
"Aku benar-benar kecewa sama kamu Gam. Kamu tega, katanya kamu janji ga akan pernah khianatin aku lagi. Mana janji kamu Gam? Katanya kamu ga suka sama Vanes, tapi apa kenyataannya," tambah Sheila lagi.
Kini air matanya sudah tidak tertahankan lagi. Air matanya seakan tumpah menahan segala kesakitan yang ia rasakan.
Tidak ada jawaban dari mulut Agam, dia hanya diam mematung. Mungkin karena memang merasa bersalah. Hanya kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya.
"Sekali lagi maafkan aku Sheila, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu," ujar Agam.
"Sudahlah Gam, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi," timpal Sheila sambil melangkahkan kakinya.
Dengan berat hati Sheila mulai berjalan. Sheila berjalan dengan air mata yang terus bercucuran. Sepanjang perjalanan Sheila terus saja menangis. Sheila menaiki jembatan layang.
Di atas jembatan Sheila duduk sejenak sambil melihat mobil yang berlalu lalang dibawahnya. Sheila menangis sesenggukan merasakan kesakitan yang ia rasakan. Sheila benar-benar merasa kecewa untuk yang kedua kalinya.
Setelah merasa cukup tenang, Sheila akhirnya melanjutkan perjalanannya untuk segera pulang. Kali ini Sheila sudah tidak menangis lagi. Namun sepanjang perjalanan ada saja hal-hal yang mengingatkan Sheila pada Agam.
"Aku harus bisa melupakan Agam," gumam batin Sheila.
Namun saat akan menaiki angkot Sheila teringat lagi pada Agam yang selalu mencubit pipinya sebelum ia naik angkot. Hal itupun sontak membuat Sheila bersedih kembali.
Sementara di tempat lain, Agam masih terpaku dengan kepergian Sheila. Agam benar-benar merasa bersalah karena sudah menyakiti Sheila. Akan tetapi Agam juga tidak bisa melakukan apa-apa karena ia kini menyukai Vanes.
"Maafkan aku Sheila, lagi-lagi aku menyakiti kamu. Maafkan aku, aku tidak pernah berniat untuk menyakiti perasaanmu Sheila," gumam batin Agam.
Di tengah lamunan Agam tiba-tiba saja Vanes datang menghampiri Agam.
"Woy lagi ngapain? Bengong aja!" ujar Vanes yang tiba-tiba datang mengejutkan Agam.
"Ish apaan sih bikin kaget aja," timpal Agam yang benar-benar merasa terkejut dengan kedatangan Vanes.
"Galak amat, emang lagi mikirin apaan sih?" tanya Vanes.
"Sheila, Sheila ngira kalau kita udah jadian. Dia kecewa banget sama aku,"lirih Agam yang terlihat begitu sedih.
__ADS_1
"Apa? Tapi Sheila kata siapa ya?" timpal Vanes yang merasa bingung.
"Entahlah aku juga bingung. Dia bilang banyak orang yang bilang kaya gitu. Makanya Sheila kecewa banget sama aku," tambah Agam lagi.
"Tapi kalau boleh jujur, aku sebenernya nyaman kalau ada deket kamu Gam," ujar
Vanes.
"Apa?" tanya Agam yang tidak percaya saat mendengar ini.
"Iya Gam, sebenernya waktu pertama kita bertemu aku udah suka sama kamu," ucap Vanes yang mengambil nafas panjang sebelum mengatakan yang sebenarnya.
"Apa aku ga salah denger? Jadi kamu suka sama aku?" tanya Agam memastikan.
Mendengar pernyataan Vanes membuat Agam merasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika di saat seperti ini Vanes akan mengungkapkan isi hatinya. Selama hidupnya baru kali ini ada seorang wanita yang mengungkapkan perasaannya kepada Agam.
"Iya Gam, aku harap kamu juga memiliki perasaan yang sama," tukas Vanes penuh harap.
Agam terdiam selama beberapa saat. Agam sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri. Di sisi lain Agam masih menyayangi Sheila, tapi di lain sisi Agam juga sepertinya memiliki perasaan yang sama dengan Vanes.
"Baiklah Gam, aku tidak akan memaksakan perasaan kamu untuk suka sama aku. Tapi aku berharap jika perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan," ujar Vanes sambil bergegas meninggalkan Agam sendiri.
Di lain tempat Sheila baru saja tiba di rumahnya. Sheila merasa bingung karena ayahnya ternyata sudah pulang lebih dulu. Ayahnya sudah berada di samping ibunya yang sedang berbaring.
"Ayah sudah pulang? Ibu kenapa yah?" tanya Sheila yang merasa bingung.
"Ibumu, ibumu nak sakit keras," lirih Hermawan yang merasa tidak sanggup saat melihat istrinya terbaring lemah.
"Apa? Jadi penyakit ibu kambuh lagi yah?" tanya Sheila lagi yang tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang dan sedih.
"Iya nak, ibumu tadi hampir saja keracunan obat. Tapi beruntung tadi sudah ada dokter yang memeriksanya."
"Aku harap ibu akan kembali pulih seperti biasa yah," ujar Sheila.
__ADS_1
"Iya nak, aamiin.." timpal sang ayah.
Belum lagi Sheila melupakan kesedihannya karena perbuatan Agam, kini kesedihan Sheila bertambah karena kesehatan ibunya yang terus menurun. Hampir semalaman Sheila tidak bisa memejamkan matanya.
Keesokan harinya, kondisi Dewi masih belum membaik. Namun beruntung hari ini merupakan hari libur sehingga Sheila bisa menemani ibunya seharian ini. Akan tetapi ayahnya, Hermawan tidak bisa libur.
Meski hari libur begini Hermawan harus tetap bekerja.
"Sheila tolong jaga ibu ya, ayah harus bekerja hari ini," ujar Hermawan sesaat sebelum ia pergi bekerja.
"Baik yah," jawab Sheila.
Setelah kepergian ayahnya, Sheila segera bergegas ke dapur untuk membuat bubur. Membuat bubur memang memakan waktu. Akan tetapi Sheila harus tetap membuatnya untuk ibunya.
Membuat bubur juga memang cukup mudah. Kita hanya butuh beras yang sudah di bersihkan dan di tambah air. Setelah itu kita harus mengaduknya sampai beras itu menjadi hancur dan lembek.
Beberapa menit kemudian akhirnya Sheila selesai membuat bubur.
"Ini bu makan dulu," tawar Sheila.
"Ter.ima kasih nak," jawab Dewi dengan nada yang masih lemas.
Dewi tidak menyangka jika anaknya ternyata pandai membuat bubur. Dengan kondisi badan yang masih lemas,Dewi segera bangun dan menyandarkan bahunya ke tembok.
Sedikit demi sedikit Dewi mulai memakan buburnya dengan bantuan Sheila. Dengan sangat hati-hati Sheila menyuapi ibunya dengan penuh kasih sayang. Entah mengapa rasanya begitu sedih saat melihat ibunya yang jatuh sakit.
Badannya kini terlihat lebih kurus. Matanya terlihat begitu pucat. Bahkan badannya terlihat begitu lemah. Untuk ke kamar mandi saja Sheila harus memapahnya. Pikiran Sheila mulai tidak tenang.
"Semoga ibu cepat sehat seperti sedia kala. Aku jadi sedih kalau lihat ibu seperti ini," lirih Sheila setelah selesainmenyuapi ibunya.
"Iya nak, nanti juga ibu sehat kembali kok. Ibu tidak apa-apa nak," ujar Dewi sambil mengusap kepala Sheila.
Dewi merasa sangat meyanyangi anaknya. Apalagi Sheila merupakan anak kesayangan satu-satunya. Sheila juga merupakan kekuatan Dewi selama ini. Dalam pikirannya Dewi memikirkan banyak hal.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku di panggil Tuhan, bagaimana nasib anakku? Sungguh aku tidak tega, siapa yang akan menyayanginya lebih dari aku," gumam batin Dewi yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa bu? Apa ibu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Sheila.