
Beberapa hari berlalu. Kini Sheila semakin merasa jika Agam benar-benar berubah. Sekarang Agam jarang memberikan kabar pada Sheila. Bahkan di sekolah pun Agam tidak seperti biasanya.
Rasanya ada jarak diantara mereka tapi entah apa. Mungkin karena Agam yang menyibukkan dirinya sendiri. Saat pulang sekolah pun bahkan Agam tidak mengantar Sheila pulang.
"Maaf ya aku ada pelajaran tambahan, jadi aku ga bisa nganter kamu," ujar Agam saat Sheila berada di sampingnya.
"Yaudah ga apa-apa, kalau gitu aku pulang duluan ya!" pamit Sheila.
Dengan sedikit rasa kecewa Sheila mulai melangkahkan kakinya. Tidak biasanya Agam begitu, meski dia bilang ada pelajaran tambahan tapi entah mengapa rasanya tidak percaya.
Hampir sepanjang perjalanan Sheila terus memikirkan hal itu. Dia selalu merasa takut
jika Agam akan berubah. Bahkan sudah beberapa hari ini Agam jarang menghubunginya.
Biasanya hampir setiap saat Agam akan menanyainya walaupun hanya lewat pesan singkat. Tapi sekarang tidak lagi.
Sementara di tempat lain, sepulang pelajaran tambahan ternyata Vanes juga belum pulang. Sejak tadi Vanes sengaja menunggu Agam di dekat gerbang sekolah.
"Ndre!" panggil Agam yang kebetulan melihat Andre saat ia baru saja turun dari kelasnya.
"Iya, kenapa Gam?" tanya Andre yang menautkan kedua halisnya.
"Aku mau tanya sesuatu, apa bener kamu tiba-tiba mutusin Vanes?" tanya Agam to the point.
"Iya emang bener, habisnya aku udah ga suka lagi sama dia," timpal Andre datar.
"Apa? bener-bener ya, kamu itu emang ga punya perasaan!" pekik Agam yang merasa geram saat mendengar pernyataan Andre.
"Terus emang apa masalahnya sama kamu? Jangan-jangan kamu suka sama Vanes," tebak Andre.
Entah mengapa Andre juga merasakan hal yang sama dengan Sheila. Andre juga merasa jika Vanes menyukai Agam. Untuk itu Andre memutuskan Vanes karena ia merasa Vanes tidak menyukainya.
"Jangan sembarangan bicara kamu ya!"
Dan brugh..
Satu pukulan mendarat di pipi Andre. Agam tidak terima jika Andre mengatakan hal itu kepadanya. Andre tersungkur hingga ke lantai namun beruntung dia tidak membalas pukulan Agam.
"Berarti emang bener dugaan aku, kamu ga akan mungkin bersikap kaya gini kalau kamu tidak memiliki perasaan sama Vanes," ujar Andre sesaat sebelum ia pergi.
"Kasihan sekali Sheila," tambah Andre.
__ADS_1
Agam tidak mengatakan apa-apa saat Andre mengatakan hal itu. Agam sendiri tidak mengerti dengan apa yang di rasakannya karena Agam juga merasa berbeda saat berada di dekat Vanes.
Sejak saat itu Agam merasa kesal dengan Andre. Dia pun segera bergegas pulang. Pada saat tiba di gerbang, Andre tersenyum kepada Vanes.
"Selamat ya!" ujar Andre sambil berlalu di hadapan Vanes.
Mendengar hal itu membuat Vanes merasa bingung. Namun Vanes tidak mengatakan apa-apa.
"Apa yang sebenarnya Andre katakan? Apa maksudnya dia mengatakan hal itu?" gumam batin Vanes yang masih berdiri di depan gerbang.
"Gam, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Vanes saat melihat Agam berlalu di hadapannya.
Vanes merasa yakin jika Agam sedang memikirkan sesuatu sebab Agam terlihat begitu murung.
"Ah bukan apa-apa, kamu kenapa belum pulang?" tanya Agam.
"Aku baru mau pulang kok," jawab Vanes.
"Yaudah ayo aku antar kamu pulang," tawar
Agam.
"Ga usah."
Akhirnya Agam pun mengantar Vanes pulang. Sama seperti Sheila, ternyata arah pulang Vanes juga harus berjalan terlebih dahulu. Hanya saja angkot yang mereka gunakan berbeda.
Sesampainya di rumah merasa kasihan dengan Sheila, Andre mencoba memberitahukan segalanya kepada Sheila. Andre pun mencoba mencari ponselnya diatas nakas.
tutt.. tutt..
📲 Iya halo, ini siapa ya?
📲 Aku Andre
📲 Oh Andre, iya ada apa andre?
📲 Aku hanya ingin memberitahukan jika Agam sebenernya suka sama Vanes. Aku ngasih tau kaya gini karena aku kasihan sama kamu.
📲 Ah ga mungkin ndre, soalnya Agam suka dan sayang banget sama aku. Dia juga janji ga akan pernah ninggalin aku.
📲 Itu cuma kata-kata aja Sheila, jangan percaya sama omongan dia. Aku tahu aku juga liat pake mata kepala sendiri Vanes sering ngobrol sama Agam. Tadi juga dia anterin Vanes pulang.
__ADS_1
📲 Sudah cukup Andre kalau kamu nelpon cuma untuk manas-manasin aku aja. Aku percaya sama Agam
📲 Soal percaya atau tidak itu kembali sama kamu Sheila. Aku cuma kasihan sama kamu tiap hari di bohongi.
Tutt.. tutt..
panggilan pun berakhir. Mendengar apa yang dikatakan Andre membuat Sheila merasa takut dan menjadi pikiran. Sheila memikirkan kata-kata Andre jika Agam sering berbicara bahkan kemarin sampai mengantar Vanes pulang.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Agam benar-benar sudah tidak mencintai Sheila lagi. Pikiran Sheila pun seolah melayang kesana kemari. Meski tidak percaya dengan kata-kata Andre tapi Sheila menjadi tidak tenang.
"Apa yang dikatakan Andre benar semua? Jadi selama ini kamu sebenarnya sudah mengkhianati aku Gam," gumam batin Sheila.
Hampir semalaman Sheila tidak bisa tidur memikirkan hal ini. Sheila mencoba menelpon Agam namun tidak ada jawaban. Sheila juga mencoba mengirimkan pesan singkat namun tidak ada balasan.
"Sebenarnya kamu kemana Gam? Apa yang di katakan Andre itu benar?" gumam batin Sheila lagi.
Hingga akhirnya Sheila pun tertidur memikirkan hal itu. Keesokan harinya sepulang sekolah Sheila ingin menanyakan langsung kepada Agam.
"Agam tunggu aku mau bicara sama kamu," ujar Sheila setelah pelajaran berakhir.
"Iya Sheila soal apa?" tanya Agam.
"Apa yang aku dengar benar? Apa kemarin kamu mengantar Vanes pulang?" tanya Sheila to the point.
"Kamu tahu dari siapa?"
"Ga penting soal itu, yang terpenting kamu jawab iya atau engga?"
"Mmh iya Sheila, aku kemarin pulang bareng Vanes."
"Tapi kenapa harus sama Vanes, dari kemarin kan aku sudah bilang kalau aku ga suka kamu deket-deket sama dia," pekik Sheila yang mulai tersulut emosi.
Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari mulut Agam. Dia hanya bisa diam dan bingung harus mengatakan apa.
"Agam, kenapa kamu diam saja hah?" tanya Sheila.
"Begini Sheila aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi pacar yang baik buat kamu," lirih Agam.
"Apa? Maksud kamu bilang kaya gitu apa? Kamu ingin kita putus?" tanya Sheila yang mencoba memastikan.
"Iya Sheila aku ingin kita putus," ujar Agam sekali lagi.
__ADS_1
"Tapi apa salah aku sama kamu Gam? Mana janji-janji yang pernah kamu ucapkan. Katanya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, tapi buktinya mana? Kamu ternyata tega gini sama aku Gam. Pasti semua ini ada hubungannya sama Vanes, jadi emang bener ya kamu itu suka sama Vanes," lirih Sheila yang mulai mengeluarkan bulir bening di pipinya.