Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
26. Terisak Kembali


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama sekolah bagi Sheila. Hampir satu minggu tidak masuk sekolah membuat Sheila merasa tertinggal. Apalagi sekarang Sheila sedang duduk di kelas 3, tentu Sheila harus mengejar ketertinggalan karena tidak masuk sekolah.


Khususnya pelajaran matematika, pelajaran yang cukup sulit jika tidak di terangkan secara langsung. Hari pertama sekolah membuat Sheila merasa berat. Rasanya begitu malas pergi ke sekolah saat ini, namun ia tidak bisa terus-terusan tidak masuk sekolah.


Saat jam istirahat tiba, Sheila harus pergi ke ruang guru untuk menyimpan buku tugas pelajaran bahasa sunda. Sheila menyalami guru agama yang berada di hadapannya.


"Sheila, sepertinya ibu baru lihat kamu masuk sekolah," ujar Bu Anisa.


"Iya bu hampir seminggu saya tidak masuk," jawab Sheila.


"Apa seminggu? Memangnya kamu kemana saja?" tanya Bu Anisa lagi.


"Ibu saya bu, ibu saya," ujar Sheila yang tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


Mendengar pertanyaan itu membuat Sheila teringat kembali akan ibunya. Sheila kembali terisak di hadapan Anisa. Anisa yang merasa bingung karena melihat Sheila tiba-tiba menangis merasa tidak tega.


"Kenapa Sheila?" tanya Anisa yang penasaran.


"Ibu saya, saya tidak masuk sekolah karena ibu saya telah meninggalkan saya untuk selamanya," lirih Sheila yang menangis kembali.


"Apa? Maafkan ibu nak, ibu tidak bermaksud," ujar Anisa yang sangat merasa bersalah.


"Tidak apa-apa bu, maaf karena saya masih merasa sedih," tukas Sheila yang menyeka air matanya.


"Hal itu sangat wajar nak, lebih baik kamu banyak berdoa saja. Jangan bersedih terus, kasihan ibumu nak," ucap Anisa sambil mengusap punggung Sheila.


"Iya bu pasti, kalau begitu saya permisi," pamit Sheila yang segera bergegas menuju kelasnya kembali.


Semenjak perbincangan itu, Sheila akhirnya menjadi dekat dengan gurunya itu. Bahkan jika ada apa-apa Anisa lebih meminta pertolongan Sheila daripada murid yang lain.


Suatu saat Sheila di ajak ke rumahnya Anisa karena harus membawakan beberapa barang ke rumahnya.


"Terima kasih banyak ya Sheila," ujar Anisa sesampainya di rumah.


"Sama-sama bu, kalau begitu saya pamit untuk segera pulang."


"Eh mau kemana? Tunggu dulu, kita makan dulu ya," ajak Anisa.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot bu," tolak Sheila yang merasa tidak enak saat gurunya mengajak Sheila untuk makan bersamanya.


"Tidak, tidak repot. Ibu justru senang kalau kamu bisa makan disini," timpal Anisa yang segera mengajak Sheila ke dapurnya.


Anisa sendiri memiliki anak perempuan yang masih sekolah semester akhir. Sedangkan suaminya merupakan seorang TNI. Tak terasa karena sudah terlalu sore akhirnya Sheila pamit untuk segera pulang.


Beruntung jarak rumah Bu Anisa dengan rumah Sheila tidak begitu jauh. Beberapa hari berlalu hubungan Sheila dan juga Bu Anisa semakin semakin dekat. Bahkan kini Sheila juga sudah mulai akrab dengan anaknya Bu Anisa yaitu kak Dian.


Selain dengan kak Dian, Sheila juga dekat suami Bu Anisa pak Handoko. Sheila merasa beruntung karena ia seperti memiliki keluarga yang baru.


Sheila merasa seperti memiliki ibu dan kakak lagi. Namun seiring berjalannya waktu, Sheila yang merasa malu karena setiap bermain ke rumah Bu Anisa, Sheila tidak memakai kerudung.


"Sepertinya aku harus memakai kerudung, aku merasa malu setiap main kerumah Bu Anisa hanya aku yang tidak memakai kerudung," gumam batin Sheila yang mulai tersadar.


Semenjak itulah Sheila mulai memakai kerudung kemanapun ia pergi.


"Wah alhamdulillah sekarang Sheila memakai kerudung. Kamu jadi terlihat lebih cantik nak," puji Bu Anisa.


"Alhamdulillah bu, ini semua berkat ibu," ujar Sheila.


"Mungkin kalau tidak dekat dengan ibu, sampai kapanpun aku tidak akan memakai kerudung bu," timpal Sheila lagi.


"Hidayah bisa datang dari mana saja nak. Semoga kamu menjadi anak yang sholehah ya," ucap Bu Anisa sambil memeluk Sheila.


"Aamiin, terima kasih banyak bu."


Sejak saat itu hubungan Sheila dan Bu Anisa pun semakin dekat. Bahkan tak jarang Bu Anisa dan Dian selalu mengajak Sheila untuk sekedar jalan-jalan. Tidak hanya itu, Sheila pun sering menginap di rumah Bu Anisa.


Hingga suatu hari keluarga Bu Anisa berkunjung ke rumah Sheila. Rumah yang cukup sederhana namun cukup untuk menampung beberapa orang.


"Inilah rumah saya bu, maaf rumahnya kecil," ujar Sheila sambil memberikan minuman untuk Bu Anisa dan juga keluarganya.


"Tidak apa nak, yang penting kita bersyukur karena kita masih memiliki tempat tinggal," timpal Pak Handoko.


"Iya pak," jawab Sheila.


Tak berapa lama, ayah Sheila baru saja pulang bekerja. Sheila pun segera mengenalkan ayahnya kepada keluarga Bu Anisa.

__ADS_1


"Wah jadi ini ayahnya Sheila?" ujar Bu Anisa.


"Iya bu perkenalkan saya ayahnya Sheila," ucap Hermawan yang menyalami keluarga Bu Anisa satu persatu.


"Terima kasih banyak bu karena sudah baik dan menyayangi Sheila," tukas Hermawan yang merasa tidak enak karena anaknya sangat dekat dengan gurunya.


"Sama-sama pak, saya justru merasa sangat senang karena semenjak ada Sheila rumah kami menjadi ramai," timpal Bu Anisa.


Tak hanya dengan ayahnya, keluarga Bu Anisa pun kini mulai kenal dengan nenek Widuri. Sheila sengaja mengajak keluarga Bu Anisa untuk menemui neneknya di kampung.


Beruntung mereka merasa sangat senang saat di ajak menuju kampung halaman Sheila. Terutama kak Dian, dia merasa begitu senang karena ini merupakan kali pertama bagi kak Dian menaiki kereta api.


Hanya beberap jam saja akhirnya mereka tiba dirumah nenek Widuri.


"Wah suasana di sini enak ya, adem," ujar Kak Dian.


"Iya nak, ibu juga senang bisa ke sini. Suasananya begitu tenang," timpal Bu Anisa.


"Assalamualaikum nek," ujar Sheila saat memasuki rumah neneknya.


"Waalaikumsalam, Sheila ini semua siapa?" tanya Widuri sambil menautkan kedua halisnya karena ia tidak mengenal semua yang datang ke rumahnya.


"Perkenalkan ini guru aku nek, ini suami dan juga anaknya beliau," jawab Sheila yang mulai memperkenalkan mereka satu persatu.


"Wah jadi ini gurunya Sheila? Senang bisa bertemu dengan ibu," ucap nenek Widuri sambil menyalami Bu Anisa.


"Saya juga senang bisa bertemu dengan nenek di sini. Di sini suasananya begitu sejuk dan tenang," ujar Bu Anisa.


"Ya sudah ajak ibu guru makan dulu nak. Nenek sudah membuatkan nasi liwet di dapur," timpal Widuri.


"Baik nek," jawab Sheila.


"Ayo bu kita makan dulu," ajak Sheila.


"Waduh, kami jadi merepotkan nek makan di sini," timpal Bu Anisa yang merasa tidak enak karena baru datang sudah di suguhkan makanan.


Akhirnya semua bergegas makan dengan nasi liwet dan menu seadanya. Meski sangat sederhana tapi mereka semua merasa senang karena bisa makan di suasana pedesaan yang tenang dan sejuk.

__ADS_1


__ADS_2