disini, coba kalau ada pasti ngikutin kita deh," tukas Agam yang langsung menyindir Fahri.


Rencananya besok baru akan dikerjakan lagi namun entah dirumah siapa. Semua teman pulang menuju rumah masing-masing. Sementara Sheila seperti biasa diantar oleh sampai naik angkot oleh Agam.


"Hati-hati dijalan ya!" ujar Agam sambil melakukan kebiasaannya mencubit pipi Sheila.


"Ih kamu kebiasaan deh," tukas Sheila yang merasa malu.


Setelah melihat kepergian Sheila, akhir nya Agam segera bergegas pulang.


Keesokan harinya. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai Agam, Sheila dan semua teman sekelasnya melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda kemarin. Hari ini semua barang properti harus selesai karena pentas seni akan dimulai besok.


Kali ini pembuatan properti dibuat dirumah Fahri. Di rumah Fahri pembuatan properti dibuat digarasi mobilnya.


"Maaf ya teman-teman kita bikin propertinya disini aja," ujar Fahri.


"Ga pa-pa kali disini juga, enak adem ga kepanasan," celetuk Agam.

__ADS_1


Sheila yang sedang sibuk, tiba-tiba suara ponselnya berdering.


"Iya hallo, oh iya aku akan segera pulang."


"................ "


"Dari siapa?" tanya Agam yang menautkan kedua halisnya.


"Dari ayah, aku lupa tadi kunci rumahnya kebawa. Makanya aku harus pulang dulu karena ayah sudah menunggu," jawab Sheila.


"Ya udah biar aku anter pake motor biar cepet," timpal Agam.


"Ri, aku pinjem motornya ya mau nganter Sheila dulu sebentar," ujar Agam.


"Boleh, nih kunci motornya," jawab Fahri yang sedang sibuk mengecat properti sambil melempar kuncinya.


Sheila pun akhirnya pulang dulu dan diantar oleh Agam. Hanya beberapa menit mereka pun akhirnya sampai dirumah Sheila karena jarak dari rumah Fahri menuju rumah Sheila tidak begitu jauh.


"Jadi ini rumah kamu?" tanya Agam.


"Iya, tunggu sebentar ya aku kasih ini dulu le ayah," jawab Sheila sambil bergegas menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah lagi.


"Ini yah kuncinya, tapi aku harus segera pergi lagi karena masih ada tugas yang harus dikerjakan di rumah Fahri," ujar Sheila sambil memberikan kunci itu kepada ayahnya.


"Baik nak, tapi hati-hati yah. Jangan pulang terlalu malam," timpal sang ayah.


"Baik yah," jawab Sheila yang segera bergegas pergi.


Agam dan Sheila pun kembali pergi menuju rumah Fahri. Tidak ada kata lelah bagi mereka semua karena pekerjaan ini harus segera selesai. Waktu terus berputar sampai akhirnya malam pun tiba.


"Nih pakai jaket aku, dingin," ujar Agam yang tiba-tiba memakaikan jaket untuk Sheila.


"Tapi ga usah," timpal Sheila.


"Ga usah gimana orang dingin begini," tukas Agam yang tetap bersikukuh memakai kan  jaketnya ke tubuh Sheila.

__ADS_1


Tanpa berdebat akhirnya Sheila pun memakai jaket hitam milik Agam. Ia seperti anak kecil yang sedang di dandani ayahnya. Agam begitu menyayangi Sheila maka dari itu Agam   tidak mau jika Sheila sampai kedinginan.


__ADS_2