
Beberapa hari setelah percakapan itu, entah mengapa Sheila merasa jika keluarga Bu Anisa terasa berbeda. Bu Anisa dan kak Dian rasanya berubah dan tidak seperti biasanya.
Bahkan saat Sheila mencoba menghubungi Bu Anisa, beliau tidak menjawab panggilannya sekalipun.
"Kenapa dengan Bu Anisa? Kenapa panggilanku juga tidak diangkat?" gumam batin Sheila.
Padahal tidak biasanya beliau bersikap seperti itu. Dulu Bu Anisa selalu menjawab langsung panggilannya. Tapi hari ini, bukan hanya Bu Anisa tapi kak Dian juga melakukan hal yang sama.
"Apa mungkin beliau bersikap seperti itu gara-gara aku menolak tawarannya ya," gumam batin Sheila.
Sheila masih saja menduga-duga tentang apa yang terjadi. Padahal rasanya baru kemarin Sheila merasakan kebahagiaan seperti memiliki keluarga baru. Sheila seperti memiliki seorang ibu dan kakak perempuan.
Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat. Rasanya seperti mimpi di siang bolong. Mungkin inilah takdir yang harus Sheila jalani. Ia tidak memiliki seorang ibu atau kakak perempuan. Pernah suatu hari saat sedang belajar di kelas Sheila selalu di jadikan contoh oleh para guru.
__ADS_1
Flashback On
Saat pelajaran sedang berlangsung guru yang sedang mengajar ketika itu merasa kewalahan karena teman-teman Sheila begitu nakal. Sehingga Pak Setya yang merupakan guru matematika kehabisan akal untuk menasehati muridnya. Tiba-tiba saja nama Sheila di sebut.
"Sampai kapan kalian akan seperti ini? Apa kalian tidak pernah memikirkan jasa orang tua kalian hah? Seharusnya kalian bersyukur karena kedua orang tua kalian masih hidup. Lihat Sheila ibunya sudah tiada hingga dia harus hidup seorang diri. Ketika ada masalah dia akan cerita kepada siapa? Siapa yang akan menyanyanginya lebih dari ibunya? Yang Sheila bisa hanya menangis karena merindukan ibunya yang sudah tiada," pekik Pak Setya.
Spontan seluruh murid yang ada di dalam kelas pun terdiam. Namun Sheila yang mendengar itu merasa begitu sedih karena yang dikatakan Pak Setya memang ada benarnya.
Ketika Sheila merindukan ibunya dia hanya bisa menangis. Ketika ada masalah pun Sheila hanya bisa menangis. Meski ada seorang ayah tapi rasanya sangat berbeda. Ayah cenderung cuek dan kurang perhatian.
"Maafkan bapak Sheila karena bapak sudah menjadikan kamu sebagai contoh agar teman-temanmu bisa berfikir," ujar Pak Setya yang melihat Sheila bersedih dan mulai menyeka air matanya.
"Tidak apa-apa pak, saya hanya jadi teringat ibu saya saja," lirih Sheila.
__ADS_1
Flashback Off
Merasa tidak ingin terlalu memikirkan tentang hal ini Sheila mencoba bangkit lagi dan melupakan segalanya. Sheila mencoba menata hidupnya kembali. Setelah lulus sekolah mungkin Sheila akan bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang.
Meski sudah kelulusan tapi Sheila masih sering ke sekolah untuk mengurus berkas-berkas yang ada disana.
"Oiya Sheila ini ada sedikit uang. Kamu bisa ikut SMPTN (Saringan Masuk Perguruan Tinggi Negeri)," ujar Kak Bagus yang merupakan kakak kelas Sheila sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Wah beneran kak? Makasih banyak kak," tanya Sheila yang masih tidak percaya.
"Beneran, ini ambil," ucap Bagus lagi.
"Sekali lagi makasih banyak kak," ujar Sheila.
__ADS_1
Sheila masih tidak percaya jika ia akan mengikuti SMPTN. Akhirnya tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini Sheila segera mendaftarkan dirinya ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri.