
"Yuk kita masuk dulu, kita bisa mengobrol dengan yang lainnya."
Ratih dan Riska mengikuti saudara sepupu Ratih yang biasa di sapa Bude Jum.
Di sebrang sana, di tempat parkiran motor. Narti terus mengamati gerak-gerik Riska dan Ibunya. Setelah di pastikan mereka meninggalkan area parkir dan masuk ke rumah orang yang akan mengadakan hajatan. Namun panggilan telepon berdering dari tas nya menghentikan langkah nya yang akan masuk ke dalam rumah.
Narti menggeser layar panggilan hijau untuk menerima panggilan dari menantunya, Danang.
"APA?." teriak Narti begitu mendengar kabar dari sang menantu.
"Baiklah Ibu akan segera ke sana. Kamu jaga Siska dengan baik." ucapnya kemudian bergegas berlari ke arah motor butut nya yang terparkir di halaman rumah saudara nya. Dalam hati ia mengkhawatirkan putri bungsu nya itu.
***
Saat ini Danang sedang duduk di kursi rodanya menunggu istrinya yang sedang berjuang di meja operasi. Karena pendarahan yang cukup banyak, Siska harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi nya walaupun belum cukup bulan untuk melahirkan.
Danang melihat tubuh Siska yang sudah terkapar di lantai dapur tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
Seperti biasa seharian ia pergi untuk berjualan tisu, namun hari itu perasaan nya tak enak dan tak menentu, sepanjang ia berjualan Danang terlihat gelisah dan memikirkan Siska yang sedang berada di rumah sendirian. Padahal sebenarnya dia sangat malas sekali bertemu dengan istrinya itu, apalagi mengingat pertengkaran mereka tempo hari.
Karena kondisi dirinya yang tidak memungkinkan menolong Siska, akhirnya Danang meminta bantuan tetangganya untuk mengangkat istrinya dan membawa nya ke rumah sakit. Tak lupa ia juga menghubungi sang mertua di kampung untuk memberitahukan keadaan putrinya.
Walaupun Danang tahu anak yang di kandung Siska bukanlah anaknya sendiri. Tapi sisi manusia nya tidak tega melihat Siska seperti itu.
Beberapa jam kemudian, operasi Siska telah selesai. Siska pindahkan ke ruang rawat.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan anak ibu." ucap Suster setelah Siska siuman. Kalimat yang membuat Siska terkejut dan rasanya ingin mati saja.
Deg.
'Bagaimana ini?' Batin Siska justru malah ketakutan mengingat ancaman dari assisten Sanusi.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa kalian tidak menyelamatkan anakku? Percuma kalau kalian menyelamatkanku kalau anak ku sudah tidak ada." teriaknya histeris dengan berderai air mata.
"Kami sudah berusaha semampu kami." Kalimat yang sudah bisa di tebak oleh Siska. Kalimat yang sering Siska dengar dari seorang petugas kesehatan jika tidak bisa menyelamatkan pasien nya di drama-drama yang sering Siska lihat. Biasanya Siska melihat di drama, sekarang justru mendengar langsung.
Danang yang melihat istrinya histeris terkejut, dia pikir sejahat-jahat nya Siska, Siska pasti terpukul karena harus kehilangan anaknya. Tanpa Danang tahu, Siska bukan histeris karena kehilangan anak nya, tapi histeris karena harus kehilangan sumber uangnya.
"Tenang, Sayang. Kamu baru saja di operasi." tutur Danang menenangkan sang istri dengan mengelus punggung tangannya.
"Kamu bilang tenang, Mas? aku baru saja kehilangan anakku. Bagaimana bisa aku tenang?" jerit nya kepada suaminya.
"Ini diluar kuasa kita, Sayang." ucap Danang namun Siska tidak mengindahkan ucapan suaminya, ia menatap lurus pandangan ke depan.
***
Sepulang dari rumah Bude Jum, Riska selonjoran di sofa ruang tamu ibunya.
Tok....tok... tok...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, mau tidak mau Riska beranjak membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, lek monggo." Riska membuka daun pintu lebih lebar dari semula.
Seorang laki-laki perawakan jangkung berdiri di depan pintu.
"Mbak, Bu Ratih nya ada?." Pria sekitar 40 tahunan menatap Riska dengan gelisah.
"Ada, Lek. Beliau ada di kamar mandi. Sebentar tunggu dulu yah, lek." Tangan Riska mengarah ke kursi kayu yang terdapat di samping pintu.
"Njenengan dari mana yah, Lek?." tanya Riska yang betul-betul tidak mengenal orang tersebut agar ia lebih mudah menyampaikan kepada ibunya tentang tamu yang datang.
"Saya Lek Yani, mbak. Orang yang memanen singkong Bu Ratih." keterangan laki-laki itu di sambut anggukan kecil oleh Riska.
__ADS_1
"Oh yah, sebentar yah Lek. Saya panggilkan dulu."
Dengan kepala yang di penuhi tanda tanya, Riska pun menyusul ibunya ke kamar mandi.
Tak berselang lama datang Riska yang di ikuti Ratih di belakang nya yang menemui tamu nya di teras.
Teras rumah Ratih sengaja di pasang kursi berbahan kayu, agar tamu laki-laki yang bertandang ke rumah tidak perlu masuk ke dalam rumah. Mengingat status Ratih yang janda, ide itu datang saat Riska baru masuk SMA.
"Lek Yani, tadinya saya mau ke sana. Eh, alhamdulillah. Sampean sudah di sini." Dengan senyum ramah Ratih menyapa tamunya yang sedang terlihat di landa kebingungan.
Lalu Ratih mengambil tempat duduk di sebelahnya yang di sekat dengan meja yang terbuat dari akar kayu jati.
"Bu Ratih kedatangan saya ke sini mau tanya. Apa Bu Narti sudah memberikan uang kepada jenengan?." Lek Yani, laki-laki yang di percaya oleh Ratih untuk mengurus penjualan singkong nya bertanya dengan hati-hati.
Riska dan Ratih saling pandang dan mengerutkan keningnya. Mendapatkan ekspresi yang penuh tanda tanya dan keheranan dari tuan rumah, Lek Yani merasa bersalah.
"Maksudnya gimana yah, Lek? kami baru datang dari kota membantu hajatan saudara. Rencana nya saya mau ke rumah jenengan. Tapi kok seolah jenengan sudah memberikan uang itu ke orang lain. Apa lek memberikan uang itu ke Bi Narti?." Riska benar-benar tidak mengerti kenapa Lek Yani menanyakan hal itu.
Yani semakin salah tingkah dan merasa serba salah. Pria yang di percaya Ibunya itu semakin tidak tenang dan gelisah.
Yani adalah seorang sopir yang di percaya Ratih untuk mencabutkan dan menjual singkong ke pabrik-pabrik yang memproduksi tepung tapioka.
"Sa-saya minta maaf Bu, Mbak. Kemarin siang saya sudah menerima uang dari pabrik. Sudah saya mau setorkan ke Bu Ratih. Tapi kebetulan handphone saya jatuh dan rusak. Saya menghubungi sampean tapi saya tidak halal nomer Bu Ratih. Akhirnya saya inisiatif untuk menunggu sampean pulang. Tapi kemarin sore Bu Narti datang ke rumah. Dan mengatakan di suruh Bu Ratih mengambil uang itu, karena saya tahu beliau adik Bu Ratih. Jadi saya tidak menaruh curiga. Uang hasil penjualan singkong pun saya serahkan semua pada Bu Narti. Saya dengar Bu Ratih pulang, jadi datang kemari untuk memastikan. Tapi ternyata Bu Ratih belum menerima uang itu." Lek Yani semakin merasa bersalah.
Keterangan Lek Yani meruntuhkan keseimbangan tubuh Ratih. Sehingga Ratih menyandarkan tubuhnya ke tembok belakang. Dengan segera Riska menghampiri Ibunya takut terjadi sesuatu dengan orang tua tunggalnya.
"Innalillahi... Apa Lek Yani tidak tahu kalau Mama sama Bi Narti itu sedang tidak akur? Satu lagi, kami sama sekali tidak pernah menyuruh orang untuk mengambil uang tersebut. Kalau sudah begini, bagaimana Lek? Apa yang akan njenengan lakukan?." Riska marah dengan laki-laki di depannnya ini.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...