Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 61


__ADS_3

"Ibu kenapa ngomel-ngomel nggak jelas di telepon?. Ada apa?." Siska yang tengah pusing bagaimana nasib nya ke depan itu kini harus di hadapkan dengan masalah ibunya.


"Tadi si Riska menebang kayu jati milik ibu. Siska! bagaimana ibu nggak kesel coba? Semakin kurang ajar bekas istri suami mu itu." Di sebut kayu jati, mata Siska membelalak sempurna.


"Hah? kayu jati? bagaimana bisa, Bu?." karena kaget, perempuan yang mengenakan Dress selutut itu meninggikan suara nya, hingga beberapa perawat yang di lewatinya pun menatap heran ke arahnya.


Siska saat ini sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Dia tidak mau berlama-lama di sana, dia harus segera menemukan bayi pengganti karena bayi nya yang meninggal. Sementara Danang, suaminya. Ia sibuk mengurus administrasi kepulangan Siska, jadi Siska tinggalkan Danang dan pergi lebih dulu.


Siska keluar dari rumah sakit dengan penuh emosi. Sebab, curhatan Ibunya. Bagaimana tidak meradang, sebab kayu jati yang rencana nya akan di jual beberapa tahun ke depan kini sudah di panen orang lain.


"Entahlah. Apa yang ada di otak sepupu mu itu? Ibu tidak habis pikir, ada saja akalnya untuk menjahili orang lain. Lakukan sesuatu, Siska! sungguh, ibu tidak rela! Riska dan Ibunya semakin semena-mena terhadap kita!." kebohongan Narti menyulut emosi Siska.


Wanita yang sedang banyak masalah itu berjalan ke arah luar rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Capek, pusing, menahan sakit di perut nya akibat operasi kemarin. Namun tentu amarah lebih menguasainya. Beban yang menggunung di pundak membuatnya mudah emosi hanya gara-gara masalah sepele.


"Oke, Bu. Aku akan menghubungi Mbak Riska sekarang. Enak saja dia sudah menebang aset kita! Aku matikan dulu, Bu!." dengan geram Siska mematikan sambungan telepon dengan Ibunya. Detik berikutnya perempuan yang saat ini sedang menunggu gr*b mobil itu segera menelpon Riska.


Mulut Narti dengan entengnya memprovokasi Siska dan itu berhasil. Perempuan bertubuh gemuk itu tidak mau jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi. Harapan nya adalah Siska akan melabrak Riska. Seolah tidak pernah jera, Siska dan Ibunya akan melabrak Riska. Meskipun, setiap melakukan sesuatu buka mereka untung, tapi sebaliknya mereka selalu kalah oleh Riska. Karena memang Riska selalu benar. Sebab apa yang di lakukan Riska adalah membalas dari perbuatan yang mereka lakukan. Justru mereka berdua yang tidak pernah sadar diri.


***


"Ris, ada telepon tuh!." Septia menatap layar handphone sahabatnya yang tergeletak di meja makan. Sementara pemiliknya sedang mencuci tangan di wastafel.


"Dari siapa?." Tanpa menoleh, Riska bertanya pada wanita yang sudah duduk manis di depan meja makannya. Mata itu terus tertuju pada gemericik air dari wastafel yang sedang membasahi tangannya.


"Madu racun!." Septia tertawa sendiri membaca kontak nama yang sedang memanggil-manggil nomer Riska tersebut.

__ADS_1


"Mau ngapain dia?." Ratih yang muncul dari arah mushola pun ikut bergabung bersama Septia.


"Tidak jauh-jauh, Mah. Mungkin mau membahas soal kayu jati." Riska mengelap tangannya dengan kain kering yang telah di siapkan di atas wastafel sebelah kiri tersebut. Lalu berjalan ke meja.


"Ah, iya mama lupa. Pasti memang itu tujuan dia menelpon." Ratih mulai mengunyah makanan yang sudah ada di mulutnya.


Handphone di biarkan berdering hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.


Riska pun melanjutkan acara makanannya. Namun, tak lama kemudian handphone nya kembali berdering.


"Ada apa, Siska?." Santai Disk menjawab panggilan dari sepupu nya tersebut. Perempuan yang sedang makan pecel bersama dengan Septia itu mencebikkan bibirnya. Sebab dia sudah tahu untuk apa istri Danang tersebut menelpon.


"Mbak, aku tidak pernah tahu apa yang kamu pikirkan. Namun satu hal yang ingin aku tanyakan. Di mana hati nurani mu saat menebng kayu jati milikku?." Tanpa malu, Siska bertanya demikian.


"Hahahaa. Hati nurani ku sudah mati untukmu gimana dong?." Riska menjawab sembari tersenyum meremehkan lawan bicaranya. Walaupun, mustahil Siska melihatnya.


"Dasar manusia tidak punya hati! Di saat anakku meninggal kamu enak-enakkan merampas milikku! Aku tidak menyangka wanita yang aku kira baik tidak ubahnya seperti iblis!." penuh emosi Siska menyakiti sepupunya dengan kata-kata.


Deg, Riska terkejut dengan pernyataan kalau anak Siska meninggal dunia.


"Turut berduka cita atas meninggal nya anakmu. Tapi perlu kamu tahu apa yang aku lakukan itu semata-mata adalah untuk membalas apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku. Dan apa kamu bilang? Aku iblis? kalau aku iblis lalu julukan apa yang tepat untukmu? Boleh nggak aku kasih sebut anaknya Dajjal?." Mati-matian Riska menahan letupan emosi di dalam dadanya. Perempuan itu berusaha tetap tenang. Biar bagaimana pun dia ingin terlihat baik-baik saja meskipun di campur mentalnta oleh Siska.


"Kamu yang anak nya Dajjal, Riska!." Suara Siska yang melengking dan penuh dengan kata-kata kasar membuat orang-orang di sekelilingnya memandangnya dan penuh tatapan yang susah di artikan.


"Sekarang mau tau apa alasan aku menebang kayu jati milikmu? dengarkan baik-baik! Pasang telinga mu lebar-lebar! camkan kata-kataku! resapi dengan baik ucapanku hingga masuk ke dalam otakmu dengan benar-benar. Agar kamu paham apa yang aku lakukan ini bukan sebuah kesalahan, Siska!." emosi yang sejak tadi di tahan oleh Riska kini meledak sudah.

__ADS_1


Di tempatnya Siska terdiam otaknya tak mampu merangkai kata, tidak ada pilihan lain selain mendengarkan ucapan Riska.


"Aku menebang kayu jati bukan tanpa alasan, Siska! Seandainya saja ibumu tidak mengambil uang Ibuku senilai 7 juta maka hal ini tidak akan kami lakukan, Siska! Sorry ya Aku tidak seperti kamu yang suka merampas hak milik orang lain. Aku tidak akan melakukan apapun sebelum dimulai oleh kalian. Sebab aku bukan dirimu jadi apapun yang aku lakukan itu, akibat dari perbuatan kalian." klik sambungan langsung matikan sepihak oleh Riska.


"Sabar ini minum dulu, Bu." Septia mengelus punggung tangan sahabatnya memberikan ketenangan pada Riska yang terlihat dadanya naik turun karena emosi. Nafas nya yang tersenggal-senggal mengundang rasa simpati Septia.


"Kok nggak ada kapok-kapoknya, ya si Siska menelponmu, Nak. Terbuat dari apa sih muka anak itu sehingga tidak pernah punya malu untuk melabrakmu padahal jelas mereka yang salah." ucap Ratih yang mengingat bagaimana kelakuan Siska akhir-akhir ini. Ia meneguk air putih yang telah disiapkan Riska di depannya itu.


***


Di tempatnya Siska tercengang mendengar jawaban telak Riska. Otaknya sibuk mencerna ucapan Kakak sepupunya tersebut.


"Sial!." umpatnya kesal. Lagi-lagi dia harus kalah dari Riska.


"Kurang ajar memang si Riska itu kok ada manusia seperti dia di muka bumi ini? aku benci dengannya!."


Karena mobil gr*b nya belum juga tiba, Siska berjalan ke arah IndoApril yang terletak di sebelah kanan jalan mencari minuman dingin untuk mendinginkan pikirannya yang tampak keluar asap sebab ngebul otaknya.


Siska masuk ke IndoApril dengan langkah panjang, emosi membuatnya berapi-api. Sapaan ramah dari karyawan IndoApril tidak ia hiraukan tujuannya hanya satu ingin es krim.


"Siska!."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2