Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
11. Merasa Malu dan Khawatir


__ADS_3

Hari ini merupakan tanggal merah itu artinya Sheila libur sekolah. Namun di saat libur seperti ini bukan berarti Sheila dan Agam tidak bisa bertemu. Sejak kemarin mereka sudah sepakat untuk pergi jalan-jalan.


Sheila dan Agam akan bertemu di tempat biasa. Kali ini Agam yang menentukan tempat yang akan mereka kunjungi. Sementara Sheila hanya mengikuti kemanapun Agam akan mengajaknya. Namun tak jauh dari tempat kemarin, kali ini Agam mengajak Sheila ke mall.


Bukan tanpa alasan Agam mengajak Sheila kesana, tapi mengapa rasanya nyaman dan sejuk saat berada di mall. Sheila sudah menunggu Agam di tempat biasa. Namun Agam sedikit terlambat.


"Apa kamu udah nunggu lama?" tanya Agam dengan nafas terengah.


"Engga kok, aku baru datang," jawab Sheila yang belum lama duduk di bangku taman.


"Kenapa harus lari-lari segala sih?" tanya Sheila.


"Habisnya aku takut kamu nunggu kelamaan."


"Telat juga ga apa-apa kali, bukan sekolah ini," gerutu Sheila. Dia merasa kasihan sebab Agam harus berlari hanya karena Sheila.


Tak berapa lama setelah Agam beristirahat, mereka pun segera bergegas pergi. Mereka pergi menggunakan angkutan umum karena ongkosnya yang murah. Setengah jam kemudian tibalah mereka di salah satu mall yang mewah di kota itu.


Agam dan Sheila mulai masuk ke dalam mall. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Belum terlalu jauh mereka berjalan, Agam melihat sebuah foto box. Lalu dia menarik tangan Sheila untuk berfoto bersama.


"Gimana kalau kita foto disini buat kenang-kenangan," ujar Agam antusias.


"Hmm, boleh-boleh," timpal Sheila yang segera mengikuti langkah Agam.


Kini mereka sudah berada di dalam box untuk mulai berfoto. Entah sudah berapa gaya yang mereka lakukan, yang jelas mereka terlihat begitu happy. Untuk beberapa gaya, Agam sengaja mencubit pipi Sheila dari belakang.


Terkadang Sheila merasa senang, tapi terkadang merasa kesal karena Agam sengaja mencubitnya dengan sangat keras.


"Ih kamu pelan-pelan, sakit tahu," gerutu Sheila.


"Maaf, habisnya aku sengaja karena gemes," timpal Agam sambil terkekeh.


Sheila memukul Agam yang selalu menjahilinya. Setelah lelah dengan beberapa gaya, akhirnya mereka pun keluar dari foto box itu. Sebelum pergi mereka harus membayar terlebih dahulu. Lumayan untuk beberapa kali foto tidak begitu mahal.


Mereka duduk di sebuah bangku yang panjang. Agam dan Sheila melihat foto mereka satu per satu. Ada yang bagus, ada juga yang kurang. Namun hal itu membuat mereka sangat bahagia. Mereka berdua merasa senang walau hanya sekedar foto box.

__ADS_1


"Liat ini, yang ini bagus kan," tunjuk Sheila. Dia memperlihatkan salah satu foto dirinya bersama Agam yang begitu serasi.


"Iya bagus, aku paling suka sama foto ini," tukas Agam.


"Yang ini juga bagus, kamu keliatan lucu," tambah Agam sambil mencubit pipi Sheila.


"Ah kamu sih, nyubit pipi aku terlalu keras jadinya kaya gitu deh," timpal Sheila yang justru merasa kurang suka saat melihat foto yang di tunjukan Agam.


"Hehe biarin, habisnya kamu lucu sih."


Untuk beberapa saat mereka masih melihat-lihat foto kebersamaan mereka. Namun tak berapa lama terdengar suara perut Agam yang keroncongan.


"Kamu lapar ya?" tanya Sheila yang mendengar suara perut Agam.


"Iya nih kita cari makan yu!"


"Oke!"


Mereka akhirnya bergegas ke lantai atas ke tempat berbagai aneka makanan di jual. Beberapa saat setelah melihat makanan yang berjejer akhirnya mereka memilih makan bakso.


Hampir seharian penuh mereka jalan-jalan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari mulai sore dan akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Sebelum pulang, Agam sengaja mengantar Sheila terlebih dulu.


Namun Agam tidak mengantarkan Sheila sampai ke rumahnya. Dia takut orang tua Sheila marah karena mereka sekolah.


"Aku antar kamu sampai sini ya," pamit Agam. Dia mengantar Sheila hanya sampai di ujung gang saja.


"Iya Gam, makasih untuk hari ini ya," ujar Sheila sambil bergegas melangkahkan kakinya.


"Eh tunggu!" pekik Agam.


"Ya kenapa?" tanya Sheila sambil menautkan kedua halisnya. Sheila segera balik kanan karena Agam memanggilnya.


"Ada yang kelupaan."


"Apa?"

__ADS_1


"Ini, dadah! pamit Agam yang sebelumnya mencubit pipi Sheila terlebih dahulu lalu berlari.


Entah mengapa sebelum Agam pergi meninggalkan Sheila, dia selalu melakukan kebiasaan itu. Namun Sheila merasa senang karena dia selalu mengingat kenangan manis saat bersama Agam.


Keesokan harinya..


Seperti biasa Sheila sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Hari ini merupakan jadwal pelajaran olah raga dan semua siswa di minta untuk datang ke lapangan merah. Lapangan merah merupakan sebuah lapangan yang besar yang berada di salah satu kampus dekat sekolah mereka.


Hari ini merek akan melakukan praktek berlari di lapang merah. Setiap siswa di wajibkan untuk mengelilingi lapangan. Dan mereka yang memiliki kecepatan berlari yang bagus, dia lah yang mendapatkan nilai yang tinggi.


Semua siswa dan guru olah raga Pak Indra sudah berkumpul di lapangan. Setelah para siswa di absen satu lersatu, kini giliran Agam dan beberapa teman yang lain untuk pelari pertama.


"Sheila aku akan jadi pelari yang pertama nyampe, ini semua untuk kamu," teriak Agam dari arah lapang.


Spontan teman sekelas mereka pun menoleh ke arah Sheila.


"Ciie..." sorak semua teman mereka.


Sheila merasa malu dan pipinya mulai memerah.


"Ish Agam apa-apain sih, kan jadi malu," gerutu Sheila yang mulai cemberut.


Akan tetapi Agam justru bersemangat. Dia sangat ingin menjadi pelari pertama yang bisa sampai ke garis finis. Dalam hitungan 1, 2 dan 3 peluit pun terdengar berbunyi. Mendengar tanda itu Agam berlari selendang yang ia bisa.


Dalam panggilan pertama terdapat 8 orang untuk 8 lintasan. Agam berada di urutan pertama sedangkan sisanya teman Agam sesuai nomor absen. Agam berlari sekencang yang ia bisa.


Tidak ada harapan selain ia bisa mencapai garis finis. Untuk beberapa saat Agam terkejar oleh teman nya yang lain. Namun sekuat tenaga Agam menambah kecepatannya. Rasanya sudah tidak sabar bagi Agam untuk mencapai garis finis.


Detik-detik yang menegangkan pun terjadi. Hanya beberapa langkah lagi Agam akan sampai ke garis finis, namun teman yang lainnya hampir saja menyusul. Namun di luar dugaan, Agam mempercepat langkah kakinya dan akhirnya berhasil mencapai garis finis.


"Yeah," sorak semua teman Agam dan Sheila. Agam yang berhasil mencapai garis finis yang pertama merasa senang dan bangga karena ia persembahkan kemenangan ini untuk Sheila.


Sementara dengan spontan Sheila bertepuk tangan dan ikut bersorak.


"Yeay, akhirnya kamu yang pertama Gam!"

__ADS_1


Namun di luar dugaan Agam tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.


__ADS_2