Sepatuku Cintaku

Sepatuku Cintaku
23. Tidur di Pangkuan Ibu


__ADS_3

"Bagaimana jika aku di panggil Tuhan, bagaimana nasib anakku? Sungguh aku tidak tega, siapa yang akan menyayanginya lebih dari aku," gumam batin Dewi yang mulai berkaca-kaca.


"Kenapa bu? Apa ibu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Sheila yang tiba-tiba melihat ibunya terdiam.


"Ah tidak nak, ibu tidak memikirkan apa-apa ibu hanya sudah merasa kenyang. Bubur buatanmu juga enak. Ga nyangka ternyata anak ibu sudah besar, sudah bisa membuat bubur sendiri," jelas Dewi.


"Ibu bisa aja," timpal Sheila yang merasa malu.


"Sini nak," panggil Dewi.


Sheila yang baru saja kembali dari dapur setelah menyimpan mangkuk bekas bubur, kini menghampiri ibunya. Tiba-tiba saja Sheila ingin membaringkan kepalanya di atas paha ibunya.


Dengan posisi yang masih duduk dan menyender pada tembok, Sheila tidur di pangkuan ibunya. Dewi terus saja mengusap bagian kepala Sheila. Entah mengapa rasanya begitu sedih saat anaknya berada di pangkuannaya saat ini.


Lain halnya dengan Sheila yang justru merasa begitu tenang dan damai saat berada di pangkuan ibunya. Sheila seolah merasa lupa dengan rasa sakit hatinya kemarin. Sheila benar-benar bisa melupakan segalanya saat berada di pangkuan ibunya.


"Bagaimana kondisi ibu saat ini?" tanya Sheila di sela-sela usapan ibunya.


Ibunya yang sejak tadi mengusap kepala anaknya tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.


"Ibu baik nak, ibu tidak apa-apa. Ibu sudah sehat," ujar Dewi yang tetap terlihat baik-baik saja padahal dalam hatinya ia merasa sudah tidak akan berumur lama.


Mendengar hal itu membuat Sheila merasa lega. Kini ia sudah tidak terlalu khawatir lagi. Meski terlihat masih pucat tapi kondisi ibu setidaknya sudah mulai membaik. Cukup lama Sheila tertidur di pangkuan ibunya.


"Nak, ibu merasa pegal," ujar Dewi yang mulai membangunkan anak nya.


"Oiya bu," sontak Sheila terperanjat dari tidurnya.


Tak terasa karena seharian berada di rumah, kini hari mulai menjelang sore. Ayah Sheila baru saja pulang bekerja dan segera menghampiri keadaan istrinya.


"Gimana sekarang kondisi ibu? Apa sudah baikan?" tanya suaminya.


"Iya yah ibu sudah merasa sehat, tapi aku ingin pulang ke kampung dulu yah. Aku ingin tinggal selama beberapa hari di sana," pinta Dewi yang tiba-tiba saja mengutarakan isi hatinya.


"Apa? Tinggal di rumah ibu? Tapi kan jaraknya jauh bu, apa kamu kuat?" tanya Hermawan.


"Iya yah, insya Allah ibu kuat. Ibu mohon yah," lirih Dewi lagi.

__ADS_1


"Ya sudah kalau memang ibu maunya begitu, nanti ayah coba telpon saudara ayah yang punya mobil agar datang menjemput kemari," jelas Hermawan.


"Iya yah, terima kasih," ujar Dewi yang merasa senang.


Akhirnya setelah pembicaraan itu, Hermawan segera menghubungi saudaranya yang ada di kampung untuk menjemput Dewi. Ia pun menjelaskan tentang kondisi Dewi.


Setelah menjelaskan apa yang terjadi akhirnya saudaranya yang merupakan adik dari Hermawan segera menyetujuinya. Dan rencananya esok hari Bambang yang merupakan adik dari Hermawan yang akan datang menjemputnya.


Hampir semalaman Hermawan mulai berkemas menyiapkan beberapa pakaian untuk istrinya di sana. Sheila yang baru saja keluar dari kamar merasa bingung kenapa ayahnya mengepak baju ke dalam koper.


"Loh ayah sedang apa malam-malam begini?" tanya Sheila saat ia keluar kamar.


"Ayah sedang membereskan pakaian ibumu nak, katanya besok ibu mau pulang dulu ke kampung,"jelas Hermawan yang masih sibuk memasukan beberapa baju ke dalam tas besar.


"Tapi tadi ibu tidak bilang apa-apa sama aku. Kok mendadak ya?" tanya Sheila lagi.


"Kurang tau juga nak, mungkin ibu ingin istirahat dulu disana," tambah Hermawan.


Merasa mengerti Sheila pun tidak bertanya lagi. Ia segera menghampiri ke kamar ibunya dan menanyakannya secara langsung. Namun saat ia tiba di kamarnya ternyata Dewi sudah tertidur dengan pulasnya.


Keesokan harinya..


Dewi sudah bersiap untuk berangkat sambil menunggu jemputan datang. Sheila yang sejak kemarin ingin menanyakan hal ini segera menanyakan kepada ibunya.


"Jadi ibu akan ke rumah nenek hari ini?" tanya Sheila yang langsung menghampiri ibunya.


"Iya nak, ibu ingin istirahat dulu di rumah nenek. Kamu baik-baik di rumah ya, belajar yang baik. Nanti kalau libur baru boleh datang ke rumah nenek buat nengok ibu," jelas Dewi.


"Baiklah kalau begitu bu, hari minggu nanti aku akan datang nengokin ibu," timpal Sheila.


"Bagus!" tukas Dewi lagi.


Tak berapa lama akhirnya Bambang datang.


"Assamualaikum," sapa Bambang yang sudah berada di teras rumah.


"Sini masuk dulu Bang, aku buatkan kopi dulu," tawar Sheila.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot kak, biar aku saja yang bikin sendiri kopinya," timpal Bambang.


"Eh tidak apa, masa tamu yang bikin minum sendiri," ujar Dewi yang segera bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.


"Sambil nunggu kopi, kamu makan dulu kuenya ya," titah Dewi.


Di atas meja sudah tersedia beberapa aneka kue dan makanan ringan.


"Iya kak makasih."


"Sama-sama."


"Eh Sheila udah besar aja," sapa Bambang saat melihat keponakannya yang sudah tumbuh dewasa.


"Hai om, apa kabar?" tanya Sheila yang baru melihat kedatangan omnya.


"Om baik, kalau udah gede gini pasti udah punya pacar," celetuk Bambang.


"Ah engga om, aku mah belajar dulu aja yang baik," tukas Sheila yang sebenarnya merasa malu.


"Oiya apa kamu ga akan ikut ke rumah nenek?" tanya Bambang.


"Engga om, aku kan harus sekolah. Paling nanti kalau libur baru nyusul ke sana," jawab Sheila.


"Oh iya ya, om lupa."


Akhirnya tak berapa lama Dewi datang membawakan 2 gelas kopi untuk adik ipar dan juga suaminya. Sementara Sheila harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Meski hari ini merupakan hari yang berat, tapi Sheila harus tetap bersemangat.


Sebelum ia pergi ke sekolah, Sheila menyalami dan memeluk ibunya terlebih dahulu. Sebenarnya Sheila merasa sedih karena kepergian ibunya, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Lagi pula ibunya pergi hanya untuk beberapa hari. Ayahnya juga ikut mengantar ibunya ke sana. Sedangkan Sheila harus tinggal sendiri untuk hari ini. Sepanjang perjalanan Sheila terus memikirkan keadaan ibunya.


"Semoga ibu benar-benar sudah sehat kembali, berikanlah ibuku umur yang panjang ya Allah," gumam batin Sheila penuh harap.


Sheila pun segera bergegas menuju sekolahnya. Ia mulai melangkahkan kakinya walaupun terasa berat. Sheila merasa malas jika dia bertemu Agam di sekolah. Beberapa menit kemudian tibalah Sheila di sekolah.


Perlahan tapi pasti Sheila mulai masuk ke dalam gerbang sekolah. Sheila tidak menyangka jika saat masuk ke dalam gerbang, dia melihat seseorang yang membuatnya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2