
Agam segera bergegas masuk ke dalam ruangan UKS. Melihat Sheila yang terbaring lemah membuat Agam merasa kasihan dan tidak tega.
"Gimana keadaan kamu Sheila?" tanya Agam canggung.
"Aku ga apa-apa, kenapa kamu harus kesini segala," ujar Sheila sinis.
"Memangnya kenapa kalau aku ke sini? aku khawatir sama kamu tau," tukas Agam.
"Udah aku bilang aku ga apa-apa, kenapa harus khawatir segala," timpal Sheila. Ia seolah merasa risih saat Agam berada di dekatnya. Kata-katanya kemarin masih menggema di telinga Sheila.Rasanya masih sakit bila mendengar hal itu.
Agam pun mengambil nafas panjang. Ia tahu benar jika Sheila bersikap seperti ini memang karena kesalahannya.
"Maafkan aku Sheila," lirih Agam.
"Sudahlah tidak ada yang perlu dibahas, aku mau istirahat," ujar Sheila.
"Ya sudah jika memang kamu mau istirahat, aku akan keluar," pamit Agam sambil bergegas keluar.
Di dalam ruangan Sheila menangis kembali. Rasanya masih tetap sama seperti kemarin. Ibarat luka menganga luka itu terasa perih kembali.
Sementara diluar Agam merasa sangat bersalah. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Agam masih sangat menyayangi Sheila. Namun karena egonya yang tinggi yang membuat Agam berkata-kata seperti itu.
Perlahan tapi pasti Agam segera bergegas menuju kelas nya lagi. Teman-teman yang ada di kelas menanyakan keadaan Sheila.
"Gam gimana keadaan Sheila sekarang?" tanya Fadil.
"Alhamdulillah Sheila baik-baik saja, dia cuma harus banyak istirahat saja," jawab Agam.
Mendengar hal itu membuat Fadil dan teman-temannya merasa lega. Sementara tak terasa waktu istirahat pun tiba. Agam segera keluar dari kelas dan membeli beberapa makanan dan minuman untuk Sheila.
Namun saat dalam perjalanan tiba-tiba Agam bertemu dengan Vanes.
"Agam!" teriak Vanes dari arah belakang.
__ADS_1
"Iya Vanes, ada apa?" tanya Agam.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke kantin beli beberapa makanan buat Sheila."
"Oh, kamu masih perhatian ya sama Sheila."
"Iya Vanes walau bagaimanapun dia pernah menjadi seseorang yang spesial di hati aku."
Mendengar kata-kata Agam membuat Vanes merasa tidak suka. Vanes merasa cemburu saat Agam masih memperhatikan Sheila. Tanpa berkata apa-apa Vanes pun segera bergegas meninggalkan Agam.
"Kenapa dia tiba-tiba pergi gitu aja?" gumam batin Agam.
Vanes berlari sekencang yang ia bisa. Di berlari menuju toilet dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Vanes benar-benar merasa tidak suka saat Agam masih menyukai Sheila.
Sementara itu setelah membeli beberapa makanan dan minuman, Agam kembali menghampiri Sheila di ruang UKS.
"Kamu mau apa lagi ke sini?" tanya Sheila.
"Aku bawakan beberapa makanan dan minuman kesukaan kamu," jawab Agam.
"Seharusnya ga usah repot-repot. Padahal kami bawa ini untuk Vanes saja bukan aku," sindir Sheila. Dia merasa sudah tahu tentang perasaan Agam dari Andre..
"Tapi kenapa harus buat Vanes. Aku sengaja beli ini semua buat kamu," timpal Agam.
"Tapi aku ga butuh, mungkin Vanes lebih membutuhkan ini," tolak Sheila.
"Aku mohon jangan seperti ini Sheila, aku masih sayang sama kamu. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa," lirih Shheila.
"Apa sayang? Kalau sayang kamu ga akan pernah ninggalin aku Gam," lirih Sheila yang mulai berkaca-kaca. Setelah pembicaraan itu membuat Sheila merasa sedih.
"Iya Sheila tolong maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan yang kedua," lirih Agam.
__ADS_1
"Apa maksud kamu kesempatan yang kedua? Aku takut kamu akan mengulangi kesalahan yang sama Gam,"lirih Sheila.
"Aku janji tidak akan mengkhianati kamu lagi Sheila. Aku janji akan setia karena aku masih sayang sama kamu," ujar Agam.
Agam berlutut di hadapan Sheila agar lebih meyakinkan. Melihat Agam yang seperti itu membuat Sheila merasa tidak tega. Walau bagaimanapun dia masih sangat menyayangi Agam.
"Jangan seperti ini Agam, bangunlah," timpal Sheila yang terbangun dari tidurnya. Sheila kini duduk dan bersandar di atas ranjang.
"Jadi bagaimana Sheila apa keputusan kamu?" tanya Agam.
"Entahlah Gam, aku akan memikirkan nya dulu," jawab Sheila.
"Ya sudah kamu makan dulu ini ya, kamu pasti belum makan," ujar Agam sambil memberikan sebungkus nasi goreng yang ia beli di kantin tadi.
Akhirnya Sheila memakan makanan yang Agam bawa karena ia merasa begitu lapar. Dengan cekatan Agam segera menyuapi Sheila sedikit demi sedikit.
"Aku bisa sendiri," ucap Sheila sambil mengambil sendok yang di pegang Agam.
"Ga apa-apa, biar aku aja yang suapin kamu," timpal Agam yang masih menyendokan nasi ke dalam mulut Sheila.
Sheila yang merasa bingung pun tidak berkata apa-apa lagi. Sheila hanya bisa diam menerima suapan-suapan dari Agam. Sebab walau bagaimana pun mereka masih memiliki perasaan yang sama.
Sementara diluar Vanes sengaja melihat Agam dan Sheila di dalam ruangan.
"Tuh kan bener dugaan aku, kamu masih menyukai Sheila Gam. Aku kira dengan kamu memutuskan Sheila, kamu akan melupakan Sheila. Tapi kenyataannya tidak," gumam batin Vanes.
Vanes memang sangat menyukai Agam saat pertama kali ia bertemu. Bahkan Andre yang sangat mencintai Vanes pun tidak mendapatkan perasaan yang sama dari Vanes.
Andre merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu Andre memutuskan hubungan mereka secara sepihak karena Andre sudah merasa jika Vanes tidak mencintainya.
Untuk beberapa saat Vanes masih menyaksikan kebersamaan mereka berdua. Merasa kesal karena melihat mereka berdua akhirnya Vanes bergegas pergi.
Sementara di rumah, Dewi merasakan penyakitnya kembali. Setelah mencuci selimut yang besar, tiba-tiba Dewi merasa pusing, badannya merasa lemas. Beruntung suaminya ada di rumah.
__ADS_1