Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
19. Kembali Bersama


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Agam masih menunggu jawaban dari Sheila. Namun Sheila masih belum memberikan jawabannya. Saat sedang belajar tiba-tiba Sheila mendapatkan sebuah pesan singkat dari Agam.


Di sini aku masih sendiri


Merenungi hari-hari sepi


Aku tanpamu masih tanpamu


Bila esok hari datang lagi


Ku coba hadapi semua ini


Meski tanpamu oh meski tanpamu


Bila aku dapat bintang yang berpijar Mentari yang tenang bersamaku disini


Ku dapat tertawa menangis merenung


Di tempat ini aku bertahan


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku slalu dihatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Kalau ku masih tetap disini


Ku lewati semua yang terjadi


Aku menunggumu oh aku menunggu


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya

__ADS_1


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku ada dihatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya oh


Suara dengarkanlah aku


Sumber: LyricFind


Sheila tersenyum saat membaca pesan singkat dari Agam. Isinya memang sebuah lirik lagu lama namun maknanya begitu mendalam. Sekuat apapun Sheila mencoba menghindar dan melupakan Agam, namun tetap saja rasa itu begitu kuat.


Beberapa jam kemudian akhirnya pelajaran berakhir. Seluruh siswa bersorak saat mendengar bel berbunyi. Begitupun dengan Agam dan Sheila. Rasanya sudah tidak sabar bagi Agam untuk mendengar jawaban dari Sheila.


"Mmh, bagaimana yah aku mengatakannya. Jujur aku masih sayang banget sama kamu Gam, tapi aku juga takut kalau kamu akan mengkhianati aku lagi," lirih Sheila.


"Aku janji Sheila, aku ga akan pernah mengkhianati kamu lagi karena aku juga sayang banget sama kamu," timpal Agam yang kini memegang tangan Sheila.


Agam benar-benar berharap agar Sheila bisa menerima cintanya kembali. Untuk beberapa saat Sheila termenung. Sheila memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil.


Akhirnya setelah beberapa saat terdiam. Sheila mulai mengambil keputusan. Sheila berharap jika keputusan yang di ambil memang benar.


"Oke begini Agam, aku akan memberikan kamu kesempatan yang terakhir. Tapi aku mohon tolong jangan ulangi kesalahan kamu lagi," lirih Sheila sambil membuang nafasnya kasar.


"Apa? Jadi beneran Sheila? Kamu terima aku lagi?" tanya Agam yang masih tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.


"Iya Gam, walau bagaimanapun kamu berhak mendapatkan kesempatan kedua asal kamu janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama," tambah Sheila.


"Iya Sheila, aku janji. Makasih karena kamu sudah mau terima aku lagi," ujar Agam yang spontan memeluk Sheila.


Untuk beberapa saat mereka pun berpelukan. Rasanya masih tidak percaya jika Sheila akan menerima Agam kembali. Sheila berharap jika ini memang keputusannya yang tepat.


Setelah pembicaraan mereka selesai akhirnya Agam mengantar Sheila untuk pulang. Seperti biasa mereka harus berjalan terlebih dahulu. Tapi hal ini membuat mereka senang karena mereka bisa berbincang sepanjang perjalanan.


Sementara Vanes baru saja melihat kebersamaan mereka.

__ADS_1


"Bukannya itu Agam sama Sheila? Kenapa mereka bergandengan tangan segala. Apa Agam kembali sama Sheila?" gumam batin Vanes yang bertanya-tanya.


Beberapa hari pun berlalu. Agam dan Sheila merasa begitu bahagia karena mereka kini bisa bersama kembali. Sepanjang hari Sheila selalu merasakan kebahagiaan dan selalu mendapatkan kejutan-kejutan kecil dari Agam.


Mulai dari pemberian coklat, bahkan boneka kecil yang berbentuk sapi tapi begitu lucu. Semua kenangan pemberian Agam, Sheila simpan baik-baik. Bahkan foto mereka berdua Sheila simpan di dalam dompetnya.


Beberapa bulan berlalu tak terasa kini Sheila sudah berada di akhir semester. Itu artinya sebentar lagi mereka akan ulangan dan naik ke kelas 3. Agam dan Sheila mulai menyibukkan diri untuk belajar.


Tak jarang mereka pun selalu mengadakan kegiatan belajar bersama di rumah teman mereka. Akhirnya ujian sekolah datang. Untuk beberapa hari Agam dan Sheila memutuskan untuk menjaga jarak terlebih dahulu karena mereka sedang ulangan.


Beberapa hari kemudian akhirnya ulangan itu telah selesai di laksanakan dan hari ini adalah hari pembagian rapot. Sheila dan Agam mendapatkan hasil yang lumayan bagus, sebab di kelas mereka juara 1 selalu jatuh ke tangan Silmi.


Silmi merupakan anak yang paling pintar di kelas mereka. Setelah pembagian rapot selesai, sekolah pun diliburkan selama 2 pekan. Selama liburan Sheila berencana untuk pergi ke rumah neneknya di kampung selama beberapa hari.


Agam yang tahu jika kini Sheila menyukai novel, memberikan novelnya kepada Sheila agar dia bisa selalu mengingatnya dimanapun ia berada.


"Wah ini beneran buat aku?" tanya Sheila sambil menautkan kedua halisnya.


"Iya beneran itu buat kamu, gimana kamu suka ga?" tanya Agam memastikan.


"Iya aku suka banget, ini ceritanya tentang saudara kembar ya? Makasih banyak ya," ujar Sheila sesaat setelah membaca sinopsis yang ada di luar novel.


"Iya ceritanya rame banget," timpal Agam.


Akhirnya selama beberapa hari mereka harus terpisah karena liburan ini. Begitupun dengan Agam yang sudah memiliki rencana bersama keluarga besarnya untuk berlibur ke kampung halamannya.


Tak terasa baru 5 hari tidak bertemu rasanya sudah 5 tahun. Sheila tak lupa selalu memberikan kabar pada Agam. Begitupun dengan Agam yang tidak pernah telat mengabari Sheila dimana pun ia berada.


Hampir 2 pekan berlalu, kini tak terasa Agam dan Sheila akan segera bertemu kembali di sekolah.


"Eh liat-liat, kayanya kelas kita di pisah deh," ujar salah seorang teman Sheila yang sedang sibuk mencari namanya masing-masing.


Sheila yang mendengar hal itu segera mencari namanya di atas kertas yang menempel pada kaca kelas. Sheila yang melihat deretan namanya ternyata tidak ada di dalam kertas itu.


Sementara Agam juga tidak ada di kertas itu. Mereka terpisah menjadi beberapa kelas. Agam berada di kelas 3B, sedangkan Sheila berada di kelas 3G.


"Wah kelas kita harus terpisah," ujar Sheila yang merasa kecewa karena sekarang mereka tidak satu kelas lagi.


"Ga apa-apa yang penting kan kita masih satu sekolah, kita masih bisa ketemu kan kalau istirahat," tukas Agam.


"Iya aku tahu, tapi kelas kita jauhan. Kelas kamu ada di atas paling ujung, sementara kelas aku ada di bawah," lirih Sheila.


"Istirahat kan kita bisa ketemu," ujar Agam.


"Tapi aku takut kamu akan berubah lagi," lirih Sheila.


"Ga akan, percaya deh sama aku," timpal Sheila.

__ADS_1


__ADS_2