Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 45 Siapa Dia?


__ADS_3

"Mau berangkat Neng?." Tegur Ningsih saat Riska melewati dirinya.


"Iya Bu. Kami pamit. Assalamualaikum." Riska menghentikan langkah nya sebentar lalu mengangukkan kepala nya sekilas ke arah tetangga yang ditutupi rumahnya tersebut.


"Hati-hati di jalan Neng, Bu Ratih." Ningsih melepaskan kepergian tetangga nya itu dengan kasihan.


Riska dan ibunya pun kembali menganguk dan mengucapkan terima kasih. Selanjutnya mereka meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang sedang kepo tersebut.


Kasak kusuk masih terdengar di telinga mereka tapi tidak di hiraukan oleh mereka. Toh, akar permasalahan nya itu sudah terselesaikan.


"Nak, istirahat dulu?." Ratih menoleh menatap anaknya yang sedang berjalan di sisinya. Mereka sudah mendekati mobil yang sudah terparkir di depan rumah Ratih. Siap berangkat.


"Nggak usah Mah, semakin cepat kita pergi semakin baik. Untuk sekarang Riska nggak mau berlama-lama di sini." Riska menoleh sebentar demi menjawab pertanyaan ibunya. Lalu tangan nya sibuk membuka pintu mobil.


"Lakukan apapun yang membuatmu senang, Nak." Ratih pun menyusul masuk ke dalam mobil dan mereka duduk bersisian.


Riska pun mulai melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan kampung untuk sementara waktu.


"Mama lega akhirnya bisa meluruskan kesalahpahaman ini, Nak." Ratih menatap anaknya yang sedang fokus menatap ke jalan.


"Sama mah, Riska pun sudah plong. Setidaknya orang lain akan paham mengenai permasalahan yang terjadi antara mama dan Bi Narti." Riska menoleh sekilas ke arah ibunya sebelum akhirnya fokus kembali ke jalanan.


"Mah, seandainya Riska menemukan jalan usaha yang cocok di tempat lain. Riska harap mama mau ikut dengan Riska. Riska tidak tega meninggalkan mama sendiri dan di perlakukan tidak baik oleh adik sendiri." Riska menatap ibunya yang sedang menautkan alis.


Ratih mendesah panjang.


"Mama sudah nyaman tinggal di kampung, Nak. Di sana banyak tersimpan kenangan dari ayahmu. Mama berdoa semoga kamu sukses dan menemukan jodoh yang berasal dari daerah kita. Sehingga hidupmu tidak terlalu jauh dari mama." Riska tersenyum tipis mendengar doa ibunya.


"Aamiin. Tapi untuk saat ini Riska belum terpikir untuk menikah lagi Mah. Sakit karena di khianati itu masih terasa di sini, Mah."


Mobil terus melaju hingga tanpa sadar sudah memasuki daerah perkotaan. Riska membelokkan mobilnya dan berhenti di mall city hendak mencari minuman untuk mengusir haus di tenggorokan nya.


Riska dan ibunya turun dari mobil. Lalu mereka masuk ke pusat perbelanjaan tersebut. Di saat sedang memilih sesuatu.


"Riska!." Riska menoleh ke sumber suara. Di tatap nya wajah pria tampan itu. Namun Riska merasa tidak mengenal pria tersebut.


Riska memicingkan mata, menautkan kedua alisnya. Otaknya berusaha mengingat-ngingat cowok di depannya yang baru saja menyapa. Pria yang mengenakan masker tersebut tampak tersenyum saat melihat ekspresi Riska yang sedang mengingatnya. Tapi, tampaknya Riska tidak berhasil menemukan jawabannya. Terlihat jelas dari gelengan kepalanya.


"Siapa ya? maaf aku lupa." Riska akhirnya jujur bila dia menyerah. Perempuan yang sedang mendorong troli itu tidak berhasil mengingat siapa pria di depan nya.


"Tidak apa Riska. Wajar sih kalau kamu lupa. Sebab buka hanya dirimu yang tidak mengenakan. Hampir seluruh teman-teman kita pun nyaris tidak mengingatku. Karena memang aku dulu bukan siapa-siapa." Laki-laki itu menatap Riska yang semakin terlihat kebingungan.


Pria yang mengenakan kaus pendek berserah dengan merek produk inport di padukan dengan celana jeans dan sepatu ketika tersebut membuka masker yang sejak tadi menutupi wajah tampan nya. Senyum manis itu terbit dari bibir merah yang tidak pernah tersentuh alkhohol ataupun rokok.

__ADS_1


Riska terdiam sejenak. Kali ini otaknya bekerja lebih keras lagi mengingat pria tampan fi hadapan nya. Namun, usahanya kembali sia-sia. Sebab memori nya tidak sanggup menemukan wajah pria muda itu di masa lalu Riska.


"Maaf, saya benar-benar lupa. Kita kenal dimana, ya?." Riska menggigit bibir bawahnya lalu menundukkan kepala nya. Merasa bersalah dan tidak enak hati sendiri. Takut dikira sombong. Padahal bukan tidak mau mengingat, bukan. Tapi, memang benar-benar tidak mampu mengenali pria gagah tersebut.


Dering handphone pria tersebut terdengar jelas. Dari nada panggilan nya, Riska paham itu yang berdering bukan milik pria di hadapan nya.


"Ya, Bun. Sebentar ini sedang mencari barangnya. Tunggu sebentar lagi, ya, Bun." cowok yang belum memperkenalkan diri pada Riska itu berbicara melalui sambungan telepon nya. Ibunya sedang menunggunya.


Menyadari pria itu sedang sibuk menelpon, Riska mendongak kembali. Menatap wajah pria tampan yang entah muncul dari belahan bumi mana. Riska kembali mencoba mengumpulkan kenangan tentang pria tinggi di depan nya.


Lagi-lagi nihil karena memang Riska tidak memiliki ingatan terhadap pria tersebut.


"Kamu masih belum ingat siapa aku, Ris?." secarik senyum manis itu kembali terbit dari bibir milik pria bertopi tersebut setelah memutuskan sambungan telepon dari ibunya.


Pertanyaan pria tersebut itu membuat Riska tersenyum malu. Dia merasa bersalah hingga kikuk sendiri. Karena benar-benar tidak paham siapa pria yang mengaku mengenal Riska tersebut.


"Aku Vino Anak Ips 1. Teman sekelasmu dulu. Ini kartu namaku. Maaf aku buru-buru harus segera pergi." Pria berpostur tinggi itu menyerahkan kartu nama pada Riska yang di ambil dari donpetnya yang di simpan di tas bagian belakang.


Perempuan itu menerima nya, belum sempat membaca kartu nama tersebut. Pria bernama Vino itu kembali mengajak nya berbicara.


"Kalau ada waktu dan berkenan hubungi nomer itu yah. Maaf sekali, aku harus segera pergi karena sudah di tunggu oleh Bunda ku di dalam mobil." ucap Vino dan di balas oleh anggukan oleh Riska.


"Ini tadi ada barang beliau yang ketinggalan." Vino kembali melanjutkan saat mata Riska menatap keranjang yang di pegang pria tersebut.


"Aku ke kasir dulu yah. Sudah di tunggu in Bunda soalnya." lagi-lagi pria itu pamit setelah mendengar kata Oh dari bibir Riska.


Riska menatap pria dengan punggung lebar tersebut. Lalu, ia teringat kartu nama yang tersedia di tangannya. "Vino Sebastian Putra." Begitu nama yang tertulis di kertas kecil yang biasa disebut dengan kartu nama.


"Vino Sebastian Putra?." Riska mengejar nama tersebut. Lalu memandangi punggung yang masih mengantri di depan kasir.


"Melihat siapa, Nak? Apa ada Siska di sini?." Ratih yang baru mencari gelas di rak sebelah bingung mendapati mematung mengamati seseorang.


Bukan tanpa alasan Ratih menyinggung nama Siska. Sebab keponakan nya yang menjadi perusak rumah tangga anaknya itu tinggal di daerah sini. Takut anak itu kembali membuat ulah yang bakal merepotkan Riska.


"Ooh itu... bukan, Mah. Bukan Siska, Kok, Mah. Barusan ketemu teman. Tapi, Riska lupa dia siapa?." Riska memberikan keterangan jujur. Lalu, tangan sebelah kanan nya mengambil gayung. Salah satu alat yang ia cari.


"Kirain Mamah siapa? Syukurlah kalau bukan Siska. Mama benar-benar tidak mau terlibat percakapan dengan anak itu lagi, Nak. Di usahakan belanjaanya cepat, ya. Mama tidak betah berlama-lama di tempat seperti ini."


Mama mengendarkan pandangan ke segala penjuru mall. Ramai oleh pengunjung.


Saat ini adalah wekeend di tanggal muda. Wajar kalau pusat perbelanjaan meluap pengunjungnya.


"Mama tenang saja, Siska tidak mungkin berani ke sini atau melabrak Riska di tempat ini. Riska yakin dia sekarang tidak mungkin gegabah setelah kejadian di taman waktu itu. Nama baiknya sudah hancur kemana-mana, Mah. Jangan khawatir tentang itu." Riska menyakinkan ibunya.

__ADS_1


Wanita yang pernah berjuang membesarkan Riska seorang diri itu pun menganguk. Padahal hatinya masih ragu-ragu, bukan sebab Ratih merasakan seperti itu. Sebab Siska bisa muncul tiba-tiba dan takut melakukan hal-hal nekat.


"Syukur kalau begitu. Semoga dia tidak bisa lancang lagi. Mama sudah merasa pusing ini." Ratih mulai memijit pelipisnya yang terasa cenat cenut.


Mendengar ucapan ibunya, Riska segera mempercepat langkahnya dalam mencari beberapa barang-barang yang di perlukan untuk keperluan di kontrakannya. Riska yang memang telah menjual semua barang di rumah lamanya, kini harus membeli barang baru untuk tempat tinggal yang baru.


Ratih yang memang tidak suka tempat keramaian. Bila di paksakan akan mendadak pusing.


Di tengah-tengah mencari barang, nama Vino kembali melintas dalam benak Riska.


"Vino?." Riska mengulang nama pria tadi sembari mengambil alat pel lan untuk di gunakan di kontrakannya nanti.


Pengakuan pria tersebut membuat Riska melongo sesaat. Detik berikutnya ia menutup mulut dengan telapak tangan nya.


Di sebut anak Ips 1 ingatan Riska langsung pergi jauh ke beberapa tahun silam. Tepatnya dimana mereka masih bangga mengenakan seragam putih abu-abu. Memori Riska pun segera memilah masing-masing wajah teman-teman seangkatan nya. Satu persatu raut mereka mulai terbanyang di pelupuk Riska.


Tak lama berselang nama Vino muncul menghiasi ingatan perempuan berkucir kuda itu.


Wajah pria culun yang tampak sering menyendiri di kelas. Tidak di perhingtungkan oleh teman-temannya sebab terlalu pendiam.


"Apa mungkin Vino yang itu? kok perubahan nya jauh sekali? Tapi, nama Vino hanya ada satu. Ah, tau ah gelap." Riska bergumam seorang diri. Ibunya yang berada di sampingnya pun nyaris tak mendengar.


Sementara waktu, Riska melupakan tentang siapa Vino. Kini fokusnya mencari barang-barang yang memang belum ada di kontrakannya. Mulai dari peralatan mandi, keperluan dapur, termasuk piring dan sebangsanya. Karpet pun menjadi salah satu barang yang di cari Riska.


"Nak, mau beli apa lagi?." Ratih mengikuti kemana langkah anaknya pergi. Perempuan yang sudah memasuki kepala lima itu mulai merasa lelah menyusuri pusat perbelanjaan tersebut.


Rasa lelah membuatnya ingin segera menyudahi berkeliling.


Meskipun Ratih jarang di ajak berpergian ke pusat perbelanjaan tapi Ibunya Riska tersebut tidak mudah silau atau kagum dengan barang-barang yang di pajang di tempat tersebut.


"Sebentar lagi yah, Mah. Ini belum semuanya. Masih ada beberapa lagi yang di cari. Nanti kalau sudah selesai kita makan dulu di bakso Sony, Mah. Atau mamah mau menunggu di depan sana? atau mau masuk ke dalam mobil terlebih dahulu?."


Riska menatap ibunya dengan sedih, karena Ratih sudah menampakkan wajah lelahnya.


"Ya sudah mama tunggu. Jangan lama-lama, mama pusing di tempat seperti ini." Ratih tipe wanita yang tidak senang berlama-lama di tempat keramaian.


Butuh waktu lima belas menit untuk Riska mencari belanjaannya yang kurang.


"Ayo, Mah. Kita tinggal ke kasir. Mama menunggu di sini atau di parkiran saja?." Riska sudah merasa kasihan melihat wajah Ratih yang terlihat lelah. Bagi Ratih lebih baik bekerja di sawah daripada berkeliling dan berlama-lama di tempat seperti itu.


bersambung...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2