
Tiba di ruang Vip tempat Septia di rawat.
"Assalamualaikum." Riska membuka pintu ruang Vip tersebut.
Setelah membuka pintu, Riska mendapati ibunya dan Abian yang sudah duduk di sofa yang di sediakan oleh pihak rumah sakit tersebut.
"Waalaikumsalam. Sini masuk!" Septia menyambut temannya dengan suara lemah.
Riska pun segera memeluk sahabat nya dan menanyakan kondisi Septia saat ini. Perempuan itu pun kemudian menceritakan kronologi bagaimana dia sampai di larikan ke rumah sakit.
Mendengar keterangan Septia dengan suaminya, Riska pun semakin geram Septia. Bagaimana tidak, sahabatnya itu memang rajanya sambal. Tidak di katakan makan bakso kalau kuah nya tidak berwarna merah oleh sambal.
"Makannya jangan makan pedas terus!" Riska memarahi Septia. Sayangnya, hanya di respon dengan nyengir kuda oleh istrinya Reza.
Setelah nya mereka berlima terlibat obrolan seru. Meskipun Ratih satu-satunya orang tua di situ, tapi tidak di cuekin oleh yang lain nya. Terlebih oleh Abian, pria itu selalu melibatkan Ibunya Riska dalam obrolan nya. Hingga tanpa sadar jam besuk sudah habis. Riska, Ratih dan juga Abian pun pamit sebelum di usir oleh petugas keamanan di sana.
***
Di tempat lain.
"Assalamualaikum," suara salam dan kenop pintu di putar membuat perempuan itu menoleh ke sumber suara.
"Kok masih banyak tisu nya, Mas. Kamu itu jualan atau hanya duduk melamun di luar sih tadi?" Danang yang letih setelah dua belas jam berjualan, kini harus di sambut omelan sang istri.
Siska yang baru saja makan malam pun segera membuang bungkus nasi padang ke sembarang arah untuk mengungkapkan kekesalan kepada suaminya yang pulang tidak membawa uang.
"Aku sudah berkeliling, Sayang. Sudah menjajakan ke semua orang tapi tidak ada seorang pun yang mau membelinya. Semua orang bilang sudah punya, lalu aku harus bagaimana lagi?." dengan wajah sendu dan perut perih Danang menjawab pertanyaan istrinya.
"Sayang, sayang nggak perlu panggil sayang. Kalau nyata nya kamu tidak bisa menafkahi aku. Karena kamu nggak bawa uang, jadi makan seadanya saja, nasi dan garam!" Siska berlalu dari hadapan suaminya yang hanya bisa melongo.
"Nasi dan garam?." Danang mengulang kembali ucapan Siska dalam hati. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan makan hanya dengan nasi dan garam. Sejak kecil walaupun hidup keluarga nya pas-pasan, ia selalu makan ada lauk dan sayur. Terlebih saat bersama Riska, walaupun dia pengangguran dan tidak pernah memberi nafkah istrinya, tapi ia selalu makan enak.
Mengingat nama Riska, tiba-tiba matanya memerah. Penyesalan menyeruak tanpa di undang.
__ADS_1
"Maafkan aku Riska! maafkan aku!." Danang memejamkan mata saat semua kelakuan busuk nya terhadap Riska melintas di kepala nya.
'Seandainya bisa memutar waktu, aku tidak pernah ingin menyakiti kamu. Aku tidak akan pernah mengkhianati kamu, Riska. Seumpama masih ada kesempatan kedua. Aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin kembali kepadamu dan mengubah seluruh perilaku ku, Ris. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi.' Dalam diam, Danang bermonolog sendiri.
"Kenapa diam? menyesal sudah menikah dengan ku? Aku pun sama. Jadi jangan berpikir jika hanya kamu saja yang tersiksa dalam pernikahan ini." Siska ngomel seperti orang yang kurang waras.
Perempuan itu amnesia atau tidak waras atau gimana? Bukankah dia yang memaksa dan menjebak Danang untuk menikahi nya, tapi seolah dia di paksa menikahi suami dari kakak sepupunya itu.
"Kalau begitu mari kita bercerai. Ingat, kalau kamu yang menjebak dan membuatku seperti ini. Seandainya kamu tidak melakukan itu, rumah tangga ku bersama Riska tidak akan berantakan dan masih akan baik-baik saja, Siska."
Mendengar kata cerai, Siska tiba-tiba menciut. Kandungan nya kini sudah menginjak usia 8 bulan, dan 1 bulan lagi dia akan lahiran. Apa yang akan terjadi jika ia lahiran tanpa di dampingi suami. Orang-orang pasti akan mencemoh dan semakin menghina dirinya karena di cerai saat dalam keadaan hamil.
Sepupu Riska tersebut mau tidak mau akhirnya meminta maaf kepada suaminya.
"Maafkan aku, Mas. Permasalahan yang sangat banyak membuat ku hilang kendali. Aku mohon jangan ceraikan aku, Mas. Aku mohon. Aku sayang dan cinta sama kamu."
Siska meraih punggung tangan suaminya, lalu di ciumnya dengan takdzim. Danang mengamati wajah istrinya yang tiba-tiba mendung, laki-laki itu pun luluh dengan permintaan maaf Siska. Danang memaklumi sikap istrinya yang tiba-tiba kasar dan kurang ajar, padahal itu hanya akting Siska saja agar tidak di cerai oleh Danang.
Tak lama handphone Siska berdering. Tanda ada pesan masuk. Segera perempuan itu mengambil dari saku celana nya.
Pesan yang baru masuk ke handphone Siska itu membuat lemas seluruh persendian yang kini sudah menjadi istri nya Danang itu.
"Bagaimana bisa?." ucapnya tanpa sadar.
"Bagaimana bisa apa?." tanya Danang tidak mengerti. Siska menolehkan ke arah pria yang menjadi suami nya.
"Bu-bukan apa-apa, Mas. Hanya orang iseng. Aku lelah aku mau tidur, aku istirahat duluan yah Mas." Tanpa mendengar jawaban Danang, Siska berlalu meninggalkan Danang yang kebingungan melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba aneh.
.
.
.
__ADS_1
Masuk ke dalam kamar, Siska mengunci kamar nya. Ia mondar mandir di sana, pikirannya tertuju pada pesan yang di kirim oleh nomer yang tidak di kenal, pesan itu berisi foto kejahatan nya di masa lalu. Siska uring-uringan di dalam kamar.
'Kenapa bisa ada foto nya sih?.'
'Apa orang itu? orang yang mengaku sebagai calon suami Riska?.' pikir Siska.
'Ya hanya dia yang sepertinya tahu rahasia ku.'
Siska tidak bisa bersuara, takut suaminya Danang mendengar ucapan nya.
Kemudian Siska mencoba untuk menghubungi nomer tidak di kenal itu namun tidak di angkat. Lalu memutuskan untuk mengirim pesan balasan.
[Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?.]
Tak lama masuk pesan balasan dari nomer itu.
[Aku hanya ingin melihat kehancuran mu. Serahkan diri mu ke polisi atau....]
[Atau apa?.] Siska gemas dengan orang yang mengirim pesan itu.
[Atau foto ini akan aku kirim langsung ke Riska, supaya dia sendiri yang akan melaporkan mu ke polisi!]
Sama-sama tidak ada pilihan yang bagus, Siska tidak ingin berakhir di penjara.
[Aku mohon jangan lakukan itu, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Asalkan jangan melaporkan ku ke polisi, aku sedang mengandung, kasihan anak ku jika aku harus melahirkan di penjara.]
[Hahaha ternyata nyali mu cemen juga yah, tidak seperti saat kamu berusaha membun*h janin yang ada di dalam kandungan Riska bahkan kamu juga yang membayar dokter untuk memalsukan rekam medis Riska, supaya mereka percaya kalau janin dalam kandungan Riska meninggal karena kelelahan, padahal kamu yang sudah memberikan sesuatu pada minuman Riska. Dasar perempuan tidak punya hati.]
Deg.
Wajah Siska memucat membaca pesan itu.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...