Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
9. 2 Hari Serasa 2 tahun


__ADS_3

Hari ini rasanya Sheila kurang bersemangat. Rasanya ingin membolos sekolah saja untuk 2 hari ini. Namun Sheila tidak mungkin melakukan hal itu, karena jika orang tuanya tahu Sheila berbuat demikian pasti mereka akan marah besar.


Hal yang membuat Sheila tidak bersemangat yaitu karena hari ini Agam tidak masuk sekolah. Untuk 2 hari ke depan Agam meminta izin tidak masuk sekolah karena akan mengikuti turnamen badminton.


"Coba aja kamu ada di sini Gam, pasti aku ga akan ngerasa kesepian kaya gini," gumam batin Sheila yang sedang duduk di bangkunya.


Biasanya Sheila selalu ingin berada di luar kelas melihat pemandangan di bawah. Tapi kali ini rasanya sangat malas. Ada sesuatu yang beda, ada sesuatu yang kurang. Sheila merasa begitu kesepian.


Di dalam kelas Sheila terlihat begitu murung. Teman-teman terdekatnya pun mencoba menghibur Sheila namun hasilnya nihil. Sheila masih tetap saja tidak bersemangat. Sheila memang terlihat sangat berbeda saat tidak ada Agam.


Biasanya Sheila selalu ceria dan penuh semangat, tapi kali ini Sheila benar-benar berubah menjadi pemurung. Sheila benar-benar berubah menjadi pendiam hari ini.


"Hai Sheila kenapa kok murung aja dari tadi?" tanya Anisa. Ia segera duduk menghampiri Sheila yang sedang termenung di bangkunya.


"Ah tidak apa-apa," jawab Sheila lirih.


"Pasti karena Agam tidak masuk sekolah hari ini ya, makanya kamu jadi seperti ini," timpal Anisa menebak.


"Ah engga juga, itu pasti cuma perasaan kamu aja," tukas Sheila yang tidak mau mengakui perasaannya.


Sebenarnya malu bagi Sheila untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya. Ia tidak biasa menceritakan tentang apa yang di rasakannya kepada siapapun juga. Sheila terlalu tertutup. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui bagaimana perasaannya.


Tak terasa beberapa jam berlalu. Kini pelajaran pun telah berakhir. Seperti biasa Sheila harus berjalan kaki terlebih dahulu sebelum ia naik angkot. Namun lagi-lagi Sheila teringat akan Agam.


Biasanya hampir setiap hari Agam selalu mengantar Sheila sampai naik angkot. Tapi hari ini Sheila berjalan seorang diri, karena kebetulan Hana dan Winda ada pelajaran tambahan.


Saat akan menaiki angkot Sheila teringat kembali akan kebiasaan Agam yang selalu mencubit pipinya sebelum mereka berpisah.

__ADS_1


"Baru sehari kita ga ketemu tapi aku ingat terus sama kamu Gam," gumam batin Sheila.


Saat berada dalam angkot Sheila mengeluarkan ponselnya dan memasang handsfree yang selalu ia bawa agar ia dapat mendengarkan musik dimana pun ia berada. Benar saja, dengan mendengarkan musik pikiran Sheila menjadi lebih tenang saat ini.


Sementara di tempat lain Agam sudah bersiap untuk segera pergi ke luar kota. Agam bersama 2 orang temannya Anton dan Toni serta pelatihnya Pak Rizal sudah bersiap akan segera pergi.


Turnamen ini di ikuti oleh beberapa kota. Agam beruntung karena ia bisa mewakili timnya. Meski terasa begitu berat karena karena harus meninggalkan Sheila tapi Agam harus melalukan ini. Karena kesempatan itu tidak akan pernah datang 2 kali.


Dalam hidup ini ada 3 hal yang tidak akan pernah kembali. Yang pertama waktu setelah berlalu. Yang kedua Kata-kata yang telah di ucapkan dan kesempatan setelah berlalu.


Mengingat akan hal itu membuat Agam tidak ingin berfikir 2 kali. Agam harus bisa memanfaatkan peluang ini, karena hal ini merupakan keinginannya sejak lama. Beberapa jam kemudian akhirnya mereka tiba di tempat pertandingan.


"Wah tempatnya ramai sekali, aku pesimis bisa menang," ujar Agam yang merasa berkecil hati dan mulai tidak percaya diri.


"Jangan menyerah sebelum bertanding Gam. Yang terpenting kamu sudah berusaha dan berdoa," timpal Pak Rizal yang selalu memberikan semangat untuk Agam.


Pertandingan pun akhirnya di mulai. Sebelum Agam, Anton dan Toni lah yang bermain terlebih dulu. Hampir satu jam mereka bermain da ternyata Anton dan Toni kalah dari permainan ini.


Sekarang giliran Agam yang mulai bermain. Awalnya Agam merasa kurang percaya diri. Agam pun kalah di babak yang pertama. Ia berusaha bermain lebih keras lagi.


"Ayo Agam kamu pasti bisa!" gumam batin Agam yang menyemangati dirinya sendiri.


Di babak kali ini dia berusaha memberikan permainan yang terbaik. Untuk awal-awal Agam merasa kurang bersemangat, namun setelah semangatnya kembali akhirnya Agam bisa mengalahkan lawannya.


Agam merasa sangat senang karena akhirnya dia menang. Berhubung Agam menang, besok Agam harus mengikuti acara final terlebih dahulu.


Keesokan harinya Agam sudah bersiap untuk bertanding. Sebelumnya Agam banyak berlatih untuk pemanasan terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian babak final pun segera di mulai. Meski ragu namun Agam mencoba mengerahkan seluruh tenaganya.

__ADS_1


Kali ini Agam harus benar-benar serius agar dia dapat memenangkan pertandingan ini. Dan benar saja, setelah beberapa menit beradu di lapangan akhirnya Agam bisa memenangkan pertandingan ini.


"Yes, kemenangan ini untuk kamu Sheila," gumam batin Agam.


"Yeah, Agam hebat!" sorak Anton dan Toni serempak.


Agam pun tersenyum saat teman-temannya menyoraki namanya.


"Selamat Agam, kamu memang hebat!" ujar Pak Rizal.


Setelah Pertandingan itu selesai, Agam pun mendapatkan sertifikat dan sebuah piala. Selesai rangkaian acara tersebut mereka semua bergegas pulang. Agam merasa sangat senang karena akhirnya ia akan segera pulang.


Agam sengaja tidak memberitahukan Sheila jika waktu pulangnya di percepat. Agam sengaja ingin memberikan kejutan untuk Sheila.


Di tempat lain Sheila masih berbaring di atas kasurnya yang empuk. Bagi Sheila 2 hari serasa 2 tahun karena ia tidak bisa bertemu dengan Agam. Sheila hanya bisa memandangi boneka berbentuk love yang diberikan Agam kemarin.


Sepanjang malam Sheila terus saja memeluk bantal itu.


"Cuma ini yang aku punya. Memeluk ini rasanya seperti ada di dekat Agam. Aku sangat merindukan kamu Gam," gumam batin Sheila hingga akhirnya ia tertidur pulas.


Beberapa saat setelah Sheila tertidur, dia bermimpi tentang Agam. Dalam mimpinya Agam baru saja pulang dari luar kota dan memberikan sebuah piala untuk Shila.


Keesokan paginya, Sheila sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Tidak seperti kemarin yang merasa lemas dan tidak bersemangat, entah mengapa rasanya hari ini Sheila begitu bersemangat.


Rasanya ada sesuatu yang sedang menunggu Sheila. Ia pun mempercepat langkahnya agar Sheila dapat segera sampai di sekolah. Beruntung Sheila tidak begitu lama menunggu angkot datang.


Ia pun segera bergegas naik karena sudah tidak sabar ingin segera tiba di sekolah.

__ADS_1


"Aku berharap mimpi semalam menjadi kenyataan," gumam batin Sheila.


__ADS_2