Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 32 Mulai Panik


__ADS_3

Pov Author


Riska dan Septia asyik membicarakan Siska, eh orang nya menelpon ke handphone Riska. Perempuan itu mengerutkan kening nya saat tahu siapa yang memanggilnya. Mau apa dia?.


Riska hanya melirik tanpa berniat mengangkat telepon tersebut.


"Siska. Mungkin mau minta harta gono gini. Atau kalau tidak minta di bantu klatifikasi vidio viralnya." Tanpa di minta Riska memberi keterangan pada temannya tersebut. Septia hanya mengangguk.


"Aku setuju. Nggak usah di angkat. Biarlah dia menangis dalam kepusingan. Kalau perlu ganti nomer mu itu." usul Septia.


"Oke. Aku akan pergi ke konter nanti. Aku akan menutup akses komunikasi dengan Siska. Termasuk media sosial. Mungkin terkesan jahat, tapi semua itu aku lakukan demi kewarasanku. Nanti kamu temani aku yah." Riska menyuap nasi goreng kambing pesanannya.


***

__ADS_1


Di kediaman Siska.


"Sial! mbak Riska sudah tidak aktif lagi. Kurang ajar memang wanita itu. Sudah berhasil menghancurkan hidup kita, Mas!." Siska uring-uringan seorang diri. Ini sudah berpuluh kali menghubungi Riska tapi nomornya selalu tidak aktif.


Wanita yang sedang mengenakan daster itu duduk di atas sofa dengan kaki di selonjorkan. Dengan sikap Danang pun memijat kaki mulus milik Siska tersebut.


"Mas Kok kamu diam saja ? Kenapa melamun ! Mikir dong cari jalan keluar untuk masalah kita ini." Siska menatap tajam ke arah suaminya. Kakinya pun ia tendangkan ke arah Danang. Pria itu tersentak kaget.


Bagaimana tidak panik, sumber keuangannya dari Riska lenyap, di saat istri sirinya itu sekarang tidak berpenghasilan. Sebab hidupnya sangat tergantung dari penghasilan Siska. Sementara selama ini, Siska yang memenuhi kebutuhan hidup Danang termasuk uang yang diberikan nya pada Riska. Tentu itu ia dapat tidak dengan gratis. Danang harus menukarnya dengan pengabdian pada Siska.


Danang pun bertambah pusing saat teringat tentang ibunya. Selama ini kebutuhan Ibunya ditanggung oleh Riska. Danang pun sadar Riska sudah tidak mungkin lagi membiayai hidup ibunya.


"Sabar! Sabar! Sabar! Doang kamu bisanya, Mas! Cari solusi dong! Kalau kayak gini terus kita bisa bangkrut. Usaha kita bisa gulung tikar. Mau promosi pun nggak berani karena haters kita banyak banget. Aku nggak sanggup terus- menerus seperti ini, Mas? Gunakan akal mu itu untuk mencari solusi dari semua ini. Jangan hanya berdiam diri di sini?." Siska mulai menunjukkan taringnya.

__ADS_1


Perempuan yang biasanya berlemah lembut dan manja pada Danang itu pun kini mulai bertanduk. Bagaimana tidak? Usaha yang di gelutinya menurun drastis. Ah, tidak hanya menurun tapi memang sepi pembeli. Toko parfum dan laundry miliknya tidak ada satu pun pelanggan pun yang datang, semenjak dirinya viral di media sosial. Tidak hanya itu, Siska pun terpaksa menutup akun media sosial nya sementara waktu sebab tidak berani menerima hinaan dari kaum netizen yang bahasanya sangat pedas dan tidak jarang menyakitkan.


"Manurut kamu aku harus bagaimana? Hah! Itu semua salahmu Siska! Seandainya kamu tidak mengatakan kebenaran itu pada Riska, pasti urusannya tidak seberat ini paham!." terus di pojokkan membuat Danang marah. Matanya pun memerah. Lalu dia berdiri dan meninggalkan Siska seorang diri.


"Kalau aku tidak mengakui waktu itu, kapan kamu berani jujur pada mbak Riska. Aku capek Mas selalu kamu sembunyikan. Apa menurutmu mbak Riska akan tinggal diam kalau kita kembali berbohong? Jadi bukan salahku kalau kemarin terus terang di depan dia." Siska tidak terima dianggap biang masalah.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2