
Sementara fitnah Narti masih berlanjut.
"Kalau aku jelaskan, apa ibumu mau mengembalikan padaku?. Nggak kan. Jadi percuma. Sudah minggir sana anak kecil!." Narti mencoba melabrak tubuh Riska yang berdiri kokoh di tengah.
Dengan satu gerakan Riska berhasil membuat mundur bibinya.
"Bi, sudah cukup aku diam selama ini. Sudah cukup aku mengalah selama ini. Bahkan sudah kuserahkan dan kuikhlaskan Danang untuk Siska. Tapi, aku tidak akan pernah tinggal diam saat ibuku di firnah yang tidak-tidak oleh kalian. Apa sebenarnya yang kalian inginkan dari kami? Ada masalah apa sehingga bibi dan anaknya tidak berhenti membuat masalah dengan kami?."
Di jalan Riska meluapkan emosinya terhadap ibunya Siska.
Riska tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melintasi mereka.
"Kamu mau tahu kenapa aku benci dengan ibumu? Karena dia telah merampas harta yang seharusnya menjadi milikku. Kamu paham! gara-gara kalian hidup kamu menderita! masih tidak sadar juga?." Narti yang di pojokkan semakin meninggikan suaranya.
Dengan tergopoh-gopoh Ratih menghampiri anaknya yang sedang adu mulut dengan adiknya di pinggir jalan tersebut.
"Itu tidak benar sekali, Narti! Aku tidak pernah merampas apa yang menjadi hak mu! Aku hanya menerima apa yang di berikan emak dan bapak tanpa pernah menginginkan lebih. Sangkaanmu salah besar, Narti!." Ratih yang selama ini selalu mengalah pun kali ini tidak bisa tinggal diam.
Ratih menggelengkan kepala sembari mengerut dada.
"Heh, mulut dan tindakanmu tidak selaras sama sekali, Ratih!. kamu pembohong! serakah! aku menderita kamu juga tidak peduli!." Wanita yang di panggil Narti itu tersenyum sinis ke arah kakaknya.
Ratih dan anaknya hanya bisa saling pandang dengan menggelengkan kepala.
Perempuan yang usianya di bawah Ratih itu udah tidak bisa berlaku sopan terhadap kakaknya sendiri. Bahkan memanggil Ratih tanpa embel-embel Mbak yu, seperti biasa ya.
Suara Narti yang melengking mengundang ibu-ibu untuk ke luar rumah dan melihat apa yang sedang terjadi di jalan. Dalam hitungan menit jalan lintas antar desa itu sudah penuh dengan orang-orang yang menonton pertengkaran kakak adik tersebut.
"Apa alasanmu menuduh aku serakah, Narti? Bukankah aku telah membantu membiayai anak-anakmu setelah di tinggal mati suamimu? lalu di bagian mana aku tidak peduli?." Ratih menatap nyalang ke arah adiknya.
Dia pun sudah tidak peduli lagi bagaimana reaksi orang-orang yang menonton mereka. Baginya, harga diri adalah segalanya. Dia tidak mau terus menerus di tuduh yang bukan-bukan oleh Narti. Kesabaran wanita yang memiliki sifat welas Asih itu sudah terkikis habis oleh kelakuan adiknya. Narti benar-benar menguji kesabaran nya.
__ADS_1
"Kamu peduli sama aku itu wajar, sebab ada harta yang kamu ambil. Jadi kalau di pikir-pikir kamu sedang tidak membantuku, tapi memang sedang memberikan hasil sawah yang kamu garapan, dan pekarangan rumah yang kamu tempati itu juga seharusnya menjadi milikku kalau kamu tidak serakah. Dasar penjilat!." Narti mengacungkan telunjuk nya ke arah wajah kakak perempuan satu-satunya itu.
Semua orang yang menonton hanya bisa menggelengkan kepala nya kuat, mereka miris dengan apa yang di lihatnya.
Dada Narti naik turun, napasnya tersenggal-senggal. Suara nya bergetar.
"Seandainya kamu tidak serakah, maka aku dan anak-anak tidak akan sengsara dan kelaparan, Ratih!." kepahitan di masa lalu kembali terbanyang di kepala Narti hingga membuat emosi nya kembali memuncak.
"Benarkah itu?." suara seseorang terdengar di telinga Ratih.
Ratih menggelengkan kepala kuat, hatinya sakit di tuduh begitu kejam oleh adiknya sendiri.
"Kok kayak nggak percaya yah. Masak Bu Ratih tega merampas hak adiknya." Bu Ningsih menolak percaya, baginya Ratih adalah wanita yang hidup nya lurus-lurus saja. Merasa aneh dan janggal apabila wanita sebaik itu di tuduh mengambil milik Narti.
"Benar apa yang di katakan Bu Narti, kakaknya itu kan merampas hartanya." Marsidah ikut menimpali, wanita yang merupakan sahabat dekat Narti itu datang dan ikut bergabung dengan kerumunan yang ada di sana. Seolah dia ingin ikut menjadi kompor.
"Diam, Bu. Kalau tidak tahu kebenaran jangan ikut campur. Nanti malah jadi fitnah. Dari kemarin ibu membela Bu Narti tapi selalu saja salah." Ningsih geram dengan Marsidah yang ikut menyalahkan Ratih padahal tidak tahu kebenarannya.
"Astaghfirullah... Narti. Jadi ini alasan mu menuduh aku serakah? Baik mari kita jabarkan semuanya. Mau di sini atau di rumah Pak RT? Biar kamu melek dan tidak terus mengira aku merebut hartamu!." Ratih benar-benar geram dengan kelakuan adiknya.
Perempuan dengan gamis kembang-kembang itu mengurut dada sejenak sebelum akhirnya mengucapkan istighfar kembali. Narti benar-benar membuat dada nya sesak.
"Bu, sebaiknya di rumah Pak RT saja. Malu di lihat orang-orang uang lewat." Ningsih mencoba menengahi.
"Setuju kita bawa saja ke rumah Pak RT, atau di bawa ke balai desa sekalian. Biar konflik antar saudara ini tidak berkepanjangan." yang lain ikut menimpali.
"Tidak usah! di sini saja." Narti tegas menolak usul mereka.
"Bibi yakin mau di sini? gimana kalau ternyata bibi malah malu akibat kesalahpahaman yang bibi ciptakan sendiri. Sebaiknya masalah keluarga ini di selesaikan di balai desa. Biar di saksikan oleh beberapa perangkat desa. Agar bibi tidak seenaknya sendiri memfitnah dan menyalahkan ibuku terus." Riska kembali angkat bicara. Menurutnya, masalah ini harus segera di selesaikan.
"Diam kamu anak kecil! Tahu apa kamu tentang masalah ini! ini masalah orang tua." Narti yang memiliki ego tinggi, tidak mau di kasih masukan oleh keponakannya sendiri.
__ADS_1
Mentaati Riska sama dengan menjatuhkan harga diri nya yang memang sudah jatuh.
"Baik, berarti kamu mau di beberkan di sini semuanya. Coba di ingat sudah berapa hektare tanah yang sudah bapak berikan kalian? setengah hektare sawah dan setengah hektare kebun emak dan bapak berikan sejak kalian baru menikah. Karena kasihan padamu yang hidup pas pasan. Apa kamu lupa? Tapi semua nya ludes dalam sekejap di meja judi oleh suami kamu. Padahal, itu harta warisan orang tua yang tujuannya agar hidup kalian tidak sengsara. Dan pada saat itu aku belum di kasih apa-apa oleh Emak dan Bapak sebab suamiku masih mampu menafkahi kami. Ukuran sawah dan kebun kita itu sama.
Masalah pekarangan? Bukankah itu semua sudah sejak awal Emak dan bapak tegangan. Bahwa siapapun yang mau mengurus mereka berdua, maka akan mendapatkan ini pekarangan beserta rumahnya. Bukankah aku telah menawarkan itu padamu sebelum aku mengambil alih tugas itu. Lalu, jawabanmu waktu itu adalah aku tidak mau mengurus orang tua. Mereka terlalu cerewet dan susah di atur. Setelah kamu memutuskan untuk menolak mereka, aku dengan senang hati merawat Emak dan Bapak. Bahkan hasil sawah dan kebun yang aku miliki tidak di makan sendiri hasilnya, sebagian aku gunakan untuk ikut membiayai sekolah anak-anakmu. Lalu dimana letak keserakahanku?." Semua terkesima dengan penjelasan Ratih.
Tidak sedikit yang berdecak kagum dengan Ratih.
"Masalah kesengsaraanmu itu karena kamu bertahan dengan laki-laki penjudi. Seandainya kamu mendengar omongan Emak dan bapa maka nasibmu tidak akan sengsara. Tapi kamu dengan bangga menentang nasihat mereka. Bukankah kamu dengan lantang memarahi Emak dan Bapak yang mencoba menasehatimu untu bercerai dengan laki-laki idaman mu itu? lalu kenapa kamu malah menyalahkan aku? kecuali aku tidak pernah membantumu. Setiap panen singkong, aku selalu menyisihkan hasil nya untuk anak-anakmu. Setiap panen sawah aku selalu memberikan 4 karung gabah untuk keluargamu. Lalu dimana letak serakah ku, Narti?." Ratih menatap lekat wajah Narti yang merah padam.
"Seharusnya kamu dengan sadar diri menyerahkan sawah dan kebun untuk ku. Toh, harta peninggalan suamimu sangat banyak." suara Narti melemah. Sebenarnya dia sudah merasa kalah tapi tidak mau mengakuinya.
Sebagian orang menyoraki Narti.
"Kita sudah mendapatkan hak yang sama, kalau akhirnya kamu menjadi sengsara itu bukan salahku. Kalau aku tidak mau memberikan bagianku itu wajar, sebab sebelumnya kamu sudah mendapatkan hak yang sama. Bahkan aku juga diam saat Emak dan bapak membelikanmu Sapi betina yang pada akhirnya di jual oleh suamimu. Jadi akhiri kesalahpahaman ini. Dan berhenti memfitnah aku!."
Jleb.
Jawaban Ratih membungkam mulut Narti yang ingin mengingatkan kembali. Kini wajah ibunya Siska itu tidak bisa di gambarkan, perasaan pun tidak bisa di narasikan. Dengan wajah merah dan bibir mengerucut menahan marah dan tangis. Narti meninggalkan kerumunan. Marah dan malu melebur jadi satu, marah karena tidak berhasil menyudutkan Ratih. Malu karena kesalahpahaman dan kekeliruan di ketahui oleh banyak orang. Dan itu karena kesalahan nya sendiri.
Ratih puas karena sudah mengeluarkan semua unek-unek nya yang selama ini di pendam oleh diri nya sendiri.
Ratih bukan nya tidak mendengar slentingan tentang dirinya namun ia memilih untuk diam. Namun tingkah Narti semakin menjadi, ia terus saja memfitnah Ratih. Dan kesabaran Ratih tidak bisa di tahan lagi. Sehingga kesalahpahaman ini di selesaikan dengan cara tidak wajar.
"Mah, kita berangkat sekarang!." Riska menggandeng tangan ibunya untuk meninggalkan kerumunan orang-orang tersebut.
bersambung...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...