
"Begini Sheila aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi pacar yang baik buat kamu," lirih Agam.
"Apa? Maksud kamu bilang kaya gitu apa? Kamu ingin kita putus?" tanya Sheila yang mencoba memastikan.
"Iya Sheila aku ingin kita putus," ujar Agam sekali lagi.
"Tapi apa salah aku sama kamu Gam? Mana janji-janji yang pernah kamu ucapkan. Katanya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, tapi buktinya mana? Kamu ternyata tega gini sama aku Gam. Pasti semua ini ada hubungannya sama Vanes, jadi emang bener ya kamu itu suka sama Vanes," lirih Sheila yang mulai mengeluarkan bulir bening di pipinya.
Tidak ada kata-kata dari mulut Agam. Dia merasa bingung harus berkata apa. Sebab dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah hatinya menyukai Vanes atau tidak. Untuk beberapa saat Agam hanya terdiam.
Merasa muak karena Agam terus saja terdiam. Sheila pun bergegas pergi dengan rasa sakit hati yang teramat dalam.
"Ok fine, jika itu memang yang kamu inginkan aku bisa apa," lirih Sheila sambil bergegas pergi meninggalkan Agam yang masih diam mematung.
Sepanjang perjalanan air mata Sheila tidak berhenti-berhentinya menangis. Sekuat apapun Sheila menahannya air mata itu tetap tumpah juga. Sheila tidak pernah menyangka jika hubungannya dengan Agam akan berakhir seperti ini.
Setelah turun dari angkot Sheila harus berjalan beberapa meter menuju rumahnya. Di saat yang bersamaan, hujan tiba-tiba turun seolah pertanda jika bumi ikut berduka.
Dibawah guyuran hujan Sheila tetap berjalan dan menangis.
"Aku masih ga nyangka Gam ternyata kamu tega mengkhianati aku. Mana janji-janji yang pernah kamu ucapkan dulu," gumam batin Sheila sambil terisak.
Derasnya air hujan pun seakan tak terasa bagi Sheila. Sesampainya di rumah Sheila terlihat begitu basah kuyup.
"Astaghfirulloh nak kenapa kamu hujan-hujanan," ujar Dewi saat melihat anaknya yang kehujanan saat pulang sekolah.
"Aku lupa bawa payung bu," jawab Sheila dengan nada sendu. Namun beruntung karena kehujanan Sheila tak terlihat sedang menangis.
"Ya sudah cepat mandi sana, nanti masuk angin loh!" ujar Dewi lagi.
"Iya bu," jawab Sheila yang merasa lega karena ibunya tidak menanyakan apa-apa.
Di dalam kamar mandi Sheila kembali menangis saat mengingat pembicaraannya dengan Agam tadi. Ternyata rasa sakit setelah putus cinta itu begitu menyakitkan. Hampir beberapa menit Sheila berada di dalam kamar mandi.
Puas menangis Sheila segera keluar dari kamar mandi. Dia bergegas memakai pakaian dan segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Entah mengapa rasanya tubuh Sheila begitu lemah.
__ADS_1
Kini dia tidak mau melakukan apa-apa. Sekarang Sheila hanya ingin berbaring saja.
Dewi yang merasa ada yang aneh. Sepulang sekolah tadi Sheila masih belum keluar dari kamarnya.
Padahal waktu sudah menunjukan hampir pukul 6 sore.
Tok.. tok..
"Nak, ini hampir mau magrib. Kamu sedang apa di dalam?" tanya Dewi sambil mengetuk pintu kamar Sheila.
Sheila yang dari tadi berbaring seketika terperanjat.
"Iya bu, maaf tadi setelah mandi aku ketiduran," jawab Sheila yang terpaksa harus membohongi ibunya.
"Apa kamu sedang tidak enak badan nak?" tanya Dewi.
"Engga bu, tapi badanku rasa nya begitu lemas," lirih Sheila dengan suara yang parau karena sejak tadi menangis.
Dewi merasa jika anaknya mungkin masuk angin karena tadi kehujanan sepulang sekolah.
Keesokan harinya..
"Sepertinya engga bu, aku merasa tidak enak badan," jawab Sheila.
"Ya sudah kamu istirahat saja biar ibu buatkan bubur," tukas Dewi sambil bergegas menuju dapur.
Sebenarnya badan Sheila baik-baik saja. Hanya saja rasa sakit yang ia rasakan masih sangat terasa sampai saat hati ini. Untuk pergi sekolah pun rasanya tidak sanggup.
Sementara saat di sekolah, Agam sudah tiba di sekolah. Namun entah mengapa rasanya sangat berbeda. Hari ini rasanya ada yang berbeda. Di tambah Sheila yang tidak masuk sekolah hari ini semakin membuat Agam begitu merasa sepi.
"Sheila kemana ya? Kenapa dia tidak masuk sekolah hari ini? Apa dia baik-baik saja," gumam batin Agam.
Meski kemarin Agam sudah memutuskan Sheila tapi Agam merasa sakit hati. Padahal Agam lah yang memutuskan Sheila. Tapi Agam merasa begitu bersalah. Meski ada Vanes yang selalu berada di dekatnya akhir-akhir ini.
Beberapa hari pun berlalu, kini Sheila sudah mulai masuk sekolah seperti biasa.
__ADS_1
"Hai Sheila, apa kamu sudah baikan?" tanya Mawar saat Sheila baru saja datang.
"Alhamdulillah aku udah sehat," jawab Sheila sambil tersenyum simpul.
Meski sudah beberapa hari berlalu tapi entah mengapa rasanya masih sangat sakit. Agam yang baru saja datang merasa senang karena akhirnya Sheila sudah masuk sekolah kembali.
Berbeda dengan Agam, Sheila kini terlihat lebih cuek. Bahkan Sheila tidak ingin melihat wajah Agam. Rasanya begitu sakit hati saat dia melihat wajah Agam.
"Kamu kenapa Sheila? Rasanya ada yang aneh, kamu terlihat pendiam sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi?" selidik Mawar.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya merasa masih sedikit pusing," jawab Sheila yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Teman sekelas Sheila belum mengetahui jika hubungan Sheila dan Agam sudah berakhir. Mereka menganggap jika mereka masih memiliki hubungan yang spesial.
"Kalau kamu pusing kenapa memaksakan masuk sekolah?"
"Habisnya aku bosan berada di rumah, terus takut ketinggalan pelajaran juga," ucap Sheila.
Saat pelajaran akan segera dimulai tiba-tiba saja Sheila merasa pusing dan tidak sadarkan diri. Spontan guru yang baru saja masuk dan seluruh teman sekelas Sheila merasa khawatir.
Spontan Agam pun segera mendekati Sheila dan segera membopong Sheila pergi menuju UKS (Unit Kesehatan Sekolah).
"Sheila, Sheila apa kamu baik-baik saja?" tanya Agam yang kini terlihat begitu khawatir saat melihat Sheila tidak sadarkan diri.
"Mohon tunggu di luar ya, kami akan memeriksanya," ujar salah seorang petugas PMR.
Selama beberapa menit Sheila berada di dalam ruangan UKS.
Agam yang menunggu Sheila di luar merasa begitu khawatir. Rasanya tidak tega saat melihat Sheila terbaring. Melihat Sheila yang seperti itu membuat Agam merasa begitu bersalah.
"Apa Sheila seperti ini gara-gara aku ya," gumam batin Agam. Di termenung di kursi memikirkan keadaan Sheila.
Beberapa saat kemudian petugas PMR pun keluar dari ruangan. Agam yang melihat itu pun langsung terperanjat dan langusng berdiri.
"Bagaimana keadaan Sheila apa dia baik-baik saja?" tanya Agam.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat saja," jawab petugas PMR.
Mendengar hal itu membuat Agam sedikit lega. Spontan Agam segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Sheila.