Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
14. Kesehatan Ibu Menurun


__ADS_3

Sudah beberapa hari terakhir Bu Dewi sering sakit-sakitan. Entah sudah pergi ke berapa dokter namun tetap tidak ada hasilnya. Sejak melahirkan Sheila dulu Bu Dewi memang sering sakit-sakitan.


Bahkan sudah bertahun-tahun pun penyakit itu masih saja ada. Terkadang Bu Dewi merasa begitu sehat, namun tiba-tiba rasa sakit itu datang. Dadanya merasa sakit serta kaki nya selalu bengkak saat penyakitnya sudah kambuh.


Penyakit Bu Dewi semakin menjadi saat ia harus kehilangan anak pertamanya yang bernama Sri Rahayu. Sejak kecil anak pertamanya memang tinggal di kampung bersama nenek Widuri.


Flashback On


Entah mengapa Sri merupakan kebalikan dari Sheila. Sri merasa betah saat tinggal bersama neneknya di kampung, tapi tidak dengan Sheila. Dulu saat masih Sekolah Dasar Sheila pernah sekolah di kampung namun hanya beberapa bulan karena merasa tidak betah.


Sheila justru lebih memilih tinggal bersama dengan kedua orang tuanya namun dengan resiko ia harus tinggal sendiri karena orang tuanya harus bekerja. Namun benar saja kata-kata Sheila memang ada benarnya.


Sejak saat itu Sheila tumbuh menjadi anak yang mandiri. Beberapa bulan setelah Sekolah Menengah Pertama (SMP), kakaknya Sri tiba-tiba mengidap penyakit liver.


Penyakit yang sangat jarang terjadi karena penyakit ini perut Sri menjadi sangat besar seperti orang yang sedang hamil. Lagi-lagi Bu Dewi mendapatkan telpon dari kampung bahwa anak nya sedang sakit.


Mendengar anaknya yang sedang sakit membuat Dewi sangat hawatir. Kini ia harus meminta izin selama beberapa hari kepada bosnya. Bahkan Sheila yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar pun harus ia tinggal bersama dengan tetangganya.


Beberapa jam kemudian akhirnya Dewi tiba di kampung halamannya.


"Assalamualaikum Bu, gimana kabar Sri sekarang?" tanya Dewi yang baru saja tiba di rumahnya. Meski dengan nafas terengah karena kelelahan namun ia langsung menghampiri anaknya.


"Anakmu ada di dalam kamar nak, kamu lihat saja sendiri," jawab nenek Widuri.


Dewi pun segera bergegas masuk ke dalam kamar anaknya dan segera menghampirinya.


"Anakku, apa kabar sayang?" tanya Bu Dewi sambil memeluk anaknya. Betapa sakitnya saat ia menyaksikan anaknya yang kini menjadi kurus namun badan nya membesar.


Dulu Sri merupakan anak yang putih, bersih juga gemuk. Tapi kini badannya menjadi kecil dan sangat kurus.


"Aku tidak apa-apa bu, aku baik-baik saja," lirih Sri yang merasa sedih saat ibunya memeluknya.

__ADS_1


"Kemarin-kemarin sudah kami bawa ke beberapa dokter namun hasilnya tetap saja begini Wi," timpal nenek Widuri yang baru saja masuk ke dalam kamar Sri.


"Kalau terus begini bagaimana anakku bisa sembuh bu? Aku akan membawanya ke kota saja bu, akan aku bawa ke tempat yang paling bagus," ujar Dewi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi pengobatan di kota sangat mahal nak, bagaimana dengan biayanya?" tanya Widuri lagi yang sangat mencemaskan keadaan cucunya.


"Soal biaya bisa di cari bu, biar nanti aku yang pikirkan. Aku tidak tega melihat Sri yang seperti ini sekarang," timpal Dewi dengan pemikiran yang kesana kemari.


Meski Bu Dewi tidak memegang banyak uang tapi ia tetap ingin membawa anaknya berobat ke kota karena di sana banyak rumah sakit yang bagus. Untuk biaya biar menjadi urusan nanti.


Akhirnya keesokan harinya Dewi membawa anaknya menuju kota menggunakan mobil saudaranya. Dewi berharap dengan membawa anaknya berobat ke kota akan memberikan kesembuhan pada anaknya.


Beberapa jam kemudian akhirnya Dewi tiba di kota dan tanpa berfikir panjang Dewi segera bergegas mengajak anaknya ke rumah sakit. Di rumah sakit Sri segera di tangani.


Dewi merasa lega setelah anaknya masuk ke dalam ruangan. Di luar pikiran seolah melayang kesana kemari. Dewi merasa tidak tega saat menyaksikan anaknya yang mengalami kesakitan.


Selama beberapa hari Sri di rawat di rumah sakit. Kini keadaan Sri sudah mulai membaik dan perutnya kini tidak lagi terlihat besar. Kondisinya pun sudah semakin membaik. Beberapa hari kemudian setelah kondisinya mulai membaik, akhirnya Sri di pulangkan ke rumah.


"Alhamdulillah sekarang sudah semakin membaik," jawab Sri sambil tersenyum simpul.


"Syukurlah," ujar Sheila.


Melihat keadaan anaknya yang semakin membaik membuat Dewi merasa senang. Kini pikirannya tidak terlalu khawatir lagi.


"Mau makan apa nak? Biar ibu buatkan," tawar Dewi.


"Aku sedang ingin makan sayur sop bu," jawab Sri.


Mendengar permintaan anaknya, Dewi pun segera bergegas membuat sayur sop untuk anaknya. Dewi merasa senang saat ia bisa membuatkan sesuatu untuk anaknya. Dewi merasa bahagia saat ia bisa berkumpul bersama keluarganya.


Beberapa menit kemudian akhirnya Dewi sudah siap dengan masakannya. Dewi membuat sayur sop ayam serta ayam goreng.

__ADS_1


Selesai di dapur, Dewi segera membawakan sayur sop hangat beserta nasinya untuk Sri.


"Ini nak, sayurnya sudah siap,"ujar Dewi.


"Terima kasih bu," timpal Sri seraya duduk di atas kursi.


Sri segera menyantap makanan yang dibuat ibunya. Rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak memakan masakan ibunya. Sebab selama ini dia selalu memakan masakan neneknya.


Beberapa minggu berlalu, kini Sri sudah kembali sehat seperti biasa. Bersamaan dengan itu, Sri ingin kembali ke kampung. Dewi pun tidak bisa menolaknya meski ia masih sangat merindukan anaknya.


Satu minggu kemudian Dewi mendapat kabar jika Sri kembali sakit. Kali ini Dewi segera bergegas pergi menuju kampung.


"Kenapa nak? Apa yang terjadi?" tanya Dewi sesampainya di rumah.


"Dia minum minuman bersoda makanya dia kembali seperti ini," timpal Astuti yang merasa kesal.


Astuti menyayangkan jika Sri minum minuman sembarangan. Kini kondisinya menjadi kritis kembali. Dan beberapa hari kemudian Sri harus kehilangan nyawanya karena penyakit yang di deritanya.


Alangkah terpuruknya hati Dewi saat tahu anaknya telah tiada. Rasanya ada yang kurang dalam kehidupannya. Hari-harinya selalu merasakan kesedihan.


Flashback Off


Sejak saat itu keadaan Dewi semakin menjadi. Kesehatannya selalu terganggu. Bahkan Dewi selalu melamun karena memikirkan anaknya.


"Mengapa kamu pergi secepat ini nak?" gumam batin Dewi. Meski kejadian itu sudah sangat lama tapi Dewi tidak pernah bisa melupakan anaknya, darah dagingnya.


Bahkan setiap hari Dewi selalu merindukan anaknya sebab dia adalah anak pertamanya. Anak pertama yang ia miliki, namun Dewi harus kehilangannya. Itulah yang menjadi penyebabnya.


Sheila juga selalu memergoki ibunya sedang melamun. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin karena selalu mengingat akan anaknya. Namun Sheila tidak bisa berbuat apa-apa.


Sheila hanya bisa mendoakan kesembuhan bagi ibunya. Walau bagaimanapun Sheila tidak pernah ingin kehilangan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2