Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
21. Benar-Benar Berakhir


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu semenjak kelas Agam dan Sheila terpisah kini jarak di antara mereka pun semakin menjauh. Sheila benar-benar merasakan jarak di antara mereka.


Bahkan akhir-akhir ini Agam sudah tidak mengantar pulang Sheila lagi. Sheila lebih sering jalan bersama teman-temannya. Sedangkan Agam kini sibuk dengan dirinya sendiri.


Hari ini Sheila ada di kelas tambahan. Sheila baru saja keluar dari kelasnya. Namun saat Sheila baru keluar dari gerbang pertama Sheila melihat Agam yang masih belum pulang.


Sheila yang penasaran pun segera menghampiri Agam yang sedang duduk di tepi lapang.


"Kamu masih belum pulang? Lagi ngapain disini?" tanya Sheila sambil duduk di sebelah Agam.


"Mmh, engga. Aku ga lagi ngapa-ngapian. Lagi duduk aja. Kamu sendiri kenapa baru pulang?" tanya Agam balik.


"Aku barusan ada kelas tambahan matematika," jawab Sheila.


"Oh.. jawab Agam datar."


"Kamu belum mau pulang?" tanya Sheila sambil menautkan kedua halisnya.


"Aku sebentar lagi juga mau pulang," jawab Agam.


"Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan ya," pamit Sheila.


"Iya, hati-hati di jalan ya," ujar Agam sesaat sebelum Sheila pergi.


"Iya," jawab Sheila lemas.


Sambil melangkahkan kakinya, dalam hati Sheila dia memikirkan tentang Agam. Tidak seperti biasanya Agam terlihat begitu cuek dan tidak mengantar Sheila pulang.


"Kenapa dia bersikap seperti itu? Kenapa dia tidak mengantarku pulang ya?" gumam batin Sheila.


Sementara di tempat yang berbeda Vanes tiba-tiba datang menghampiri Agam.


"Hai Gam, kamu lagi apa?" tanya Vanes.


"Aku lagi duduk aja sambil liat mereka," tunjuk Agam pada beberapa siswa yang ada di lapangan yang sedang main basket.


Tiba-tiba saja Vanes duduk di samping Agam. Dia juga menawarkan makanan dan juga minuman. Merasa lapar akhirnya Agam pun memakan makanan yang di tawarkan Vanes.

__ADS_1


Semenjak kelas mereka bersebelahan, Vanes lebih sering mendekati Agam. Agam yang awalnya biasa saja, kini mulai senang saat berada di samping Vanes.


Beberapa hari pun berlalu. Sheila mulai mendengar kabar jika Agam dan Vanes menjadi lebih dekat.


"Sheila!" panggil seorang teman dari arah belakang.


"Hai Eca!" sapa Sheila saat menoleh ke arahnya.


"Oiya Sheila, apa kamu sudah putus sama Agam?" tanya Eca secara langsung.


"Apa putus? Kami belum putus, memangnya ada apa?" tanya Sheila yang menautkan kedua halisnya.


"Aku kira kalian sudah putus, soalnya Agam deket banget sama Vanes," lirih Eca yang merupakan teman sekelas Agam.


"Apa? Agam deket sama Vanes?" tanya Sheila yang hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Iya, malahan mereka seperti orang yang pacaran. Makanya aku tanya kamu secara langsung," timpal Eca.


Mendengar kabar ini membuat Sheila menjadi tidak tenang. Rasanya ingin menanyakan secara langsung perihal ini kepada Agam. Sheila ingin segera bergegas menuju kelasnya untuk menyimpan tasnya.


"Makasih ya buat infonya, aku duluan ya!" pamit Sheila.


Namun sayang sesampainya di kelas, Agam justru belum datang.


"Hai Ca, Agam belum datang ya?" tanya Sheila yang sedang berada di dalam kelas.


Sheila pun memastikan tas Agam yang belum ada di mejanya. Merasa tidak ada orang yang di carinya, akhirnya Sheila bergegas ke luar kelas. Namun saat di luar kelas tiba-tiba saja Sheila berpapasan denga Vanes.


"Hai Sheil,"sapa Vanes saat melihat Sheila keluar dari kelas Agam.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sheila. Sheila hanya tersenyum sinis. Saat mendengar kabar dari Eva tadi pagi membuat Sheila menjadi ilfil saat melihat Vanes.


"Kenapa dengan Sheila ya? Apa dia marah sama aku?" gumam batin Vanes.


Sedangkan Sheila segera bergegas menuju kelasnya kembali saat ia tahu Agam belum datang. Di dalam kelas Sheila terus memikirkan hubungan Agam dan Vanes.


"Apa dia berubah gara-gara dekat dengan Vanes ya," gumam batin Sheila.

__ADS_1


"Sebaiknya nanti saja pulang sekolah aku temui Agam lagi," gumam batin Sheila lagi.


Tak terasa waktu belajar pun akan segera di mulai. Saat pelajaran sedang berlangsung membuat Sheila tidak bisa konsentrasi. Pikiran nya teringat pada kata-kata Eca tadi pagi.


Hingga beberapa jam kemudian berlalu. Beberapa jam saat di dalam kelas membuat Sheila tidak seperti sedang belajar lantaran pikiran nya melayang kesana kemari. Mendengar suara bel membuat Sheila merasa senang karena akhirnya pelajaran hari ini sudah berakhir.


"Agam!" panggil Sheila saat keluar dari kelasnya yang melihat Agam baru saja turun dari kelasnya.


"Iya ada apa?" tanya Agam polos.


"Apa Eca tidak memberi tahu kamu kalau aku tadi nyari kamu," ujar Sheila yang merasa mulai kesal.


"Engga, dia ga bilang apa-apa," jawab Agam lagi.


"Memangnya kenapa sih?" tanya Agam yang kini duduk di kursi panjang di lorong kelas.


"Aku ingin tanya sesuatu, boleh?" tanya Sheila balik.


"Iya tanya aja," jawab Agam.


Sebelum mengatakan yang sebenarnya, Sheila mengambil nafas panjang terlebih dahulu. Sheila bersikap setenang mungkin.


"Begini Gam, aku dengar dari beberapa teman katanya kamu lagi deket sama Vanes ya?" tanya Sheila langsung.


"Apa? kata siapa?" tanya Agam balik yang merasa terkejut dengan pertanyaan Sheila.


"Banyak yang bilang kaya gitu ke aku Gam. Mereka kira kita udah putus karena kamu sekarang selalu bareng Vanes," lirih Sheila yang mulai terbawa perasaan.


"Tapi itu ga bener Sheila," timpal Agam yang memperhatikan Vanes dari kejauhan.


"Terus akhir-akhir ini juga kamu berubah Gam. Kamu ga seperti biasanya yang selalu nganterin aku pulang. Bahkan balas chat aja perasaan lama banget. Sebenarnya kamu kenapa Gam? Apa ada masalah? Apa emang bener yang banyak di bicarain teman-teman selama ini hah?" tanya Sheila sekali lagi.


"Gimana cara aku jelasinnya ya. Sebenernya aku suka sama Vanes Sheila," jawab Agam dengan penuh penyesalan.


"Apa? Jadi kabar yang selama ini aku dengar emang benar ya? Kamu mulai deket sama Vanes," lirih Sheila yang mulai berkaca-kaca.


"Iya Sheila. Aku juga ga tau kalau akhirnya akan seperti ini. Mungkin aku ke makan sama omongan sendiri," timpal Agam.

__ADS_1


"Oke kalau memang itu perasaan kamu Gam. Aku akan mundur saja, percuma saja jika selama ini aku selalu mengharapkan kamu. Aku harap kamu akan bahagia dengan Vanes. Aku rasa hubungan kita harus benar-benar berakhir sekarang. Selamat ya!" lirih Sheila yang kini mulai menangis di hadapan Agam sambil menyeka air matanya.


"Maafkan aku Sheila," ujar Agam.


__ADS_2