Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
8. Pergi Turnamen


__ADS_3

Hari ini Agam berniat untuk mengatakan yang sebenarnya. Walau sebenarnya tidak tega, tapi Agam harus bercerita kepada Sheila. Kali ini Agam harus menceritakan semuanya kepada Sheila karena besok lusa Agam harus segera berangkat ke luar kota untuk turnamen.


Pagi-pagi sekali Sheila sudah tiba di sekolah. Sheila pun segera bergegas pergi ke kelas untuk menyimpan tasnya. Selesai menyimpan tas Sheila pun bergegas ke luar kelas untuk melihat pemandangan di bawah.


Dari atas Sheila melihat kedatangan Agam dari arah gerbang. Dari kejauhan Agam melihat Sheila dan melambaikan tangan, namun Sheila pura-pura tidak melihat keberadaan Agam. Pandangannya justru ia alihkan ke segala arah.


"Sheila pasti masih marah gara-gara soal kemarin, setelah aku simpen ini di tasnya pasti dia seneng," guman batin Agam yang sudah mempersiapkan sesuatu untuk diberikan kepada Sheila.


Tanpa sepengetahuan Sheila, Agam sudah tiba di kelas. Sementara Sheila masih berada di luar kelas, hal itu Agam manfaatkan untuk menyimpan barang yang ia bawa tadi ke dalam tas Sheila.


Setelah menaruh barang itu, Agam pura-pura berbincang dengan teman sebangkunya Fadhil. Saat Sheila masuk ke dalam kelas, Agam pura-pura tidak melihat keberadaan Sheila. Ia justru memilih melanjutkan perbincangannya dengan Fadhil.


Tak terasa bel masuk pun berbunyi, saat Sheila akan mengambil alat tulis di dalam tasnya tiba-tiba ia melihat sebuah bantal yang berukuran sedang berbentuk love berwarna pink putih. Di bantal itu bertuliskan i love you. Seketika Sheila pun tersenyum saat melihat benda itu.


"Ini pasti dari Agam, kamu emang bisa bikin aku tersenyum," gumam batin Sheila sambil memeluk bantal itu dan menciuminya.


Sheila pun menoleh ke arah Agam sambil tersenyum. Namun Agam pura-pura tidak melihat ke arah Sheila. Agam menyibukkan diri dan sengaja tidak memandang ke arah Sheila. Awalnya Sheila lah yang mengabaikan Agam, tapi sekarang justru Agam yang mengabaikan Sheila.


Beberapa jam pun berlalu, tak terasa hampir seharian penuh mereka belajar. Kini terdengar suara bel berbunyi yang menandakan waktu pulang telah tiba.


"Yeah," sorak seluruh siswa saat mendengar bel berbunyi. Tidak ada suara yang lebih indah selain mendengarkan bel berbunyi karena mereka ingin segera pulang. Seharian penuh berada di sekolah membuat mereka merasa jenuh.


Sebagian siswa ada yang langsung pulang, ada juga yang melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu. Tak sedikit juga yang mengikuti pelajaran tambahan seperti mengikuti ekstrakulikuler di sekolah.


Ada yang mengikuti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), ada juga yang mengikuti Paskibra bahkan ada juga yang mengikuti ekskul teater. Sheila sendiri pernah mengikuti ekstrakulikuler PMR namun sayang sudah tidak lagi.


"Agam tunggu!" pekik Sheila saat melihat Agam yang akan berlalu di hadapannya.


"Bukannya kamu marah sama aku?" tanya Agam yang berpura-pura mendelik.

__ADS_1


"Iya kemarin aku memang sempat kesal, tapi sekarang udah engga. By the way makasih ya hadiahnya," tambah Sheila lagi.


"Hadiah apa? Orang aku ga ngasih apa-apa," timpal Agam yang pura-pura tidak memberikan apa-apa.


"Ga mungkin ga tahu, bantal love ini pasti dari kamu kan?" tanya Sheila.


"Beneran aku ga tau," ujar Agam yang masih tidak mau mengakuinya. Agam melakukan hal itu karena ia sengaja ingin membuat Sheila kesal.


"Jadi beneran ini bukan dari kamu? Ya udah ah aku buang aja kalau gitu," gerutu Sheila yang mulai kesal.


"Eh jangan-jangan, iya itu dari aku. Habisnya kamu sih cemberut terus dari kemarin," timpal Agam.


"Habisnya kamu nyebelin sih," tukas Sheila yang kembali cemberut.


"Tuh kan mulai lagi. Ya udah ah aku pulang ya," pamit Agam yang pura-pura melangkahkan kakinya.


"Ya kok pulang sih," lirih Sheila.


Agam pun kini duduk di kursi di koridor kelas. Sheila yang melihat Agam duduk pun seketika menghampiri Agam dan bergegas duduk disebelahnya.


"Iya maafin aku ya," lirih Sheila yang kini menggenggam tangan Agam.


"Ya udah aku maafin," timpal Agam.


Kini akhirnya mereka melupakan peristiwa kemarin. Agam mulai tersenyum begitu dengan Sheila yang kini kembali ceria seperti biasa. Sejak tadi Sheila memegangi bantal berbentuk love itu dan memeluknya.


"Jadi gimana apa kamu suka sama barang itu?" tanya Agam.


"Suka banget, makasih ya," ujar Sheila.

__ADS_1


"Oiya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Agam dengan nada lemas. Meski masih ragu tapi Agam harus tetap mengatakannya.


"Dari kemarin bilang gitu terus, yaudah langsung aja," tukas Sheila yang kembali penasaran dengan apa yang akan di katakan Agam.


"Sebenarnya besok lusa aku harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari," lirih Agam yang begitu berat saat mengatakan hal itu.


"Tapi mau kemana? Buat apa?" tanya Sheila yang kini merasa mulai sedih saat Agam berkata demikian.


"Aku harus pergi ke Surabaya karena ada turnamen, tapi ga lama kok. Cuma 2 sampai 3 hari aja," jelas Agam.


"Tapi aku ga mau kamu pergi," lirih Sheila.


"Aku tahu, aku juga sebenarnya berat harus ninggalin kamu. Tapi ini juga termasuk cita-cita aku bisa ikut turnamen. Udah lama banget aku menantikan saat-saat seperti ini," tambah Agam sambil membuang nafasnya kasar.


Untuk beberapa saat Sheila terdiam. Sheila merasa bingung harus bagaimana. Antara mempertahankan ego atau mendukung cita-cita Agam. Walau bagaimana pun Agam pergi untuk sebuah hal yang positif.


Sheila tidak mungkin jika harus mempertahankan ke egoisannya karena di tinggal oleh Agam. Akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Sheila pun merelakan Agam pergi meski hanya sebentar saja.


"Yaudah kalau itu memang udah jadi keputusan kamu. Aku bisa apa, aku hanya bisa mendukung apa yang menjadi cita-cita kamu," lirih Sheila dengan nada yang lemas. Meski mengizinkan tapi sebenarnya Sheila tidak ingin Agam pergi.


"Beneran Sheila, aku boleh pergi? Makasih banyak ya karena kamu sudah mengerti," ujar Agam yang masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Sheila.


Sebenarnya Agam juga merasa berat saat harus meninggalkan Sheila, namun apa daya kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Agam harus bisa memanfaatkan kesempatan yang datang kepadanya.


Tiba-tiba saja Sheila merasa sedih dan mulai berkaca-kaca. Agam yang menyadari Sheila yang merasa sedih mulai memeluk Sheila. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan.


"Aku pergi ga akan lama kok, aku pasti akan kembali," ujar Agam di tengah-tengah pelukannya.


"Iya Aku ngerti, aku cuma sedih aja karena kamu mau ninggalin aku," lirih Sheila.

__ADS_1


"Ga akan lama cuma 2 sampai 3 hari aja kok ya, jangan sedih," timpal Agam yang berusaha membuat Sheila tersenyum.


__ADS_2