
Saat tahu jika ibunya telah tiada, Sheila segera menghubungi ayahnya yang masih bekerja. Sheila mulai mengambil ponselnya diatas nakas dan segera mencari nama ayahnya.
Tut.. tut..
📱"Assalamualaikum nak."
📱 "Waalaikumsalam yah."
📱 "Ibu yah, ibu sudah meninggal."
📱 "Apa? Itu tidak mungkin, kalau begitu ayah akan segera menyusul ke sana."
Setelah panggilan itu berakhir Sheila segera menutup telponnya. Rasanya tak kuasa saat melihat orang yang kita cintai telah pergi selamanya. Kini Sheila tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ayahnya.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang Sheila alami. Belum lama putus dengan Agam, kini Sheila harus kehilangan ibunya untuk selamanya. Tidak banyak kata yang banyak keluar dari mulut Sheila.
Ia hanya bisa menangis. Setelah cukup tenang, Sheila segera mengambil air wudhu dan segera mengambil al-quran untuk mengaji yasin. Meski ditengah-tengah Sheila terisak tapi ia tetap melanjutkan membacanya.
Seluruh keluarga dan sanak saudara pun mulai ramai berdatangan.
"Yang sabar Sheila, semua yang terjadi atas kehendak Tuhan. Ini pasti sudah jalan yang terbaik," ujar salah seorang saudara yang mencoba menenangkan Sheila saat duduk di samping ibunya.
Namun lagi-lagi hanya air mata yang keluar. Tidak ada jawaban apa-apa dari mulut Sheila. Mulutnya seolah terasa terkunci dan dadanya terasa begitu sesak.
Beberapa jam kemudian akhirnya ayah Sheila datang. Setelah semua berkumpul jasad yang sudah di mandi kan dan di sholat kan segera dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.
Jasad Dewi dibawa ke makam keluarga yang letaknya berada di tengah-tengah persawahan. Makamnya juga di berada di samping anaknya yang telah tiada beberapa tahun silam.
Mungkin bagi Dewi, ia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan anaknya yang telah tiada. Tapi tidak dengan Sheila. Sepanjang proses pemakaman dia terus saja menangis.
__ADS_1
Begitupun dengan suaminya yang merasa begitu kehilangan. Orang yang sangat ia cintai ternyata pergi lebih dulu. Padahal kemarin Hermawan sudah melihat jika istrinya terlihat lebih sehat.
Akan tetapi begitu takdir, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan kita esok hari.
"Semoga tenang di alam sana bu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mu dan menempatkanmu di tempat yang terbaik," gumam batin Hermawan yang baru saja selesai menguburkan istrinya.
Setelah selesai dikebumikan, acara di lanjutkan dengan mendoakan jenazah yang di pimpin oleh salah seorang ustad.
Beberapa menit kemudian akhirnya pemakaman itu selesai di laksanakan.
Seluruh keluarga dan tetangga yang ikut mengantar pun mulai pergi satu persatu. Namun Sheila masih ingin berada di pusara ibunya.
"Bu, kenapa ibu tega meninggalkan aku sendiri. Aku sangat menyayangi ibu. Sekarang tidak akan ada lagi orang yang akan menyanyangiku seperti ibu," lirih Sheila yang masih bercucuran air mata.
"Sudah nak, yang sabar. Ibumu sudah tenang di alam sana," ujar sang ayah sambil memeluk anaknya.
Sheila pun kembali menangis dipelukan ayahnya. Air matanya seolah tidak habis-habis untuk ia keluarkan.
Tidak ada jawaban dari mulut Sheila, namun ia menuruti perkataan ayahnya. Sheila dan ayahnya setelah tidak ada siapa-siapa lagi di pemakaman. Sesampainya di rumah Sheila masih tidak bisa berhenti menangis.
Rasanya hari ini begitu berat. Selama hidupnya kehilangan seorang ibu adalah hal yang paling sulit. Begitupun dengan nenek Widuri yang merasa sangat kehilangan. Widuri juga terus saja menangisi putrinya.
Padahal selama ini Dewi merupakan anak yang baik dan tidak pernah menuntut apa-apa. Dari hasil jerih payahnya saat bekerja, Dewi memiliki sebuah rumah yang cukup sederhana. Meski sederhana tapi rumah itu begitu nyaman.
"Kamu tinggal disini saja dengan nenek nak," ujar Widuri beberapa hari kemudian.
"Tidak bisa nek, aku harus sekolah. Lagi pula sekolahku juga sebentar lagi beres," tambah Sheila.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau sudah lulus baru tinggal di sini ya!" timpal nenek lagi.
__ADS_1
"Insya Allah nek, gimana nanti ya! Kalau begitu aku harus pulang nek, karena sudah beberapa hari tidak masuk sekolah," pamit Sheila.
"Iya nak hati-hati di jalan ya! Maaf nenek tidak bisa mengantarmu pulang," tukas sang nenek.
"Tidak apa nek," timpal Sheila yang mulai meninggalkan rumah neneknya.
Sebenarnya Widuri tidak tega melihat kepergian cucunya. Kini dia harus hidup hanya bersama ayahnya. Tapi Widuri juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya.
Beberapa jam kemudian tibalah Sheila di rumahnya. Sesampainya di rumah entah mengapa rasanya sangat berbeda. Sepertinya ada yang kurang. Sheila mulai kembali bersedih setiba di rumahnya.
Kenangan bersama ibunya yang membuat Sheila menangis kembali. Sampai saat ini Sheila masih tidak percaya jika ibunya akan pergi secepat ini. Bahkan Sheila tidak pernah membayangkan rasanya akan kehilangan seorang ibu.
Keesokan harinya Sheila mulai kembali ke sekolah. Rasanya sangat berbeda saat ibunya masih ada. Kini tidak ada lagi orang yang menyiapkan sarapan. Kini tidak ada lagi percakapan di pagi hari seperti biasanya yang selalu ramai.
Meski masih ada seorang ayah tapi rasanya sangat berbeda. Seorang ayah cenderung cuek dan acuh. Tidak ada kehangatan seperti seorang ibu. Akhirnya Sheila pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.
Sesampainya di sekolah beberapa teman segera menghampiri Sheila karena sudah beberapa hari tidak masuk sekolah. Sebagian teman ada yang mengucapkan bela sungkawa.
"Yang sabar ya Sheila, kamu pasti bisa melewati ini semua," ujar Mawar yang langsung memeluk Sheila.
"Iya Mawar, terima kasih banyak ya," timpal Sheila yang tidak begitu sedih.
Sementara dari kejauhan Agam memperhatikan Sheila. Sebenarnya dia ingin menjadi pelipur lara di saat-saat seperti ini. Agam ingin bisa menghiburnya dan membuat Sheila tersenyum namun rasanya sangat tidak mungkin.
Semenjak berpisah dengan Sheila, beberapa hari kemudian Agam justru jadian dengan Vanes. Meski awalnya Agam bilang tidak mungkin tapi nyatanya kini mereka menjalin cinta.
"Maafkan aku Sheila, aku tidak bisa ada di saat-saat seperti ini," gumam batin Agam yang melihat Sheila dari kejauhan.
Tidak seperti biasanya Sheila kini terlihat lebih pemurung. Bahkan Sheila yang biasanya ceria dan juga aktif, kini menjadi lebih pendiam. Ibarat sebuah burung yang memiliki 2 sayap, kini sayap itu hanya tinggal 1.
__ADS_1
Semenjak kehilangan ibunya, Sheila tidak bisa tertawa dengan lepas. Rasanya ada sesuatu yang menghalangi senyumannya. Sungguh kejadian ini merupakan hal yang berat bagi Sheila.
Sheila benar-benar merasakan duka yang sangat mendalam. Entah sampai kapan duka ini akan berakhir dan Sheila akan bisa tersenyum lagi. Yang jelas hari-harinya kini terasa begitu menyakitkan. Bahkan Sheila selalu menangis sehabis ia selesai sholat.