Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Part 39 Debat dengan Mantan Ibu Mertua


__ADS_3

"Sudah lama. Kenapa memangnya, Bu? Ada masalah?." Riska pura-pura tidak tahu dengan maksud ucapan mantan mertua nya itu.


"Kenapa kamu menjual rumah itu diam-diam?." teriak Zainab seperti seorang jaksa yang sedang mengintrogasi tersangka yang kedapatan mencuri.


"Bu itu rumah saya, terserah saya mau aku apakan rumah itu. Tidak ada kewajiban saya untuk melapor pada Ibu." Riska sudah merubah cara panggilannya, saat menjadi menantu Zainab ia biasa mengatakan aku atau Riska. Tapi sekarang berubah menggunakan kata saya, yang mengisyaratkan jika dia adalah orang lain yang tidak ada hubungan nya lagi dengan Zainab, karena dia bukan lagi istri Danang lagi.


"Jangan seenaknya kamu, Riska! Ingat di dalam rumah itu ada duit anakku. Jangan serakah kamu jadi manusia!." sudah dua orang yang mengatai Riska sebagai manusia serakah hari ini.


"Kembalikan uang Danang sekarang juga! Atau perempuan yang di depanku ini yang akan menerima akibatnya." Riska terkesiap mendengar ancaman Zainab.


Riska terperangah beberapa detik berusaha mencerna apa yang dikatakan mantan Ibu mertuanya itu. Selama Riska menjadi menantunya, Zainab selalu bertutur kata lembut, ia tak habis pikir dengan ucapan yang keluar dari mulut Zainab saat ini. Sekarang berubah menjadi sosok yang mengerikan.


"Oh Ibu mau main-main dengan saya. Baiklah silakan ibu lakukan apa yang ibu suka. Tapi saya pastikan setelah itu Anda akan membusuk nginep di hotel prodeo alias penjara. Ibu mau minta uang Mas Danang? Baiklah kita hitung-hitungan sekarang, dengarkan baik-baik oleh ibu di sana agar paham dengan keputusanku !." Riska menghela nafas sejenak, sebelum menjawab pertanyaan ibu yang sedikit senewen.


"Ibu tahu kan selama hidup bersama saya. Apakah dia pernah bekerja? Enggak kan. Apakah dia menafkahi saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya yang harus menafkahi dia dan juga Ibu, Ibu bisa kan mengingat apa saja yang sudah saya berikan pada ibu dan Mas Danang? Pasti ingat, kira-kira berapa nominalnya? Banyak nggak? jawabannya banyak sekali Bu Zainab yang terhormat. Tak terhitung jumlahnya. Kalau mungkin saya minta ganti rugi rumah dan sawah yang anda miliki dan tidak seberapa luas tidak akan cukup untuk mengganti kerugian yang sudah saya berikan kepada ibu dan putra anda. Bahkan selama 4 tahun lamanya."


Lagi-lagi Riska menjeda kalimatnya untuk mengatur nafas mulai tersenggal-senggal menahan emosi.


"Ibu masih mendengarkan saya bukan? Silakan dengarkan cerita mantan menantumu ini. Ibu nggak lupakan kalau saya yang merenovasi rumah yang anda tempati saat ini? Uang saya jauh lebih besar jumlahnya yang digunakan untuk merenovasi rumah Bu Zainab dibandingkan dengan uang mas Danang untuk memperbaiki rumah saya. Ibu tahu berapa jumlah yang diberikan mas Danang saat itu? Jumlahnya hanya sekitar 7 juta. Tidak sebanding dengan jumlah yang saya berikan untuk ibu. 20 juta. Kalau Ibu minta uang Mas Danang, tenang saja saya akan berikan itu, tapi tolong kembalikan uang renovasi yang sudah saya berikan untuk merenovasi rumah Ibu. Serta seluruh biaya yang saya keluarkan untuk menghidupi kalian selama 4 tahun ke belakang. Sanggup ? Kalau ibu sanggup mengembalikan uang itu saya akan kembalikan uang mas Danang sebanyak 7 juta itu. Saya tidak akan meminta nafkah pada Mas Danang selama saya menjadi istrinya."


Riska menghela nafas berat lagi. Dia berjalan ke arah sofa ruang tengah, tubuh sintalnya Ia hempaskan di sofa empuk milik ibunya.

__ADS_1


"Dasar cah gemblung bilang aja nggak mau balikin uang Danang. Manusia serakah! malah ngoceh ke mana-mana.


Saat ini aku tahu kenapa kamu tak kunjung hamil, sebab kamu tidak layak mendapatkan momongan. Bagaimana layak jika sedikit saja diberikan kekayaan kamu begitu sombong. Segala kebaikan diungkit-ungkit pula. Dasar sombong pelit pula."


"Bu Zainab jaga ucapanmu ! Jangan bangga punya cucu di luar nikah. Dan satu hal yang perlu bukan setelah bayi itu lahir, jangan lupa untuk tes DNA. Sebab belum tentu anakmu yang menghamili Siska. Bisa jadi anakmu itu yang bermasalah selama ini. Semakin tua bukan semakin bijak


tapi semakin tidak memiliki etika dalam berbicara! Lain kali jaga ucapanmu.!." Spontan Riska menjawab kata-kata bekas mertua nya dengan penuh emosi. Riska mendadak kehilangan sopan santun yang di miliki nya selama ini.


Tangan Riska mengepal dengan sempurna. Dada nya naik turun, napasnya memburu. Darahnya menggelegak memenuhi seluruh aliran di tubuhnya. Emosi kini tidak dapat lagi ia tahan. Sakit hati Riska menuntut pembalasan. Bukan tuduhan pelit yang membuat Riska meradang. Tetapi, mulut Zainab yang mengatakan Riska tidak layak mendapat momongan.


"Apa maksud kamu, Riska! Tidak mungkin Danang mandul! Yang di kandung Siska pasti anaknya Danang. Aku tahu kamu iri dengan sepupu mu sendiri hingga mau memfitnahnya. Jaga ucapanmu!." Zainab tidak kalah emosi. Harga dirinya merasa di injak-injak oleh mantan menantunya.


"Saya sepupu Siska. Jadi, tahu betul bagaimana perempuan itu. Dan jangan menyesal kalau pada akhirnya sebuah rahasia besar terkuak. Saya pastikan saat itu tiba, anda menangis meratapi dan menyesal telah tega mengkhianati saya. Cepat atau lambat, anda pun akan menemukan perbedaan antara saya dan Siska. Eh, tapi saya harus mengucapkan banyak terima kasih pada Anda sebab telah mengambil Siska sebagai menantu. Dengan demikian saya pun bisa bebas dari keluarga kalian yang benalu. Selamat menyambut cucu baru dan menemukan fakta baru tentang Siska. Satu lagi, Bu. Jangan macam-macam dengan pemilik rumah itu. Berani nekat maka penjara menantimu. Saya sudah menyiapkan pengacara. Mbak Tita, tolong jangan hiraukan perempuan itu. Berani macam-macam dia akan berhadapan dengan pengacara ternama, Muhammad Abian."


Tita pun melihat punggung Zainab yang kian menjauh dengan mengurut dada dan geleng-geleng kepala.


"Halo Ris, dia sudah pergi. Seperti nya dia sangat kesal sekali. Dia pergi tanpa mengatakan apapun." ucap Tita pada Riska yang berada di sebrang sana.


Riska menghela napas lega, "Syukurlah kalau begitu mbak. Mbak bisa tenang sekali, aku jamin dia tidak akan mengusik ketenangan mbak lagi. Tapi mbak nggak papa kan?." tanya Riska khawatir.


"Iyah Mbak nggak papa, mbak langsung telpon kamu setelah ia mengancam akan menghancurkan kaca rumah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dulu kamu hidup bersama nya." lirih Tita prihatin.

__ADS_1


Akhirnya Riska dan Tita pun terlibat obrolan seru. Hingga akhirnya, Riska merasa mendapat kekuatan baru.


.


.


.


Sementara di jalan, Zainab mengomel seorang diri menuju rumahnya.


"Kurang ajar Riska!." Zainab marah-marah seorang diri sembari berjalan pulang ke rumahnya yang berbeda gang dari kediaman Riska yang saat ini sudah di beli oleh Tita.


Tujuan Zainab ke rumah Riska awalnya adalah untuk memetik bayam di halaman rumah Riska, namun ia di kejutkan dengan kedatangan orang asing yang ingin membuka rumah tersebut.


"Aku harus laporan pada Siska dan Danang." Zainab menggenggam kuat-kuat bayam dalam tangannya. Emosinya sedang memuncak.


Bersambung...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2