
Berita perceraian Riska dan suaminya, Danang sudah menyebar keseantero kampung.
Tiga orang ibu-ibu sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon ceri yang tumbuh di depan rumah tetangga Riska sebelah pojok kanan. Mereka sedang bergosip ria membahas tentang perceraian Riska dan suaminya. Padahal Ratih tidak pernah menyebarkan pada siapapun, bahkan ia menemani Riska pun tidak memberitahu siapapun.
Saat sedang seru-seru nya tiba-tiba, seseorang hendak berkunjung ke rumah Ratih, namun ia kebingungan lantaran orang yang hendak ia kunjungi tampak tidak terlihat.
"Hei Djeng Dian mau ke rumah nya Bu Ratih yah?." seru Vivi tetangga rumah Ratih.
"Iyah Djeng Vivi, tapi sepertinya Bu Ratih sedang tidak ada di rumah yah?." ucap Dian menghampiri segeromboan Ibu-ibu yang sedang duduk santai di depan halaman rumah Vivi.
"Oh Djeng Dian tidak tahu yah, kalau Bu Ratih sedang menemani putrinya di pengadilan." seru Marsidah menimpali ucapan Dian. Di jawab dengan anggukan ibu-ibu yang lain.
"Oh begitu, tapi kenapa ke pengadilan?." tanya Dian yang justru penasaran dengan apa yang terjadi.
"Lah kan apa lagi kalau ke pengadilan kalau bukan untuk mengurus perceraian." tambah Ambar.
"Siapa yang cerai Bu?." tanya Dian lagi.
"Yah si Riska lah sama suaminya. Masa Bu Ratih, kan suaminya Bu Ratih sudah almarhum." Jelas Vivi.
"Lah kalian jangan asal nyebar gosip seperti itu, nanti malah jatuh nya fitnah." ucap Dian yang tidak percaya dengan kabar berita perceraian Riska.
"Siapa yang fitnah? wong Siska sendiri yang bilang sama aku, kalau Riska itu sedang mengurus perceraian sama si Danang, suaminya. Ini aku dapet sumber dari sepupunya sendiri kok. Masa di bilang kuta fitnah." jelas Marsidah tak terima. Wanita ini memang di juluki sebagai si ratu gosip oleh tetangga sekitar, berkat nya dalam hitungan jam berita perceraian Riska sudah menyebar ke seluruh pelosok kampung.
__ADS_1
Siska dengan sengaja ingin semua orang tahu kalau Riska di ceraikan suaminya. Sebab suaminya lebih memilih perempuan lain. Perempuan yang kini menjadi satu-satu nya istri Danang itu tahu kalau di kampung peredaran gosip itu sangat cepat melebihi kecepatan Internet. Siska ingin memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkan mental Riska serta ibunya.
Siska ingin balas dendam, sebab dia yakin kalau Riska lah yang saat itu menyebarkan vidio rekaman di acara 4 bulanan nya. Siska baru menyadari perbuatan sepupunya itu saat pertengkaran hebat mereka di taman waktu itu.
"Eh mobil siapa itu?." ujar Vivi menatap heran mobil berwarna merah yang terparkir di rumah berhalaman luas tersebut.
Sebelumnya memang mereka sedikit curiga saat Riska datang ke kampung dengan membawa barang-barang seperti akan pindahan, karena itu ucapan Siska yang mengatakan kalau Riska bercerai dengan suaminya, mereka langsung percaya.
"Eh, eh itu kan Riska. Wah keren. Cerai dari suaminya langsung bisa kebeli mobil. Nah gitu dong. Habis cerai itu bangkit tidak meratapi nasib. Kalau perlu buat mantan suaminya menyesal." Perempuan berambut ikan mengacungkan jempol ke arah Riska.
"Ya wajarlah kalau dia bisa kebeli mobil. Denger-denger sih, Riska menguasai harta gono gini. Anaknya Bu Rayih itu tidak menyisakan sedikitpun untuk mantan suaminya. Serakah! Aku tidak menyangka dia bisa berlaku seperti itu. Jahat, sama persis dengan ibunya. Diam-diam menguasai harta milik orang lain." Wanita berdaster kembang-kembang serta rambut di cepol ke atas itu menjelekkan Riska dan ibunya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Wajar saja wanita yang bernama Marsidah itu teman karib nya Narti alias ibunya Siska.
"Benarkah? Masa sih? Jangan suudzan, Bu. Nanti kalau tidak benar jatuhnya fitnah loh." ujar Dian.
Mereka terus bergosip sementara Riska yang di jadikan objek penghibahan pun tidak peduli. Anak tunggal dari Ratih itu melenggang masuk ke dalam rumah ibunya dengan riang. Di sampingnya pun Septia ikut menemani.
***
Kabar kepulangan Riska dengan membawa mobil barunya pun cepat menyebar seantero kampung tersebut. Tentu Narti pun ikut mendengarnya.
Hati nya panas, iri dengki merasuk ke dalam jiwanya. Lalu ia mencari ponsel nya hendak menghubungi putrinya dan memberi kabar itu.
"Nak, Riska kembali ke kampung ini dengan membawa mobil barunya. Kurang ajar dia!." Narti menggebu-gebu saat menelpon anak kesanyangan nya tersebut.
__ADS_1
"Benarkah, Bu? kurang ajar!." di tempatnya berdiri Riska mengepalkan tangan nya kuat-kuat.
"Benarlah. Mana mungkin Ibu berbohong padamu. Suamimu sudah mendapatkan harta gono gininya? belum kan? Ibu sangat yakin Riska tidak akan memberikan. Eh Nak. Mumpung ada dia di sini. Ibu ingin kamu membuat perhitungan denganmu perempuan itu. Ibu akan nyamperin Riska dan menuntut harta gono gini yang menjadi hak nya Danang. Ibu tidak rela Riska bersenang-senang mendapatkan apapun. Ini tidak adil. Ibu akan mencari keadilan di sini."
"Jangan gegabah Bu!. Kalau ibu minta harta gono gini Mas Danang, semua orang akan tahu kalau aku yang telah merebut Mas Danang, Bu!. Aku tidak mau itu terjadi. Biarlah orang tahunya Mbak Riska di ceraikan itu saja. Jangan memperkeruh suasana, Bu." Siska menggigit bibirnya. Ketar ketid ibunya akan berbuat yang tidak-tidak.
Siska tahu betul bagaimana rasanya di permalukan oleh saudara sendiri. Seperti di acara empat bulanan anaknya kemarin.
"Sudah kamu jangan khawatir masalah itu. Lagian mereka sudah resmi bercerai. Biarlah semua orang tahu kalau Danang memilih kamu dan meninggalkan Riska. Mudah bagi Ibu memutar balikan fakta. Kamu urus saja suamimu di situ. Di sini biar Ibu yang urus. Kamu terima beres saja." dengan penuh percaya diri serta semangat empat lima, Narti meninggalkan rumah setelah menutup seluruh pintu di rumahnya.
Dengan langkah panjang dan lebar, Narti datang ke rumah Ratih yang berada di gang berbeda dengan kediaman nya.
Ibu-ibu yang masih bergosip di kediaman Vivi melihat Narti yang datang ke rumah Ratih dengan keadaan marah, rautnya tidak bisa berbohong. Sepertinya akan ada kejadian seru yang sayang jika mereka lewatkan. Mereka pun beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju rumah Ratih, layaknya sebuah tontonan, mereka tidak ingin ketinggalan informasi.
Dada Narti naik turun saat menatap mobil meran maroon milik Riska yang terparkir di depan rumah orang tuanya.
"Riska, Ris! Dimana kamu?." Tanpa salam dan basa basi terlebih dahulu, Narti nyelonong masuk rumah Ratih dengan tangan berkacak pinggang. Suara nya menggelegar memenuhi penjuru ruangan Ratih. Benar-benar definisi manusia tanpa adab.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...