
Setelah menemani Anaknya belanja keperluan dan kebutuhan di kontrakan nya yang baru, Ratih merembahkan tubuhnya di atas karpet yang baru saja di beli Riska.
Rencana nya Riska akan membeli kasur yang baru dan akan datang sore nanti. Melihat wajah lelah Ibunya, Riska tak tega kemudian menyeduhkan teh hangat dan menyodorkan di hadapan ibunya.
"Bu, ini teh hangat nya." ucap Riska.
Ratih bangkit dan mengambil segelas teh hangat buatan anaknya dan sedikit menyeruput.
"Sekarang apa rencana mu, Nak?." tanya Ratih sembari meletakkan kembali gelas di tatakan.
"Entahlah, tapi sepertinya aku akan mencoba membuka toko sembako di tempat ini. Riska akan mencari ruko yang cocok untuk usaha Riska nanti." papar Riska.
Ratih mengangguk-angguk mendengar penjelasan anaknya.
"Apapun keputusan yang kamu ambil, mama akan dukung!." ucap Ratih tersenyum.
"Terima kasih Mah." jawab Riska.
"Ya sudah mamah istirahat saja di sini. Riska yang akan membereskan sisa nya." Ratih tersenyum, kemudian merebahkan kembali badan nya di atas karpet bulu.
Kontrakan Riska merupakan kontrakan yang lumayan besar, walaupun tidak terlalu bagus seperti rumah nya yang dulu. Namun cukup untuk ia tinggali. Terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar tamu, dapur dan kamar mandi. Di samping rumah nya ada tanah kosong yang akan di jual. Sepertinya ia akan berbicara dengan pemilik tanah itu jika berniat untuk membeli tanah tersebut.
Riska sudah membayar kontrakan selama 6 bulan ke depan. Jika cocok ia akan memperpanjang masa sewa nya. Namun jika tanah itu berhasil ia beli, ia akan membangun usaha sembako sekaligus rumah yang akan ia tempati nanti.
"Mbak, yang nempati kontrakan ini?." tanya seseorang saat Riska sedang menyapu teras rumah.
"Iyah Mbak!." jawab Riska berusaha untuk ramah kepada tetangga nya itu.
"Perkenalkan saya Suci, rumah saya di depan rumah kontrakan Mbak ini. Jika Mbak berkenan bisa mampir ke rumah saya." salam perkenalan dari tetangga baru Riska.
"Salam kenal Mbak Suci, Saya Riska." sembari menghampiri tetangga nya itu dan meletakkan sapu di sisi tembok.
"Mbak Riska tinggal sendiri?." tanya Suci sembari mengendarkan pandangan ke belakang Riska. Lalu ia duduk di pagar tembok yang tinggi hanya sebatas pinggang. Karena Riska belum memiliki kursi, hanya bisa memperbolehkan tetangga nya itu duduk di pagar tembok tersebut.
"Hhhmm tidak Mbak, saya tinggal bersama ibu saya." jawab Riska singkat. Sebenarnya dia tidak nyaman jika harus mengobrol hal-hal yang tidak perlu seperti ini. Bukan Riska sombong, tapi waktu nya tidak pas. Dia baru saja sampai dan masih banyak hal yang harus di kerjakan.
"Oh, mbak masih single?." tanya Suci lagi.
Riska sedikit risih dengan pertanyaan tetangga nya itu. Untuk seseorang yang baru di temui atau di kenal seharusnya tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi seperti ini. Dan Riska merasa jika tetangga nya itu tidak sopan.
"Saya baru saja cerai dengan suami saya Mbak." jawab Riska singkat dan berusaha jujur dengan status barunya. Walaupun ia tidak terlalu suka status nya di ketahui orang banyak. Tapi karena dia adalah orang baru di lingkungan ini. Mau tidak mau Riska harus memperkenalkan status nya sekarang.
__ADS_1
"Oh janda toh. Hati-hati yah mbak jika janda di sini banyak tidak di sukai oleh ibu-ibu di sini, apalagi mbak ini janda cantik! Ibu-ibu di sini pasti kepanasan karena takut suami nya di rebut." Riska mengangkat alis nya sebelah mendengar ucapan tetangga depan rumah nya ini.
Entah hanya perasaan Riska saja atau bukan, tapi Riska menduga jika raut wajah Suci sedikit berubah. Tidak sehangat dan seramah di awal tadi. Apalagi setelah Riska mengatakan jika ia baru saja cerai dengan suami.
'Apakah dia takut suami nya aku rebut?. Cuih kok ada yah tetangga yang asal nuduh kayak gini.' Batin Riska.
"Tenang saja Mbak, saya bukan orang yang seperti itu kok." jawab Riska yang masih terdengar ramah, namun dalam hati dia ingin sekali mencakar muka orang di hadapan nya ini. Namun sebisa mungkin ia tahan. Riska tahu jika ia baru di lingkungan ini dan ia tidak ingin mencari masalah.
"Syukurlah kalau gitu." ujar Suci sinis dan menatap penuh selidik Riska dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Merasa di tatap seperti itu, "Kenapa Mbak?." tanya Riska dengan raut wajah heran bercampur bingung.
"En-enggak Mbak. Ya sudah Mbak saya masak dulu, takut suami saya sudah pulang dan kelaparan karena tidak ada makanan." ucap Suci kemudian ngacir dan berlari ke arah rumahnya.
'Hah jadi dia belum masak dan sudah mengajak merumpi di sini?." batin Riska heran dan menggelengkan kepala melihat ibu-ibu zaman sekarang yang lebih mementingkan rasa penasaran tentang urusan orang lain sedang urusan nya belum selesai. Yah walaupun alasan nya adalah untuk perkenalan tapi kan ada waktunya. Rencana nya besok ia akan bersilaturahmi sembari membawakan buah tangan kepada para tetangga nya di sini.
***
Keesokan harinya, seperti rencana nya kemarin. Ia akan mendatangi beberapa rumah tetangga nya dan memberi buah tangan sebagai salam perkenalan.
Rumah pertama yang di tuju adalah rumah Bu Rt, sebelumnya ia sudah di beritahu dimana letak rumah Rt nya.
Tak lama Riska dan ibunya sudah sampai di rumah yang memiliki pagar tralis berwarna hijau cerah. Di sekitar halaman rumah di tumbuhi berbagai macam tanaman hias berwarna-warni membuat rumah ini tampak terlihat asri.
"Walaikumsalam." teriak orang yang berada di dalam rumah. Terdengar derap langkah menghampiri mereka berdua.
"Ada yang bisa saya bantu?." tanya seorang ibu paruh baya dengan menggunakan daster corak bunga-bunga selutut.
"Begini bu, saya Riska warga baru yang menempati kontrakan Pak Haji Salim, dan ini Ibu saya, Ratih." ucap Riska menyodorkan tangan nya untuk berkenalan.
Wanita paruh baya itu menyambut uluran tangan Riska dengan hangat. Namun belum sampai berjabat tangan, tiba-tiba suara dari belakang menyadarkan mereka bertiga.
"Oh jadi ini yah, yang nempatin kontrakan Pak Haji Salim! ternyata orang nya cantik yah!." puji seseorang dari arah belakang wanita itu.
Laki-laki yang memakai sarung bercorak hijau lumut dengan kopeah di kepala nya itu tersenyum dan menjabat tangan Riska yang masih terulur di depan.
"Saya ketua RT di sini, nama saya Pak Burhan." ujar laki-laki bernama Burhan itu dengan tersenyum.
Riska melirik wanita yang di yakini sebagai istri dari RT tersebut sedang tersenyum masam.
'Gawat bertambah satu lagi orang yang tidak menyukai diriku. Sepertinya istri Pak Rt ini cemburu karena suaminya memuji aku, bagaimana ini?.' Batin Riska.
__ADS_1
"Mari kita duduk di dalam!." ajak Burhan. "Bu, ajak tamu kita ke dalam." titah Burhan pada istrinya.
Tanpa mengucap satu kata pun, Bu Rt langsung masuk ke dalam.
Riska dan Ratih saling pandang.
"Maafkan istri saya, dia memang seperti itu. Orang nya cemburuan!." jelas Burhan.
'Sudah tahu istrinya cemburuan masih saja puji wanita lain bahkan di hadapan istri nya. Dasar buaya!.' Batin Riska yang menilai sikap Burhan.
"Mari!." ajak Burhan kepada kedua tamunya.
Berhubung Riska harus menyerahkan data kependudukan nya, mau tidak mau dia harus masuk ke dalam rumah.
Setelah mempersilahkan tamu nya duduk, Burhan pun ikut duduk berhadapan dengan Riska dan Ratih yang duduk di sofa yang panjang. Sedang Burhan sendiri duduk di sofa khusus untuk 1 orang.
Tak lama Bu RT keluar dengan membawa nampan berisi 3 cangkir teh.
"Tidak usah repot-repot Bu Rt!." ucap Ratih basa basi.
"Nggak repot kok cuman air teh saja." ujar Bu Rt namun terdengar sinis.
"Baik Pak, Bu, saya tidak akan lama karena mau bersilahturahmi ke tetangga yang lain juga. Ini saya mau memberikan data kependudukan saya." jelas Riska tanpa membuang waktu.
"Oh baiklah." ucap Pak Burhan mengambil ktp beserta kk milik Riska.
"Jadi Nak, Riska ini janda?." tanya Pak Burhan menatap Riska.
"Iyah pak, saya baru saja cerai dengan suami saya." jelas Riska tanpa di tutup-tutupi. Riska melirik raut wajah Bu Rt yang terlihat sedikit gelisah dan was-was.
'Apakah ucapan Suci waktu itu benar adanya, yah? kalau di lingkungan ini, ibu-ibu tidak suka dengan janda? kalau gitu aku harus hati-hati nih.' Batin Riska yang melihat raut wajah Bu Rt sama dengan raut wajah Suci yang menatap nya tidak suka.
"Ya sudah pak, bu. Kami permisi dulu. Ini sedikit ada oleh-oleh dari kampung ibu saya. Saya ucapkan terima kasih." ujar Riska berpamitan seraya beranjak berdiri.
"Sama-sama, semoga kamu betah yah tinggal di lingkungan ini." ujar Burhan sementara Bu Rt tidak mengucapkan satu kata pun.
"Iyah Pak. Aamin."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...