
Hari yang di tunggu pun tiba.
Alat pemotong kayu sudah datang. Wisnu menemui Riska di rumahnya. Segera Riska mengarahkan nya langsung ke tempat lokasi saja. Ia sudah mengatakan akan menyusul bila terjadi sesuatu.
Sesuai arahannya, Wisnu pun langsung ke TKP dan mulai memotong kayu tersebut.
Ratna yang sedang istirahat di kediamannya, setelah baru saja pulang dari kota. Memasang pendengarannya dengan tajam ketika sayup-sayup mendengar suara pemotong kayu dari arah belakang pekarangan.
"Siapa yang menebang kayu?." gumamnya seorang diri di ruang tengah.
"Eh, kenapa suaranya terdengar jelas dari belakang rumah sih?." Narti masih berbicara sendiri. Posisinya masih rebahan di atas kursi empuk di ruang tamu.
Lalu perempuan yang sudah memiliki tiga orang cuxu itu bangun dari posisi rebahannya di atas sofa. Di bawa langkah kakinya menuju pintu belakang- dapur. Derita pintu terdengar jelas. Pertanda bahwa daun pintunya telah terbuka.
Setelah memastikan dengan benar bahwa suara senso itu dari arah belakang rumahnya, maka Narti pun berlari terbirit-birit ke arah belakang dengan penuh emosi. Darahnya menggelegak hingga ke ubun-ubun. Dadanya naik turun sebab menahan letupan amarah dari dalam.
"Hei lancang siapa yang menyuruh memotong kayu jati ini?." Narti tergopoh-gopoh dari depan. Tunggang langgang dia berlari menuju orang-orang yang sedang sibuk bekerja memotong kayu.
Ya, setengah berlari Narti menghampiri mereka. Karena terkejut dan penuh emosi sampai tanpa sadar Narti menyingsing rok nyaris sampai di atas betis. Sementara tangan kiri membawa sebilah kayu yang ia temukan di jalan.
Sebilah senjata tersebut dia acung-acungkan kepada tukang pemotong kayu yang sedang bekerja. Sayangnya mereka semua acuh. Bukan, tidak menyadari kedatangannya, bukan. Tapi para pekerja memang sudah di jelaskan Wisnu. Sehingga mereka tidak kaget sama sekali.
"Woi... pada budeg kalian semua ya! Ada orang ngomong tidak di dengarkan." Suara Narti di tengah bisingnya suara pemotong kayu.
Wisnu sudah tahu cerita sejatinya, dia tidak menggubris larangan Narti sama sekali. Dengan tenang dia tetap melakukan pemotongan tersebut.
Merasa di acuhkan, Narti pun langsung menghampiri salah satu di antara pekerja. Tapi pekerja tersebut acuh hanya tersenyum sekilas.
"Hentikan! siapa yang menyuruh melakukan ini semua?." Narti menatap tajam pada salah satu karyawan Wisnu tersebut.
__ADS_1
"Ada apa ini, Bu?." Dengan tenang dan memasang muka polos Wisnu menghampiri Narti.
"Kalian sudah lancang ! Ini kayu jati saya, kenapa di tebang?." Narti menatap tajam ke arah Wisnu. Dadanya naik turun sebab menahan emosi. Napasnya tersenggal-senggal.
"Kayu jati ini kenapa di tebang? ya karena memang sudah di beli, Ibu. Kalau belum di beli bagaimana saya bosa menebang?. Aneh ibu ini, Mah!." Enteng saja bibir Wisnu mengucapkan kata itu.
"Di beli? Memang siapa uang menjual kayu jati uni? Saya tidak pernah merasa menjual kayu ini ya?" Narti mendelik ke arah Wisnu dengan berkacak pinggang.
"Yang menjual kayu ya? Riska, Bu. Kenapa? Salah ya kalau Riaka menjual kayu ini? Tapi sayangnya, sudah di jual dan uangnya sudah masuk ke rekening Riska gimana dong?." Santai saja Wisnu mengatakan itu.
"Hah? Riska! kurang ajar anak itu. Jelas ini sebuah kesalahan besar. Ini pekarangan saya. Tanaman saya kenapa orang lain yang menjual? Saya bisa saja perkarakan ini ke pengadilan! Hentikan sekarang juga pemotongan kayu tersebut!." Mata Narti hampir keluar dari tempatnya. Sayangnya, tidak ada yang peduli.
"Kalau ibu mau memperkarakan ini, perkarakan Riska dong. Kan Riska yang menerima duitnya, Riska pula yang menyuruh kami." Wisnu bicara seperti ini sesuai dengan pesan Riska ketika sebelum berangkat.
"Sekarang telepon Riska, suruh dia ke sini!." Narti layaknya seorang bos yang memerintahkan anak buahnya, tanpa mau di bantah.
Wisnu segera mengotak ngatik handphone nya, lali sebuah pesan ke kirim ke Riska.
Di rumah nya, Riska membaca pesan itu sambil tertawa ngakak.
"Kenapa Nak, tertawa sampai segitu nya?" Ratih yang melihat Riska tertawa penasaran apa yang membuat putrinya sampai tertawa begitu renyahnya. Di tatapnya wajah Riska yang terlihat bahagia.
Alih-alih menjawab pertanyaan Ibunya, Riska justru memegang perut nya yang sakit akibat tertawa, mata nya pun sampai mengeluarkan air. Puas sekali Riska menertawakan Narti, karena di samakan dengan gajah oleh Wisnu.
"Hei, Nak. Kamu itu kesurupan setan apa sih!." Ratih yang tidak tahu apa-apa heran melihat anaknya. Lalu tangan wanita itu menempelkan di jidat Riska. Kemudian di samakan dengan jidat nya sendiri. "Tidak panas."
Di tegur untuk yang kedua kalinya, Riska menghentikan tawa nya. Terlebih saat ibunya mengecek suhu jidatnya.
"Mama diam saja di rumah dulu yah, anakmu ini mau menaklukkan gajah yang mengamuk di lokasi." Riska kembali tertawa geli setelahnya.
__ADS_1
"Gajah? pawang? Ada gajah ngamuk dimana, Nak?." Ratih terheran dengan penuturan anaknya, dia pikir gajah sesungguhnya.
"Itu bukan gajah yang sesungguhnya, Mah. Itu adik Mama loh yang sedang ngamuk di tempat pemotongan kayu jati. Wisnu barusan mengirim pesan. Katanya gajahnya sudah ngamuk, dan Riska di suruh untuk datang untuk menaklukkan gajahnya hehehe. Dia pikir Riska itu pawang." Riska kembali tidak bisa menahan tawanya.
Sekarang Ratih paham dan justru ketularan dengan apa yang terjadi. Wanita itu tak bisa lagi menahan tawanya.
"Iyah sudah sana berangkat. Semoga saja gajahnya tidak mengamuk lagi." Ucap Ratih di sela tawanya.
"Ada saja sih Wisnu ini. Bisa-bisa nya dia memberikan julukan kepada Narti. Eh, tapi kita tidak boleh memberikan julukan jelek terhadap seseorang. Lain kali jangan panggil Bi Narti dengan sebutan gajah, cukup kali ini saja yah." Ratih mewanti-wanti Riska.
"Siap!." dengan segera Riska menghentikkan tawa nya.
"Ya sudah Mah. Riska berangkat dulu yah. Doakan semoga tidak terjadi apa-apa." Di cium nya punggung tangan Ibunya dengan takdzim.
"Iyah hati-hati yah Nak. Eh, tapi ini kok pake acara selamanya segala, wong cuman ke depan sana. Biasanya juga nyelonong pergi aja, nggak pernah salaman. Takut kalah sama Narti yah?" pertanyaan ejekan untuk Riska terlontar begitu saja.
Sontak wajah manis yang saat ini menyandang status janda kembang itu memicingkan mata ke arah ibunya.
"Tidak ada kata kalah dalam kamus Riska untuk Narti, Mah. Itu bentuk pamit nggak maksud apa-apa." Riska mengelak. Biar bagaimanapun dia tidak akan mengalah pada Narti.
Bagi Riska, sudah cukup kekalahan nya terhadap Narti di tandai dengan kehancuran dalam rumah tangga akibat ulah Siska, anaknya Narti. Saat ini Riska berjanji akan menunjukkan powernya terhadap Narti, Riska bertekad akan menghadapi Narti sepanjang ia mendzolimi orang tunggal nya ini.
Dengan langkah pasti, Riska melangkah kan kaki nya ke TKP.
"Ada apa Bi? kata teman saya. Bibi memanggil saya, ada apa?" dengan santai tanpa merasa berdosa, Riska menghampiri Narti yang sedang bersitatap dengan Wisnu.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...