
Saat ini Riska sedang berbelanja kebutuhan warung sembako nya di pasar tradisional bersama dengan seorang yang akan menjadi karyawan nya nanti.
"Lis, apa sudah semuanya?" tanya Riska kepada perempuan yang akan menjadi karyawan nya itu.
Sebenarnya Riska masih bisa menghandle sendiri warung sembako nya yang baru ia rintis itu, karena memang usaha sebelumnya pun ia kerjakan sendiri. Tapi sepulang dari kampung, seorang perempuan yang usia remaja itu memaksanya untuk dipekerjakan. Ia sudah lelah tinggal di jalanan terlunta-lunta.
Karena Iba dan merasa kasihan, Riska pun menerima Lisa untuk bekerja dengannya. Dengan syarat kalau gaji nya belum bisa maksimal karena usaha nya pun masih baru.
"Sudah Mbak!" ucap Lisa setelah memeriksa catatan di tangannya.
"Ya sudah ayo sekarang kita pulang!" ajak Riska.
...----------------...
"Kamu simpan saja, barang-barang itu di warung. Setelah kita sarapan, baru kita akan bereskan sama-sama. Mbak masuk dulu ke rumah!" titah Riska setelah tiba di rumah dan memarkirkan mobilnya.
"Iyah Mbak." jawab Lisa patuh. Kemudian langkah kaki gadis itu menuju warung yang Riska bangun di samping rumah kontrakan nya.
Riska berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Riska membuat menu yang paling simple di kerjakan, nasi goreng telur sosis.
Tak lama makanan pun sudah jadi, berbarengan dengan Lisa yang baru masuk ke dalam rumah.
"Wuih Mbak masakan nya harum sekali!" ucap Lisa tersenyum.
"Benarkah?"
"Iyah rasa-rasa cacing di perut ku ini terus meronta minta di isi." jawab Lisa terkekeh.
"Ada aja kamu!." ucap Riska seraya mendudukkan bokong nya di kursi.
"Oh Iyah Mbak aku mau ngucapin terima kasih karena Mbak mau menerima Lisa di sini." ucap Lisa tersenyum menatap ke arah Riska.
"Iyah, jangan sungkan Mbak juga di sini sendiri, kalau kamu di sini. Mbak jadi punya teman." jawab Riska membalas dengan senyuman. "Anggap saja mbak ini kakak kamu yah?" ucap Riska.
Lisa pun mengangguk.
Mereka pun makan sarapan dengan khitmad sebelum memulai aktifitas mereka hari ini.
Saat sedang sibuk-sibuk nya, deringan ponsel milik Riska berbunyi.
Tertera nama Abian memanggil. Namun tak lama deringan ponsel itu mati, di gantikan dengan pesan masuk masih dari Abian.
Tangan Riska membuka nya pesan masuk dari Abian.
[Apakah kamu sibuk? Aku ingin mengajak mu bertemu dengan Keynan.]
__ADS_1
Kedekatan Riska bersama Abian kembali terjalin, bahkan saat mereka pulang dari reuni pernikahan Rizky.
Saat itu Abian meminta di traktir Riska. Dan Riska pun menyanggupi nya dengan senang hati.
Mereka pergi ke warung pecel yang terkenal enak walaupun katanya warung tersebut belum lama buka.
Dengan mengendarai kendaraan masing-masing, mereka tiba sekitar 20 menit ke warung pecel tersebut.
Riska dan Abian menikmati makanan mereka dengan suasana alam terbuka, semilir angin dan suasana pesawahan membuat makanan mereka terasa nikmat.
Beberapa kali Riska meneguk air putih karena kepedesan.
"Pedes banget?" Abian khawatir dengan Riska yang bibirnya mulai memerah karena pedas. Berkali-kali wanita itu menyusut ingus dan keringat di keningnya.
"He'eh tapi enak sih. Bikin nagih. Kamu suka menulis seperti ini?" jawab Riska usai meneguk air putih di gelasnya hingga tandas.
"Ya rasa pecel ini mengingatkan aku pada masakan ibu," Abian terdiam setelahnya.
Riska tahu bagaimana perasaan temannya pun terdiam. Dia memberi waktu pada Abian untuk menyelami perasaannya.
Mereka kembali terdiam beberapa menit kemudian.
"Oh iya, kamu tadi mau ngomong apa?" Abian mengingatkan setelah ia kembali bisa menguasai perasaannya.
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan Keynan, sebenarnya siapa Keynan? Apa hubungan nya denganmu?" Riska menjeda melihat ekspresi Abian sesaat.
Abian menarik nafas dalam-dalam.
"Kamu ingat dengan Novita? teman kita yang rumahnya tidak jauh dari sekolah." Abian mengamati wajah Riska. Perempuan itu memicingkan mata ke arah lawan bicara nya.
"Iya ingat. Gadis cantik yang sederhana. Rumahnya yang masih bilik itu bukan sih?" Riska memastikan ingatannya.
Namun, perempuan itu masih bertanya-tanya apa hubungan nya dengan pertanyaan nya tadi?
"Iya betul, di hamil dengan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Tapi sayangnya pria itu tidak bertanggung jawab." keterangan dari Abian membuat Riska beristighfar dan menutup mulutnya sendiri.
"Jangan bilang kalau Keynan anaknya Novita." Riska mencoba mengambil kesimpulan.
"Tepat sekali dugaanmu, Riska." Abian kembali menarik nafas.
"Lalu, sekarang dimana Novita berada? bagaimana keadaannya saat ini?" Riska yang mudah simpati pun merasa prihatin dengan nasib temannya.
"Novita meninggal usai melahirkan. Bapaknya kena hipertensi dan meninggal dunia setelah mendengar kabar putri bungsu nya hamil di luar nikah."
"Innalilahi... ya Allah .... padahal kalau nggak salah dia tinggal punya satu orang tua nya. Ibu nya kan meninggal dunia saat kita masih SMA kan?" Riska kembali mengingat sosok orang tua Novita.
__ADS_1
"Kamu benar. Kasihan sekali nasib Novita. Hamil di luar nikah karena di jebak, lalu di campakkan begitu saja. Beruntung waktu itu Bu Mayang ada di samping Novita saat masa-masa sulit bagi perempuan itu. Bahkan Bu Mayang ada di detik-detik persalinan Novita."
"Siapa Bu Mayang? Apa bunda Keynan?" Riska ingin tahu, Abian mengangguk.
Jawaban Abian membuat Riska tercengang. Namun perempuan itu belum puas. Sebab inti rasa penasaran nya belum di jawab.
"Lalu kemana laki-laki yang menghamili Novita?" pertanyaan Riska membuat Abian menoleh ke arah perempuan di sampingnya.
"Kamu tahu siapa bapaknya Keynan?" Riska menggelengkan kepalanya.
"Coba ingat-ingat, siapa kerabatmu yang memiliki garis wajah nyaris sama dengan Keynan?"
Riska terdiam beberapa saat. Memorinya menjelajahi wajah saudara-saudara nya.
"Benar nggak kalau mirip Arman?" Riska mencoba menerka-nerka.
"Iya. Keynan banyak kemiripan dengan Arman." keterangan Abian membuat Riska tersentak kaget.
Arman adalah kakak Siska yang kini menetap di Kalimantan. Semenjak keberangkatannya, lima tahun lebih dia tidak pernah pulang. Setahu Riska, sepupunya itu telah menikah dengan orang lokal sana. Dan Riska pun tidak tahu kabar nya sekarang.
"Arman yang menghamili Novita? Apakah mereka sebelumnya menjalin hubungan?" Riska merasa kaget mendengar semua ini. Perempuan itu memang tidak tahu seperti apa hubungan Novita dan Arman sepupunya.
"Novita tidak pernah pacaran di dekati oleh Arman. Pria itu datang dengan memberikan sejuta impian. Novita, gadis lugu menjatuhkan hatinya pada Arman. Mereka pacaran baru 6 bulan. Baginya, Arman pemuda yang baik dan bisa di percaya. Sehingga ia rela di bawa pergi ke suatu tempat. Di pikir mau di ajak piknik. Apapun yang di berikan Arman selalu di terima dengan senang hati. Termasuk sebotol minuman kaleng. Satu botol Novita teguk hingga habis tanpa curiga. Sayangnya, Arman membawanya ke rumah kosong. Dan di sanalah ia menodai Novita." keterangan Abian membuat Riska geleng-geleng kepala.
Ternyata bukan hanya Siska yang perlakuan nya minus, kakaknya pun sama. Dan itu membuatnya merasa miris.
"Lalu apakah Novita sudah pernah mencoba menemui Bi Narti?" pertanyaan Riska membuat Abian menatap intens wajah temannya.
"Bibi mu lah yang mengusirnya. Dan menyuruh Arman segera ke Kalimantan. Perempuan itu tidak mau menerima Novita. Bapaknya Novita orang yang tidak punya dan tak mampu berbuat apa-apa selain pasrah. Tapi, dalam diam menjadi beban pikirannya. Hingga akhirnya meninggal dunia dengan keadaan hipertensi."
Riska benar-benar tidak menyangka kalau bibi nya menjadi manusia yang super tega.
"Novita berpesan padaku sebelum ia menghembuskan nafsu terakhir kali nya. Ia tak mau Arman tahu tentang anaknya. Novita meninggal dunia dengan rasa sakit yang tidak terobati." keterangan Abian membuat Riska meneteskan air mata.
Perempuan itu membayangkan betapa sulitnya masa itu untuk Novita.
Mereka berdua terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing.
"Pak, apa yang ingin kamu katakan tadi?" Riska sudah menguasai keadaan. Dia pun teringat akan Abian yang ingin membicarakan sesuatu.
"Maukah kamu ikut membesarkan Keynan bersamaku?" Riska mengenyitkan keningnya tidak paham dengan ucapan sahabatnya. Riska yang tidak tahu apa-apa berusaha keras mencerna permintaan Abian.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...