Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
13. Perdana Naik Kereta Sendiri


__ADS_3

"Bu apa kita jadi ke rumah nenek?" tanya Sheila saat sedang duduk di meja makan.


"Sepertinya ibu akan pergi lebih awal, nah nanti kamu nyusul aja ya!" tukas Bu Dewi lagi.


"Berarti aku pergi sendiri dong bu?" gerutu Sheila.


"Iya, sekalian belajar bepergian sendiri biar tahu dan berani," tambah Bu Dewi.


"Oke bu!" ujar Sheila sambil mengangkat ibu jarinya sebagai tanda setuju.


2 hari lagi Sheila bersama ibunya akan pergi ke kampung. Mereka datang ke sana bukan tanpa alasan, mereka pergi ke sana melainkan untuk menghadiri acara pernikahan bibinya. Besok Bu Dewi harus pergi lebih awal sebab di sana begitu banyak pekerjaan.


Sedangkan Sheila akan menyusul setelah ia pulang sekolah besok . Meski ini pertama kalinya Sheila pergi sendiri, tapi Sheila harus mencoba memberanikan dirinya. Sheila harus bisa. Ayahnya mungkin tidak bisa hadir karena ia begitu banyak pekerjaan.


Keesokan harinya..


"Nak, ibu pergi duluan ya! Kamu hati-hati di jalannya. Oiya kamu sudah tahu kan harus naik apa aja besok?" tanya Bu Dewi memastikan.


"Tahu bu, ibu tenang aja," jawab Sheila. Ia segera menghampiri ibunya untuk menyalami ibunya terlebih dahulu.


"Ya sudah kalau begitu ibu berangkat ya nak!" pamit Bu Dewi yang memeluk anaknya sebelum ia pergi.


Bu Dewi pergi diantar oleh suaminya hingga ke stasiun. Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba di stasiun.


"Ayah antar sampai sini ya! Ibu hati-hati di jalan kalau sudah sampai kabari ayah. Tolong sampaikan maaf kepada ibu jika ayah tidak bisa hadir di acara pernikahan Ratna," ujar suaminya sesaat sebelum pergi.


"Iya yah siap, pasti aku sampaikan. Lagi pula ibu juga pasti pasti akan mengerti," tukas Bu Dewi yang menempelkan tangan suaminya di atas kepalanya


Bu Dewi segera bergegas masuk ke dalam stasiun. Dia segera membeli tiket ekonomi di loket pembayaran. Beruntung antriannya tidak terlalu panjang. Hanya beberapa menit mengantri akhirnya Bu Dewi mendapatkan tiket dan segera naik kereta yang sudah ada.


Setelah istrinya masuk ke dalam stasiun, suaminya segera bergegas pulang. Tak berapa lama akhirnya ia sampai di rumah.

__ADS_1


Sementara di sekolah Sheila dan Agam sedang berbincang.


"Oiya besok sepertinya aku pergi dulu ya," pamit Sheila. Meski ragu namun ia harus mengatakan ini. Sheila takut jika Agam akan merasa khawatir jika ia tahu Sheila pergi sendiri.


"Loh mau kemana emangnya?" tanya Agam yang menakutkan kedua halisnya. Agam merasa terkejut karena kemarin Sheila tidak mengatakan apa-ala.


"Aku harus pergi ke rumah nenek dulu karena besok lusa ada acara," jawab Sheila.


"Oh emangnya ada acara apa?" tanya Agam lagi.


"Di rumah nenek akan ada acara pernikahan bibiku, makanya kita semua besok harus sudah ada di sana," jawab Sheila


"Oiya tapi kamu hati-hati di jalan ya, jangan lupa kabarin aku," timpal Agam.


"Oke deh! Slip," tukas Sheila yang mengedipkan matanya sebelah sebagai tanda setuju.


Keesokan harinya.


Sheila sudah bersiap untuk segera berangkat menuju rumah neneknya. Sheila pergi menggunakan angkot menuju stasiun lalu ia naik kereta. Bagi Sheila ini bukan merupakan hal yang pertama kali, namun untuk bepergian sendiri baru kali ini Sheila melakukannya setelah ia masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).


Tidak ada yang berbeda saat Sheila bepergian sendiri, semua masih tetap sama. Hanya saja tidak ada lawan bicara saat kita pergi seorang diri. Sepanjang perjalanan hanya Sheila habiskan untuk melihat-lihat pemandangan diluar.


Seluas mata memandang hanya di penuhi dengan hamparan sawah dan parit-parit kecil. Namun terkadang berjejer rumah-rumah penduduk yang ada di pinggir rel kereta. Selain itu jalan raya juga terlihat dari atas kereta.


Sheila melihat pemandangan itu sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Rasanya begitu menyenangkan saat kita bisa mendengarkan lalu sambil menikmati berbagai pemandangan.


Sheila pun dibuat mengantuk saat dalam perjalanan. Namun untuk beberapa kali Sheila pun terbangun karena takut ketiduran. Tak terasa satu jam setengah kemudian akhirnya Sheila tiba di stasiun yang menjadi tujuannya.


Rasanya begitu lega saat kita tiba ditujuan. Sheila segera bergegas turun dan pergi menuju luar stasiun untuk menaiki angkot.


Beruntung saat keluar stasiun ada angkot yang akan mulai pergi.

__ADS_1


Biasanya angkot yang berada di tempat itu harus menunggu penuh dulu. Tapi kali ini Sheila beruntung karena ia tidak menunggu lama. Dan beberapa menit kemudian akhirnya Sheila tiba di rumah neneknya.


"Assalamualaikum," ujar Sheila saat tiba di depan rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Dewi dan ibunya serempak.


"Cucuku sudah besar," timpal nenek Widuri yang merupakan ibu dari Bu Dewi.


"Nenek apa kabar?" sapa Sheila dan segera menghampiri neneknya.


"Kabar nenek baik, kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah besar nak, sekarang sudah berani pergi sendiri," tukas Nenek Widuri yang segera menyambut dan memeluk cucu yang sudah lama tidak ia temui.


"Iya nek alhamdulillah walaupun aku merasa takut saat di jalan tadi," timpal Sheila yang langsung menceritakan tentang perjalanannya kepada neneknya.


Nenek Widuri pun merasa senang saat mendengarkan celoteh cucunya. Di rumah nenek Sari begitu ramai oleh keluarga besar mereka. Keesokan harinya acara pun akan segera dimulai.


Hari ini rumah nenek Widuri sudah di dekor dengan hiasan yang cukup sederhana namun tetap indah. Bibinya Bi Lastri merupakan adik dari ibunya. Hari ini merupakan hari pernikahannya.


Untuk itu seluruh keluarga sudah datang untuk menyaksikan pernikahan Bi Lastri. Beberapa saat kemudian keluarga mempelai laki-laki datang dan acara ini pun akan segera di lakukan.


Sementara Sheila hanya menyaksikan bibinya dari kejauhan. Setelah semua siap, acara inti pun langsung di lakukan dan beberapa saat kemudian akhirnya Bi Lastri dan suaminya sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Selamat ya bi," ujar Sheila setelah bibinya selesai menikah.


"Iya Sheila, makasih ya!" tukas Bi Lastri.


Tak lupa Bu Dewi pun memberikan adiknya selamat dan wejangan-wejangan pernikahan. Kakak beradik itu berpelukan sehingga membuat semua orang yang melihatnya menjadi terharu.


Setelah selesai akad nikah, para tamu undangan pun menyalami mereka satu persatu. Ada yang mengantri untuk bersalaman dengan pengantin, ada juga yang mengantri untuk makan terlebih dahulu sebelum menyalami pengantin.


Tak terasa hampir seharian penuh rangkaian acara pernikahan tersebut di lakukan. Keesokan harinya karena semua rangkaian acara sudah selesai di laksanakan akhirnya Bu Dewi dan Sheila pun pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya!" ujar Nenek Widuri sesaat sebelum Bu Dewi dan Sheila bergegas pergi.


"Iya bu, kami pergi ya," pamit Bu Dewi.


__ADS_2