
Tak terasa hampir seharian pelajaran pun berakhir. Sheila tidak langsung pulang ke rumah karena ia masih ingin berada di sekolah bersama Agam. Setelah kemarin-kemarin tidak bertemu dengan Agam membuat dirinya merasa rindu.
Sementara beberapa siswa ada yang pulang lebih dulu. Ada juga diantara mereka yang mengikuti ekstrakulikuler.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Agam pada Sheila yang masih duduk di kursinya.
"Aku masih mau disini sama kamu," jawab Sheila.
"Masih kangen ya sama aku," goda Agam.
"Ish kamu apaan sih," tukas Sheila yang merasa malu karena berkata seperti itu. Meski dia memang masih merindukan Agam, tapi Sheila tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
"Hai bro, pacaran aja!" timpal seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Agam dan Sheila.
"Hai elo juga sama aja!" ujar Agam yang melihat temannya Andre sedang bersama pacarnya.
"Hehe, kenalin nih pacar gue namanya Vanes."
Andre mengenalkan pacarnya kepada Agam dan Sheila. Mereka menyalami Vanes secara bergantian.
"Hai kenalin Vanesh."
"Aku Sheila, pacarnya Agam."
"Aku tahu, kalian memang pasangan yang serasi dan so sweet."
"Ah kamu bisa aja."
Setelah perkenalan itu akhirnya Sheila memiliki teman baru. Meski berada satu sekolah tapi mereka tidak saling mengenal. Mereka hanya berbeda kelas. Semenjak perkenalan itu mereka juga menjadi semakin dekat.
Hal itu di karenakan Agam dan Andre adalah teman dekat. Sehingga Sheila dan Vanes juga menjadi dekat. Selama beberapa hari ini hubungan mereka pun semakin dekat.
Begitu juga dengan Agam dan Vanes. Dia selalu mendekati Agam saat ia sedang bertengkar dengan kekasihnya. Memang wajar jika sesekali bertanya pada Ayam karena Andre adalah teman dekatnya. Tapi entah mengapa rasanya ada yang ganjil. Sheila merasa tidak suka dengan kedekatan Agam dan Vanes.
Sheila merasa takut jika Agam akan menyukai Vanes.
"Kamu kenapa perasaan cemberut aja dari kemarin?" tanya Agam.
Sejak kemarin Agam memperhatikan Sheila seperti ada yang berbeda. Entah mengapa rasanya ia menjadi murung akhir-akhir ini.
"Ga apa-apa kok, aku cuma ga suka aja kamu terlalu deket sama Vanes," lirih Sheila.
__ADS_1
"Loh emangnya kenapa? Kasihan dia lagi bertengkar sama Andre, dia kan teman kita juga," timpal Agam.
"Atau kamu cemburu ya," goda Agam.
"Iya aku memang cemburu, makanya aku ga suka liat kamu deket-deket sama dia."
Sheila semakin cemberut dan melipat kedua tangannya.
"Iya maaf deh, aku ga bakalan deket-deket sama dia lagi."
"Tapi kenapa ya aku merasa kalau dia itu kayanya suka sama kamu," ujar Sheila.
"Ah itu tidak mungkin, dia kan pacarnya Andre," tukas Agam.
"Tapi aku takut kehilangan kamu," lirih Sheila.
"Ga akan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," timpal Agam.
"Beneran ya."
"Iya aku janji. Aku sayang banget sama kamu."
Beberapa hari berlalu, kini Sheila sudah melupakan kejadian-kejadian kemarin. Kejadian yang membuat pikiran nya menjadi tidak tenang.
Keesokan harinya Sheila sudah tiba di kelas. Namun saat Sheila datang, dia belum melihat keberadaan Agam.
"Hmm, ternyata Agam belum datang," gumam batin Sheila.
Setelah menaruh tasnya, Sheila tiba-tiba ingin buang air kecil ke belakang. Toilet sekolah memang cukup jauh dari kelas Sheila. Jika ingin buang air kecil Sheila harus berjalan dulu dan melewati beberapa kelas karena toilet memang berada di ruangan paling ujung.
Beberapa menit kemudian setelah Sheila selesai buang air kecil, dia segera bergegas ke dalam kelas. Rasanya sangat haus sepulang dari toilet. Akhirnya Sheila pun mengambil air minum di dalam tasnya.
Namun saat Sheila membuka tasnya, dia tersenyum karena ada sesuatu yang ada di dalam tasnya. Saat membuka tas, Sheila melihat ada sebuah coklat.
"Coklat ini pasti dari kamu Gam. Kamu memang bisa bikin aku tersenyum," gumam batin Sheila.
Setelah melihat coklat itu, Sheila bergegas menghampiri Agam di kursinya yang sedang duduk.
"Gam, makasih ya buat coklatnya," ujar Sheila yang langsung duduk di hadapan Agam.
"Iya sama-sama," jawab Agam sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
Tak berapa lama suara bel pun berbunyi, itu tandanya pelajaran akan segera di mulai. Sheila yang mendengar itu segera bergegas menuju kursinya. Beberapa jam kemudian akhirnya pelajaran pun selesai.
Setelah pelajaran selesai Sheila segera pulang ke rumahnya. Seperti biasa Agam mengantarkan Sheila sampai ke tempat naik angkot. Namun dalam perjalanan Agam seperti tidak biasanya.
Sesampainya di tempat naik angkot Agam tidak melakukan kebiasaannya. Tidak banyak bertanya Sheila pun segera bergegas naik angkot.
"Ada apa dengan Agam ya? Kenapa dia tidak seperti biasanya," gumam batin Sheila.
Sementara setelah Sheila naik angkot, Agam justru segera bergegas menuju sekolah kembali. Ternyata Agam ke sekolah untuk menemui Vanes. Di sekolah Vanes sudah menunggu kedatangan Agam.
"Agam!" panggil Vanes.
"Ya kenapa Vanes? Sepertinya kamu lagi sedih." tanya Agam yang memperhatikan mata Vanes seperti sudah menangis.
"Aku putus sama Andre," lirih Vanes.
"Apa? Tapi kenapa?" tanya Agam lagi yang menautkan kedua halisnya.
"Aku ga tau, dia tiba-tiba mutusin aku tanpa sebab," lirih Vanes yang kini menangis di pelukan Agam. Agam yang merasa kasihan melihat Vanes, merengkuhnya dan berusaha menenangkan Vanes.
Untuk beberapa saat Vanes menangis di pelukan Agam. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Agam, Vanes memang sudah menyukai Agam. Untuk itu dia sengaja menumpahkan kesedihannya di pelukan Agam.
Sementara Agam merasa bingung antara kasihan dan tidak suka melihat wanita menangis.
"Sudahlah jangan menangis, biar nanti aku yang akan bicara dengan Andre," ujar Agam.
Tanpa banyak berkata-kata Vanes hanya mengangguk. Setelah beberapa lama berada di pelukan Agam, dia berusaha melepaskan Vanes.
"Maafkan aku Agam, aku jadi menangis di pelukanmu," ujar Vanes yang merasa tidak enak.
"Iya tidak apa-apa," tukas Agam.
Sementara itu di rumah Sheila merasa tidak tenang. Sejak tadi pikirannya selalu tertuju pada Agam. Sheila selalu merasa khawatir sejak kemarin.
"Agam sedang apa ya? Kenapa dia tidak menelpon?" gumam batin Sheila yang sejak tadi menunggu kabar dari Agam.
Akhirnya Sheila mencoba menghubungi Agam. Namun Agam tidak mengangkatnya. Entah sudah berapa kali Sheila mencoba menghubungi Agam namun hasilnya nihil. Sheila pun akhirnya mencoba mengirimkan pesan singkat.
'Gam, kamu lagi apa? Lagi dimana?'
Tapi tidak ada balasan, entah sudah berapa lama Sheila menunggu balasan dari Agam. Namun pesan singkat pun tidak ia balas.
__ADS_1