Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 63


__ADS_3

"Ya Allah ... ini kenapa?." Riska panik di dalam mobil setelah berulang kali mencoba menyalakan mesin kendaraan tersebut, tapi tak kunjung menyala. Riska pun segera mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru daerah situ.


"Alhamdulillah... itu ada bengkel mobil." Riska bermonolog seorang diri. Lalu, perempuan itu pun segera keluar sari mobil setelah mengambil clutch bag dari atas dashboard mobilnya. Riska pun segera membawa langkah kakinya menuju bengkel. Namun, baru beberapa langkah dari mobilnya, perempuan yang mengenakan wedges berwarna hitam itu di kejutkan oleh suara yang memanggilnya.


Spontan Riska pun minggir ke sisi jalan. Riska mengamati kendaraan yang ada di depannya. Riska terkesiap kaget saat menyadari siapa laki-laki yang memanggilnya. Pria itu turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.


"Mobilmu kenapa?." Pria yang memarkirkan kendaraan nya di depan Riska pun bertanya.


"Nggak tahu. Tiba-tiba saja mogok. Maklum mobil second." Riska memasang wajah bete.


"Mau ke rumah Rizki? Kita pasrahkan dulu ke bengkel itu. Lalu kita berangkat bareng." ucap Pria itu dengan entengnya. Tangannya nya pun menunjuk ke arah bengkel yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka berdiri saat ini.


Riska terdiam sesaat. Seolah sedang menimang sesuatu. Apakah ia harus ikut dengan teman cowoknya atau memilih memesan taksi online?.


"Ayo kita ke bengkel. Mana kuncinya?." Pria yang mengenakan kemeja batik tulis solo dengan bawahan celana kain serta sepatu pentofel itu berjalan ke arah bengkel, setelah meminta kunci mobil pada Riska. Riska hanya bisa mengikuti nya dari belakang tanpa bisa protes. Karena memang kendaraan roda empat miliknya butuh di servis.


Situasi bengkel yang lenggang alias tidak banyak mobil yang di servis membuat kami di layani dengan segera oleh pegawai bengkel tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya pria berseragam bengkel tersebut. Pria tersebut memandang kami secara bergantian.


"Itu mobil teman saya mogok. Nanti tolong di periksa, ya." Tangan Vino menunjuk ke arah mobil merah milik Riska yang terletak hanya seratus meter dari bengkel ini. Lali pria berhidung bangir itu menyerahkan kontak milik Riska pada salah satu karyawan laki-laki di hadapan mereka.


"Memang, keluhan nya apa, mbak?." kini Riska yang di minta keterangannya.


"Tadi tiba-tiba mogok aja, Mas. Nggak tahu kenapa?." ucap Riska apa adanya. Riska memang belum terlalu paham dengan kerusakan mobil sehingga hanya bisa berkata jujur.


Pria di hadapan nya itu yang sudah mau memegang kunci mobil nya pun hanya mangut-mangut tanda mengerti dengan penjelasannya.


"Mas, kamu tinggal ya. Usahakan hari ini selesai." Vino mewanti-wanti pria beeseragam wearpack bengkel tersebut.

__ADS_1


"Kami usahakan, Mas. Kalau memang tidak berarti bisa cepat selesai. Kita lihat bagaimana nanti. Biasanya sih itu aki nya." Pria yang di wanti-wanti pun memberikan jawaban yang masuk akal.


"Iya, biasanya kalau mogok gitu kan aki nya. Makanya, nanti di usahakan di tangani lebih dulu ya. Biar pulangnya sudah bisa di ambil." Vino kembali mengingatkan pegawai bengkel tersebut. Ucapan pria di samping Riska hanya di sambut dengan anggukan kepala oleh karyawan tersebut.


Setelah merasa cukup, Vino pun meninggalkan bengkel lalu membawa langkah kaki nya ke arah mobil.


"Yuk, kita berangkat bareng aj, ya." ajakan Vino tidak langsung Riska respon.


Riska berpikir sejenak seraya melirik arloji pergelangan tangan. Sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit. Artinya acara sudah di mulai dari setengah jam lalu. Dan Riska masih di sini. Sementara jarak rumah Rizki masih jauh lagi.


"Aku menunggu taksi online aja, yah." Riska menolaknya secara halus. "Terimakasih sudah mau berhenti dan membantuku." lanjut Riaka seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Biar bagaimanapun Riska merasa tidak enak kalau harus satu mobil dengan Vino, berduaan pula.


"Riska! ini sudah siang. Kalau kamu menunggu taksi kelamaan. Apalagi kamu belum memesan nya bukan?." Vino menyelidik wajahnya. Riska masih bergeming.


Android yang berasa di dalam cloud milik Riska pun berdering. Dengan segera di buka tas tangan tersebut. Lalu Riska keluarkan benda canggih dari dalamnya. Riska menggigit bibir bawah saat nama Firly muncul di layar handphone sebagai pemanggil.


"Jadilah Fir. Tapi saat ini mobil ku sedang mogok di jalan. Mungkin akan telat. Apa sudah pada kumpul semua?." Riska balik bertanya sembari menatap ke arah Vino yang sudah berdiri di dekat pintu mobil.


"Sudah, sudah pada ngumpul semuanya. Tinggal kamu sama Vino dan satu lagi siapa ... lupa aku. Tinggal kalian bertiga yang belum hadir." Firly memberi keterangan.


"Oke. Tunggu aku. Jangan dulu bubar sebelum aku datang ya." Riska mewanti-wanti.


"Iya, tapi jangan biarkan kami tanpa kepastian." Firly bercanda meskipun di balut dengan suara yang terdengar serius. Setelahnya Firly pun memutuskan sambungan telepon mereka.


"Sudah di tungguin kan? Ayo sekarang kita berangkat aja. Kelamaan kalau nunggu taksi." ucap Vino sembari membukakan pintu mobil untuk Riska.


Terpaksa Riska mengikuti keinginan Vino, menumpang mobil miliknya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, ya. Sudah memberikan tumpangan." hanya kata itu yang meluncur dari bibir nya setelah mobil berjalan meninggalkan bengkel.


"Sama-sama Riska. Aku senang kok membantu mu." Cowok di belakang kemudian itu menatap Riska sekilas sembari tersenyum.


Riska tersenyum ke arahnya. Tiba-tiba saja memori Riska berjalan kembali ke masa lalu. Masa putih abu-abu.


Riska mulai membandingkan wajah pemuda di samping nya ini dengan zaman putih abu-abu dulu. Memang ada beberapa wajahnya yang tidak ikut berubah. Rahangnya yang tegas, hidung mancung dengan bagian cupingnya yang sedikit lebar.


Riska pun segera menatap lagi ke arah jalan. Jangan sampai Vino merasa sedang memperhatikan perubahan wajahnya.


Ya, perubahan wajah itu terjadi begitu banyak. Nyaris 180° derajat. Seandainya saat itu Vino tidak menegur nya waktu itu, sampai kapan pun ia tidak akan dapat mengenalnya. Riska benar-benar tidak kenal apabila tidak di tegur dan di ingatkan terlebih dahulu. Sebab perubahan yang drastis berbanding terbalik dengan wajahnya di beberapa tahun silam. Dan dari sini Riska sepakat kalau uang memang mampu mengubah segalanya. Termasuk wajah lelaki di sebelahnya itu.


Dering smartphone di atas dashboard terdengar nyaring. Riska pun meliriknta sekilas sebelum akhirnya benda itu di ambil oleh pemiliknya. Vino hanya mengecek siapa yang memanggil tanpa berniat mengangkatnya. Lalu, di letakkan kembali benda canggih itu ke atas dashboard hingga panggilan itu mati sendiri.


Dapat Riska dengar helaan nafas lega dari Vino setelahnya. Namun tak lama berselang benda itu kembali menjerit. Vino pun kembali mengeceknya kemudian di letakkan kembali.


Alih-alih menjawab ucapan Riska, Vino justru menghela nafas panjang.


"Tidak penting sama sekali dia hanyalah..." kata-kata Vino tidak di lanjutkan. Dia malah menolak panggilan tersebut.


Riska terdiam.


"Ehm... kok istrimu nggak ikut?." Riska sengaja memancingnya. Sekalian mengecek kebenaran yang di katakan gosip yang di sampaikan Wisnu waktu itu.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2