Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
30. Kesempatan Emas


__ADS_3

Setelah mendapatkan uang dari kak Bagus, Sheila segera bergegas menuju bank untuk mendaftar SMPTN. Di sana ternyata sudah banyak orang yang mendaftar. Sesampainya di bank itu Sheila segera mengisi formulir.


Hanya beberapa menit Sheila mengisi formulir itu dan segera membayarnya. Selesai mengisi formulir tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya.


"Sheila," panggil seseorang.


"Vanes?" tanya Sheila yang menautkan kedua halisnya. Entah mengapa rasanya sangat tidak suka saat bertemu dengan Vanes.


Dalam ingatan Sheila, Vanes lah yang merebut Agam darinya. Jika saja dulu Agam tidak bertemu dengan Vanes pasti sekarang mereka masih bersama. Namun nasi sudah menjadi bubur semuanya sudah terjadi.


"Apa kabar Sheila?" tanya Vanes yang terlihat so akrab.


"Aku baik," ujar Sheila dengan senyum yang sedikit di paksakan.


"Kamu sendiri gimana. kabarnya?" tambah Sheila yang sebenarnya merasa malas tapi dia berusaha untuk tetap bersikap biasa di hadapan Vanes.


"Aku baik, kamu mau daftar SNMPTN juga?" tanya Vanes.

__ADS_1


"Iya nih, kalau begitu aku duluan ya," pamit Sheila yang segera bergegas meninggalkan Vanes.


"Kenapa aku harus ketemu dia lagi sih," gumam batin Sheila.


Setelah selesai mendaftarkan dirinya Sheila segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sheila tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu. Meski kejadian itu sudah sangat lama, tapi rasanya begitu muak.


"Iya Sheila hati-hati ya, seneng busa ketemu kamu lagi," ujar Vanes sesaat sebelum Sheila pergi.


Tanpa berkata apa-apa Sheila hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan Vanes. Sheila segera pulang karena sore sudah mulai menjelang. Dirumah ayah Sheila ternyata sudah pulang.


"Ayah sudah pulang?" tanya Sheila sesampainya di rumah.


"Kamu dari mana saja seharian ini?" tanya Hermawan.


"Aku baru saja daftar SMPTN yah, kemarin ada kakak kelas yang ngasih uang untuk daftar," tambah Sheila.


"Wah baik sekali kakak kelasmu itu," tukas Hermawan.

__ADS_1


"Iya yah alhamdulillah mungkin rezeki aku yah," ucap Sheila.


"Syukurlah lah nak, tapi maaf sepertinya ayah tidak bisa membiayai kuliah kamu. Untuk makan saja kita pas-pasan," lirih Hermawan.


"Iya yah aku mengerti, jika lolos dalam SMPTN nanti aku akan mendapatkan beasiswa yah. Jika tidak mungkin aku akan langsung bekerja saja," jawab Sheila.


"Syukurlah kalau kamu mengerti, ayah harap kamu langsung bekerja saja nak," tambah sang ayah.


"Iya yah kayanya seperti itu, hanya aku memanfaatkan kesempatan emas ini saja. Kak Bagus ngasih aku uang untuk daftar SMPTN, makanya tidak aku sia-siakan," tegas Sheila.


"Iya nak coba saja dulu, mudah-mudahan kamu lolos," ujar Hermawan.


"Iya yah aamiin."


Sebenarnya Sheila sangat berharap jika ayahnya bisa membiayainya untuk kuliah. Namun melihat kondisi seperti ini rasanya sangat tidak mungkin. Sedangkan untuk sehari-hari sana kita merasa pas-pasan apa lagi jika harus kuliah.


Sementara Hermawan pun inginnya bisa membiayai anaknya sampai jadi sarjana. Namun apa daya, pekerjaan sebagai seorang buruh tidak menjanjikan gaji yang besar. Sudah bisa makan saja Hermawan sangat bersyukur.

__ADS_1


Hampir semalaman Sheila belajar keras agar besok ia bisa mengerjakan soal-soal itu. Keesokan harinya Sheila sudah bersiap dan segera pergi menuju tempat yanh sudah di sediakan. Sheila mengikuti SMPTN di salah satu SMA yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


__ADS_2