Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
24. Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula


__ADS_3

"Bukankah itu Agam dan Vanes? Jadi memang bener ya apa yang dibilang Eca sama teman-teman yang lain," gumam batin Sheila sambil mengusap dadanya.


Kali ini Sheila benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri. Agam laki-laki yang sangat ia cintai ternyata tega mengkhianati Sheila lagi. Sheila merasa tidak percaya jika Agam memang berbuat seperti itu.


Tapi yang dilihatnya kali ini memang benar. Seketika mata Sheila mulai berkaca-kaca melihat kebersamaan mereka. Agam dan Vanes yang mulai menyadari jika Sheila memperhatikan mereka berdua seketika menjauh.


"Sheila," ujar Agam yang mulai menjaga jarak dari Vanes.


"Kenapa Gam?" tanya Vanes yang menautkan kedua halisnya karena Agam tiba-tiba saja menjauh darinya.


Pagi-pagi sekali Agam dan Vanes sudah datang. Mereka sarapan bersama di kantin.


"Itu ada Sheila yang liat kita berdua," jawab Agam.


"Mana? Ga ada juga," timpal Vanes.


"Itu, tadi dia liat kita pas masih di gerbang."


"Oh ya udah biasa aja, lagi pula kalian udah putus juga kan?" timpal Vanes yang seolah tidak perduli.


"Iya memang kita udah putus, tapi kan aku merasa ga enak aja," ujar Agam.


Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Vanes. Dia tidak perduli dengan perasaan Sheila. Menurutnya yang terpenting saat ini dia bisa memiliki Agam seutuhnya.


Sementara di dalam kelas, Sheila mengingat kejadian tadi saat ia melihat Agam dan Vanes. Hatinya benar-benar sakit saat melihat mereka berdua.


"Kamu benar-benar tega Gam," gumam batin Sheila.


Sheila merasa menyesal karena dia memberikan kesempatan kedua pada Agam. Seandainya Sheila tidak memberikan kesempatan itu lagi mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.


Beberapa hari berlalu, tapi rasa sakit itu masih saja terasa. Ibarat luka menganga rasa sakit itu masih terasa perih. Ingin rasanya Sheila pergi jauh tapi entah kemana.


Dirumah Sheila mencoba membuang semua kenangan tentang Agam. Termasuk foto mereka berdua saat foto box waktu itu. Dengan bercucuran air mata Sheila terpaksa membakar foto mereka berdua.


"Mungkin dengan cara ini aku akan bisa melupakan kamu Gam," lirih Sheila.


Hari ini merupakan hari Minggu, sesuai rencana Sheila akan menemui ibunya saat libur tiba. Mungkin dengan menemui ibu dia akan melupakan masalah nya. Sheila sengaja bangun lebih pagi agar ia bisa naik kereta lebih pagi.


Sepanjang perjalanan Sheila hanya mendengarkan lagu-lagu melow. Ingatannya seolah kembali saat Sheila masih bersama Agam. Fotonya mungkin sudah menjadi abu, namun kenangan mereka tidak akan pernah hilang dari ingatannya.

__ADS_1


Hampir satu setengah jam Sheila berada dalam kereta akhirnya stasiun yang Sheila tuju sampai juga. Sesampainya di sana perjalanan Sheila di lanjutkan dengan menaiki ojeg agar lebih cepat sampai di rumah.


Hanya butuh satu jam akhirnya Sheila tiba di rumah neneknya.


"Ibu," ujar Sheila sesampainya dirumah.


"Eh Sheila, kenapa tidak mengabari ibu dulu," timpal Dewi yang merasa terkejut dengan kedatangan anaknya yang tiba-tiba.


"Kan waktu itu ibu yang bilang kalau aku libur aku boleh nyusul," tukas Sheila.


"Oiya ibu benar-benar lupa. Ayo masuk kita makan, kamu pasti lapar kan?" ajak Dewi yang memang mengerti jika setelah melakukan perjalanan yang jauh kita pasti akan merasa lapar.


"Ibu tahu aja," timpal Sheila sambil bergegas masuk.


Dewi dan Sheila segera bergegas masuk ke dalam rumah. Dewi segera menyiapkan masakan yang sudah di maraknya tadi. Mera.sa keroncongan Sheila segera melahap makanannya.


Meski hanya menu sederhana tapi Sheila merasa senang. Sebenarnya Dewi masih merasa sakit namun dia tidak menunjukkannya di hadapan Sheila.


"Oiya nenek kemana bu?" tanya Sheila yang baru teringat bahwa sejak tadi dia tidak melihatnya.


"Nenek sedang ada pengajian nak, makanya belum pulang," jawab Dewi.


"Kenapa ibu tidak makan?" tanya Sheila yang menautkan kedua halisnya.


Tiba-tiba saja kepalanya merasa pusing.


"Ibu ke kamar dulu ya nak," pamit Dewi yang meninggalkan Sheila di meja makan.


"Iya bu."


Beberapa saat kemudian setelah Sheila menghabiskan makanannya, ia segera bergegas ke kamar ibunya. Dengan perlahan Sheila membuka pintu kamarnya.


tok.. tok.. tok..


"Bu!" panggil Sheila dari luar kamar.


"Masuk nak," ujar Dewi dari dalam kamar.


"Ibu kenapa? Apa ibu masih sakit?" tanya Sheila yang merasa terkejut karena melihat ibunya terbaring.

__ADS_1


"Ah ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya sedikit pusing saja. Makanya ibu ingin istirahat," jawab Dewi dengan mata yang terlihat begitu pucat.


"Tapi ibu terlihat begitu pucat, biar aku pijit ya bu," ujar Sheila yang memijit tangan dan kaki ibunya sambil berbaring.


Sebenarnya Dewi merasa begitu lemah. Tapi di hadapan Sheila ia ingin terlihat baik-baik saja. Hari pun mulai menjelang malam kondisi Dewi justru semakin memburuk.


"Bagaimana ini keadaan Dewi terus memburuk," ujar Widuri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku akan panggil dokter bu," ujar Bambang yang segera mengeluarkan benda pipihnya.


Beberapa saat kemudian datanglah seorang dokter yang langsung memeriksa keadaan Dewi.


"Pasien tidak apa-apa," ujar dokter yang memeriksanya.


Setelah diberikan resep obat dokter itu pun segera pergi. Sheila merasa sedih saat melihat ibunya terlihat begitu pucat. Terkadang ada ketakutan yang di rasakan Sheila.


Keesokan harinya Sheila meminta izin untuk tidak pergi ke sekolah karena ingin menjaga ibunya. Pagi-pagi sekali Sheila sudah menyuapi ibunya.


"Oiya nak, ibu ingin mandi," ujar Dewi setelah menghabiskan makanannya.


"Boleh bu, tapi aku masak air dulu," timpal Sheila yang segera bergegas untuk memasak air.


Beberapa menit kemudian Sheila segera memandikan ibunya dikamar mandi. Selesai mandi, Sheila menyisir rambut ibunya yang panjang. Entah mengapa rasanya begitu sedih saat menyisir rambut ibunya.


Saat sedang menyisir rambut tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut ibunya.


"Tolong berikan kesehatan untuk ibuku," gumam batin Sheila penuh harap.


Setelah itu Sheila segera membawa ibunya ke atas kasur yang ada di ruang tamu untuk beristirahat. Sementara Sheila beristirahat dikamar ibunya.


Merasa lelah karena hampir seharian menjaga dan mengurus ibunya Sheila akhirnya terlelap. Namun saat Sheila terlelap diluar terdengar begitu gaduh.


"Ada apa nek?" tanya Sheila yang segera keluar dari kamarnya.


"Ibumu nak, ibumu.." lirih nenek Widuri.


"Ibu kenapa nek?" tanya Sheila lagi.


"Ibumu sudah tiada nak," ucap Widuri sambil mengeluarkan air matanya yang sudah tidak tertahankan.

__ADS_1


"Apa tidak mungkin, baru saja ibu selesai mandi dan makan. Lalu katanya ibu ingin istirahat di kasur. Ibu pasti cuma tertidur," ujar Sheila yang masih tidak percaya.


"Yang sabar nak, ibumu memang sudah tiada," tambah Widuri yang seakan tidak tega.


__ADS_2