
Seluruh siswa dan Pak Indra segera mengerumuni Agam. Sheila spontan berlari saat kekasihnya terjatuh.
"Agam.." teriak Sheila.
Dia berlari sekencang yang ia bisa. Sheila merasa sedih saat kekasihnya tidak sadarkan diri. Pak Indra dan teman-teman Agam pun membawa nya ke pinggir lapangan.
Agam diberikan minyak kayu putih dan diberikan air. Beruntung tak berapa lama kemudian akhirnya Agam tersadar juga.
"Agam kamu kenapa? Kok bisa sampai kaya gini, " lirih Sheila yang mulai berkaca-kaca.
Selama ini, baru sekarang Sheila melihat Agam seperti itu.
"Aku tidak apa-apa, kepalaku cuma sedikit pusing dan dadaku sedikit sakit," jawab Agam sambil memegangi dadanya.
"Padahal tadi larinya ga usah cepet-cepet," timpal Sheila lagi.
"Udah aku ga pa-pa."
"Bagaimana sekarang keadaanmu Agam? Apa kita perlu ke dokter?" tanya Pak Indra.
"Tidak usah pak, saya tidak apa-apa," jawab Agam meyakinkan.
Setelah Agam terlihat membaik, kegiatan di lanjutkan kembali. Kini giliran Sheila yang mulai berlari.
"Hati-hati ya, ga usah cepet-cepet larinya," ujar Agam sesaat sebelum Sheila bergegas ke lapangan.
"Iya, tunggu sebentar ya," pamit Sheila.
Agam pun hanya menganggukan kepalanya dan menunggu Sheila di pinggir lapang. Sementara Sheila merasa masih takut dan Khawatir akan keadaan Agam. Sheila benar-benar takut kehilangan Agam.
Sheila mulai berlari namun dengan pikiran yang kesana kemari. Baru saja berlari setengah lapangan Sheila tiba-tiba tersandung dan lututnya berdarah.
"Aw," ujar Sheila yang meringis kesakitan.
"Sheila! kamu tidak apa-apa?" teriak Agam dari pinggir lapangan. Melihat Sheila yang terjatuh Agam berlari menghampiri Sheila. Agam melihat lutut Sheila yang di penuhi dengan darah.
Agam segera membopong Sheila ke pinggir lapang. Dengan segera Agam mengambil kotak p3k yang sudah di sediakan dipinggir lapang. Ia segera membersihkan luka di lutut Sheila dan segera menutup nya dengan plaster.
"Kamu tidak apa-apa Sheila?" tanya Pak Indra.
"Tidak pak saya hanya tersandung saja," jawab Sheila.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di sini," ujar Pak Indra sesaat sebelum pergi.
"Baik pak," jawab Sheila sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Hati-hati anak-anak, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali," ujar Pak Indra yang mencoba memperingati muridnya.
"Baik pak," jawab para murid serempak.
Tak terasa setengah jam kemudian akhirnya pelajaran olah raga ini selesai. Setelah pelajaran ini selesai seluruh siswa di pulangkan.
"Baik anak-anak karena semuanya sudah selesai, kalian sudah boleh pulang," ujar Pak Indra.
"Baik pak," jawab para siswa serempak.
Semua siswa berpamitan dan menyalami pak Indra sesaat sebelum pulang.
"Agam, Sheila apa bapak perlu mengantar kalian pulang?" tanya Pak Indra sebelum bergegas pulang.
"Tidak usah pak, kami baik-baik saja," jawab Agam yang meyakinkan gurunya.
"Ya sudah kalau begitu bapak pulang dulu ya, kalian cepat pulang," tukas Pak Indra dan segera pulang meninggalkan lapangan.
"Baik pak," jawab Agam dan Sheila serempak.
Setelah semuanya pulang, Agam dan Sheila masih duduk di pinggir lapangan.
"Ayo ah kita pulang, di sini sudah tidak ada siapa-siapa," ajak Sheila.
"Apa kamu bisa jalan?" tanya Agam yang mengkhawatirkan keadaan Sheila karena tadi ia terjatuh.
"Kamu sendiri gimana apa masih pusing?" tanya Sheila balik.
"Aku juga udah ga apa-apa. Yuk kita pulang!" ajak Agam sambil menarik tangan Sheila yang sedang duduk.
"Makasih," ujar Sheila.
Mereka pun akhirnya bergegas meninggalkan lapangan. Sebelum naik angkot mereka harus berjalan terlebih dahulu beberapa meter. Dengan kaki yang sedikit perih Sheila mulai berjalan.
Di hadapan Agam dia tidak mau terlihat kesakitan. Padahal Sheila jatuh cukup keras saat di lapangan tadi.
"Sakit gak jalannya?" tanya Agam memastikan.
"Engga kok, biasa aja. Cuma sedikit perih," jawab Sheila.
"Kalau aku gendong gimana?"
"Ah ga usah, malu di liat orang."
"Kenapa harus malu segala sih."
__ADS_1
"Malu aja, aku beneran ga apa-apa kok.
Tak terasa karena terus saja mengobrol sepanjang perjalanan. Mereka akhirnya tiba di jalan raya. Agam segera naik angkot menuju ke atas, sedangkan Sheila berlawanan arah dan harus menyebrang terlebih dahulu.
"Aku antar sampai ke sana ya?" tawar Agam.
"Ga usah, aku bisa nyebrang sendiri," tolak Sheila.
Tanpa meminta persetujuan Sheila, Agam tetap bersikukuh untuk menyeberangkan Sheila. Meski bukan anak kecil lagi tapi Agam begitu mengkhawatirkan Sheila. Agam tidak mau sampai terjadi apa-apa pada kekasihnya.
Akhirnya mau tidak mau, Sheila pun di sebrangkan oleh Agam. Kondisi lalu lintas di jalan itu memang sangat ramai. Hanya beberapa langkah akhirnya mereka sampai di seberang.
Tak berapa lama menunggu, akhirnya angkot yang Sheila tunggu datang juga. Angkot berwarna biru putih. Sheila pun segera menaiki angkot tersebut.
"Ya udah aku pulang dulu ya!" pamit Sheila sambil bergegas masuk ke dalam angkot
"Ya Sheila hati-hati ya, kalau udah sampai rumah kabarin aku!" pekik Agam.
"Oke!" jawab Sheila sambil menaikan ibu jarinya.
Merasa tenang karena Sheila sudah naik angkot, Agam menyebrang kembali ke tempat asalnya. Pasalnya angkot yang ia tumpangi berada di seberang Sheila. Dengan buru-buru Agam segera menyeberangi jalan.
Tak butuh waktu lama akhirnya angkot yang Agam tunggu datang juga. Agam segera naik angkot karena hari sudah terlihat mendung.
Sementara di tempat lain Sheila baru saja tiba di rumahnya. Sheila segera bergegas mengganti pakaian dan segera makan siang.
"Kenapa dengan lututmu nak?" tanya Bu Dewi yang melihat lutut anaknya memakai plaster. Padahal saat pagi-pagi masih tidak apa-apa.
"Ga pa-pa bu, tadi di lapang aku cuma tersandung aja," jawab Sheila.
"Ya sudah cepat makan sana!" titah Bu Dewi.
"Baik bu," jawab Sheila yang segera bergegas menuju meja makan.
"Apa ibu sudah makan?" tanya Sheila sebelum ia makan.
"Sudah nak, makan yang banyak ya!" timpal Bu Dewi sambil bergegas menuju ruang tamu.
Hal yang membuat Sheila senang yaitu saat ia bisa memakan masakan ibunya. Sheila bisa makan sampai 2 kali nambah jika ia memakan makanan ibunya. Ikan tongkol berbumbu adalah makanan kesukaan Sheila.
Selesai makan Sheila pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka ponselnya dan segera mengabari Agam jika dia sudah tiba dirumah.
'Aku sudah sampai rumah, kamu lagi apa?'
'Aku baru aja sampai rumah, jangan lupa makan ya!'
__ADS_1
'Aku baru beres makan, kamu juga jangan lupa makan ya!
Meski hanya melalui pesan singkat tapi itu cukup memberikan mereka kabar satu sama lain. Sebuah perhatian kecil membuat hidup mereka menjadi lebih berwarna.