
Setelah urusan dengan Wisnu selesai, Riska langsung menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum, Pak. Apa kabar? mengganggu nggak?." Riska tahu saat ini orang tersebut sudah di rumah.
"Waaalaikumsalam, Bu. Kabar baik. Tumben nanya mengganggu atau nggak. Biasanya juga langsung main mengganggu tanpa basa basi terlebih dahulu. Tumben menelpon, kenapa, kangen ya?." seorang pria menggoda Riska di sebrang sana.
"Ya, kangen ingin menjitak kepala Bapak. Aku seriuslah, Mas, eh, Pak, Bi, Pak." Riska bingung sendiri memanggil orang tersebut.
"Sudahlah, Bu. Nggak usah salah tingkah begitu. Panggil namaku seperti dulu lagi. Atau aku lebih nyaman kamu panggil Pak. Ada yang beda kalau kamu yang memanggil."
"Idih! Bapak pengacara yang mulia. Saya sedang serius. Jangan terus anda godain. Nanti saya tergoda. Anda yang repot menjelaskan pada istrinya." Riska yang belum mengetahui bagaimana situasi rumah tangga Abian itu mengingatkan tentang istri pada pria tersebut.
"Istriku sedang... ah, lupakan. Ada apa? Tumben menelpon?." Abian sudah di landa rasa penasaran yang tinggi sebab tidak biasa Riska menghubungi nya. Ini kali pertama seorang Riska Sri Rahayu menghubungi mantan pengacaranya.
"Gini, Pak. Aku habis menjual kayu jati milik Bi Narti secara diam-diam. Habisnya, dia juga mengambil uang milik Ibuku sebesar 7 jutaan seenaknya sendiri. Nanti, seandainya. Aku di perkarakan sama mereka. Bantuin aku yah?." Riska merasa perlu segera mencari pengacara.
Aduan Riska di sambut tawa kecil oleh Abian.
"Kok ketawa sih? Aku serius." Protes Riska. Bibirnya pun kembali manyun agar Abian paham kalau dia tidak main-main. Padahal percuma sebab laki-laki itu tidak akan bisa melihatnya.
"Jadi mau kan jadi pengacara ku nanti? Mau lah, yah? Masak kamu tega membiarkan aku di penjara." Riska merubah suara nya. Menjadi lebih halus dan lembut sebab dalam mode merayu sang pengacara.
"Kalau aku nggak mau gimana, dong?." Di tempatnya, Abian sedang memainkan gelas bekas air minumnya sendiri. Senyum terus mengembang dari bibirnya.
Ocehan Riska adalah hiburan tersendiri bagi Abian saat ini. Teman masa kecilnya itu selalu bisa memberikan ketenangan di hati Abian. Entah perasaan apa yang Abian rasakan saat ini terhadap Riska.
"Itu artinya aku percuma punya teman pengacara. Kalau tidak bisa bantuin. Nggak ada beda nya dong dengan nggak punya teman pengacara." Di rumah orang tua Riska, Riska kembali merenggut. Dan raut Riska yang sedang kesal pun sudah terbanyangkan oleh Abian di tempatnya kini.
"Itu namanya kamu aji mumpung, nepotisme. Mentang-mentang ada punya teman pengacara kamu sesuka nya membuat ulah, begitu! Enggak, ah. Aku nggak mau bantuin kamu. Itu kan urusan kamu sendiri ulah kamu sendiri, Riska!." Abian menggoda Riska dengan nada yang serius. Seolah apa yang di katakan nya itu beneran.
"Tega kamu, Abian! Jahat kamu mah." Riska merajuk dengan suara nya yang tinggi. Kebiasaan Riska kepada Abian. Di dalam diamnya, Abian tersenyum puas sebab berhasil mengerjai Riska.
Hening. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Riska pun sedang mengatur nafas.
"Riska, Riska. Kamu itu lucu. Membuat ulah tapi tidak siap dengan risikonya. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Nakalmu kurang banyak. Seharusnya kalau sudah nekat itu ya harus berani menanggung konsekuensinya." Abian terkikik setelahnya.
"Ah, kamu malah meledek. Nyesel aku cerita sama kamu, Pak." lagi-lagi Riska merajuk.
"Ya udah kalau menyesal di kembalikan aja." Abian terkekeh di tempat duduknya saat terbanyang wajah Riska yang sedang manyun.
"Apaan sih, gaje!. Udah ah, aku mau mandi. Pokoknya kalau nanti ada apa-apa aku hubungi kamu. Dan harus siap jadi pengacaraku titik. Tidak boleh tidak! Udah yah, assalamualaikum." Klik sambungan telepon di putus setelah Abian membalas salahnya.
"Riska, Riska. Dari dulu kamu memang tidak pernah berubah." Abian menggelengkan kepala saat ingat bagaimana anak itu sering berbuat nekat tanpa memikirkan bagaimana nantinya.
__ADS_1
Masih segar dalam ingatan Abian, bagaimana dulu Riska yang saat itu berumur tiga belas tahun sering menggoda Aldo- anak kecil yang suka cengeng. Tangisan Aldo adalah hiburan tersendiri bagi Riska. Namun, Riska tidak pernah sadar bila tangis nya Aldi mengundang kemarahan orang tuanya. Tentu, Bapaknya Aldo bertanya-tanya siapa yang menyebabkan anaknya menangis? secara kompak semua mata tertuju pada Riska.
Riska yang ketakutan pun akhirnya lari tunggang langgang, mencari Abian guna mendapatkan perlindungan.
"Sepertinya kamu sedang senang, Mas." suara itu menyadarkan Abian dari lamunan nya saat memikirkan tentang Riska.
Di tatapnya wanita yang sudah mendampingi nya selama 3 tahun menjalani kehidupan berumah tangga.
Wanita itu menghampiri laki-laki yang status sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu. Kemudian dia meletakkan berkas itu di meja.
Senyum yang sejak tadi mengembang sebelum kedatangan wanita itu perlahan pudar.
"Aku harap hubungan kita akan tetap berjalan baik walaupun sudah tidak menjadi suami istri lagi." ucap wanita itu yang bernama Farah.
Abian masih diam.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik dan juga peduli padaku. Aku bersyukur bertemu dengan pria baik seperti kamu, Mas Abian. Tapi maaf hubungan kita cukup kan saja sampai di sini, Mas Raka ayah kandung Putri dia sudah sembuh dan kami berniat untuk melangsungkan pernikahan kami. Terima kasih untuk semuanya!" setelah mengucapkan itu, Farah keluar dari ruangan Abian tanpa mendengar jawaban dari Abian.
Hubungan mereka rumit.
Yah, pernikahan Abian dan istrinya tidak seperti pernikahan pada umumnya. Mereka menikah karena sebuah keterpaksaan.
Karena hutang budi pada keluarga Farah, Abian di paksa untuk menikah dengan Farah yang kondisi nya sedang hamil. Laki-laki yang menghamili Farah saat itu mengalami kecelakaan dan dinyatakan koma.
Untuk menjaga kehormatan keluarga, Abian di desak oleh keluarga Farah untuk menikah dengan Farah. Sebab kehamilan Farah yang pasti akan semakin besar, dan keluarga nya tidak ingin orang-orang tahu kalau putrinya hamil di luar nikah.
***
Di rumah Riska.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Nak. Siapa yang kamu hubungi?." Mama bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Abian Mah. Barusan Riska menghubungi Abian, meminta bantuan hukum apabila nanti Bi Narti memperkarakan pemotongan kayu jati itu." Riska cengar cengir sendiri.
Teringat perkataan Abian yang tadi, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab.
"Apa kabar Abian, Nak? Sudah lama Mama tidak berjumpa dengan nya kemarin. Kata orang banyak melihat ia pulang ke rumah nya tapi mama tidak sempat melihatnya." Mama memasang wajah sedih.
Bagi Ratih, Abian bukan hanya sekedar anak tetangga nya tapi lebih dari itu karena kedekatan laki-laki itu dengan Riska putri semata wayangnya ini. Hubungan mereka seperti layaknya kakak beradik.
Tidak jarang Ratih memasak makanan kesukaan Abian, begitu juga sebaliknya Abian sering membelikan oleh-oleh untuk Ratih melalui Riska. Tapi semua itu terjadi sebelum lamaran Abian untuk Riska. Setelah lamaran itu semuanya jadi berbeda.
"Mama kangen sama Abian? Riska bisa kok mengundangnya datang ke sini." Riska menatap ibunya penuh kelembutan sembari memainkan anak rambutnya.
__ADS_1
"Janganlah Nak, Abian orang sibuk. Dia pengacara pastinya memiliki banyak kesibukan. Memangnya kamu yang bisa pergi ke sana ke mari sesuka hati."
"Ah, gini-gini Riska anak mama juga." Riska menaik turunkan alisnya merespon ejekan ibunya.
"Iya, anak yang tidak di harapkan. Eh." Ratih menutup mulut pura-pura keceplosan.
"Ah, Mama mah gitu." Riska pura-pura merajuk. Ratih tertawa puas ketika melihat Riska menghentakkan kaki sembari masuk ke kamar mandi.
Itulah kedekatan Riska dengan Ibunya. Suka bercanda. Namun Riska bukan tipe anak yang manja. Apabila ada yang mengusik atau menyakiti ibunya maka janda kembang tersebut maju menjadi perisai ibunya.
"Eh, Mah. Kira-kira gimana responnya Bi Narti besok ketika pohon jati satu-satunya itu di tebang orang lain?." Riska yang tadinya akan mandi mengurungkan niatnya itu mengajak ibunya berpikir.
"Paling bibi mu akan mencak-mencak. Mana berani dia macam-macam. Memang dari dulu kan seperti itu." Ratih pun mulai memanaskan sayur yang ada di atas kompor. Sayur buntil yang ia beli di warung warteg langganannya.
"Mama sama Bi Narti sebenarnya saudara kandung bukan sih?." Pertanyaan Riska di sambut dengan tatapan tajam dari ibunya. Hampir saja sebuah celemek mendarat di bokong mantan istri Danang tersebut.
"Menurut kamu kami beda bapak dan beda ibu gitu?." Kali ini Riska yang di buat melotot mendengar jawaban Ibunya.
"Wah, itu mah sudah jauh banget. Mama kalau beda ayah dan beda ibu. Berarti bukan siapa-siapa dong." jawab Riska.
"Pertanyaan mu juga konyol Nak. Sudah tahu kami ada kemiripan masih di tanya pula." Ratih membasuh gelas bekas minumnya sendiri.
"Habisnya, perbedaan sifat kalian jauh banget, Mah. Yang satu lucu, kalem, baiknya nggak ketulungan. Sehingga mudah di tindak oleh orang lain. Yang satu nya bar-bar, suka merampas hak orang lain. Tidak bersyukur, suka bener menyalahkan orang lain. Apa jangan-jangan Bi Narti itu terbuat dari tanah sengketa ya, Mah?." Riska masih maju mundur di depan pintu kamar mandi.
"Maksud kamu terbuat dari tanah sengketa itu apa?." Ratih bertanya dengan polosnya.
"Ah mama gitu aja minta di jelaskan segala. Kalau mau di jelaskan bayar dulu dong." Riska menengadahkan tangannya ke arah ibunya sembari menaikturunkan alis.
"Ih jadi anak kok matre." Ratih menjawab dengan telak.
"Mama, anakmu ini tidak matre hanya realistis." Riska mencebikkan bibir ke arah ibunya.
"Huh ...dasar senjata nya perempuan. Cepat katakan maksud ucapanmu tadi, Nak." Setengah memaksa Ratih mendelik ke arah anaknya.
"Idih emak-emak suka penasaran deh. Jadi gini bukankah manusia di ciptakan dari tanah? Dan bukankah tanah itu banyak jenisnya? makanya kalau ada orang yang ribut terus, bisa jadi ia terbuat dari tanah sengketa kan, Mah. Ribut terus nggak pernah mau damai." Riska mengakhiri obrolan dengan sebuah senyuman.
Inilah kedekatan Riska dengan Ibunya. Momen-momen seperti inilah yang di rindukan Riska ataupun Ratih saat ngobrol berdua, bercanda, berbincang berdua, tapi sayangnya setelah menikah dengan Danang. Riska jadi tidak bisa bercanda dengan ibunya seperti saat ini.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
"