Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 37 Menagih Harta Gono Gini


__ADS_3

Ratih yang sedang membereskan pakaian nya di kamar itupun menghentikan aktivitasnya. Keluar dari kamar dan mendapati adiknya yang teriak-teriak di rumah nya. Lalu ia menatap tajam ke arah adiknya yang akhir-akhir ini ia selalu hindari. Bukan takut kalah, bukan tapi ia merasa jijik melihat wajah Narti tersebut.


"Ini bukan hutan yang bisa teriak-teriak sesuka hatimu! Ada apa datang-datang marah-marah nggak jelas? ngapain cari Riska? Ada apa? Belum puas kamu menghancurkan hidup anakku? kenapa masuk mencarinya? Ada urusan apa lagi kamu mencari anakku? Mau bilang kalau kamu mau mengucapkan selamat karena sudah menjadi janda, begitu? Atau mau bilang kalau Siska sedang mempersiapkan kelahiran anak hasil hubungan gelapnya dengan Danang,? Aku pastikan anakku tidak akan terpengaruh apapun! aku rasa Riska malah akan bersyukur sebab Siska telah mengambil benalu dalam hidup Riska. Jadi simpan saja semua hinaanmu itu Tidak berpengaruh pada anakku. Paham!." Ratih tidak bisa beramah tamah dengan Siska dan ibunya lagi. Dikhianati membuat Ratih berubah. Bahkan saat ini pun Ratih sedang bertolak pinggang dan menatap tajam adiknya seakan sedang menguliti adiknya itu.


Narti mengepalkan tangan nya kuat-kuat. Dada nya naik turun kian tak beraturan. Bibirnya kumat kamit tidak jelas. Alih-alih malu dan minta maaf pada Ratih karena telah ikut andil menghancurkan rumah tangga keponakannya, Narti malah semakin menjadi. Dia berlalu pergi dari ruang tengah dengan menghentakkan kaki nya. Lalu berjalan menuju kamar Riska.


"Ris! Riska! keluar kamu!." di gedor pintu kamar Riska dengan kekuatan penuh. Narti sudah memasang wajah merah padam Lagi-lagi perempuan itu bertolak pinggang.


Tapi hingga beberapa detik kemudian tidak ada respon dari dalam kamar tersebut.


"Riska! keluar kamu, Ris!." kini bukan tangan yang menggedor daun pintu tersebut. Tapi kaki Narti yang melakukan nya.


Riska dan Septia yang sedang tidur pun terhenyak kaget di buatnya.


"Ada apa, Ris? itu suara siapa?." Septia terbangun dengan kaget hingga dia merasakan pusing mendadak.


"Itu suara ibunya Siska. Entah mau ngapain dia?." Riska duduk dengan tenang terlebih dahulu. Di biarkan gedoran tersebut.


"Gila mau ngapain dia? kok masih berani ya muncul di hadapan ibumu? Apa dia tidak punya urat malu?." Septia menggelengkan kepala nya. Tidak menyangka ibu dari bekas madu nya Riska berani datang ke rumah tersebut.


"Sudah putus kali urat malunya. Aku mau keluar. Dia harus di basmi agar enyah mukanya dari rumah ini. Tapi, kamu di sini saja yah. Jangan ikut keluar." Riska tidak mau Septia terlibat urusan nya dengan Bibi nya terlalu dalam.


"Rupanya kamu tidak tahu bahasa manusia yah, Narti! Sudah ku bilang jangan teriak-teriak di rumah orang. Tapi, rupanya kamu nggak paham dengan omongan ku. Bahasa apa yang saat ini kamu pahami? Aku bilang pergi. Pergi jangan ganggu anak ku lagi!." Dada Ratih naik turun sebab menahan emosi melihat kelakuan adik kandungnya tersebut.

__ADS_1


Narti menatap tajam ke arah kakak nya tersebut. Hatinya mencelos di katakan tidak mengerti bahasa manusia. Dia merasa di samakan dengan binatang.


"Aku tidak akan pergi sebelum menemui Riska! Akan kudidik anak mu terlebih dahulu! Biar ku ajarkan keadilan padanya." Narti bersungut-sungut dengan tatapan terus mengarah ke daun pintu.


Ratih menggeleng-gelengkan kepala nya kuat, heran dengan pola pikir adiknya tersebut.


Tangan ibunya Riska tersebut mengepal kuat-kuat. Hatinya sakit mendengar Narti ingin mendidik anaknya. Seolah dia adalah Ibu yang telah gagal mendidik anaknya.


"Keadilan? Keadilan yang seperti apa yang mau kamu ajarkan pada Riska? Sok sok an mau mengajari anak orang lain kalau kamu sendiri saja tidak bisa mengajari dan mendidik anak mu dengan benar!."


Suara knop pintu di putar dari dalam. Pertanda sang pemilik kamar hendak keluar.


"Ada apa ribut-ribut di depan kamar ku? Mai apa bibi gedor-gedor dan teriak-teriak di rumah orang?." Riska dengan muka bantal dan kerudung yang tersampir di pundaknya muncul di ambang pintu.


"Tunggu di sini. Aku mau cuci muka sama mau pipis dulu." Tanpa rasa bersalah Riska berlalu pergi dari hadapan bibirnya, lalu berjalan melenggang ke arah kamar mandi.


Ratih pun meninggalkan adiknya seorang diri yang sedang tersenyum nggak jelas.


Dalam benaknya, Narti bersorak gembira sebab kata-kata Riska. Ada secercah harapan dari harta gono gini milik Danang. Dia pikir Riska menyuruhnya menunggu sebab akan memberikan uang tersebut ke bibinya.


Dengan muka yang fresh, Riska keluar dari kamar mandi. Lalu, berjalan menuju teras depan. Di lewati Bi Narti yang masih setia berdiri di depan kamar Riska.


Ternyata masih ada ibu-ibu kepo yang masih setia menunggu apa yang sebenarnya terjadi, mereka masih belum begitu paham karena obrolan antara Ratih dan Narti itu tidak begitu jelas karena mereka hanya mengintip di depan teras rumah Ratih.

__ADS_1


Begitu Riska keluar rumah, Riska memergoki ibu-ibu tersebut. Namun bukan nya marah, Riska justru tersenyum. 'Ini akan mempermudah aku untuk mempermalukan kamu, Bi.' Batin Riska melirik ibu-ibu yang hobi menggosip itu.


Sadar jika Riska melewati nya, Narti berjalan mengikuti Riska ke teras rumah. "Riska. Mana uang nya?."


"Uang? uang apa, Bi?." pura-pura bodoh adalah jalan di pilih Riska. Wanita yang belum ada sehari menyandang status janda itu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi yang terbuat dari bambu.


"Uang hasil harta gono-gini kalian." Narti berdiri di depan Riska. Wajah yang tadi sempat cerah kini kembali suram.


Ibu-ibu yang menonton hanya saling pandang heran namun mereka memilih diam dan menyimak saja.


"Harta gono gini antara aku dan Mas Danang maksudnya?." Riska menatap bibi nya dengan seulas senyum tipis. Riska masih berusaha mengajak bicara baik-baik pada Ibunya mantan madunya tersebut.


"Iyalah. Siapa lagi memangnya? sudah jangan berbelit-belit. Cepat ambilkan uangnya! Aku sudah tidak betah berlama-lama di sini." Narti menaikkan suara nya beberapa oktaf. Dia merasa sedang di permainkan oleh keponakannya sendiri.


"Kalau memang nggak betah lama-lama di sini ya silahkan pulang! Toh, aku tidak akan memberikan harta gono gini tersebut. Sebab memang tidak ada harta yang perlu di bagikan. Semua itu memang milikku." Dengan tenang Riska mengatakan itu. Di tatap nya orang-orang yang berada di sana yang sedang menonton bahkan yang melintas di jalan depan rumah ibunya tersebut.


"DASAR manusia serakah! Kamu itu memang tidak punya hati! pantas saja kalau Danang meninggalkan kamu dan memilih Siska. Kamu memang perempuan tidak punya hati. Sudah menghancurkan usaha anakku kini tidak mau membagikan harta gono gini. Benar-benar manusia serakah!." telunjuk Narti menunjuk muka Riska yang tersenyum kecut ke arahnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2