Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
Bab 7. Acara Pentas Seni


__ADS_3

Hari ini merupakan hari dimana acara pentas seni akan di laksanakan. Di lapangan suasana sudah ramai oleh seluruh siswa yang sedang berkumpul karena acara sebentar lagi akan segera di mulai.


Tidak ada panggung besar, acara di adakan di pinggir lapang yang di jadikan sebuah panggung. Hal itu di lakukan agar saat memakai setting memudahkan para siswa dalam menata properti.


Setiap kelas harus menampilkan sebuah kabaret dengan tema yang bebas. Asalkan dalam kabaret itu harus tersimpan sebuah pesan yang harus di sampaikan kepada para penonton. Pagi-pagi sekali Sheila sudah bersiap untuk segera bergegas pergi menuju rumah Anisa.


Sejak kemarin Sheila dan Anisa sudah membuat janji untuk pergi ke sekolah bersama.


"Anisa," ujar Sheila sesampainya di rumah Anisa.


"Ayo masuk Sheila," pekik Anisa dari dalam rumah.


Sheila pun segera masuk ke dalam rumah Anisa. Saat Sheila masuk, Anisa masih sibuk meluruskan rambutnya. Sejak tadi Anisa sibuk bersiap karena ia akan memerankan peran utama dalam pentas nanti.


"Sheila mau di catok juga rambutnya?" tanya Anisa setelah selesai meluruskan rambutnya.


"Mmh gimana ya, boleh lah," jawab Sheila yang awalnya merasa ragu tapi kini ia juga bersedia untuk diluruskan rambutnya.


Anisa pun segera menyisir rambut Sheila yang panjang terurai. Awalnya Sheila merasa tidak percaya diri, namun apa salahnya jika sesekali ia berhias diri. Hanya beberapa menit saja akhirnya rambut Sheila selesai di luruskan.


"Wah kamu cantik sekali Sheila, Agam pasti makin jatuh cinta sama kamu," celetuk Anisa yang selalu menggoda Sheila.


"Ah kamu bisa aja An, yaudah ah ayo kita pergi udah siang nih," ajak Sheila yang tersipu malu.


Mereka pun akhirnya segera bergegas pergi menuju sekolah. Jarak rumah Anisa yang tidak terlalu jauh dari jalan raya memudahkan mereka untuk segera menaiki angkutan umum. Tanpa menunggu lama akhirnya mereka mendapatkan angkot yang mereka tunggu.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba di sekolah. Di lapangan sudah ramai para siswa yang sudah berkumpul. Namun Anisa dan Sheila segera bergegas ke kelas mereka. Ternyata di kelas semua orang sudah berkumpul kecuali Sheila dan Anisa.


"Ini kalian berdua kemana aja sih," celetuk Agam yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangan Sheila.


"Iya maaf kami telat," ujar Sheila yang segera duduk di samping Agam.

__ADS_1


"Dari tadi di tungguin juga," tukas Agam lagi.


"Iya, iya maaf yang penting kan aku sekarang udah datang," timpal Sheila lagi.


"Iya deh, iya.." tukas Agam lagi yang kini mulai tersenyum. Sebenarnya Agam merasa kesal karena sejak tadi ia menunggu kedatangan Sheila.


"Ya udah kita siap-siap semuanya, sebentar lagi giliran kita yang akan tampil di lapangan," ujar ketua kelas yang tidak lain adalah Hera. Hera merupakan ketua kelas yang begitu tegas. Sehingga hampir semua murid merasa segan kepadanya.


Setelah semuanya siap, semua orang turun ke lapangan. Tak lupa properti yang sudah dipersiapkan pun dibawa semuanya. Begitu ramai dan riuhnya suasana di lapangan setelah ada yang selesai pentas di lapangan.


"Duh gimana nih, aku jadi deg-degan," ujar Sheila saat berjalan menuju lapangan.


"Tenang, tenang. Kita tinggal jalan aja berdua, numpang lewat," timpal Agam yang berusaha menenangkan Sheila.


"Iya juga sih, kita cuma lewat aja. Tapi tetep aku ga tenang dan takut," lirih Sheila.


"Udah ga usah di pikirin, kan ada aku," timpal Agam lagi.


Setelah semua siap, kini giliran kelas mereka yang akan tampil di lapangan. Anisa dan Bayu sebagai pemeran utama sudah tampil di lapangan. Kini giliran Agam dan Sheila yang akan tampil dan berpura-pura duduk sebagai pasangan yang sedang berpacaran.


"Tuh kan, apa aku bilang," ujar Sheila yang kini tersipu malu.


Mereka pun akhirnya mempercepat langkah mereka saat melintas di atas pentas. Setelah beberapa menit akhirnya kelas mereka pun selesai menampilkan sebuah kabaret persembahan dari kelas mereka.


Selesai tampil semua teman-teman Sheila dan Agam berkumpul di kelas. Mereka semua berkumpul dan merasa senang karena akhirnya pentas ini selesai juga. Mereka makan bersama di kelas.


Begitupun dengan Sheila dan Agam yang duduk satu bangku.


"Terima kasih semuanya, akhirnya kita dapat menyelesaikan tugas kita. Terima kasih atas kerja samanya salama ini. Menang kalah bukan tujuan kita, yang terpenting kita semua sudah bekerja keras dan berusaha," ujar ketua kelas di depan kelas.


Semua siswa pun bertepuk tangan untuk diri mereka sendiri. Setelah selesai makan ada siswa yang langsung pulang, ada juga yang masih menyaksikan acara di lapangan. Sedangkan Agam dan Sheila masih berbincang di kelas.

__ADS_1


Bosan berada di kelas mereka berbincang di depan kelas sambil menyaksikan pentas yang masih berlangsung di lapangan.


"Seru ya acaranya!" ujar Sheila.


"Iya rame banget," timpal Agam.


"Tau ga? Tadi aku malu banget waktu pas giliran kita lewat," tukas Sheila.


"Iya aku juga sebenarnya malu, tapi aku berusaha buat tenang."


"Oiya aku sayang banget sama kamu, sampai kapanpun aku ga akan pernah tinggalin kamu," tambah Agam lagi sambil memegang tangan Sheila.


"Iya aku juga sayang banget sama kamu, kamu janji jangan pernah tinggalin aku ya!" ujar Sheila.


"Iya aku janji sampai kapanpun aku ga akan pernah tinggalin kamu," timpal Agam sambil meyakinkan Sheila.


Untuk beberapa saat mereka pun berpegangan tangan. Betapa indahnya saat itu. Di tengah-tengah perbincangan mereka tiba-tiba Agam teringat akan tugasnya beberapa hari lagi. Agam merasa bingung bagaimana dia harus mengatakan semuanya kepada Sheila.


"Agam!" panggil Sheila yang tiba-tiba melihat Agam terdiam.


"Eh iya, kenapa?" tanya Agam yang menautkan kedua halisnya.


"Kenapa tiba-tiba bengong. Apa yang lagi kamu pikirkan?" tanya Sheila.


"Sebenarnya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," jawab Agam yang terlihat bingung saat akan mengatakan sesuatu.


"Sesuatu apa? Apa kamu mau putusin aku?" tanya Sheila yang berusaha menebak-nebak.


"Bukan, bukan itu. Tapi aku ga tega bilangnya sama kamu," lirih Agam lagi.


"Iya tapi apa? Jangan buat aku penasaran," timpal Sheila.

__ADS_1


Melihat sikap dan kata-laya Agam membuat Sheila merasa sedih. Sheila merasa takut jika Agam akan pergi meninggalkannya. Sheila merasa takut jika Agam akan memutuskan hubungan mereka itu.


Sheila benar-benar merasa sedih. Namun Agam masih belum menceritakan yang sebenarnya. Agam juga merasa bingung harus mengatakannya atau tidak. Tapi jika Agam tidak mengatakannya, mungkin Sheila akan bertanya-tanya dan membuatnya kepikiran.


__ADS_2