Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 55


__ADS_3

"Gimana, Nak. Dapat?." Ratih yang melihat kedatangan Riska langsung memberi pertanyaan. Rasa penasaran pun menguasai pikiran Ratih.


"Nggak, Mah. Uangnya di kasih kan ke Siska, sekarang katanya Siska mau melahirkan, dia terpaksa operasi karena jatuh."


"Innalilahi."


"Tapi tenang Mah, uang mama pasti akan tetap kembali. Riska tidak akan tinggal diam." Riska tersenyum penuh kemenangan sembari menatap wajah teduh ibunya.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan, Nak?." Ratih heran melihat anaknya terlihat sumringah.


"Menjual kayu jati, Mah." Riska cekikikan setelahnya.


"Kayu jati hasil tanaman Eyang maksud kamu?" Pertanyaan Ratih membuat Riska menatap serius ke arahnya. Dia bagai puny kekuatan baru.


"Mama bilang itu tanaman Eyang? serius Mah?."


"Ya, seriuslah. Sebelum di kasih ke Narti, pekarangan itu sudah lebih dulu di tanam kayu jati oleh Eyang." Penjelasan Ratih membuat Riska tersenyum lebar. Lalu ia menjentikkan jari.


"Ya sebenarnya Narti di berikan pekarangan oleh orang tua mereka. Tapi, tidak seluas yang di berikan pada Ratih karena Ratih yang bersedia mengurus kedua orang tua mereka tersebut.


"Riska, jadi semakin yakin untuk menjual kayu jati tersebut, Mah. Agar mereka tidak semena-mena. Enak aja mau pakai uang Mama yang cukup besar itu. Dia pikir bisa lolos begitu saja, Riska awalnya jug kasihan, Mah tapi di pikir-pikir uang segitu tidak kecil. Kasihan keringat Mama, tapi mama setuju kan?"

__ADS_1


Ratih yang sejatinya perempuan welas asih itu tidak tega mendengar keponakan nya yang masuk rumah sakit, namun bila mengingat kelakuan Ibu dan anak itu membuat dia mengurut dada. Akhirnya ia menyetujui ide gila anaknya untuk menjual kayu jati tersebut.


"Iya mama setuju." Ratih menganguk setelah sekian menit terdiam untuk menimbang segala sesuatu nya.


"Mama ikut ke rumah Pak Saswi yuk! takut uangnya di ambil dan di minta juga oleh Bi Narti." Riska yang sedang rebahan di sofa teringat tentang Lek Saswi. Perempuan berwajah manis yang terkadang suka lepas kendali saat sedang emosi itu merasa perlu segera ke sana. Uang ibunya harus segera di amankan.


Saswi adalah seorang petani yang di percaya Ratih untuk mengurus sawah nya. Karena sejak awal Ratih berencana menemani Riska di kota, maka saat ini sudah tidak di garapan sendiri dan di percayakan pada Saswi. Laki-laki yang merupakan tetangg sawah milik Ratih tersebut. Ratih pun menyerahkan urusan sawah kepada laki-laki yang tinggal di desa sebelah. Karena memang sawah miliknya ada di desa sebelah.


Rencana nya Ratih ingin melihat hasil panen padinya kali ini langsung di jual semuanya dan ia akan menerima dalam bentuk uang bukan beras. Sebab, stok beras masih banyak di rumahnya.


"Ayo, Nak. Kamu benar. Mama juga takut Narti akan kembali dan mengambil uang padi. Mama siap-siap dulu." Ratih segera bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan ke arah kamar nya guna untuk mengganti pakaian, mengambil kerudung yang lebih lebar lagi dari semula yang di kenakan.


***


Pertanyaan nya siapa yang ....


Tok... tok... tok


Tidak ada jawaban sama sekali, pikiran nya semakin tidak karuan rasanya.


Narti memikirkan anak bungsunya, Siska. Dia takut terjadi sesuatu hal buruk kepada anaknya.

__ADS_1


"Siska buka pintu nya buka! Siska." namun masih tidak ada jawaban, mata Narti memanas.


"Siska buka!."


"Kamu cari Bu Siska?." Mendengar suara itu, Narti berbalik menghampiri seorang Ibu yang memakai jilbab.


"Iya Bu, saya mencari anak saya Siska. Ibu tahu Siska di mana?."


"Bapak Danang tadi baru saja memakamkan anaknya yang baru saja lahir. Sedangkan Bu Siska masih ada di rumah sakit, karena syok kehilangan anaknya."


Deg.


Dada Narti bergemuruh hebat seperti ada petir yang menyambar. Hatinya seperti tertusuk belati yang sangat tajam.


Narti menggeleng, "Ibu bercanda kan? Cucu saya tidak meninggal?."


Ibu itu mengelus punggung Narti, "Saya tidak bohong Bu, Ibu yang sabar yah. Tadi seperti nya Bapak Danang dari makam langsung ke rumah sakit jadi rumah ini kosong."


Narti tertunduk lesu.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2